
Selamat Membaca...
•••
...Flashback On...
Setelah Kai dan Zidan kembali menjalanikan mobil mereka. Nadhira dan Marcel tidak langsung mengikuti mobil itu, akan tetapi menghalangi sebuah mobil hitam yang sejak awal mengikuti mobil Kai dan Zidan.
"Kenapa mereka malah tidak mengikuti kita? Bukankah harusnya mereka mengawal dari belakang?" Tanya Kai tak mengerti.
Zidan menggedikkan bahunya. "Entahlah. Mungkin mereka menjaga dengan cara mereka sendiri,"
Kembali kepada dua manusia berbeda gender yang sedang ugal-ugalan? Ya dalam pandangan pengendara lain mereka berdua ugal-ugalan, tapi sebenarnya tidak.
Mereka sedang menghalangi laju sebuah mobil hitam yang tadinya mengikuti mobil yang di naiki oleh seseorang yang harus mereka kawal.
...PoV Marcel On...
Dhira, ya aku berniat memanggil gadis itu dengan nama Dhira. Dia gadis yang sungguh misterius. Aku tidak dapat menebak apa isi kepala kecilnya itu.
Dari awal bertemu juga sudah aneh dan sekarang kami sedang menghadang sebuah mobil berwarna hitam yang tadi nya mengikuti mobil tuan muda yang kami jaga.
Ya! Aku sekarang sudah bukan pengangguran lagi. Entah ini hanya perasaan ku atau apa. Karena semenjak aku bertemu gadis ini aku selalu beruntung. Yang tadi nya aku seorang pengangguran yang mana masih berkuliah dan sangat membutuhkan uang untuk membayar kuliah sangat beruntung ditawari pekerjaan oleh orang hebat.
Ah jika saja saat itu aku benar-benar pergi meninggalkan gadis itu, aku tidak bakalan mendapat pekerjaan dengan gaji yang besar seperti ini.
Ya ku akui saat itu aku takut, bukan takut terluka atau mati, tapi takut saat selamat akan mendatangkan masalah berurusan dengan orang-orang kalangan atas.
Kembali ke sekarang, Dhira memberi kode kepadaku untuk mengecoh orang-orang yang kami halangi, karena beberapa sepeda motor membuat kami kewalahan.
Karena mobil tuan muda kami sudah tak terlihat kami pun berniat untuk mengecoh mereka dengan memasuki gang kecil.
...PoV Marcel End...
Akhirnya setelah mereka memasuki gang-gang dan berakhir di gang kecil yang mana mobil tidak dapat masuk, hanya tinggal menyingkirkan tiga sepeda motor yang masih bisa mengikuti mereka.
Agak sulit, karena dalam gang kecil itu padat penduduk.
Mau tak mau akhirnya mereka menghentikan motor mereka di tempat yang tak ada penduduk nya.
3 orang pria berbadan besar dengan satu orang berkepala botak, rambut gondrong, dan rambut berwarna putih.
"Hei kakek, mengapa kakek dan dua anak kakek mengejar kami?"
Nadhira sebenarnya tak berniat mengatai, tapi dia hanya melihat pria yang berambut putih. Apakah dia ubanan? Pikirnya.
"Siapa yang kau panggil kakek?" Tanya marah pria berambut putih.
"Anda!"
Jawaban Nadhira membuat Marcel menepuk jidatnya lelah. "Beginikah sifat asli Nadhira?" Batin Marcel.
Sedangkan ketiga pria tersebut terutama pria berambut putih sudah sangat marah. Dia dikatai kakek, berarti sudah tua dong. Sedangkan dia masih dua puluhan loh.
"Jangan basa-basi, apa mau kalian?" Seperti memiliki banyak kepribadian, Nadhira meriah mimik wajahnya menjadi serius, tidak ada lagi wajah polos-polos.
Nadhira sudah lelah, dia tak bisa menunggu lagi, karena dia tahu pasti setelah kembali ke mension Ling dia tidak akan dapat langsung beristirahat.
Duagh
Arghh
Satu batu mendarat tepat di jidat pria botak, membuat darah bercucuran. Tak main-main lempar Nadhira, kepala pria botak itu bocor dan langsung pingsan karena banyaknya mengeluarkan darah.
"Siapa lagi yang mau seperti dia?"
Suara datar, dingin tajam dan rendah itu membuat tiga orang pria di sana merinding.
"Mengerikan!" Batin mereka.
Tak ada sahutan, mereka memilih mengangkat temannya yang pingsan dan pergi tanpa suara.
...Flashback Off...
Di ruang kerja Tuan Ling duduklah tiga orang berbeda usia saling diam tidak ada salah seorang dari mereka akan memulai pembicaraan dari sepuluh menit yang lalu.
Untuk dua anak muda berbeda gender itu wajar jika mereka hanya diam, karena mereka hanya bawahan berbeda dengan pria berumur di depan mereka yang sedang duduk melamun dengan pikiran nya sendiri.
Tak tahan pagi anak mudan bergender perempuan itu membuka suara. Dia memang tipe yang tidak suka menunggu. Sepuluh menit sudah toleransi terbesarnya untuk menunggu.
Marcel menyenggol pelan pundak Nadhira dan mendapat tatapan tajam dari Nadhira. 'Apa?' tanpa bersuara pun Marcel tau jika tatapan itu bertanya. Marcel menggeleng pertanda tak jadi, karena keberaniannya tiba-tiba menciut saat melihat tatapan itu.
"Kekekeke," perhatian mereka teralihkan saat kekehan terdengar dari hadapan mereka. Siapa lagi kalau bukan Tuan Ling.
"Saya salut dengan keberanian mu gadis kecil! Tapi saya sarankan, jangan terlalu percaya diri kalau berhadapan dengan orang selain saya. Saya masih baik, tapi belum tentu orang lain," nasehat Tuan Ling.
"Saya tahu akan hal itu! Anda tidak perlu mengingatkan saya, karena saya selalu mengingatnya!"
Lagi-lagi Tuan Ling terkekeh, dia sungguh kagum dengan gadis muda yang lebih muda dari cucunya sudah sangat bersikap dewasa di banding kan cucunya.
"Ya ya ya! Kalian pergi istirahatlah, saya memanggil kalian hanya untuk menemani saya tadi," usir Tuan Ling tanpa merasa bersalah.
Nadhira dan Marcel pun keluar dari ruang kerja Tuan Ling dan saat akan melewati tangga menunju kamar mereka yang berada di lantai satu mereka di hentikan oleh suara yang memanggil mereka.
"Kalian," suara itu kepunyaan Kai yang di belakang nya berdiri sesosok Zidan.
"Hm?" Deheman serta terangkatnya sebelah alis pertanda Nadhira bertanya untuk apa Kai memanggil mereka.
Kai yang di ikuti Zidan di belakangnya menghampiri Nadhira dan Marcel.
"Em... Apakah kalian di hukum oleh kakek?" Tanya Kai ragu-ragu.
Mereka berdua menggeleng. "Tidak! Kenapa?" Bukan Nadhira yang menyahut akan tetapi Marcel.
"O-oh benarkah! Baiklah kalau begitu," setelah mengatakan itu Kai langsung pergi meninggalkan mereka yang berdiri cengo menatap kepergiannya.
"Maafkan dia," ucap Zidan sambil menggaruk tengkuknya yang terasa gatal.
"Hm," Nadhira.
"Ah bukan masalah! Kalau begitu kami pergi," ucap Marcel yang di angguki oleh Zidan yang juga pergi menyusul Kai.
...PoV Nadhira on...
"Haaaahhh,"
Apakah ini benar? Jalan yang ku pilih!
Aku merasa ini salah! Akan tetapi juga benar!?
Apa aku harus melanjutkan pekerjaan ini? Yah meski aku tidak ke kurangan uang sama sekali, tapi yah lumayan untuk menambah pemasukan selama aku tidak menjual beberapa barang antik ku.
Ja...
Tok Tok tok
...PoV Nadhira End...
Tak jadi melanjutkan gumamannya Nadhira berdiri menuju pintu kamarnya karena ada yang mengetuk.
Kreatttt
Hanya kepala Nadhira yang keluar. "Ya?"
"Marcel? Ada apa kau mengetuk pintu ku?"
Ternyata Marcel yang mengetuk pintu dengan keadaan yang errrr. Apakah dia tidur berjalan?
Tak menyahuti Nadhira Marcel dengan mata terpejam nya dan air liur yang melek di sudut bibir nya pergi meninggal kan Nadhira yang cengo.
"Beneran tidur berjalan? Wah ajaib benar," pintu kamar terbuka sempurna. Sang pemilik kamar keluar dan menutup nya kembali kemudian mengikuti kemana Marcel pergi.
Tap tap tap
Langkah kaki beriringan di lorong yang remang-remang dan sepi. Bagaimana tidak sepi, karena jam menunjukkan jam 12 malam. Hampir bahkan seluruh orang di mension itu sudah tidur.
Prankkk....
¤
¤
¤
Semoga Suka...