
Selamat Membaca...
•••
Nadhira duduk dengan gelisah akibat tendangan-tendangan dari dua janin yang ada di perutnya.
Sempat Nadhira lihat kilatan sendu dan sedih dari pria yang berdiri tegap di samping nya itu saat menatap perutnya. besarnya.
Nadhira mulai paham, dendam pria ini terhadap suaminya, entah pemikirannya ini benar atau salah tapi yang pasti kemungkinannya berhubungan dengan kandungan.
"Sudahlah kau banyak tanya. Sekarang kita lihat bagaimana reaksi suami mu yang melihat istri tercintanya sedang dalam bahaya,"
Tutttttt
Tutttttt
Tutttttt
Sebuah panggillan video yang menandakan panggillan itu terhubung dan tinggal menunggu diangkat.
'Kau, lepaskan istriku! Dia tidak memiliki salah denganmu. Urusanmu hanya dengan ku!' Dia Ganendra yang terlihat sangat kacau di seberang sana.
"Hahahaha bagaimana rasanya melihat orang yang kau cintai dalam keadaan bahaya? Di sandera? Diambang hidup dan mati bahkan dalam keadaan mengandung?" Ucap pria itu seraya menyorot kamera ke arah Nadhira, memperlihatkan keadaan Nadhira yang terikat rantai di kedua tangan dan kakinya.
'Malvin Kau!' Geram Ganendra.
Ganendra tahu kalau Nadhira terlihat tenang, dan baik-baik saja karena dapat dia lihat Nadhira sangat santai, tapi tidak dengan dirinya yang sangat khawatir meskipun sudah melihat kalau Nadhira baik-baik saja. Maklum bucin maksimal ditambah dua calon anaknya juga masuk dalam bahaya.
"Hahahaha, kau merasakannya kan? Begitu juga aku dulu yang merasa akan mati melihat istri dan calon anakku menjadi sandera musuh dan dihari istri dan calon anakku benar-benar meninggal HARI itu pula hatiku MATI Ganendra hiks hiks RASANYA SAKIT...sakit kau tahu DAN sekarang RASAKAN ITU hahaha hiks hiks," ucap Malvin diakhiri dengan tangisan amat menyedihkan.
Sangat jelas Nadhira lihat kalau Malvin ini sangat-sangat terpukul dari cerita yang dikisahkan nya barusan.
'Maafkan aku Malvin, waktu itu aku bukanlah ketua team yang baik, saat itu aku tak mampu menyelamatkan istri dan calon anakmu, maafkan aku. Tapi ku mohon lepaskan istri dan calon anakku, ku mohon!' Ganendra saat ini terlihat sangat rapuh, dia memelas kepada Malvin dan mereka sama-sama menangis saat ini.
"Datanglah sendiri ke rumah hutan yang pernah kita jadikan tempat peristirahatan kita dulu! Ingat! Jangan berani-berani mengajak seseorang! Kau harus datang sendiri,"
Tut
Malvin langsung memutuskan sambungan panggillan video dan keluar dari kamar.
...•••...
Di mansion Ganendra.
Saat ini semua anggota keluarga baik itu dari pihak keluarga Ganendra maupun keluarga Nadhira telah berkumpul disana. Bahkan teman-teman Nadhira yang memang sebagian sudah menatap di Kota A berkumpul.
Mereka melihat bagaimana saat ini kondisi Nadhira yang sedang mengandung besar terikat rantai besi.
"Nak kau mau kemana? Jangan katakan kau akan pergi sendiri, seperti permintaannya?" Tanya ibunya. Dia seorang ibu, bagaimana tidak khawatir kalau melihat anaknya akan pergi menantang maut, tapi dia juga khawatir dengan menantunya.
"Ibu tenang saja, aku akan baik-baik saja!" Ucap Ganendra meyakinkan.
"Kak...," ingin mencegah, tapi apalah daya Giandra yang tahu kalau kakaknya ini keras kepala.
"Begini saja, kalau kakak tidak pulang sampai besok pagi, kami akan menyusulmu dengan bala bantuan! Setuju?" Ucap Giandra.
Semua nya setuju dengan ide Giandra. Sekarang masih sore hari, dan menuju tempat yang di maksud memerlukan waktu setengah hari untuk sampai disana dan kemungkinannya Ganendra akan sampai di sana hampir tengah malam, dan belum lagi memasuki hutannya jadi sudah tepat kalau Giandra mengusulkan pagi hari untuk menyusul.
"Baiklah!" Setuju Ganendra.
Ganendra pun pergi diantarkan semua orang. "Hati-hati!" Ucap ayah Ganendra sambil menepuk pelan kedua belajar pundak Ganendra, dan kemudian diangguki Ganendra.
Ganendra pun berangkat menggunakan mobilnya, membelah jalan kota yang lumayan padat karena aktivitas orang-orang yang pulang dari pekerjaan mereka.
Setelah menempuh perjalanan yang jauh akhirnya Ganendra sampai di depan hutan dan keadaan yang sunyi, gelap mencekam tak membuat Ganendra takut. Dia turun dari mobilnya dan dari situ dia akan jalan kaki, karena namanya juga hutan mana bisa mobil masuk.
Keadaan yang gelap karena malam yang hampir menuju tengah malam membuat langkah Ganendra tak selancar saat dia bertugas menyergap penjahat, apalagi sekarang pikirannya dipenuhi dengan ke khawatiran.
"Tunggu aku!" Gumam Ganendra menatap ke depan kemudian dia pun memasuki hutan lebih dalam.
Agak sulit menemukan rumah yang dimaksud, karena selain keadaan yang gelap, dia juga sudah sangat lama tidak ke rumah itu.
Hampir dua jam akhirnya dia melihat cahaya di depan sana. Dia melangkah lebih cepat.
...•••...
Kita beralih kepada Nadhira yang entah sudah berapa lama dia tidur-tiduran, namun yang pasti dia tidak tidur sepenuhnya, dia masih waspada.
Dia malas bergerak, mungkin bawaan hormon kehamilan, padahal kalau mau dia dengan mudahnya melepas kunci pada rantai di tangan maupun di kakinya.
Tapi tiba-tiba matanya melebar saat melihat satu orang yang sangat dia harapkan kehadirannya, tapi masalahnya, apakah dia datang sendiri?
Dengan cepat Nadhira membuka kunci gembok pada rantai yang mengikatnya saat melihat Ganendra di kepung oleh banyak orang. Dia tahu kalau Ganendra akan mampu mengalahkan mereka, baik menggunakan senjata ataupun tidak, tapi dari sebagai sandera yang merupakan kelemahannya dapat dipastikan dia rela di pukul bahkan dibunuh sekalipun.
Setelah berhasil melepas semua gembok menggunakan yahh alat yang selalu dia bawa, belati kecilnya.
Perlahan Nadhira mulai menuruni kasur setelah memastikan bahwa kandungannya akan baik-baik saja, saat diri nya kemungkinan akan sedikit beraksi.
Dia mencoba memutar gagang pintu dengan pelan agar tak di sadari oleh orang luar bahwa dirinya telah lepas dari rantai dan ternyata pintu dikunci. Dia bisa membukanya, tapi dapat di pastikan sebelum dia keluar dan bertemu dengan Ganendra dia sudah kembali di rantai.
Tak banyak pikir Nadhira pun melihat jendela dan dengan cepat mendekati jendela. Senyumnya terukir ketika mengetahui jendela tersebut tak memakai teralis dan beruntungnya lagi rumah ini hanya memiliki satu lantai jadi dirinya tak perlu melompat.
Nadhira dengan pelan, perlahan dan hati-hati menaiki jendela dan keluar dari sana.
Saat telah berhasil mendarat dengan mulus, angin segar langsung menerpa lembut wajahnya.
Sekarang bukan waktunya menikmati angin segar, karena sekarang yang harus dia lakukan ialah mendatangi Ganendra yang kemungkinan saat ini sedang di tekan.
Kakinya mulai melangkah, sangat mudah, karena semua yang berjaga kemungkinan telah mengepung Ganendra. Karena terlihat sepi disepanjang dia melangkah, padahal biasanya kalau dalam kasus penculikan maka akan ada penjagaan ketat. Namun yang di dapatnya sungguh berkebalikan, ini sepi, sangat sepi.
Sementara di tempat lain atau lebih tepatnya di ruangan tengah, suasana tegang tak bisa di sembunyikan. Terdapat 1 pria yang di kelilingi banyak orang dan juga todongan pistol dimana-mana.
"Jadi, apa yang kau inginkan setelah aku sudah berada di hadapanmu?" Tanya Ganendra menatap tajam pria yang pernah menjadi teman seperjuangan nya itu.
Malvin, pria itu menyapu kesekelilingnya, keadaan sangat kacau bahkan bau anyir sangat tercium, dapat dilihat hampir setengah anak buahnya terkapar tak bernyawa dengan luka tembak serta sayatan.
Tadinya dia sedang tidur, karena memang waktu telah tengah malam, jadi hanya beberapa yang terjaga dan setelah mendengar keributan di ruang tengah, dia bergegas keluar dan mendekati Ganendra yang sudah dikelilingi mayat mayat serta anak buahnya yang menodongkan pistol.
Malvin berdecih keras, dirinya tahu kalau dirinya masih di bawah Ganendra, karena dulu dia adalah nomor dua terhebat sebagai prajurit, dan tentu saja Ganendra terhebat pertamanya.
"Aku hanya ingin kau merasakan apa yang ku rasakan dulu saat melihat dengan mata kepalaku sendiri istri serta anakku yang belum lahir mati tertembak," ucap Malvin penuh kebencian.
"Seret wanita itu!" Lanjut Malvin memerintahkan anak buahnya membawa Nadhira ke hadapan nya.
Dua pria memenuhi perintahnya dan tak lama mereka kembali dan membisikan sesuatu yang membuat Malvin sangat geram.
"Ada apa? Dimana istriku?" Tanya Ganendra.
"Kau tak perlu cemas, dia ada di kamar itu," ucap Malvin sambil menunjuk pintu berwarna coklat.
"Bisakan kau tak melibatkan mereka? Aku akan melakukan apapun perintahmu!" Pinta Ganendra memelas. Dia belum tahu kalau Nadhira telah kabur.
Melihat kesempatan bagus, Malvin pun berucap. "Aku akan memikirkannya. Tapi sebelum itu, mari kita melakukan duel tanpa senjata. Jika kau berhasil menumbangkanku maka dengan senang hati akan aku turuti keinginanmu," tekannya pada kalimat terakhir.
Malvin, tahu kalau dirinya akan sulit mengalahkan Ganendra, tapi karena dirinya sudah dikuasai oleh kebencian, dia pun memiliki ide licik di kepalanya.
Tak peduli menggunakan senjata atau tidak Ganendra yakin, dirinya mampu dengan mudah menumbangkan Malvin tanpa tahu kalau hati Malvin sudah diselimuti kebencian membuat dia akan melakukan apapun demi tercapainya balas dengannya. Baik membunuh Ganendra langsung ataupun perlahan, tapi cara perlahan gagal, karena Nadhira telah kabur, jadi dengan cara membunuh Ganendra lah yang harus dia lakukan.
Ganendra menjatuhkan senjatanya, diikuti Malvin dengan sedikit ragu. Lewat tatapannya, Ganendra memberi isyarat agar Malvin maju, tentu di sambut Malvin dengan senang hati.
Tidak membutuhkan waktu lama, suara berkelahi terdengar di ruangan senyap tersebut.
Buagh
Bugh
Brakkk
Dalam 5 menit Ganendra berhasil menumbangkan Malvin, melemparnya dan merubuhkan meja yang tadinya berdiri kokoh.
Malvin terkapar tak berdaya dengan mulut mengeluarkan darah. Atranois mengarahkan pandangannya pada pintu coklat yang katanya istrinya berada di sana.
Anak buah Malvin diam ditempat karena tidak diperintah Malvin untuk menyerang Ganendra. Mungkin masih ada sedikit rasa kesal patriotannya yang tidak boleh melakukan kecurangan, karena saat kena pukulan terakhir Ganendra bayang-bayang wajah istrinya sedang tersenyum nampak dihadapannya tapi tak lama karena setelah itu senyuman itu luntur tergantikan oleh sedih.
¤
¤
¤
Semoga Suka...