
Selamat Membaca...
•••••
Terdengar deheman sebelum suaranya terdengar. "Hmm, ini aku!" Ternyata benar Reyhan. Mengapa dia di sini?
"Ada apa? Kenapa kau membawaku kesini?" Tanya Nadhira tenang.
Kalau itu gadis lain sudah di pastikan mereka akan menjerit kesenangan karena idol nya ada di depan mata, akan tetapi berbeda dengan Nadhira yang sangat acuh.
"Kau berbeda," perkataan Reyhan membuat Nadhira bingung. Apanya yang berbeda?
"Hmm?"
"Kau berbeda dengan gadis lain," ucap Reyhan lagi.
"Tentu aku berbeda!" Ucap Nadhira santai, tapi membuat Reyhan bingung.
"Ya, nama, fisik, wajah dan identitas pun setiap gadis itu berbeda kan," jelas Nadhira tenang.
Tiba-tiba Reyhan tertawa tertahan, takut ada yang dengar.
"Kenapa tertawa? Ada yang salah dari perkataan ku?" Tanya Nadhira bingung.
"Tidak... Tidak... Kau benar setiap orang memiliki perbedaan," ucap Reyhan.
Nadhira setuju dan mengangguk kemudian dia menatap mata Reyhan. "Sedikit perubahan dari terakhir kali ku lihat raut wajahmu," ucap Nadhira menilai.
Reyhan menatap mata Nadhira balik dan membatin. "Mungkin karena setelah bertemu denganmu dan mendengar nasehatmu,"
"Oh ya, kenapa kau membawa ku kesini?" Tanya Nadhira lagi.
"Tidak ada, aku hanya ingin melihat mu lebih lama. Tadi di panggung sangat terbatas," ucap Reyhan santai.
"Melihatku? Untuk apa? Ku rasa aku tidak semenarik itu hingga seorang top idol bernama Reyhan tertarik melihatku! Hehe," ucap Nadhira terkekeh.
Mata Reyhan melebar sesaat saat melihat kekehan Nadhira yang baru di lihatnya, pasalnya dari pertama bertemu ekspresi wajah Nadhira tenang, datar dan dingin saja yang di lihatnya.
Tanpa sadar dia bergumam. "Cantik,"
Pendengaran Nadhira tak bisa di remehkan dia sangat peka akan suara sekecil apa pun. "Memang aku cantik," ucap Nadhira percaya diri membuat Reyhan bersemu merah kemudian terkekeh dengan kepercayaan diri Nadhira. Akan tetapi memang itu faktanya bahwa Nadhira itu cantik.
"Sudahlah! Kalau tidak ada yang penting aku akan pergi! Teman-temanku pasti sudah menunggu lama," ucap Nadhira yang akan pergi tapi tangan nya lagi-lagi di tahan oleh Reyhan. Nadhira menoleh. "Ada apa lagi?"
Tanpa menjawab Reyhan mengeluarkan ponselnya dan Mlmenyerahkannya kepada Nadhira. Nadhira menatap ponsel itu dan menatap Reyhan lagi.
"Nomormu!" Ucap Reyhan.
"Oh!" Nadhira mengambil ponsel itu dan mengetik nomornya di ponsel Reyhan. "Sudah," ucap Nadhira mengembalikan ponsel Reyhan.
"Thanks!" Ucap Reyhan.
"Hmm, kalau begitu aku pergi!" Ucap Nadhira di angguki oleh Reyhan.
Nadhira mencari teman-temannya di parkiran, itu yang dikatakan mereka melalui pesan singkat.
Terlihat mereka berdiri di luar mobil mungkin untuk memudahkan Nadhira menemukan mereka.
"Maaf lama," Ucap Nadhira merasa bersalah. Dia merasa, dia pergi cukup lama dan lagi dia tahan oleh Reyhan.
"Santai aja! Kami baru ngumpul di sini juga kok. Tadi habis minta foto dan tanda tangan FiveBoys," ucap Rima.
"Tidak apa," sepertinya dia ngambek.
"Dia ngambek karena kami abaikan! Hehe," ucap Clara.
Nadhira tersenyum mendengarnya. "Sudahlah Jangan ngambek. Mau apa nanti ku turuti," ucap Nadhira.
Mata Bagas langsung bersemangat. "Aku mau nambah porsi latihan, sama dengan Rangga!" ucap Bagas.
Saat ini Rangga tidak ikut nonton konser bersama mereka, karena dia memiliki kesibukan di organisasi Harimau Putih mendampingi kakaknya, Reno.
Memang porsi latihan Rangga dan Bagas berbeda, karena daya tahan tubuh serta kemampuan Bagas di bawah Rangga yang sudah latihan bertahun-tahun.
"Ok! Hari Sabtu depan kita akan latihan di lapangan pusat kota dan malam harinya akan ada kabar untuk kalian," ucap Nadhira yang mendapat tatapan penasaran dari semuanya, akan tetapi Nadhira tetap merahasiakannya.
"Yeay!!!" Seperti anak-anak mendapatkan mainan baru, begitu lah bahagianya Bagas.
Rima dan Clara...mereka rasa porsi latihan mereka sudah cukup untuk sekarang, nanti lama-kelamaan juga akan bertambah, jadi mereka santai saja dulu.
Mereka berlima pun pulang. Rima mengantar mereka satu persatu ke rumah mereka masing-masing. Saat itu kami sudah menunjuk kan jam 11 malam. Rima sudah di tawari untuk menginap di rumah Clara dan lainnya juga, akan tetapi dia tetap akan pulang.
¤¤¤¤¤
Pagi ini Nadhira bangun agak siangan. Karena malam tadi dia cukup larut malam untuk tidur karena malam tadi dia berkomunikasi dengan White Snake untuk pertarungan bebas selanjutnya. Hadiah yang di tawarkan sungguh menggiurkan 'Lima milyar jika menang!' Uang yang sangat banyak. Itu dapat membantunya untuk membeli perusahaan pria setengah baya itu kalau beliau mau. Dan jika tidak dia akan menanam saham ke perusahaan lain, atau membeli toko-toko.
Pertarungan bebas akan di laksanakan di tempat yang berbeda. White Snake akan membawa Nadhira ke Kota A untuk pertarungan bebas kali ini dan waktunya bertepatan dengan hari libur karena ujian simulasi kelas dua belas. Jadi Nadhira memikirkan alasan apa yang akan di berikan nya kepada ibunya.
Hampir jam 8 Nadhira masih bergelut dengan selimutnya dan Puspa tidak membangunkannya, karena dia mengerti bahwa Nadhira kelelahan karena pulang larut malam tadi malam.
Puspa pergi bekerja meninggalkan Nadhira sendiri di rumah. Hari Senin hingga Kamis pun sekolah di liburkan karena akan di laksanakan ijin simulasi untuk kelas dua belas. Jadi hari ini dan sampai Jumat Andara tidak akan berhubungan dengan dunia luar. Dia fokus belajar.
Nadhira bangun dari tidur cantiknya dan pergi ke kamar mandi untuk melakukan kebiasaannya yaitu mandi. Setelah mandi dia pergi ke dapur dan ternyata ibunya telah menyisihkan makanan untuknya dan dia hanya perlu memanaskannya. Nadhira makan dengan lahap dan berhenti saat mengingat alasan apa yang harus dia berikan kepada ibunya untuk pergi beberapa hari.
"Apa ya?" Sambil mengetuk-ngetuk dagunya seraya berpikir alasan yang bagus dan dapat di percaya untuk di berikan kepada ibunya.
Tik tok tik tok....
"Aha!!! Bagaimana kalau....,"
¤¤¤¤¤
Saat ini Nadhira sedang makan malam bersama ibunya dia sesekali melirik ibunya yang sedang makan. Puspa menyadari itu dan berkata. "Ada yang ingin di katakan, Ira?"
"Ehehehe," Nadhira terkekeh dan menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal sama sekali. "Emm, bu... Teman-temanku mengajakku untuk liburan. Empat hari ke depan kan ujian simulasi untuk kelas dua belas jadi kami kelas sepuluh dan sebelas di liburkan. Nah apakah aku boleh pergi bersama mereka. Emm selama tiga hari. Kami akan berlibur di pantai sambil berkemah di sana," ucap Nadhira panjang lebar. Agar ibunya yakin dan percaya dengan semua alasannya.
Puspa tersenyum dan mengangguk. "Boleh kok! Tapi hati-hati di sana ya!" Ucap Puspa yang telah selesai dengan makanannya dan membenahi gelas dan piring kotor menaruhnya ke wastafel setelah itu dia kembali lagi ke meja duduk di sana menatap Nadhira dengan senyuman.
"Ibu senang di sekolah barumu kau mendapatkan banyak teman," ucap Puspa.
"Iya bu! Aku juga merasa tidak baik selalu menjadi pendiam di sekolah dan tidak memiliki teman seperti di sekolah dulu," ucap Nadhira dengan tersenyum.
¤
¤
¤
Semoga Suka...