Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Iba


Selamat Membaca...


•••


Nadhira duduk menenangkan diri di salah satu kursi taman yang tidak banyak orang berada di sana.


"Lupakan! Lupakan!" Sugesti Nadhira kepada dirinya sambil menepuk-nepuk kedua pipinya.


Dia berusaha agar jiwa dalam dirinya yang sudah tertidur lama bangun lagi. Dia tidak ingin balas dendam, dia ingin hidup tenang tanpa harus berurusan dengan masa lalu nya.


Jiwa yang di takutkan Nadhira yaitu, jiwa membunuhnya. Kalau sampai bangun, kemungkinan dia akan kembali seperti dulu. Membunuh dan berbuat jahat kembali.


Setelah cukup tenang, dia bangkit dan melanjutkan jalan-jalan santainya.


Dan saat melewati gang yang cukup sepi dan gelap, Nadhira melihat seorang laki-laki yang sedang di bopong dua orang pria dewasa bertatto serta berotot.


Di belakang mereka ada pula tiga pria lainnya yang juga memiliki karakteristik yang sama sedang menggendong seorang anak kecil laki-laki yang berumur sekitar lima tahun yang sedang menangis akibat bentakan dari salah satu pria itu.


Orang yang membentak di tenangkan oleh dua orang lainnya.


"Tenang lah! Dia hanya anak kecil,"


"Sial! Berapa lama lagi kita harus menunggu? Apakah dia masih belum datang?"


"Entahlah? Tapi apakah dia tidak khawatir dengan anak dan keponakannya ini?"


Hari yang sudah mulai gelap tak membuat Nadhira tidak melihat mereka yang meyeret pemuda dan anak kecil tersebut.


Seperti yang di dengar Nadhira barusan, sepertinya mereka menunggu Seseorang atau lebih? Dan mereka sedang berjalan ke arah pinggir jalan yang lumayan sepi.


Tapi menunggu seberapa lama pun yang mereka maksud tidak akan datang. Terbukti sudah sepuluh menit berlalu orang yang mereka maksud tidak datang.


"Sial! Berapa lama lagi? Apakah dia mengatakan akan datang?"


"Dia mengatakan akan datang!"


Tak lama saat mereka masih berdebat sebuah mobil mewah berwarna hitam berhenti di depan mereka.


Dari tempat Nadhira duduk terlihat dua orang pria keluar dari mobil tersebut.


"Apa mau kalian?" Tanya pria yang wow hampir sempurna. Nadhira saja mengakuinya.


"Bebaskan Jeno!"


"Haha, kau minta kami melepaskannya? Kalian bercanda?! Tidak akan pernah," ucap yang satunya.


"A-ayah hiks hiks," panggil anak laki-laki di gendongan salah satu musuh dua pria itu.


Tatatapan tajam yang di diarahkan ke lima pria berbadan kekar berganti dengan tatapan lembut saat beralih menatap anak kecil laki-laki itu.


"Arlan tenang ya, nanti sama ayah, setelah ayah menyingkirkan om-om menyeramkan ini ya,"


Anak yang dipanggil Arlan mengangguk.


Tatapan tajam kembali di arahkan kepada kelima pria tersebut.


"Kau jangan macam-macam, kami bisa saja langsung membunuh mereka disini," meski perkataan mereka yang bertujuan untuk menemui dua pria breakage datar di hadapan mereka ini, tapi tak di pungkiri mereka sebenarnya takut.


"Jangan bertele-tele, kalau kalian mau membebaskannya, silahkan bebaskan sendiri. Jangan main sandera-sanderaan begini," ucap pria datar yang satunya lagi.


Citttttt


Tiga buah mobil berhenti di tempat mereka dan keluarlah 7 orang di masing-masing mobil dan sekarang 21 orang tambahan mengelilingi dua orang pria datar.


"Hahahaha, kami bisa saja membebaskan Jeno dengan mengepung markas kalian, tapi kalau ada cara mudah kenapa tidak, kami tidak ingin rugi, mengorbankan anggota kami," satu orang lagi datang.


"Erik, Erik, harus ya dengan cara licik begini, hanya untuk membebaskan si Jeno itu?"


"Kau... Habisi mereka berdua," perintah pria bernama Erik tersebut.


Entah apa masalah mereka, Nadhira masih menyimaknya, akan tetapi dia merasa iba melihat anak kecil laki-laki itu gemetar ketakutan.


Perkelahian tak terelakan, jumlah yang banyak tak membuat dua pria datar takut. Mereka dengan mudahnya menjatuhkan lawan.


Nadhira semakin geram dengan mereka yang membawa anak kecil di tengah perkelahian.


Apakah mereka tidak berpikir, anak kecil itu akan mencontoh mereka kelak saat dia besar?!


Sehebat-hebatnya dua pria datar itu, tetap akan mustahil mengalahkan banyak nya orang yang kalau Nadhira lihat ahli dalam bertarung.


Memar sana sini sudah menutupi wajah tampan keduanya.


Iba dengan anak kecil yang sedari tadi menangis kejer melihat ayahnya kena pukul mau tak mau Nadhira harus maju menolong.


Syal yang tadi nya Nadhira gunakan untuk menghalau rasa dingin dilehernya dia gunakan untuk menutup setengah wajahnya. Setelah dirasa tak akan ada yang mengenalinya dia pun mengambil batu kerikil.


Berjalan santai tanpa beban melempar satu persatu kerikil di tangannya.


Tak


Ugrh


Tak


Ugrh


Berulang, sampai kerikil di tangannya habis, tapi masih tak terlihat oleh kawanan musuh pria datar.


Wajar saja, karena Nadhira berjalan di tempat yang tak diterangi lampu jalanan.


"Wahhh, paman-paman ini pengecut ya! Main keroyokan!?" Ejek Nadhira. Dia berdiri bersandar tepat di bawah tiang lampu jalanan dan tak lupa tangan yang bersedekap di dada.


"Hei bocah, jangan sok mengejek kami. Kau tidak ada urusan dengan kami. Kalau tidak mau bernasib sama dengan orang-orang (dua pria datar, pria pingsan, dan anak kecil laki-laki) ini, lebih baik kau segera pergi," ucap Erik. Kenapa Erik menyebut Nadhira bocah, padahal dia menggunakan penutup setengah wajah? Karena dapat di lihat bahwa tubuh Nadhira itu agak pendek, jauh dari tinggi mereka semua, jadi bisa disimpulkan Nadhira itu antara masih bocah atau seorang gadis yang memang tinggi badannya seperti itu. Tapi di dengar dari suaranya dia seorang gadis, tapi untuk apa dipermasalahkan toh tidak penting juga.


Nadhira tertawa pelan. "Hehehehe, pergi dari sini ya? Kalau tidak mau bagaimana?" Ucap Nadhira dengan santainya. Dia semakin mendekat ke arah mereka berada.


"Hei gadis kecil lebih baik kau pergi ya," pinta pria datar yang bukan di panggil ayah oleh anak kecil laki-laki sebelum nya. Bukannya apa, hanya saja tidak ingin ada lebih banyak koran, karena dia pikir mereka saja belum tentu dapat melawan orang sebanyak itu.


Seperti dapat membaca maksud dari pria tersebut Nadhira pun berkata. "Jangan mengkhawatirkanku paman? Aku bisa menjaga diriku sendiri, khawatirkan orang yang membuat kalian datang kesini dan bocah itu lihat (menunjuk anak laki-laki yang masih menangis sampai sekarang), bisa-bisa air matanya akan habis kalau kalian lama mengalahkan mereka itu juga kalau bisa!?" Ucap Nadhira sambil menggedikkan bahu nya.


"Mau saya bantu?" Lanjutnya.


"Hahahahaha, membantu mereka? Jangan menghayal kau bocah," sarkas Erik.


"Hahahahaha," semua bawakan Erik ikut tertawa meremehkan Nadhira.


"Hahahahaha," kalian salah kalau yang tertawa itu lagi adalah bawahan Erik, karena yang tertawa sekarang adalah Nadhira sendiri.


Entah apa yang dia tertawakan. Apakah nasib dirinya yang terlalu ikut campur urusan orang lain atau kah menertawakan mereka semua yang percaya diri bahwa Nadhira akan pergi dengan ancaman mereka.


"Hiii, takut," lanjut Nadhira lagi dengan pura-pura takut.


Dalam satu kedipan mata, ekspresi wajah Nadhira langsung berubah menjadi datar dan jangan lupa tatapan tajamnya, sekarang dia dalam mode serius dan tidak ada candaan seperti sebelumnya.


Kedua tangannya masuk ke dalam kantung bajunya dan satunya masuk ke dalam tas.


¤


¤


¤


Semoga Suka...