
Selamat Membaca...
•••
Bi Rumi mengarahkan nya ke arah ruang tamu.
"Kakak!" Panggil Arlan saat melihat kedatangan Nadhira dan berlari ke arahnya sambil merentangkan tangan minta di gendong.
Nadhira juga merentangkan tangannya seraya berjongkok dan...
Hap
Arlam sedikit melompat membuat Nadhira hampir oleng, untung pertahanannya kuat, jadi tidak jadi terjungkal.
"Arlan, jangan lakukan itu lagi! Kakaknya nanti sakit," peringat Ganendra. Tadi dia khawatir saat melihat Nadhira hampir terjatuh kebelakang.
Arlan menunduk di gendongan Nadhira dan berkata. "Maaf! Arlan janji tidak akan melakukan itu lagi," ucapnya pelan.
Nadhira memelototi Ganendra dan di balas acuh oleh Ganendra.
"Tidak apa! Arlan tidak harus berjanji! Kakak kan kuat. Berat Arlan segini tak masalah bagi kakak. Tadi kakak belum siap saja," ucap Nadhira lembut.
Ganendra yang mengatakannya, dia yang merasa bersalah melihat kesedihan Arlan.
"Jangan terlalu memanjakannya! Dia laki-laki, harus kuat kalau di nasihati," ucap Ganendra santai.
"Iya, saya tahu, tapi dia masih kecil, jangan terlalu keras padanya," ucap Nadhira.
Dia membawa Arlan duduk di sofa berseberangan dengan Ganendra duduk.
"Kakak memang seperti itu Ra. Terlalu keras, ke aku aja sangat keras," suara Giandra mengalihkan atensi mereka.
"Jangan terlalu ditanggapi Lan, ayahmu memang seperti itu. Abaikan, pasti dia berhenti," lanjut Giandra.
"Mengapa punggung ku dingin ya?" Dia tahu, tapi dia pura-pura tidak tahu dan tak berbalik ke belakang dimana Ganendra duduk.
"Berhentilah mengoceh dan selesaikan pekerjaan mu!" Peringat Ganendra kepada Giandra.
"Aduh kak, baru juga istirahat sebentar, masa lanjut lagi," keluh Giandra.
"Kau saja yang lamban!" Ganendra.
"Bukan aku yang lamban, kau yang terlalu cepat!" Kesal Giandra. Tidak mau di suruh mengerjakan pekerjaan nya lagi, dia memilih pergi ke kamarnya istirahat. Sudah satu hari satu malam dia bekerja tanpa tidur, dan sekarang dia akan tidur sehari semalam katanya.
"Ekhem!" Deheman Nadhira memecah keheningan diantara mereka setelah kepergian Giandra tadi.
"Ekhem...Em boleh saya mengajak Arlan jalan-jalan?" Tanya Nadhira.
"Boleh!" Jawab Ganendra membuat Nadhira dan Arlan senang.
"Terimakasih! Yuk kita jalan-jalan pakai motor," ajak Nadhira kepada Arlan.
"Apa? Motor?" Tanya Ganendra tak percaya.
"Ya kenapa?"
Cukup lama membujuk Ganendra agar mengijinkan mereka jalan-jalan menggunakan sepeda motor matic Nadhira, tapi dengan perdebatan yang dimenangkan Nadhira akhirnya diijinkan. Tapi ada syarat yang harus dilakukan Nadhira. Apa itu? Nanti kita lihat.
Sekarang mereka sedang berkendara santai melewati jalanan kota yang tidak terlalu padat setelah sebelumnya mereka kabur dari para bodyguard yang diperintahkan Ganendra untuk menjaga mereka. Dengan kecerdasan Nadhira akhirnya mereka dapat menikmati waktu berdua saja, tapi lagi-lagi waktu mereka terganggu.
Perjalanan Nadhira dan Arlan terganggu karena adanya perkelahian para remaja berseragam sekolah SMA di tengah jalan. Orang-orang yang mau lewat juga berhenti atau putar arah. Entah siapa mereka sampai membuat orang-orang tak berani mengganggu.
Kira-kira sekitar 10 orang. Tapi yang membuat Nadhira enggan pergi memutar arah karena...
3 remaja laki-laki itu terlihat kewalahan menghadapi lawan mereka dan salah satu dari mereka sudah tak sadarkan diri.
"Arlan tutup mata dan telinga ya! Diam di sini sebentar, kakak mau menolong kakak-kakak disana," ucap Nadhira kepada Arlan.
"Baik kak Ira! Arlan akan tutup mata dan telinga dan jongkok juga!" ucap Arlan langsung melakukan apa yang dikatakannya di samping motor Nadhira.
Nadhira melihat bahwa hanya sisa satu remajan masih berdiri kokoh di tengah para lawannya, sedangkan dua temannya yang lain satu pingsan dan satunya tak mampu lagi berdiri.
"Hoi kalian," panggip Nadhira berteriak membuat perkelahian terhenti dan menatap seseorang yang berteriak nyaring.
"Apa?" Tanya salah satu dari mereka ngegas.
"Santai bro. Tidak apa sih, hanya saja perkelahian kalian tidak seru! Kok keroyokan?" Ucap Nadhira dengan diakhiri kata ejekan.
"Jangan macam-macam kau. Hanya seorang perempuan sok jagoan?" Mereka marah, karena merasa terhina, dikatai main keroyokan, tapi nyatanya begitu, kok marah?
Nadhira tertawa kecil membuat mereka semakin marah. "Pergi kau, kalau tidak ingin bernasib sama seperti mereka!"
"Kalau tidak mau?" Tantang Nadhira.
Rahang mereka semakin mengeras, berbeda dengan ketiga remaja lainnya yang sudah babak belur. Yang masih berdiri masih berwajah datar tanpa ekspresi, yang tak dapat bangum menatap khawatir Nadhira dan yang pingsan mana tahu dia.
"Hajar dia!" Perintah yang kemungkinan pemimpin?
Belum ada sampai satu meter di dekat Nadhira, dua orang yang maju hendak menghajar Nadhira sudah jatuh terjerembab dengan bibir mencium tanah.
"Siapa lagi?" Nadhira tidak ingin repot-repot menghajar para remaja ini. Dia hanya ingin menyadarkan mereka, kalau mungkin? Kalau tidak ya sudah!
Tiga remaj maju lagi, tapi kali ini Nadhira menendang bagian-bagian tubuh mereka yang mana sekali tendang langsung ambruk.
"Hah, ilmu segitu berani-beraninya mau berkelahi! Di tengah jalan lagi. Kalian tidak lihat orang-orang pada terganggu, dan juga tidak bisa lewat. Emang siapa kalian? Sehingga seenaknya memakan jalan untuk keperluan kalian? Anak orang kaya? Anak pejabat? Presiden? Basi!" Nadhira bukan memarahi satu dua orang tapi dia memarahi semuanya termasuk yang di keroyok.
"Memangnya kalau benar kami anak pejabat kenapa? Takut?"
"Hahaha," Nadhira tak dapat menahan tawanya. Takut? Hello... Nadhira gitu, tak ada kata takut dalam kamusnya. Selagi masih sama-sama manusia apa yang perlu di takutkan.
"Kenapa kau tertawa? Gara-gara terlalu takut kau jadi gila?"
Nadhira berhenti tertawa, wajahnya datar, tatapan nya tajam. "Takut? Dengan kalian yang juga manusia? Mimpi! Biarpun kau anak Pemimpin Kota, aku tak akan pernah takut kalau itu memang harus di beri pelajaran. Mau merasakan apa yang temanmu rasakan?" Seringaian tipis terlihat menyeramkan di mata remaja yang tak kena pukul Nadhira.
Tap...
Tap...
Tap...
Pelan...pelan... Nadhira perlahan mendekat ke arah remaja yang dari tadi menyombongkan tingkatan sosialnya.
Nadhira dengan santai, perlahan mendatanginya, tapi tidak dengan si remaja yang kakinya tanpa diminta gemetaran. Bagaimana tidak, tatapan Nadhira itu sungguh seperti penyabut nyawa baginya.
"M-mau a-apa kau?!" Tanya remaja itu gemetar tanpa dapat dia kendalikan.
Nadhira mengangkat tangan seperti akan memukul dan refleks remaja itu memejamkan matanya. Entah kenapa dia tidak bisa bergerak dan memilih memejamkan mata.
¤
¤
¤
Semoga Suka...