Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Diterima


Selamat Membaca...


•••••


"Tunggu!"


Nadhira bukannya tidak senang bahwa dia sudah di terima, akan tetapi ini ada yang aneh. Kok mereka bedua di terima, kan hanya satu yang di cari. Dan lagi dia baru sadar kalau di Kota B ini banyak tempat penyewaan jasa bodyguard profesional kok malah nyebarin selembaran dan menerima sembarang orang?


Tuan Ling yang tadi nya akan pergi berhenti dan berbalik ke arah Nadhira. "Ya ada apa?"


"Saya hanya ingin bertanya, boleh?" Nadhira.


"Silahkan!" Tuan Ling.


"Mengapa anda menerima kami yang pastinya belum tentu profesional dan tanpa melihat latar belakang pendidikan maupun latar belakang? Dari selembaran juga hanya satu yang di cari. Di Kota B ini kan banyak tuh tempat-tempat sewa jasa bodyguard, dan pastinya terjamin. Jadi apa alasan nya? Meski saya ingin mendapat pekerjaan ini, akan tetapi saya juga harus tahu tugas saya sebagai apa! Apakah hanya sebagai bodyguard atau yang lainnya," keberanian gadis muda di depan nya ini membuat tuan Ling kahet sejenak sebelum di gantikan oleh ke kagumannya.


Tuan Ling melangkah mendekat ke arah Nadhira, berhenti saat keduanya saling berhadapan lalu tuan Ling mengulas senyum kecil. "Keluarga kami ah... Maksudku cucuku butuh bodyguard setelah kejadian terakhir kali," Nadhira mengingat kalau Marcel sebelum masuk ke dalam gedung sempat menceritakannya.


"Mungkin ini terdengar kekanakan, tapi meski cucu ku itu pembuat masalah, tapi dia merupakan satu-satunya pewaris, jadi bukan hanya karena ulahnya sendiri yang membuatnya celaka, tapi ada musuh-musuh ku yang ingin memcelakainya, karena mereka tahu kalau dia mati, maka perusahaan Ling yang turun temurun kami jaga juga akan mati. Untuk pertanyaan mu mengapa kami tidak menyewa di tempat penyewaan jasa bodyguard, karena sudah sering kami lakukan itu, tapi kebanyakan dari mereka akan lari karena tidak tahan dengan sifat cucu ku, jadi meski di selembaran hanya di cari satu orang, tapi melihat kemampuan kalian berdua, saya tidak akan ragu untuk membayar dua orang bahkan kalau ada lebih, demi keamanan cucu ku. Jadi ku mohon kalian bertahan, setidak nya satu bulan, ya satu bulan. Tapi kalau bisa seterusnya," ucap tuan Ling terlihat sekali dia mengharapkan kalau Nadhira dan Marcel bertahan untuk menjadi bodyguard cucu nya.


"Akan kami usahakan," bukan Nadhira yang menjawab akan tetapi Marcel yang dari tadi diam yang menyahut.


mendengar penuturan pemuda di depan nya menyanggupi keinginannya meskipun tidak sertaus persen, itu saja sudah membuat tuan Ling senang. "Terimakasih dan mohon bantuannya,"


Nadhira setuju saja untuk mencoba bertahan dengan perkejaan ini, akan tetapi dirinya seorang gadis, akankah pria paruh baya di depannya ini akan mempercayai kemampuannya begitu saja?


"Saya akan coba, tapi untuk itu, seperti kata saya sebelumnya, saya harus memperjelas tugas saya terlebih dulu. Untuk apa dan bagaimana saya bekerja di sana,"


Nadhira menggiring tuan Ling untuk duduk di sudut ruangan yang di sana ada kursi panjang.


"Kau memang gadis yang teliti," setelah duduk tuan Ling tidak bisa tidak sekali lagi kagum kepada gadis kecil di depan nya itu.


"Baiklah saya akan menjelaskan bagaimana dan apa tugas kalian,"


Tuan Ling panjang lebar menjelaskan tugas Nadhira dan Marcel.


Selama bekerja mereka di minta untuk tinggal di mension yang sama dengan cucu nya dan juga merupakan tempat tinggalnya.


Di mension itu hanya dirinya dan cucu nya yang tinggal selain dari pengurus rumah, seperti pelayan, tukang kebun dan sebagainya.


Jadi tugas pertama mereka yaitu membuat mereka di terima terus di samping cucu nya tanpa pemberontakan dari cucu nya itu.


"Untuk caranya terserah pada kalian, asal jangan sampai membuat celaka," ujar tuan Ling. Mungkin dia sekalian memberi pelajaran kepada cucu nya itu, jadi dia menyerahkan segala urusan kepada Nadhira dan Marcel untuk menangani kenakalan cucu nya.


Tuan Ling menyerahkan selembar foto kepada Nadhira. Nadhira menatap sedikit lama pemuda yang berkisaran umur dua puluh an di dalam foto tersebut.


Hidung mancung, dengan rahang tegas dan mata coklat gelap. Kerah pakaian dengan dua kancing di atas terbuka menampilkan dada bidangnya. Sangat terlihat kalau dia pemuda bengal.


"Baiklah! Kami akan coba dengan cara kami kalau begitu. Tapi kami tidak langsung pindah ke rumah anda, karena kami harus membuatnya menerima kami dulu baru kami akan tinggal di sana. Bagaimana?" Tanya Nadhira pada Marcel pada akhir perkataannya.


"Setuju!" Persetujuan Marcel menutup diskusi mereka saat itu.


.°°° Di sebuah Cafe°°°


"Apa rencana mu untuk hal tadi?" Tanya Marcel.


Nadhira menyangga kepala di kedua tangannya yang bertumpu di atas meja menatap pemuda di depan nya dengan wajah datarnya.


"Ahhh, terserah padamu! Aku ikut saja. Aku malam berpikir dan membuat rencana, karena rencana hidupku sendiri kacau balau," keluh Marcel.


Melihat Nadhira dengan tanpa semangat menjelaskan rencananya, membuat Marcel bertanya.


"Eh, kenapa? Kok lesu gitu!"


"Hmm, tidak ada! Aku mau pulang," Nadhira bangkit dan akan langsung pergi tapi...


"Eh eh tunggu, bagaimana aku menghubungi mu nanti. mana ponselmu," ucap Marcel sambil menadahkan tangannya.


Sempat diam sejenak sebelum akhirnya Nadhira merogoh tas kecilnya dan mengambil ponselnya kemudian menyerahkan nya kepada Marcel.


"Ini sudah!" Ucap Marcel setelah selesai memasukkan nomor telponnya ke ponsel Nadhira.


Nadhira mengambil kembali ponselnya dan tanpa sepatah kata pun dia berbalik dan pergi.


Nadhira pulang ke rumahnya dan mendapati ibunya sudah berada di rumah dan dia ingat kalau ibunya hari ini akan menyerahkan surat pengunduran diri dan kalau di lihat dari dia pulang cepat dia telah menyerahkan nya.


"Ibu!" Panggil Nadhira yang masuk ke dapur.


"Eh Ira, sudah pulang! Bagaimana?" Puspa bukan nya benar-benar ingin Nadhira bekerja, tapi kalau itu keinginan nya sendiri, dia tidak dapat melarangnya. Asal kan itu tidak membahayakan untuk nya, Puspa tidak akan melarangnya.


"Di terima bu! Tapi bu...Emm," Nadhira sedikit ragu mengatakan nya, tapi mau tak mau ia harus mengatakan nya.


"Ada apa Ira? Katakanlah!" Puspa.


"Aku kan di terima kerja, akan tetapi kerjaan ku itu mengharuskan ku untuk tinggal di sana, jadi bagaimana pendapat ibu?" Nadhira.


"Hmmm, ibu jadi sendiri dong di rumah," ucap Puspa dengan sedih.


Nadhira jadi merasa bersalah, apakah dia harus mengundurkan diri dari pekerjaan yang belum dia mulai ini? Dia merasa bimbang.


Melihat wajah bersalah Nadhira membuat Puspa terkekeh. "Kekeke, ibu bercanda, pergilah jika memang begitu peraturannya, ibu tidak apa sendiri kok,"


"Ibu....," panggil manja Nadhira.


"Hmmm," Nadhira pun berlari ke pelukan ibunya.


Dengan persetujuan ibunya Nadhira pun berkemas, tapi dia tidak pergi pada hari itu karena masih ada pekerjaan sebelum dia benar-benar bekerja.


Nadhira juga telah meninggalkan sejumlah uang yang dia katakan adalah hasil dai cafe dan dia meminta Puspa untuk membuka usaha kecil-kecilan dan kalau Puspa tidak ingin, dia bisa melakukan apa pun dengan uang itu.


"Ibu akan buka toko kue saja!" Puspa.


"Wah itu bagus bu! Dimana rencana nya ibu mau letak tokonya, biar Ira nanti yang carikan," Nadhira.


"Tidak perlu, ibu sudah mendapatkan toko nya kok. Toko itu milik teman ibu yang ingin di jual nya jadi kebetulan ibu akan buka toko kue jadi apa salahnya. Di sana juga tempatnya strategis. Kau fokus saja pada pekerjaanmu," Puspa.


¤


¤


¤


Semoga Suka...