Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Pasar Barang Antik Kota A


Selamat Membaca...


•••••


Brughh


Hmzzz


Hmzzz


Tanpa mengganti baju maupun mandi, hanya sempat melepas maskernya dan melepas sepatunya, Nadhira langsung tertidur di ranjang king size kamar hotel yang empuk setelah menyentuh permukaannya yang nyaman.


Sangat jelas terlihat dari wajah tidur Nadhira saat ini bahwa dia sangat kelelahan karena jam telah menunjukkan hampir jam satu pagi.


¤¤¤¤¤


Ring ring ring ring


Ponsel Nadhira berdering menandakan seseorang memanggilnya melalui panggilan telepon.


Mata Nadhira mengerjap menyesuaikan cahaya masuk ke retinanya. Di usapnya pelan kemudian mengambil ponsel yang terus terusan berdering di samping badannya.


"Hallo!" Ucap Nadhira dengan nada serak dan malas.


'Malam tadi kau kemana? Aku tidak mendapatimu membukakan pintu kamarmu! Saat itu jam 12 malam. Kemana kau, kau tidak ada sangkut pautnya dengan kejadian malam tadi bukan?' Tanya White Snake was was. Ya dia adalah White Snake yang menelepon.


"Hmmm, tidak! Aku tidak terlibat!" Jawaban dari Nadhira membuat White Snake menghela nafas lega.


Bukannya dia takut dengan urusan dengan kepolisian akan tetapi dia malas dengan itu, karena dia tidak terlalu akrab dan memiliki kenalan di bidang kepolisian. Mudah untuk berurusan dengan mereka, karena White Snake lebih memiliki koneksi dengan kemiliteran daripada kepolisian. Tapi karena alasan malas dan dia juga memiliki kenangan buruk dengan kepolisian jadi dia tidak suka berhubungan dengan hal yang berbau polisi.


'Bagus!' Setelah satu kata itu White Snake memutuskan sambungan telepon mereka.


Nadhira....


Brughh...


Dia kembali berbaring dan memejamkan matanya setelah menaruh ponselnya di meja samping ranjangnya.


Jam masih menunjukkan angka 5, dia masih sangat mengantuk dan lagi dia juga harus mengisi tenaganya untuk pertarungan malam ini.


Beberapa jam kemudian yaitu tepatnya jam 7:30 pagi. Nadhira terbangun karena ponselnya kembali berbunyi.


Ring ring ring


Nadhira meraba meja di samping ranjangnya dan mendapat ponselnya kemudian langsung mengangkatnya tanpa melihat siapa penelepon dan tanpa bangun dari tidurannya.


"Hallo!" Dengan suara serak khas bangun tidur dan tanpa membuka matanya Nadhira menjawab panggilan telepon itu.


'Ira, baru bangun ya?' Tanya seorang wanita di seberang sana.


Mata Nadhira langsung terbuka lebar saat mengenali suara tersebut. Dia langsung duduk dan memastikan bahwa yang meneleponnya adalah ibunya, Puspa.


"A-ahh, iya bu. Aku baru bangun, hehe. Malam tadi aku dan teman-temanku begadang. Yang lain juga belum pada bangun," bohong Nadhira.


'Oh begitu..., jangan sering begadang, tidak baik bagi kesehatan!' Nasihat Puspa kepada Nadhira.


"Baik bu, aku tidak akan sering begadang kok. Oh ya bu ada apa menelepon?" Tanya Nadhira mengalihkan topik.


'Oh iya ibu sampai lupa... Tidak ada yang spesial, hanya ingin menanyakan kabarmu saja,' ucap Puspa.


"Aku baik-baik saja kok bu, ibu sudah makan?" Tanya Nadhira.


'Bagus kalau begitu, ibu jadi tenang, ibu sudah makan kok dan sekarang ibu akan berangkat kerja dulu. Kalau begitu ibu putus sambungannya ya. Selalu jaga kesehatan!' Nasihat Puspa lagi.


Ngantuk Nadhira telah hilang, dan dia memilih untuk berendam.


Setengah jam berlalu acara berendam Nadhira telah selesai.


Merasa bosan di dalam kamar, White Snake pun tak memberi kabar tentang acar pada siang hari ini, jadi Nadhira memilih untuk keluar jalan-jalan.


Sebelum pergi dia mengirim pesan kepada White Snake bahwa dirinya akan pergi keluar agar jika White Snake tidak mencarinya ke kamarnya.


Nadhira keluar dengan memakai kemeja hijau muda dengan rok hitam di bawah lutut, sepatu snikers putih dan tak lupa tak hitam kecilnya.


Untuk rambutnya, dia menggalungkan nya sedikit ke atas memperlihatkan leher putihnya. Tak lupa masker untuk menutupi wajahnya.


Nadhira telah menelepon layanan sewa mobil yang di sediakan pihak hotel untuk mengantarkannya kemanapun dia mau.


Dia berencana untuk mendatangi pasar barang antik yang sempat di cari informasinya.


Pasar barang antik di Kota A sangat besar. Bukan hanya menjajakan barang-barang antik, akan tetapi di pasar itu terdapat kasino, dimana orang-orang berjudi, entah itu judi uang, barang antik dan sebagainya.


Di pasar tidak dibatasi usia untuk datang ke sana, akan tetapi untuk memasuki kasino harus berusia di atas dua puluh tahun. Sayang sekali saat ini Nadhira masih berusia tujuh belas tahun kurang.


Tapi tidak kehilangan akal, Nadhira telah mempersiapkan rencananya sendiri untuk bisa masuk ke sana.


Saat ini Nadhira berada di sebuah toko baju, dia memilih beberapa set baju untuk penyamaran menjadi wanita dewasa.


Tak lupa beberapa make up yang di perlukan juga di belinya.


Setelah sudah cukup membeli keperluan penyamaran, Nadhira pun langsung pergi ke pasar barang antik yang memerlukan waktu satu jam untuk sampai ke sana.


Nadhira tidak langsung melakukan penyamaran karena sebelum masuk ke kasino, Nadhira berpikir untuk mencari barang-barang antik asli dan melelangnya di sana.


Satu jam tepat mobil yang di sewa Nadhira berhenti di depan gang dimana pasar barang antik berada. Mobil tidak dapat masuk, karena memang jalanan nya berupa gang kecil hanya muat untuk pejalan kaki dan sepeda motor, itu pun hanya pejalan kaki saja yang ada, karena memang dilarang menggunakan alat transfortasi berupa apa pun untuk masuk ke sana.


"Bapak bisa pergi dulu, nanti saat saya telepon baru bapak menjemput saya," ucap Nadhira.


"Baik nona!" Jawab pak supir.


Mobil pun pergi meninggalkan Nadhira di sana. Banyak juga orang-orang yang baru datang menggunakan mobil lainnya, maupun taxi.


Nadhira berjalan menyusuri gang kecil itu, setelah hampir sepuluh menit memasuki gang kecil itu terlihatlah pasar barang antik yang di padati banyak orang.


Sangat ramai, lebih besar dari pasar barang antik yang pernah di datangi Nadhira di kota B.


Nadhira sebenarnya tidak terkejut lagi, karena pada kehidupan dulu dia pernah sekali ke sini bersama teman-temannya, akan tetapi saat itu dia tidak terlalu tertarik dan hanya berjalan-jalan mengikuti teman-temannya tanpa memperhatikan sekeliling. Jadi dia tidak terlalu mengenal lokasi pasar barang antik ini.


"Aku baru sadar sekarang kalau pasar ini sangat lah besar. Dulu aku tidak terlalu memperhatikannya," gumam Nadhira.


Dia terus berjalan pelan sambil sesekali berhenti ke toko barang antik. Dalam satu toko yang dia masuki dia mendapat beberapa barang antik yang menurut pemilik toko itu barang palsu akan tetapi berbeda dengan penglihatan Nadhira. Dia menggunakan mata ajaibnya untuk mengetahui barang-barang antik yang asli.


Barang paling mahal yang dia beli berharga satu juta rupiah berbentuk sebuah guci sedang dengan ornamen bebatuan yang di tempel sembarang akan tetapi memiliki seni yang tinggi bagi pecintanya.


Dengan gerobak yang di sewanya Nadhira membawa hampir sepuluh barang yang menurut orang lain hanya barang biasa, tapi tidak bagi Nadhira yang memiliki mata istimewa.


¤


¤


¤


Semoga Suka...