Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Bosan


Selamat Membaca...


•••


Setelah Kara yang masih memiliki tugas di acara penggalangan dana pergi, tinggallah Andara dan Nadhira yang masih mengobrol panjang.


Andara yang menjadi ketua sebenarnya juga sibuk, tapi Kara dapat menggantikan nya sejenak.


"Kak, aku sudah tinggal sendiri!" Ucap Nadhira tiba-tiba setelah meminum minumannya.


Uhuk uhuk "Apa? Yang benar saja! Kau tinggal dimana? Bagaimana lingkungannya? Rumahnya bagaimana? Sendiri saja? Tidak ada siapa pun yang tinggal bersamamu?" Deretan pertanyaan dari andara membuat Nadhira jenga dengan kakaknya ini. Dengan orang lain saja, bicara iritnya minta ampun, tapi kalau bersamanya cerewetnya minta ampun. Kalau saja Kara masih bersama mereka, apakah Andara akan secerewet ini? Kalau iya, pasti Kara sangat terkejut.


"Satu-satu kak! Kesimpulan nya aku tinggal sendiri dan lingkungannya aman. Dan yang pasti ibu sudah mengijinkanku," Terlalu lama kalau Nadhira menjawab pertanyaan Andara satu persatu, jadi lebih baik disingkat dan jaminannya ijin dari ibunya. Kalau ibunya sudah mengijinkan, Andara tidak ada alasan lagi melarangnya, kecuali...


"Kalau begitu aku juga akan tinggal bersamamu!" Andara.


Kan benar! Ada saja cara Andara agar Nadhira tak tinggal sendiri. Bukan nya apa, dia sebagai kakak tentu saja khawatir dengan adik nya, perempuan lagi, kalau laki-laki masih bisa di toleransi.


"Tidak! Tidak! Aku mau tinggal sendiri! Aku mau mandiri! Jadi kakak tidak boleh ikut! Kakak jaga ibu saja! Aku akan baik-baik saja!" Nadhira.


"Tapi...," Andara


"Tidak ada tapi tapian! Tenang saja, kalau ada apa-apa aku akan menelpon. Kakak seperti tidak tahu saja aku bagaimana," sela Nadhira.


Nadhira tahu kalau Andara bakal bersikeras menolak kepergiannya, jadi kalau tidak di lawan bakalan tak ada habisnya cara dia melarang dan apa pun itu.


"Hahhh," Andara menghela nafas pasrah dan lelah. Dia tahu kalau adiknya ini sulit ditebak, dia berani, cerdas. Dia saja kalah, dia berada di universitas ANGKASA, para elit berkuliah saja karena adiknya ini, jadi dia tidak ragu kalau Nadhira dapat hidup dengan baik, tapi tetap saja dia khwatir.


"Baiklah! Tapi kau harus menghubungi ku kalau ada apa-apa, jangan tidak!" Peringat Andara. Dia mau tidak mau hanya bisa pasrah, mau dilarang bagaimanapun kalau itu sudan keputusan Nadhira, bahkan ibunya saja bakal pasrah menyetujui keinginannya.


...•••...


"Hahhhh," helaan nafas bosan terdengar dari seorang gadis yang sedang rebahan. Dia bosan tidak ada yang bisa dia lakukan. Sekolah? Dia baru saja lulus. Kuliah? Belum mendaftar, karena belum buka. Jalan-jalan? Malas keluar rumah.


"Oh iya, bagaimana kalau bertemu Arlan dan mengajak nya jalan-jalan," putus Nadhira. Meski malas keluar, tapi kalau bersama bocah menggemaskan seperti Arlan, bakalan tidak bosan dia.


Kemarin dia tidak bertemu Arlan karena kemarin adalah hari terakhir dia bisa bermain bersama Arlan. Sesuai kesepaktan dia akan bisa mengajak Arlan kemanapun dalam waktu satu minggu dan menurutnya tak masalah kan kalau dia melebihkan satu hari atau bisa tanpa batas waktu. Ganendra pun juga sepertinya tidak masalah, toh dia sibuk.


Nadhira bersiap-siap memakai pakaian yang nyaman dipakai untuk bergerak, karena dia yakin dia akan sangat banyak bergerak, sama halnya seperti kemarin-kemarin saat bermain bersama Arlan dia, Arlan pasti banyak lari-lari manjat dan lainnya.


Beberapa saat kemudian sepeda motor matic Nadhira keluar dari garasi rumahnya.


Dia ingin jalan-jalan naik kendaraan roda dua ini dengan Arlan. Dia sudan merencanakan hal-hal menyenangkan yang akan dilakukannya dengan Arlan dengan menaiki sepeda motor.


Tak terlalu lama, Nadhira sampai di depan pintu gerbang tinggi. "Pak! Bisa bukakan gerbangnya?" Pinta Nadhira sedikit berteriak di depan kantor pos satpam.


"Eh eh eh ayam," latah pak satpam. Panggil saja pak Muis. Sudah sepuluh tahun bekerja sebagai satpam mension Ganendra.


"Aish, non ini. Bapak kaget," ucap pak Muis sambil mengelus dadanya.


"Hehehehe, maaf pak! Emang bapak lagi ngapain? Dipanggil aja sampai kaget gitu?!" Tanya Nadhira tanpa rasa bersalah.


Memang Nadhira dan pak Muis sudan lumayan akrab, karena seringnya Nadhira ke mension itu, dan karena hanya Nadhira, seorang nona yang pernah ke mension itu.


Dan saat kedatangan Nadhira, Ganendra dan Giandra sering ada di mension, kalau ada pekerjaam biasanya mereka akan membawanya ke mension. Dan kalau memang harus turun langsung, mereka akan cepat pulang.


"Bapak itu tadi lagi nonton bola. Saat bola mau masuk non Ira panggil bapak jadi nya terkejut!" Jelas pak Muis.


"Oh, hehe, maaf ya pak," ucap Nadhira baru merasa bersalah.


"Ya tidak papa," pak Muis kembali menutup pagar setelah Nadhira masuk.


"Kalau begitu aku kedalam dulu," ucap Nadhira.


"Ya silahkan!"


Nadhira pun melajukan sepeda motornya. Perlu lima menit dengan kecepatan pelan untuk sampai ke depan mension.


Nadhira harus melewati taman yang cukup luas dulu dan barulah dia sampai.


"Selamat datang nona Ira!" Ucap kepala pelayan. Panggil saja Bi Rumi. Wanita paruh baya berusia 45 tahun, orang paling lama bekerja di mension Ganendra.


Mengapa dia menyambut Nadhira? Kok dia tahu kalau dia akan datang? Jawabannya adalah setiap Nadhira datang pasti pak Muis menghubungi bi Rumi tentang kedatangannya.


Nadhira sempat bertanya, jawaban mereka karena Ganendra yang memerintahkan. Tak mau ambil pusing, dia pun membiasakan perlakuan berlebihan dari Ganendra. Mungkin dia berterimakasih karena dirinya selalu menemani Arlan di saat dia bekerja agar Arlan tidak kesepian. Nadhira tidak peka!?


Aduh bibi, kan sudah aku bilang jangan panggil dengan embel-embel non, panggil Ira aja kenapa sih?" Kesal Nadhira.


Selain pak Muis, Nadhira juga sudah akrab hampir dengan semua pelayan di mension ini. Menurut mereka Nadhira adalah cahaya di mension itu, yang awalnya terasa mati, sekarang terasa hidup.


Tuan mereka jarang di mension, kalau pun ada, paling berada di ruang kerja nya dan tuan Giandra di kamarnya. Hanya tuan muda Arlan yang menghidupkan sedikit suasana mension ini dan kedatangan Nadhira membawa aura kebahagiaan bagi mereka semua.


Meski Nadhira terkesan dingin, tapi sebenarnya dia orang yang hangat bagi orang yang baik kepadanya. Bisa dikatakan kalau orang baik padanya dia akan seratus kali berbuat baik kepada orang tersebut dan sebaliknya, jika seseorang berbuat jahat padanya atau melakukan yang tidak dia sukai maka, nasib sial bagi mereka yang mencari masalah dengan Nadhira.


"Iya iya, sudah kebiasaan, susah mau mengubahnya," ucap bi Rumi.


"iya! Arlan mana?" Tanya Nadhira.


"Ada di dalam! Main sama tuan Ganendra," jawab bi Rumi.


"Ah sial! Bakal sulit membawa Arlan jalan-jalan pakai motor," gumam Nadhira.


"Ya? Ada yang non katakan?" Bi Rumi tak mendengar jelas, hanya seperti dengungan lebah.


"Tidak! Tidak ada! Kita masuk yuk," ajak Nadhira, tidak mungkin kan dia mengatakan apa yang dia gumamkan. Entah bi Rumi akan marah atau tidak kalau tahu dia mengumpati tuan yang dia layani dari kecil.


¤


¤


¤


Semoga Suka...