Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Bertanya


Selamat Membaca...


•••••


Semua para tamu undangan yang ingin memberikan hadiah kepada Reno berbaris menunggu giliran mereka.


Nadhira dan teman-teman menunggu giliran terakhir saja. Toh Reno nya tidak lari kemana juga.


Kelompok pertama adalah para kerabat dari keluarga Baskoro.


Tak banyak kerabat yang datang, terlihat hanya bibi, paman, dan sepupu yang terlihat sedikit akrab dengan keluarga itu.


Setelah itu pejabat-pejabat penting. Dilanjutkan oleh White Snake yang menghadiahkan sebuah pedang antik.


Semua orang merasa iri akan hal itu. Bagaimana tidak, pedang itu terkenal di masa peperangan dulu. Yang di pegang oleh panglima perang.


Rangga adalah orang yang selanjutnya memberikan hadiah, dia memberikan hadiah kepada kakaknya sebuah mantel kulit berwarna hitam.


Dia hanya seorang remaja, meski mampu memberikan yang lebih, tapi itu akan lebih berguna untuk kakaknya yang sering bepergian.


"Terimakasih, ini sangat berguna untukku," ucap Reno sambil menepul pundak adiknya itu.


"Sama-sama," balas Rangga dengan tersenyum.


Setelah hampir semua tamu sudah memberikan hadiah, sekarang giliran Nadhira yang maju, dia mengeluarkan sebuah kota kayu persegi berwarna coklat berukuran 30 cm dengan ukiran bungan mawar di atasnya.


"Ini temanku ingin memberikan hadiah untuk kakak," ucap Rangga mempersalahkan Nadhira, Bagas, Clara, dan Rima untuk menghadap dengan Reno.


Reno menatap satu persatu teman adiknya itu dengan datar dan kemudian tersenyum tipis.


"Aku tidak tahu seleramu bagaimana, tapi semoga hadiah perwakilan kami semua ini kau suka," ucap Nadhira seraya menyerahkan kota kayu itu kepada Reno.


Reno menerimanya dan membukanya. "Hmmm, mangkuk antik ya, meski bukan seleraku tapi akan ku buat pajangan di kamarku nanti," ucap Reno.


Semua orang yang mendengar kata barang antik, yang di hadiahkan kepada Reno selain barang antik pedang dari White Snake seketika menatap kota kayu itu. Mereka penasaran bagaimana bentuknya sampai tuan Hendra yang peminta barang antik berbicara.


"Maaf nak Reno, bisa saya melihat mangkuk itu?"


Reno mengernyit kan alisnya, tapi sedetik kemudian dia mengiyakannya, karena dia mengenal orang di depannya ini.


"Silahkan," Reno menyerahkan kota berisi mangkuk antik itu.


Matanya melebar sekali lagi saat melihat barang antik berbentuk mangkuk di tangannya itu. Dia beralih menatap Nadhira. Nadhira memahami tatapan itu hanya bisa tersenyum mengiyakan kalau itu darinya.


Dia mengembalikan kota kayu itu dan beralih kepada Nadhira.


"Nona Nadhira...," Nadhira meralat panggilannya.


"Panggil, Nadhira saja tuan,"


"Kalau begitu kau panggil aku kakek Hendra saja juga haha,"


"Baik kakek Hendra,"


"Bagus..bagus! Nah sekarang kau katakan apakah saat itu mangkuk itu juga bersama mu?" Tanya kakek Hendra.


"Hmm, ya, saat itu memang ada bersamaku dan saat itu juga aku hanya berniat menjual satu saja," jawab Nadhira dengan jujur.


"Hm, hm, hm... Apakah ada yang lainnya lagi?" Kakek Hendra sungguh sangat penasaran, berapa banyak barang antik lah yang dimiliki oleh Nadhira?


"Untuk sekarang belum ada, aku akan usahakan secepat nya ada dan menghubungi kakek," ucap Nadhira.


"Baiklah, akan ku tunggu, jangan lupa hubungi aku dulu sebelum Niko itu," ucap kakek Hendra.


"Baik!" Sahut Nadhira.


¤¤¤¤¤


Pesta itu berakhir jam 11 malam, Nadhira dan teman-temannya kemudian pergi.


Bagas dan Clara pulang bersama dengan menaiki mobil Bagas.


Saat sampai di muka gang rumah Nadhira, Nadhira turun dan berjalan menuju rumahnya.


Malam semakin larut karena dia sampai di rumah pada jam 11:30 malam. Rumah di kunci karena pesan Nadhira kepada ibunya, sedangkan dirinya membawa kunci cadangan.


Ketika Nadhira selesai mengganti pakaian nya, dia membuka grup WeChat mereka.


Mereka menanyakan kepadanya dan juga satu sama lain, apakah sudah sampai dengan selamat?


Nadhira seperti menjadi anak remaja kembali, meski kenyataan nya iya, tapi jiwanya sudah berusia 23 tahun.


¤¤¤¤¤


Kembali kepada rutinitas sehari-hari, yaitu bersekolah di SMA JAYA.


Pagi-pagi Nadhira sudah di suguhkan pemandangan yang tampak tak nyata, akan tetapi itu nyata adanya.


Sesosok pemuda tampan duduk di kursi sebelahnya. Siapa lagi kalau bukan Damian.


Dia yang di suguhkan pemandangan pencuci mata itu membuatnya segar kembali setelah cukup lelah berlari bersama teman-temannya seperti biasa.


Nadhira masih bengong di depan pinti sampai Clara dan Bagas secara bersamaan menepuk pundaknya.


Dia sedikit tersentak dan langsung mendatarkan wajahnya kembali setelah sebelumnya sedikit terpesona dengan ketampanan Damian.


"Mengapa masih berdiri di depan pintu, guru sebentar lagi akan datang?" Ucap Clara.


"Tidak! Hanya menghirup udara segar dulu, sebelum masuk ke dalam kelas," jawab Nadhira.


Mereka bertiga pun masuk ke kelas dan duduk di kursi masing-masing.


Pelajaran masih belum di mulai Bagas menyapa Damian, tapi tak mendapat tanggapan.


"Bodoh, dia tu pake earphone di telinganya, iyalah dia gak denger," ucap sewot Clara mendapati Bagas yang menggerutu karena di abaikan Damian.


Nadhira melirik sejenak setelah itu berfokus mengeluarkan buku-buku dan alat tulis yang di perlukan.


Beberapa saat kemudian guru masuk. Para siswa fokus dengan penjelasan guru satu ini yang terkenal tegas dan killer.


Kebanyakan dari mereka berkeringat dingin, apalagi Bagas. Dia gelisah karena setiap guru ini masuk dia akan selalu mendapat pertanyaan yang tidak dapat dia jawab dan akhirny semua siswa menertawakannya. Meski begitu Bagas tidak lah marah, tapi dia hanya malu.


Bel istirahat berbunyi semua siswa bergegas keluar kelas untuk mengisi perut mereka yang keroncongan.


Nadhira berjalan sambil melamum, dia tak mendengarkan apa yang di bicarakan oleh teman-temannya.


Saat ini di meja kantin pun Nadhira masih melamunkan sesuatu, akan tetapi tidak ada yang tahu apa itu.


TAK!


Nadhira agak terkejut ketika tiba-tiba semangkuk bakso sudah berada di meja nya, Nadhira mendongak menatap sang pelaku. "Bos melamun? Apa yang di lamunkan?" Tanya Rangga.


Semua teman-teman Nadhira termasuk Damian dan Kaila juga ada di sana. Nadhira tidak menyadari itu kemudian di menggeleng. "Tidak ada, aku hanya tidak mood sekarang," ucap Nadhira kemudian memakan bakso yang tadi di letakkan di depannya. Dia sedikit berterimakasih kepada teman-temanya yang paham akan perutnya yang lapar sekarang.


"Terima kasih atas makanannya," ucap Nadhira yang di angguki aneh oleh teman-temannya.


Setelah makanan di mangkuk Nadhira habis dia tidak langsung pergi, dia menunggu yang lain menyelesaikan makan mereka.


Dia sangat penasaran dengan keindahan Damian dan Kaila ke SMA JAYA ini.


Nadhira sudah tahu kalau Kaila dan Damian adalah pindahan dari sekolah di kota A, tapi dia tidak tahu alasannya. Jadi meski tidak mendapat jawaban nantinya, dia pun melontarkan pertanyaan yang kemungkinan sedikit kurang sopan, akan tetapi untuk menghilangkan rasa penasarannya dia pun memberanikan diri untuk bertanya.


¤


¤


¤


Semoga Suka...