
...Selamat Membaca...
...•••...
Cuit...
Cuit...
Cuit...
Angin berhembus lembut menerbangkan dedaunan.
Peraduan antara lain dengan ranting lainnya terdengar jelas di telinga gadis yang masih memejamkan matanya.
Meski matahari belum muncul akan tetapi tak menutup bahwa makhluk hidup selain manusia sudah bangun.
Sekarang masih jam 5 pagi, dan Nadhira sudah bangun karena dia tak bisa tidur lagi, meskipun dia lelah karena dia tidur pada jam satu lebih.
Tak bisa tidur lagi, dia pun bangun dari rebahannya dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka.
"Siap!"
Nadhira telah siap untuk keluar sekedar lari pagi.
Kreatttt
"Astaga!!!"
"Marcel! Kenapa pagi-pagi kau berada di depan pintu kamar ku?" Kesal Nadhira karena dia hampir terjengkal ke belakang karena terkejut.
Dengan wajah memelas, lingkaran hitam di sekeliling mata, Marcel menangkupkan kedua tangannya ke hadapan Nadhira.
"Tolong! Jangan mengatakan kejadian malam tadi ke siapa pun," mohon Marcel.
...Flashback On...
Saat Nadhira mengikuti Marcel tidur berjalan, ternyata Marcel berjalan menuruni tangga.
"Mau apa dia ke bawah? Apa baik-baik saja dia menuruni tangga dalam keadaan seperti itu?" Gumam Nadhira sambil mengikuti dengan jarak dua meter di belakang Marcel.
Marcel berjalan ke arah dapur dan membuka kulkas.
Mengambil sesuatu dari dalam sana dan memakannya.
"Hei,"
Puk
Prankkk...
Nadhira menepuk bahu kiri Marcel sontak membuat Marcel sadar dan terkejut dan piring di tangannya terjatuh dan pecah.
"A-aku dimana?" Tanya Marcel linglung.
"Hei, sadarlah!" Ucap Nadhira sambil mengguncang tubuh Marcel.
"Y-ya? Dhira?"
"Hm," Jawab Nadhira dengan anggukan.
"K-kenapa aku bisa sampai di sini?" Tanya Marcel.
"Kau tak ingat?" Tanya Nadhira dan dibalas gelengan oleh Marcel.
"Kau tidur sambil berjalan," jawab Nadhira.
"Ahh kenapa kambuh lagi!" Gumam pelan Marcel akan tetapi masih dapat di dengar telinga Nadhira dengan pendengaran nya yang tajam.
"Kenapa?" Tanya Nadhira berpura-pura tak mendengar.
"T-tidak, lebih baik kau kembali ke kamarmu dan aku juga akan kembali ke kamarku,"
Nadhira mengangguk dan berlalu meninggalkan Marcel.
...Flashback Off...
"Heh!" Nadhira bingung. Apakah itu memalukan? Yang ada itu berbahaya bukan.
"Dhira tolonglah,"
"Memang nya kenapa? Kalaupun kau tak meminta, aku juga tak berniat memberitahu siapa pun. Toh itu bukan urusanku. Tapi melihat kau jadi seperti ini, memangnya ada apa dengan itu?"
Tak ada niatan Nadhira untuk memberitahu kepada siapapun maupun bertanya, tapi karena Marcel terlihat sangat menutupinya mau tidak mau dia menjadi penasaran.
Marcel terlihat gelisah. "Tapi jika kau tak ingin mengatakannya juga tak masalah,"
"T-tidak, b-bukan begitu. Kalau begitu kita masuk ke kamar mu dulu, boleh?"
Nadhira mengangguk mempersilahkan Marcel masuk kamarnya.
Mereka pun sekarang duduk berhadapan.
"Jadi?"
"Emm, itu sebenarnya adalah penyakitku dari kecilk. Tidak seorang pun tahu kecuali keluarga ku. Menurutku itu memalukan. Sebelum tidur biasanya aku selalu mengikat tanganku ke salah sudut kasur, tapi beberapa minggu ini penyakit tidur berjalan itu tidak kambuh lagi, jadi aku tak mengikat tanganku, tapi nyatanya malam tadi kambuh lagi dan berakhir berada di dapur. Itu untungnya dapur bukan tempat lain. Dulu sebelum aku mengikat tanganku, saat bangun sudah berada di pekarangan rumah orang dan disangka maling ketiduran. Dari sana aku tak ingin orang lain tahu, karena itu juga kelemahanku,"
Jelas Marcel panjang lebar. "Oh! Ku rasa cara penyembuhannya salah. Harusnya kau ke psikiater, bukannya mengikat tanganmu. Bayangkan, kalau ikatanmu berlebihan, darah tidak akan mengalir dan membuat tanganmu membusuk, mungkin,"
Nadhira baru sadar, kalau banyak yang tidak mampu di luaran sana. Dia beruntung masih memiliki ingatan kehidupan nya dulu, jadi sekarang dia tidak kekurangan uang.
"Kau mau ku bantu?" Tawar Nadhira.
Marcel mendongak. "Tidak merepotkan?" Tanya Marcel dan di balas gelengan oleh Nadhira.
"Makasih!"
"Hm, kau kembalilah ke kamarmu dan bersiap. Semua orang sepertinya sudah bangun,"
"Ya,"
Marcel keluar dari kamar Nadhira dan. "Astaga!" Dia mengelus dadanya. Hampir saja dia menabrak majikannya. "Ada apa tuan muda? Ada yang anda perlukan?"
Tapi yang di panggil tuan muda tak menyahut, dia terus menatap Marcel datar kemudian pergi.
"Ada apa?" Tanya Nadhira mendengar suara Marcel yang masih belum pergi.
"Itu tadi tuan muda, entah untuk apa dia di sini,"
"Hm," Nadhira kembali masuk ke dalam kamarnya dan menjalankan kebiasaan paginya.
...•••...
"Apakah mereka kemarin malam tidur bersama?"
"Tidak! Tidak! Mungkin pemikiran ku ini salah,"
"Tapi..Bagaimana kalau beneran,"
"Tidak!"
Setelah melihat Marcel keluar dari kamar Nadhira, Kai terus saja bergelut dengan pikirannya.
Niat Kai saat itu adalah untuk meminta maaf. Dia berpikir Nadhira dan Marcel menerima hukuman dari kakeknya, meski sudah di katakan tidak.
Dia tahu bagaimana sifat kakaknya yang keras dan tidak akan memaafkan seseorang dengan mudahnya. Gara-gara sikap kekanakannya membuat orang lain menerima hukuman membuat dirinya sangat merasa bersalah. Jadi niatnya pagi itu dia ingin meminta maaf dulu ke Nadhira baru ke Marcel. Tapi yang di temuinya...
Akhirnya sampai akhir dia tak jadi meminta maaf.
...•••...
Hari ini mereka akan mengawal Kai ke kampus. Dia adalah salah satu mahasiswa ke 'sayangan' kampus. Bukan dalam hal prestasi, tapi mahasiswa paling lama lulus.
"Kalian tunggulah di kejauhan, jangan sampai terlihat oleh ku! Dan,"
Nadhira dan Marcel mengangguk. Mereka memilih duduk di taman kampus tak jauh dari kelas yang di masuki oleh Kai dan Zidan.
Mereka jadi pusat perhatian bagi mahasiswa/i yang lewat. Bagaimana tidak! Berpakaian serba hitam tak lupa kaca mata hitam bertengger manis.
"Serasa jadi artis," bisik Marcel dengan masih mempertahankan wajah cool nya.
"Hm," acuh Nadhira membuat Marcel mendengus.
Nadhira membuka laptop yang di bawanya. Meski dia bekerja sebagai bodyguard, dia juga tak luoa dengan kewajibannya menjalankan perusahaannya.
Dia pun masih berhubungan dengan teman-temannya di sekolah.
Libur sekolah masih dua minggu karena dia sudaj bekerja dua minggu sebagai bodyguard.
"Kau akan berhenti setelah satu bulan?" Tanya tiba-tiba Marcel.
Nadhira mendongak menatap kesamping, dimana Marcel duduk.
"Hm, ya!" Jawab Nadhira.
"Oh," Marcel terlihat lesu.
"Kalau aku berhenti, kau tak perlu berhenti juga kan. Aku berhenti juga karena harus masuk sekolah lagi,"
"Iya sih, tapi...ah pikirkan kedepannya saja deh,"
Terdengar suara bell pemberitahuan jam mata kuliah berakhir. Semua mahasiswa/i keluar dari kelas masing-masing begitu juga Kai dan Zidan? Dimana mereka. Apakah mereka kabur dari pengawasan mereka lagi.
"Sungguh menyebalkan," gumam Nadhira setelah semua pekerjaan selesai dan memasukkan laptopnya kembali ke tas.
"Hah?" Marcel tak mendengar denganjelas gumaman Nadhira tapi...
"Cepat kita cari tuan muda merepotkan itu,"
"Masih disana?!"
"Hah? I-iya," Marcel masih bingung tapi dia mengikuti Nadhira saja.
Jangan ditanya Nadhira tahu dari mana, ingat dia memiliki kemampuan di luar batas manusia bukan.
¤
¤
¤
Semoga Suka...