Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Permainan


Selamat Membaca...


•••


'Hei hei'


'Kau ini'


'Fan bantu aku!'


'Tunggu dulu, disini aku juga sibuk!'


Di depan sebuah universitas elit di Kota A saat ini sedang diadakan penggalangan dana yang di adakan oleh para mahasiswa Universitas ANGKASA. Para mahasiswa bersiap-siap di stand masing-masing.


Universitas Angkasa adalah sebuah Universitas elit bahkan terbaik di Kota A dimana Andara berkuliah disana. (Apakah sudah disebutkan di chapter sebelumnya, nama universitas nya? Lupa!)


"An, bagaimana semuanya? Sudah beres?" Dia Kara, Ankara Dermawan, teman sekaligus sahabat pertama Andara saat berkuliah di universitas.


"Ya! Sedikit lagi kita bisa membuka gerbangnya untuk pengunjung," ucap Andara.


Tepat jam 8 pagi gerbang universitas yang tingginya tiga meter itu di buka, dan ternyata di luar sudah banyak orang yang menantikannya. Wajar karena setiap tahunnya akan diadakan penggalangan dana bagi yang membutuhkan.


Selain itu barang-barang yang di perdagagkan termasuk barang-barang yang bermerk karena mahasiswa disana juga adalah para anak orang kaya kalau pun dari keluarga sederhana maupun kalangan bawah yang mampu berkuliah disana itu karena mendapatkan beasiswa, hanya orang-orang yang benar-benar cerdas yang mampu masuk jalur beasiswa.


Kara mengancungkan jempolnya ke arah Andara. Tidak sia-sia pengorbanan mereka, pasalnya mereka dalam sehari hanya tidur sekitar lima jam dari dua puluh empat jam.


Dilain tempat tepatnya di sebuah rumah minimalis berlantai dua di dalam sebuah kamar. Terlihat seorang gadis sedang bercermin do cermin full body.


Rok mocca dibawah lutut baju kaos putih dipadukan dengan kardigen mocca, terlihat feminim.


Dia Nadhira, dia sedang bersiap-siap menuju kampus dimana kakak nya berada. Selain melihat-lihat dan bertemu dengan Andara, Nadhira juga berniat memberitahukan tentang kepindahannya dari apartment ke rumahnya sendiri.


"Sudah siap! Tinggal sepatu," Nadhira berjalan keluar dan mengambil sepatu di tempatnya di dekat pintu masuk.


Setelah selesai di keluar rumah tapi dia berhenti. "Apa yang kurang ya?" Nadhira berpikir seperti ada yang lupa harus dia bawa.


Dia berbalik dan matanya menatap pada tempat kumpulan payung. "Oh ya payung!" Baru Nadhira ingat bahwa dia melihat ramalan cuaca malam tadi, kalau siang hari ini akan hujan. Untuk berjaga-jaga dia akan membawanya, terlepas dari hujan atau tidaknya.


Nadhira menghentikan taxi yang lewat. "Ke universitas ANGKASA ya pak!" Ucap Nadhira.


Beberapa saat kemudian Nadhira sampai di depan gedung universitas ANGKASA, tertulis tepat di atas gerbang setinggi tiga meter tersebut.


Setelah membayar ongkos taxi, Nadhira menuju ke arah banyaknya orang yang menjual dan membeli.


'Silahkan dilihat!'


'Berapa ini?'


'Itu berapa harganya?'


'Bisa kurang?'


'Bungkus yang itu ya!'


Nadhira masih berjalan melihat-lihat sambil mencari keberadaan Andara. Dia tahu kalau kakak nya itu pasti berada di sekitaran, karena dia kan harus mengawasi jalannya penggalangan dana ini.


"Asik juga nih sedikit main-main. Kakak juga terlihat risih dengan mereka. Yah wajar sih, kakak kan tidak pernah dekat dengan perempuan selain, ibu, bibi, aku dan Sinta," gumam Nadhira dengan senyuman liciknya.


Berjalan bak perempuan feminim sedikit centil Nadhira menuju ke arah keberadaan Andara yang di kelilingi para cewe.


"Sayang?!" Panggil Nadhira centil.


Semua berhenti mengajak Andara berbicara dan menatap seseorang yang memanggil 'sayang' kepada siapa? Pikir mereka.


Nadhira semakin dekat ke arah Andara yang sekarang tersenyum lebar membuat yang berada disana terpesona, karena jarang-jarang seorang Andara tersenyum lebar, biasanya hanya tersenyum tipis, itupun jarang, hanya kepada teman dekat dan sahabatnya.


Nadhira melingkarkan kedua tangannya ke lengan Andara yang lagi-lagi membuat orang disana terkejut. Seorang Andara yang mungkin ramah, tapi tidak jika ada yang menyentuhnya. Kara pun sampai melongo melihat Andara yang tidak menepis seorang gadis yang menyentuhnya.


Dan lagi-lagi mereka dibuat kaget saat Andara mengusap lembut kepala seorang gadis yang mereka tidak tahu siapa.


Tidak ada yang tahu kalau Andara itu memiliki seorang kekasih atau tidak, dia tidak pernah mengumbarnya, sahabatnya sendiri pun tidak tahu masalah asmara sahabatnya itu, Andara.


"Kapan sampainya?" Tanya Andara lembut. Bukan ramah kepada semua orang tapi ini bicara lembut, kalau ramah tetap nada suaranya tegas.


"Sudah beberapa saat yang lalu. Tadi lihat-lihat dulu baru mencari kakak," seolah dunia hanya milik berdua. Seolah mengerti mengapa adiknya bersikap seperti itu, Andara pun mengikuti permainan adiknya itu.


Karena dia sangat tahu, tidak mungkin adiknya ini bersikap layaknya gadis yang kalau bertemu dengan lawan jenis akan bersiap manis serta centil. Bahkan dia ragu kalau adiknya mempunyai pacar dengan sifat dan sikapnya yang seolah membangun tembok ke sekelilingnya bagi orang luar (selain keluarga), kecuali teman akrabnya, itupun hanya sekedarnya saja.


'Apakah adiknya?' Pikir mereka.


"Ekhem! Siapa An?" Tanya Kara mewakili semua cewe yang ada disana dan mengangumi Andara.


"Hm? Tanya saja!" Sahut Andara.


"Hai! Namaku Nadhira. Aku orang terdekat kak Andara," jelas Nadhira ambigu. Apakah pacar atau bukan.


Tapi para cewe menanggapi bahwa Nadhira adalah pacar Andara, mereka pun mundur teratur karena mereka sadar kalau gadis ini sangat cantik dan menggemaskan, pantas saja Andara tak pernah tertarik dengan mereka yang meskipun kaya tapi kalah jauh cantik dari gadis yang mengaku orang terdekat?


...•••...


"Hahahahaha, ku kira dia benar-benar pacarmu, taunya adik. Pantas saja dia mengatakan orang terdekat bukan pacar langsung, hahaha. Aduh aduh perutku sakit hahaha," Kara yang memang orang nya suka bercanda dan tertawa, tak hentinya tertawa dengan perbuatan Nadhira yang berhasil mengusir lalat yang selalu berkeliaran disekitar Andara. Dan mereka langsung mengasumsikan kalau Nadhira pacar Andara dan percaya. Sungguh dia sendiri sebagai sahabat Andara tidak tahu kalau Andara punya adik perempuan secantik Nadhira. Andara tidak pernah membicarakan masalah kehidupan nya apalagi keluarganya, dia sangat menjaganya.


"Berhentilah tertawa!" Andara Sungguh jengah dengan sahabatnya ini. Meski begitu, Kara adalah orang yang jujur bukan yang lain, yang hanya ingin Bertram dengannya untuk numpang tenar.


"Ya ya ya! Haha, aku akan berhenti tertawa. Namamu Nadhira kan, tadi An memanggilmu Ira?! Apakah aku boleh memanggilmu dengan panggilan itu juga?" Kara seperti nya tertarik dengan Nadhira, tapi bukan layaknya pria ke wanita, akan tetapi seperti kakak dan adik. An adalah nama panggilan dari Kara untuk Andara.


"Boleh saja!" Nadhira mengijinkannya.


Nadhira maupun Ira terserah yang mana yang mau orang gunakan untuk memanggilnya, karena dia juga tidak ada nama khusus bagi orang khusus. Karena nama bukanlah hal yang perlu dilarang untuk menjadi panggillan, asalkan tidak membuat kesal paggilan tersebut, maka tidak masalah.


¤


¤


¤


Semoga Suka...