Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Aziel Malu-Malu


Selamat Membaca...


•••


Kejadian itu membuat tiga orang siswa masuk rumah sakit dengan cedera parah akibat dari pukulan dan tendangan dari kakak sepepunya itu. Dia tidak ingin membuat masalah untuknya, karena kakak sepupunya itu sudah sangat baik dengan keluarganya, dan dirinya, dia tidak ingin lebih merepotkannya.


"Kak Ira, sudah ya! Aku tidak apa-apa!" Ucap Sinta.


Nadhira menatap penampilan Sinta dari atas sampai bawah. "Kau bilang seperti ini baik-baik saja?" Tunjuk Nadhira pada penampilan Sinta ya g sangat kacau.


"Lalu menurutmu bagaimana yang tidak baik-baik saja? Apakah sampai meneteskan darah? Pingsan? Atau sakit?" Lanjut Nadhira.


Dia tidak habis pikir dengan Sinta, mengapa dia tidak melawan? Atau memberitahu dirinya?


Sinta menunduk dan menggeleng dengan masih memegang lengan baju Nadhira.


Nadhira menatap kumpulan siswa/i yang membully Sinta kemudian beralih menatap Aziel. "Kau tahu kalau gadis ini selalu di bully?" Tanya Nadhira kepada Aziel.


Aziel mengangguk. "Iya! Terutama mereka berlima ini sangat sering membullynya.


"Lalu mengapa kau mengabaikannya? Bukankah kau anak pemilik sekolahan ini?" Tanya Nadhira.


"Aku tidak ingin repot! Kalau aku membantunya, kemungkinan besar akan lebih banyak yang membullynya kalau dilihat mereka aku seperti peduli. Bukan hanya dia yang lain pun begitu, karena dia dan beberapa siswa/i yang berpenampilan culun, cupu dan dari kalangan bawah mendapatkan diskriminasi di sekolah ini!" Jelas Aziel membuat kelima murid termasuk Sinta melongo karena baru pertama kali mereka mendengar Aziel berbicara sangat panjang.


"Hmm, kau tidak ada niatan memberitahu ayahmu?" Nadhira.


"Hah untuk apa, dia tidak akan mendengarkan ku! Dia itu terlalu serakah akan kedudukan dan uang," ucap Aziel. Dia sebenarnya malu menerima fakta itu, tapi bagaimanapun juga orang tua ya tetap orang tua meskipun salah, dan tugas kita adalah mengingatkan dengan cara sopan dan halus.


"Hmm begitu! Kalau begitu aku saja yang menegurnya bagaimana?" Tawar Nadhira.


"Bagaimana caranya?" Tanya Aziel penasaran.


"Sebelum itu, aku harus memberi sedikit pelajaran pada lima murid ini bukan?" Ucap Nadhira meyeringai menatap kelima murid itu dan tanpa mereka dapat menolak kaki mereka terasa seperti jelly.


"Kak," mohon Sinta agar Nadhira tak melakukan apapun.


"Apa? Kau ingin aku memaafkan mereka? Ku rasa tidak bisa! Ziel kau sering bukan melihat mereka membully?" Nadhira.


"Ya! Kau ingin memukul mereka? Lebih baik jangan kalau kau tidak mau mendapat masalah!" Saran Aziel.


"Apa yang kuucapkan saat terakhir kali kita bertemu?" Nadhira.


Aziel pun mengingat-ingat apa yang di ucapankan Nadhira saat terakhir kali mereka bertemu. Benar, dia yang anak pemilik sekolah dan pengusaha yang cukup berpengaruh saja Nadhira berani, apalagi hanya anak pengusaha biasa, meskipun kaya.


Kelima murid tersebut adalah donatur terbesar di sekolah itu karena mereka dari kamar belakang yang cukup banyak diketahui orang-orang.


"Benar kata Aziel! Kau jangan main-main dengan kami," entah keberanian dari mana murid ber name tag Naumi itu berkata dengan sombong.


Aziel menghela nafas, dia salah bicara tadi. "Berhentilah dan minta maaf dengan mereka berdua!" Perintah Aziel datar, berbeda saat dia berbicara dengan Nadhira.


"Tapi...," ucap Naumi.


"Tidak akan!" Ucap murid ber name tag Pricila. Dia pergi begitu saja diikuti yang lain.


Tak


Tak


Tak


Tak


Tak


Awalnya Aziel dan Sinta bingung untuk apa Nadhira mengambil batu kerikil di pot bunga dan sekarang mereka tahu.


"Augh!" Keluh kelima murid berbarengan seraya mengangkat satu kaki yang terasa sakit dan mengusapnya.


Sinta dan Aziel menatap Nadhira yang dengan santainya melempar-lemparkan batu kerikil yang tersisa ke atas.


"Mau kemana? Urusan ku dengan kalian belum selesai!" Ucap Nadhira.


"Beraninya kau! Akan ku adukan ke ayahku kau! Kau akan mendapatkan balasan dari perlakuanmu ini!" Ucap Pricila.


Ada sedikit rasa takut dia hati mereka, karena mereka sendiri tidak tahu siapa Nadhira sebenarnya. Bisa lebih kaya daripada mereka atau lebih miskin.


Satu-satu nya murid perempuan yang masih belum Nadhira lihat namanya maju. "Maafkan aku untuk selama ini yang terus membully mu. Itu semata-mata aku takut mereka tidak mau berteman denganku, tapi sekarang aku sadar, gayaku tidak sama dengan mereka yang sukanya berfoya-foya, dan membully yang lemah. Hiks hiks sekali lagi aku minta maaf," ucap murid perempuan itu sesegukkan.


"Aku sudah memaafkanmu Maura. Sebenarnya juga aku sering melihat ekspresi tidak enakmu saat membullyku, aku tahu itu!" Ucap Sinta.


Sinta dan Maura adalah teman sekelas, tapi karena Maura berteman dengan geng Pricila jadi dia tidak dekat dengan teman-teman sekelasnya.


"Terimakasih! Aku ingin berubah, kau bisa membantuku agar lebih dekat dengan teman sekelas kita?" Dan tiba-tiba Maura tersadar dengan permintaannya. "Ahhhh, aku lupa! Kau juga di abaikan di kelas sama seperti ku,"


"Apa? Bahkan dikelas? Sinta bisa jelaskan?" Lagi-lagi Nadhira dibuatnya kaget. Tidak hanya di bully bahkan di abaikan oleh teman-teman kelasnya?


Sinta hanya menunduk cengengesan. Hei dia baru saja habis di bully, dimana ketakutannya sebelumnya.


"Wah wah kau main-main ya Sinta. Bukankah sudah ku katakan, berhenti berpenampilan seperti itu, ubah gaya berpakaianmu itu. Kau kan sudah kuajarkan banyak hal," maksud banyak hal itu adalah pelajaran mempertahankan diri yaitu ilmu bela diri, meski sedikit tapi kalau untuk gadis gadis sok seperti Naumi dan Pricila, bisalah Sinta mengalahkannya.


"Yah kakak kan tahu kenapa aku berpenampilan seperti ini!" Ucap Sinta.


Mereka berdua mengabaikan semua orang yang ada disana. Kelima pembully yang tadinya sok terkejut melihat sosok baru dari Sinta. Yang mereka tahu, Sinta itu penakut kalau diganggu hanya bisa menunduk dan diam, tapi mereka baru sadar, saat setiap kali mereka membully Sinta, tak pernah mereka melihat, mendengar Sinta menangis.


"Kau sudah menemukannya!" Ucap Nadhira menatap Maria. Sinta menatap dimana arah mata Nadhira.


Sinta mengangguk. "Benar kak! Aku sudah menemukannya!" Ucap Sinta.


Semua orang bingung dengan pembicaraan dua orang ini. Apa maksud mereka dengan sudah menemukan? Kenapa mereka berdua menatap Maura?


"K-kalian kenapa menatapku begitu?" Tanya Maura gugup karena di tatap.


"Tidak! Tidak! Mau, tadi aku bilang kau mau aku membantumu berubah?" Maura mengangguk ragu karena dia baru tahu kalau Sinta ternyata tidak seperti biasanya, pendiam. "Kalau begitu, kita sama-sama berubah menjadi lebih baik dengan perlahan! Bagaimana?"


"Ya ya ya, aku mau!" Ucap Maura antusias.


"Bagaimana dengan kalian?" Tanya Nadhira kepada keempat murid yang tersisa.


Tak ada yang maju dan mereka malah memilih pergi dan tak di cegah Nadhira seperti sebelumnya.


"Ta, kita pulang!" Ucap Nadhira.


"Oh ya kenapa kakak bisa ada di sekolahan ini?" Tanya Sinta.


"Ka ka? Memangnya kalian ini ada hubungan apa?" Tanya Aziel yang dari tadi hanya menyimak dan sekarang puncak penasarannya meledak.


"Adik sepupu!" Jawab Nadhira.


"Hah?!" Mata Aziel dan Maura melotot.


"Serius?" Aziel tak percaya, karena pada dasarnya penampilan mereka sangat jauh berbeda bahkan berkebalikan.


"H-hah, sungguh tak terduga!" Ucap Maura.


Mereka pun sampai di parkiran sekolah. Hanya ada beberapa motor dan mobil yang masih terparkir.


Sinta sudah mengenakan jaket kulit Nadhira dan sekarang Nadhira hanya menggunakan baju kapalnya lengan pendek.


"Aku pergi!" Ucap Nadhira.


"Kami pergi!" Ucap Sinta.


"Ya hati-hati!" Ucap Maura.


Nadhira sudah duduk di motornya dan Sinta di jok belakangnya. Saat akan menggas Aziel berucap. "Kak Nadhira boleh minta nomor handphone nya?" Ucap Aziel malu-malu membuat Sinta dan Maura dibuat melongo tak percaya dengan penglihatan mereka.


Sedangkan Nadhira mengangkat sebelah alisnya dan berkata. "Kau tak cocok malu-malu seperti itu! Minta saja pada Sinta nanti, aku harus pergi cepat sekarang! Kalau begitu aku pergi!" Motor Nadhira pun melaju dan meninggalkan mereka berdua dengan pikiran masing-masing.


¤


¤


¤


Semoga Suka...