Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Bertemu Leo


Selamat Membaca...


•••


"Hahahahaha. Ayo kakak! Kejar aku. Hahahaha," Arlan terus berlari menghindari tangkapan Nadhira. Sedangkan Nadhira berpura-pura selalu tak menggapai Arlan membuat Arlan semakin tertawa.


"Hah... Hah... Hah... Arlan tunggu kakak! Kakak tak bisa Lari lagi!" Ucap Nadhira yang sebenarnya tak merasakan lelah sedikit pun, dia hanya khawatir kalau Arlan yang kelelahan.


Nadhira terduduk di atas rerumputan taman. Saat ini mereka di sebuah taman yang jarang ada orang nya, jadi Arlan bebas tertawa nyaring dan berlarian.


Tawa Arlan terhenti, larinya pun juga, dia langsung berlari kearah Nadhira yang terlihat kelelahan.


"Kakak tidak apa-apa?" Tanya Arlan panik.


Nadhira mengangkat kepalanya dan menggeleng. "Kakak tidak apa! Hanya sedikit lelah! Kita istirahat ya?!"


Arlan mengangguk dan membantu Nadhira berdiri.


Mereka pun duduk di atas karpet yang mereka beli di perjalanan dan tak lupa makanan dan minumannya.


Saat mereka asik bercanda dan tertawa bersama, datang seseorang. Dia duduk termenung sendiri di kursi taman. Sepertinya dia tidak menyadari keberadaan Nadhira dan Arlan di sana.


"Kenapa? Kenapa?" Dia terus bergumam tidak jelas dan kepalanya terangkat dan tatapannya dan Nadhira bertemu, dalam seketika wajah yang tadinya sedih berubah menjadi senyum nakal.


"Hai!" Sapanya seraya menuju arah Nadhira dan Arlan.


Dia duduk tanpa permisi. "Wah!! Menggemaskan sekali anakmu," ucapnya.


"Perkenalkan nama Om Leo. Kalau di kecil ini siapa namanya?"


Kalian tahu siapa Leo? Dia adalah sahabat Stiven. Dia adalah pria ceria, humoris dan tidak kaku dengan lawan jenis. Bisa dikatakan kalau dia suka php in para cewe.


"Apaan sih om ini, nona cantik ini kakak aku bukan Ibu aku. Muda gitu kok masa sudah pinta anak?!" Kesal Arlan. Bukan dia tidak ingin Nadhira menjadi ibu sambungnya, tapi dia sadar kalau Nadhira itu masih sangat muda. Bisa-bisa dia kesal kalau dibilang sudah punya anak kan? Sudah gede lagi!


Inilah Arlan, dewasa sebelum waktunya.


"Oh oh maafkan om. Om tidak tahu! Sekali lagi maaf! Kalau begitu karena nona ini kakaknya...namamu siapa?" Leo.


"Arlan," jawab singkat Arlan.


"Ya, Arlan. Kalau nona ini kakakmu, jadi boleh om kenalan?" Ucap Leo sambil mengedipkan matanya ke arah Nadhira yang di balas tatapan biasa saja, tidak seperti gadis lain yang akan malu-malu jika di perlakukan seperti itu.


Arlan menatap Nadhira bertanya dan diangguki Nadhira. Toh tidak ada alasan menerima niat baik seseorang Untuk berkenalan, anggap saja memperluas pertemanan.


"Nadhira Maharani! Terserah mau panggil apa" Jawab Nadhira.


"Leonard, panggil saja Leo. Salam kenal," ucap Leo sambil menjabat tangan Nadhira.


Mereka pun berbincang-bincang sampai lupa waktu karena di dalamnya juga ada perdebatan antara Leo dan Arlan.


"Ah sudah senja? Aku sampai lupa waktu, karena bicara dengan kalian berdua sangat seru! Mau pulang?" Tanya Leo.


Nadhira mengangguk, dia juga melihat kalau Arlan sudah kelelahan karena seharian ini dia banyak berlari.


"Iya! Arlan juga terlihat sangat lelah," ucap Nadhira sambil mengusap Lembut rambut Arlan.


Leo menatap itu membuat hatinya hangat. Meski Nadhira orang baru di kehidupan Arlan, tapi dia memperlakukannya sangat baik. Hampir sama seperti seorang ibu yang menyayangi anaknya.


Dan meski imut Nadhira masih sangat muda, tapi dia hanya sisi keibuan yang sangat jelas terlihat.


'Sangat cock jadi ini dari anak-anakku!' Batin Leo. Setelah tersadar dia menggelengkan kepalanya. 'Apa yang kupikiran? Ada-ada saja!' Lanjutnya sambil terkekeh.


"Ada apa?" Tanya Nadhira melihat Leo yang tiba-tiba terkekeh sendiri.


"Tidak ada apa-apa! Kau mau pulang kan? Mau ku antar?" Tanya Leo.


Meski hanya beberapa saat yang Lalu bertemu, tapi mereka sudah akrab. Memang Nadhira itu sangat mudah akrab dengan orang yang menurut intuisinya baik.


"Apakah rumah kalian jauh? Kalau jauh kan bahaya naik motor! Hati juga mau malam," ucap Leo khawatir yang disembunyikannya.


"Baiklah! Kalau begitu hati-hati ya!" Ucap Leo yang di angguki Nadhira.


Nadhira pun pergi meninggalkan Leo yang juga pergi, tetapi kedua arah yang berbeda.


•~¤~•


Disisi Leo...


Saat ini dia sedang menyetir mobilnya. Mobilnya membela jalan dengan kecepatan sedang. Sesekali dia tertawa kecil setelah itu menghela nafas.


"Tadi itu sangat seru! Aku sampai melupakan masalah di rumah!"


"Apakah kami bisa bertemu lagi?"


"Sepetinya aku menyukainya!"


"Nadhira Maharani! Meski banyak perempuan yang ku temui, tapi saat bicara dengan mereka tak senyaman berbicara dengan Nadhira. Apakah ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama? Haha.. Aneh aneh saja aku ini, seperti anak remaja. Sadar woi, umur sudah 25 masa suka sama anak ABG!"


Leo terus meracau tentang pikiran absurd nya yang menyukai gadis berumur 19 tahun. Meski katak usia mereka tak terlalu jauh, yang jadi pertanyaannya. Apakah Nadhira mau dengan nya?


•~¤~•


•••


"Dari mana saja?" Suara dingin menginterupsi kedua manusia itu setelah memasuki pintu besar.


Terlihat di samping pintu berdiri seorang pria tinggi dengan tubuh yang proposional.


"Hehe, kita habis dari mana Lan?" Tanya Nadhira kepada Arlan. Dia sedikit gugup, karena bisa dikatakan kalau dia sudah menculik anak orang, meski hanya sehari.


"Kita dari jalan-jalan kan!" Jawab Arlan pasti.


"Iya ya, kita habis jalan-jalan! Kemana kita tadi?" Nadhira masih tidak menjawab pertanyaan Ganendra. Ya! Dia Ganendra yang kelimpungan mencari keberadaan Nadhira dan Arlan setelah hilang dari pengawasan para bodyguard yang Ganendra kirim untuk mengikuti mereka.


"Ke taman!" Jawab Arlan. Dia bingung sendiri, kenapa dia yang ditanya, padahal kamar Nadhira juga ikut ke taman bersamanya.


"Masuk!" Perintah Ganendra tegas dan berjalan meninggalkan Nadhira dan Arlan yang masih berdiri di depan pintu bagian dalam.


Seakan di interogasi, Nadhira duduk tegak dengan wajah serius di seberang Ganendra.


"Kau tahu kalau kau salah bukan?!" Tanya serius Ganendra.


Saat ini hanya mereka berdua yang ada di ruang kerja Ganendra. Arlan sudah diambil alih oleh pengasuhnya.


Nadhira mengangguk dan menggeleng kembali. "Aku tidak sepenuhnya salah bukan?! Anda bilang membolehkan kami jalan-jalan berdua, tapi apa! Anda mengirim bodyguard untuk mengikuti kami? Anda tidak percaya padaku?"


"Hahhhh," helaan nafas lelah terdengar dari Ganendra. "Bukan begitu! Tapi kau tahu sendiri, aku banyak pesaing yang tentu saja musuh juga banyak. Aku takut kalian kenapa-kenapa. Bukan tidak percaya padamu," lanjutnya.


"Yahh, itu juga salahku, aku minta maaf! Kalau begitu tidak ada masalah lagi kan. Kami sudah kembali dengan selamat, dan lain kali aku tidak akan melakulannya lagi," ucap Nadhira.


"Baiklah! Ku maafkan. Makan malam dulu disini baru pulang," ucap Ganendra.


Setelah makan bersama di mension Ganendra, Nadhira pun pulang ke rumah sederhananya. Dia langsung istirahat setelah mandi. "Ugh, cukup lelah juga ya! Baru terasa setelah rebahan," gumam Nadhira.


Dia pun tidur cepat, karena sudah ngantuk berat.


¤


¤


¤


Semoga Suka...