Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Lari Terusss


Selamat Membaca...


•••••


Dia melanjutkan mengemudi mobil hitam itu dengan kecepatan normal dan dia tak menyadari bahwa pria di belakang nya merasa sedikit kesal dan iri karena Nadhira berbicara dengan senang nya bersama ibunya.


Tak berapa lama mobil itu berhenti di sebuah pintu gerbang yang menjulang tinggi. Di baliknya ada sebuah bangunan besar, megah bak istana. Meski di kehidupan dulu Nadhira kaya, tapi dia tidak memiliki bangunan yang sebesar itu. Nadhira terkagum-kagum sampai tak menyadari jika pria misterius itu sudah berada di samping pintu mobil.


"Bawalah mobil ini ke tempat semula, aku akan menangani kamera CCTV di jalan itu, jadi kau tidak perlu merasa khawatir," ucap pria itu lalu berbalik berjalan menuju ke gerbang tanpa menunggu respon Nadhira.


Nadhira tidak peduli dengan pria itu karena dia juga merasa kesal dengan sikapnya yang sangat dingin, mungkin memang pada dasarnya sifatnya seperti itu. Nadhira tak dapat berbuat apa-apa dengan itu. Toh dia juga sedikit berterimakasih karena bantuannya.


"Baiklah! Kalau begitu ayo kita pergi," ucap Nadhira pada dirinya sendiri.


Setelah 20 menit kemudian, Nadhira sudah sampai ke tempat kejadian tadi, sementara para penjahat itu sudah tidak ada lagi di tempat. Dia tak memikirkan itu karena sekarang yang dia pikirkan adalah harapan bahwa para penjahat itu tidak lagi membuat masalah dengan nya dan tidak terlibat masalah mengenai dia yang mengemudikan mobil itu.


Setelah dia memarkirkan mobil itu kembali ke tempat semula, kemudian berjalan kembali ke rumahnya. Di jalan dia teringat dengan kantung kecil berwarna hitam yang diberikan oleh pria yang di tolong nya.


Ketika melihat isinya adalah batu giok, Nadhira tanpa sadar langsung menggunakan mata ajaibnya nya. Kemudian dia merasa terkejut dan sangat kagum, karena terlihat asap putih tebal di sekitar batu giok itu.


Nadhira tidak tahu banyak tentang batu giok, tapi dia tahu nilai dari batu giok itu mahal. "Pria ini pasti kaya raya!!" Pikir Nadhira.


Setelah cukup menatap dan mengagumi batu giok sebesar telur ayam itu Nadhira langsung memasukkan batu giok itu kedalam kantung kecil hitam itu kembali dan kemudian dia melanjutkan perjalanannya menuju rumahnya.


Dari depan gang jauh dari bangunan tempat mereka tinggal, Nadhira melihat Ibunya berdiri di pintu masuk rumah mereka, tiba-tiba Nadhira merasa ingin menangis, dia terharu dan kemudian dia berlari ke depan dan memanggil Ibu nya dengan manja. "Ibu..." Puspa mendengarnya dan langsung menatap Nadhira dengan perasaan lega.


Puspa memperlakukan Nadhira dengan sangat baik, yang membuat hati Nadhira menghangat dan membuat nya merasa bersalah pada saat yang sama, dia seharusnya tidak membuat ibunya khawatir.


Melihat Nadhira baik-baik saja, Puspa akhirnya merasa lega. "Ira, apakah kau baik-baik saja?" Tanya Puspa dengan nada sedikit khawatir.


"Aku baik-baik saja bu, mari kita masuk, di sini dingin," jawab Nadhira sambil memeluk ibunya kemudian menggandeng lengan ibunya mengajaknya masuk ke dalam rumah sewa mereka.


¤¤¤¤¤


Di sisi lain, tepatnya di sebuah kamar mewah, ada pria berpakaian yang setengah telanjang, dan berbaring di tempat tidur sambil memejamkan matanya. Ada banyak luka di sekujur tubuhnya, sebagian besar adalah bekas luka tembak dan sayatan yang sudah menjadi bekas luka yang kemungkinan tidak dapat dihilangkan lagi.


Selain luka lama terdapat juga dua lubang yang masih berdarah di bahu dan pinggang kirinya, itu merupakan luka tembakan yang masih baru. Seorang dokter memberikan penanganan dan obat kepadanya, lalu membalut lukanya.


Pria itu adalah pria yang telah di tolong Nadhira. Setelah beberapa saat, dokter yang menanganinya pergi. Tersisa dirinya dan seorang pria berpakaian santai berjalan masuk.


Usianya sekitar 20 tahun dengan kulit yang putih mulus, matanya sangat gelap dan juga menawan, alis tebal, hidung mancung, dan bibir tipis, semuanya menunjukkan keanggunan dan juga kemuliaan pria itu.


"Aku sudah menangani kamera CCTV, tidak ada lagi yang tersisa," ucap pria itu dengan bangga seperti memamerkan kemampuannya.


"Kerja yang bagus," jawabnya dengan singkat.


"Seseorang telah mengantarkan ku pulang menggunakan mobil curian," ucap Reno santai. "Jadi rekaman kamera CCTV harus di rusak semua nya agar tidak ada yang mengetahui nya," lanjutnya dengan tenang.


"Apa? Kau mencuri mobil? Demi apa? Seorang bos mafia yang terkenal kaya raya mencuri mobil?" Pria itu yang bernama Deon sungguh sangat terkejut dan sulit percaya bahwa Reno mencuri mobil.


"Cukup, aku butuh istirahat, dan kau bisa pergi sekarang," sebelum Deon itu mengajukan pertanyaan lebih banyak lagi, Reno menyuruhnya untuk segera pergi.


Deon merasa kesal, karena bagaimanapun ini adalah rumahnya, bagaimana mungkin ada tamu yang memaksa tuan rumah untuk pergi?


Deon merasa sangat kesal akan tetapi tidak berani menyuarakan nya. Maka yang bisa dia lakukan hanyalah meninggalkan kamar itu dengan enggan, dan juga menutup pintu dengan pelan.


Hari berikutnya, Nadhira bangun jam 5:30. Lima menit untuk sikat gigi, kemudian pada jam 5:35 dia keluar meninggal kan rumah untuk lari di sekita lingkungan gang rumahnya selama kurang lebih 30 menit.


Pada jam 6:05, dia kembali ke rumah untuk mandi dan sarapan pagi.


Ibunya sudah berada di dapur untuk memasak saat dia baru selesai mandi dan menggunakan seragam sekolahnya.


"Pagi bu," sapa Nadhira.


"Pagi juga Ira. Ayo makan!" Ajak Puspa pada puteri nya.


Mereka pun sarapan pagi bersama. Meskipun Nadhira sudah beralasan akan makan di kantin sekolah akan tetapi ibunya tetap memaksanya untuk makan di rumah sebelum pergi sekolah. Dan Nadhira tidak ingin membuat ibunya kecewa dia pun mengiyakannya.


Pada jam 6:20 dia berangkat dengan berlari menuju ke sekolah. Setengah jam kemudian isabel sudah tiba di sekolah, dia cepat-cepat berlari menuju gerbang sekolah yang akan di tutup oleh penjaga.


Hari sebelumnya Nadhira telah mengatakan kepada teman-temannya untuk lari di lapangan sebanyak-banyak pada jam belajar mandiri.


Setiap satu jam pagi yaitu dari jam 7 sampai 8 sekolah itu menetapkan jam belajar mandiri setiap pagi. Sebagian tidak mengikutinya karena memang itu keringanan dari sekolah bagi anak-anak orang kaya. Bisa dikatakan itu permintaan dari para orang tua mereka memperlambat jam masuk selama satu jam.


Bagi siswa biasa itu adalah waktu yang sangat menguntungkan bagi mereka untuk menambah jam belajar mereka.


Ketika Nadhira tiba di lapangan, Bagas, Rangga, Clara dan Rima sudah berada di sana dan mereka sudah mulai berlari.


Mereka tampak sangat bersungguh-sungguh ingin belajar bela diri dengan baik, dan kemudian Nadhira juga ikut bergabung bersama mereka.


"Selamat pagi, Ira" Melihat Nadira sudah ada di sini, mereka menyambutnya bersamaan.


¤


¤


¤


Semoga Suka...