Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Undangan Konser


Selamat Membaca...


•••••


Pada jam 2 sore poster dan selembaran telah selesai. Mereka memasang poster di depan gedung dan menempelkan selembaran di jalan-jalan.


Mereka bertiga menyebar memasang dan memberikan selembarang promosi mereka di jalanan. Di selembaran mereka mengajak para orang untuk datang ke acara pembukaan cafe mereka dan pada hari itu ada diskon untuk lima puluh pengunjung pertama.


Baru setengah perjalanan, Nadhira melihat seorang pria memakai Hoodie berwarna hijau tua sedang berlari menyeberang jalan tanpa melihat kanan kiri, sang pria terlihat buru-buru seperti sedang dikejar sesuatu. Nadhira tidak bisa melihat wajah sang pria itu karena tertutup masker hitam yang digunakannya.


Awalnya sih Nadhira menghentikan jalannya yang ingin menyeberang dan kalau dia melanjutkan jalannya pastinya dia akan bertabrakan dengan pria itu.


Pendengar Nadhira menangkap suara deru mobil dengan cepat menuju arah mereka, tepatnya arah si pria.


Mobil itu terlihat sedikit oleng, entah pengendaranya sedang mengantuk atau yang lainnya.


Seketika Nadhira refleks berlari mendekati sang pria yang menyebrang jalan itu dan langsung menariknya ke arahnya.


Brukk


Mereka berdua jatuh kepinggir jalan dengan sama-sama jatuh ke tanah.


Terdengar pria itu mengaduh kesakitan, tapi tak di hiraukan Nadhira karena saat ini...


Mobil itu menabrak tiang listrik di samping mereka, beberapa meter lagi jika Nadhira dan sang pria tidak sempat menghindar, mungkin keduanya akan mati karna tertabrak mobil itu.


BBRRUUKK!


BBRRAAKK!


Pecahan kaca dari mobil itu bertebaran, dengan cepat Nadhira melindungi kepalanya agar tidak terkena pecahan kaca termasuk sang pemuda yang kini berada di sampingnya .


Sejenak keduanya diam setelah pecahan kaca itu tidak bertebaran lagi.


Chloe menatap pria di sampingnya, mencoba melihat wajah sang pria yang kini tertutup tudung Hoodie dan masker.


Yang paling mencolok menurut Nadhira adalah rambut hitam bercampur coklat di ujung rambut nya dengan netra berwarna biru muda.


Sesaat pria itu menoleh kearah Nadhira dan menatap tajam netra Nadhira. "Seharusnya kau pikirkan dirimu sendiri!" Ucap nya dingin


"Apa!?" Nadhira mengernyitkan alisnya, nada dingin sang pria membuatnya tersinggung. Bukannya berterima kasih karena sudah di tolong.


Pria itu berdiri dari posisinya, membersihkan tangannya dan pakaiannya yang terkena debu aspal.


Nadhira ikut berdiri perlahan, meski kaki nya agak sakit sempat tergores jalan aspal saat terjatuh tadi.


"Reyhan, dimana kau?"


"Kak Rey!"


"Kak, dinamakan engkau berada, kami ingin minta berfoto dan tanda tanganmu!"


Teriakan-teriakan para gadis tak jelas membuat telinga Nadhira sedikit berdengung. Dia bergegas pergi, toh pria yang di tolongnya tak tahu terimakasih.


Sepintas sebelum pergi Nadhira mendengar pria yang kemungkinan yang di cari para gadis gak jelaa itu mendengus dan menatapa sinis gerombolan gadis-gadis itu.


Bukan urusannya, dia pun melenggang pergi melanjutkan menyebar selembarannya.


Tak nyaman karena kaki Nadhira sedikit keseleo dan banyak juga orang-orang yang mulai berkumpul melihat kecelakaan itu tepat nya melihat mobil yang menabrak tiang listrik.


Entalah orang di dalamnya pingsan atau tidak. Salah sendiri mengemudi ugal-ugalan. Nadhira hanya menggerutu dalam hati, dia juga tidak berniat membantu lagi, yang terakhir kali saja tidak di anggap.


Saat Nadhira mulai menyeberang tiba-tiba tangan nya di tarik oleh seseorang.


Dia adalah pria yang di tolongnya barusan. Pria itu menariknya membawanya ke sebuah rumah makan yang memiliki ruang pribadi.


Nadhira terus menolak akan tetapi pria itu terus memaksa.


"Aku bisa melakukannya sendiri!" Ucap Nadhira dingin.


"Aku akan bertanggung jawab dan ini ucapan terimakasihku telah menolongku barusan," ucap pria itu dengan datar.


"Oh ternyata bisa berterimakasih juga!" Batin Nadhira menatap pria yang sedang berjongkok mengobati luka goresan dan keseleo di kakinya.


Setelah beberapa saat pengobatan pertama pun selesai. Sebenarnya Nadhira sendiri pun bisa melakukannya, akan tetapi untuk menerima niat baik pria itu dia pun membiarkannya mengobatinya.


"Terimakasih!" Ucap Nadhira seraya berdiri.


"Kalau begitu aku akan pergi! Dan oh jangan terlalu menghindari para fans mu," ucap Nadhira.


Nadhira juga tidak tahu siapa pria di depan nya ini, akan tetapi kalau dilihat dari kejaran para gadis bar-bar di jalan tadi, kemungkinan dia seorang selebritis atau penyanyi? Entahlah.


"Tidak semudah yang kau katakan!" Ucap datar pria itu. Dia melepa masker nya dan menampakkan wajah dengan pahatan sempurna. Umurnya berkisar 20 tahunan ke atas.


Nadhira berbalik belum sempat menyentuh gagang pintu. "Aku tahu! Akan lebih baik jangan bermuka dua. Di depan khalayak baik dan di belakang mengatai para fans. Itu tidak baik. Kalau memang sifat mu yang sebenarnya itu seperti sekarang, tunjukkan lah begini, jangan memberi harapan kepada orang yang berharap sikap manis dari kita," ucap Nadhira kemudian dia meraih gagang pintu, memutarnya dan keluar dari ruang pribadi yang di pesan Reyhan? Ya itu namanya.


Reyhan mencerna setiap saran yang di ucapkan seorang gadis kecil untuknya, dia merasa aneh dengan saran itu, tapi masuk akal dan dapat di terima olehnya. Memang selama ini dia selalu tersenyum dan bersikap manis di depan para fansnya saat di performs atau sedang di lokasi syuting, tapi jauh di dalam lubuk hati terdalam itu berkebalikan dengan sikap aslinya yang dingin dan acuh.


Dia tidak memiliki pilihan lain, karena itu resiko dalam pekerjaannya.


Reyhan salah satu personil dari group boyband FiveBoys di kota A sekaligus seorang aktor. Dia berada di kota B karena grup nya ada konser.


Dia merasa bosan jadi dia berjalan-jalan hingga tak sengaja ada yang mengenalinya. Dia lari dan terjadi lah kecelakaan yang dimana dia di tolong oleh seorang gadis kecil.


Setelah sadar, dia berpikir apakah gadis itu tidak mengenalinya? Gadis itu terlihat biasa saja saat melihat wajahnya?


Entahlah, tapi dia akan mengingat wajah gadis itu, kalau-kalau suatu saat mereka akan bertemu lagi.


¤¤¤¤¤


Lari-lari...


Seperti hari-hari sebelumnya Nadhira terus melatih kekuatan daya tahan tubuhnya dengan berlari.


Setiap pagi selain menuju sekolah dan sebelum berangkat, dia juga berlari bersama teman-temannya. Jadi kalau di hitung dia berlari sehari itu sebanyak empat kali dengan pulang nya dan dengan jumlah jarak tak terhitung.


Dia juga merasa kalau tubuhnya semakin terbiasa dengan gerakan-gerakan latihan yang dinasahnya dari kehidupan nya dulu.


"Hahhh...," Nadhira menghela nafas berat. Mungkin dia bosan.


"Ada apa? Tidak biasanya menghela nafas?" Damian yang ternyata juga baru datang mendapati Nadhira tak seperti biasanya pun bertanya penasaran.


"Tidak ada! Hanya merasa bosan," ucap Nadhira.


"Eh bos, bosan ya! Aku juga!" Ucap Bagas datang-datang langsung ikut obrolan.


Plak!


Pukulan cukup keras tepat di bahu kiri Bagas. Siapa yang memukul? Tentu saja Clara. Dia kesal di tinggalkan sendirian di lapangan.


"Apaan sih, sakit tau...," setelah sadar akan sesuatu dia menatap Clara.


Clara yang di tatap seperti itu tidak bisa tidak curiga. "Apa?"


Bagas memberikan dua jempol kepada Clara dan berkata. "Wow...pukulanmu semakin hari semakin sakit. Sepertinya latihannya berhasil!" Ucap Bagas.


Nadhira menatap Clara dengan tersenyum membuat Clara malu dan memerah. Dia memukul lengan Bagas lagi dengan malu-malu.


"Kalau bosan, kalian bisa datang ke konser ku malam sabtu ini. Bukan konserku saja sih. Ada grup boyband FiveBoys juga," tawar Damian.


"FiveBoys?" Ucap Clara memastikan.


Damian mengangguk. "Wahh mau mau, aku akan datang. Aku akan membeli tiket untuk kita semua nanti. Kita ajak yang lain," ucap Clara dengan semangat seraya mengetik sesuatu di layar ponselnya dan ternyata dia mengajak untuk nonton konser Damian dan konser FiveBoys di group WeChat mereka.


Nadhira menghela nafas, dia tidak terlalu tertarik dengan konser atau apa pun itu, tapi karena Clara yang mengajak dan teman-teman yang lain juga ikut dia pun juga akan ikut.


KKRREEIITT!


Tak lama setelahnya, guru yang mengajar pun masuk. Di tangan sang guru sudah terdapat sebuah buku absen dan buku penilaian.


"Selamat pagi semuanya,"


"Pagi pak,"


Pelajaran di mulia dengan khusuk. Semua siswa memperhatikan penjelasan dari guru.


¤


¤


¤


Semoga Suka...