Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Menolong dan Mendapat Teman


Selamat Membaca...


•••••


Dia harus kuat dan sukses terlebih dulu dan akan membuat usaha di setiap kota dan tujuan utamanya adalah menjadi kuat dan membangun bisnis di Kota A. Kota di mana dia dulu hidup, kota di mana dia dikenal sebagai pembunuh dan di khianati.


Mudah untuk membalas dendam jika teman-teman pengkhianatnya bukanlah anak-anak orang berpengaruh, tapi sayangnya sangat sulit mencapai mereka.


Terutama temannya Jesica. Dia anak dari salah satu pejabat pemerintah pusat kota A. Sangat sulit untuk bisa mencapainya jika dengan kondisi Nadhira saat ini.


Jadi Nadhira memutuskan untuk sukses dan memiliki banyak pendukung untuk mendukung nya. Terutama pendukung di kota-kota besar seperti kota, C, B dan A.


Tak terasa hampir satu jam dia berada di taman itu, dia berniat pulang ke rumah, tapi di jalan menuju halte bus tiba-tiba sesuatu menghentikannya.


Kyaaaaaa


Teriakan seorang perempuan terdengar di telinga Nadhira. Nadhira pun mecari asal suara tersebut. Berbekal pendengaran dan mata ajaibnya, akhirnya Nadhira menemukan asal suara.


Nadhira bersembunyi di balik semak-semak belukar, menutipi keberadaannya yang kecil.


Dari balik semak-semak terlihat sebuah bangunan tua yang di sana terlihat seorang perempuan dan satu mayat tergeletak di hadapannya. Di depan nya juga ada tiga pria.


"Cepat tanda tangani berkas ini dan kau bisa bebas," ucap pria berambut kuning dari salah satu tiga pria.


"Tidak akan!" Teriak marah perempuan itu. Meski tangannya gemetar, tapi dia berusaha tidak takut dengan ancaman ke tiga pria itu.


"Cepat! Kalau tidak kau juga akan seperti mayat laki-laki itu,"


Perempuan itu menatap sedih laki-laki yang mungkin telah mati itu.


Perempuan itu masih diam dan ketiga pria itu semakin geram dengan kelambatan perempuan itu. Kemudian salah satu dari mereka menarik kasar tangan perempuan itu dan memaksanya menandatangani sebuah kertas.


Beralih kepada Nadhira yang sekarang telah semakin dekat dengan keempat orang dan satu mayat itu. Eh Nadhira melihat bahwa laki-laki yang tergeletak di atas tanah itu masih bernafas.


Mata Nadhira fokus pada salah satu dari tiga pria yang terlihat lebih santai.


Dia sesekali tertawa mengejek pada perempuan itu. "Cepatlah, waktuku tidak banyak. Bukan kau saja yang harus ku bereskan," ucapnya sombong.


Seketika Nadhira teringat dengan pria itu. "Bukankah dia salah satu anggota inti dari geng kapak? Heh sok hebat!" gumam Nadhira mengejek.


Geng kapak adalah gangster yang lumayan terkenal di kota A. Nadhira mengenalnya karena pernah mendapakan misi untuk membunuh ketua dari geng tersebut yang mana yang menyuruh nya adalah salah satu dari anggota inti mereka juga.


Namanya Anton, dia adalah wakil ketua. Sedangkan ketuanya bernama Jiko.


Anton ingin menjadi ketua, oleh karena itu dia menyewa agen pembunuh dan saat itu Maya masih berusia lima belas tahun dan itu adalah misi membunuhnya yang kesekian kalinya.


Saat itu Maya berhasil membunuh Jiko, dan Anton pun naik menjadi ketua.


Bukan Maya jika dia tidak menyelidiki terlebih dulu kliennya. Dia mencari setiap infomasi tentang satu-persatu anggota inti dari geng tersebut dan dia mengenali pria satu ini. Namanya adalah Kevin. Dia adalah salah satu orang yang mendukung Anton untuk memberontak dan menjadikan Anton ketua.


Kembali kepada kenyataan. Nadhira perlahan-lahan mendekati Kevin yang fokus ke arah kedua bawahannya dan perempuan itu. Dia tidak menyadari kedatangan Nadhira semakin mendekat padanya.


Pluk...


Pukulan tepat pada saraf kesadaran manusia mendarat pada tempatnya oleh Nadhira. Bukan hal sulit melakukannya bagi Nadhira yang ahli, apalagi dengan bantuan dati mata ajaibnya membuat itu semakin mudah.


Kevin pingsan dan langsung di tahan oleh Nadhira agar tak jatuh dan membuat suara.


Pupil mata perempuan itu bergerak, tapi Nadhira langsung mengkodenya agar tetap tenang.


"B-baik, aku akan menandatanginya. Sini mana pulpen nya," ucap perempuan itu.


Dua pria itu menyerahkan kertas dan pulpen kepada perempuan itu, sedangkan Nadhira telah berhasil menaruh Kevin di atas tananh tanpa suara.


Dia beralih mendatangi dua pria itu dan...


Bugh!!!


Bugh!!!


Dua pukulan tepat di leher keduanya membuat mereka berdua jatuh tersungkur kedepan. Salah satu dari mereka masih sadar dengan mengaduh kesakitan.


Dia menatap tajam sosok gadis kecil di hadapannya. "Siapa kau?"


Matanya tiba-tiba terbelalak melihat bos nya yang sudah jatuh pingsan.


"Kau tak perlu tahu siapa aku! Sekarang lebih baik kau menyusul teman-temanmu!" Ucap Nadhira sambil menyeringai.


Perempuan yang tadinya berhenti gemetar, sekarang gemetar kembali saat melihat seringaian Nadhira.


Apakah setelah berhasil keluar dari kandang serigala, sekarang masuk ke kadang singa betina? Pikirnya tak karuan. Tapi dia berusaha berpikir positif, bahwa gadis di depan nya ini adalah orang baik.


Bugh...


Sekali pukul lagi membuat sisa pria yang sadar menyusul teman-temannya.


Nadhira beralih menatap tubuh laki-laki yang tergeletak bak mayat di atas tanah. Dia berkata. "Cepat bawa laki-laki itu kerumah sakit terdekat. Dia masih bernafas, tapi kalau terlambat nayawanya tak akan tertolong lagi," ucap Nadhira.


Dia mendekati tubuh laki-laki itu dan menekan urat nadi pria itu, menyalurkan sedikit kekuatan mata ajaibnya untuk mempertahannya kehidupan laki-laki itu lebih lama sedikit.


Perempuan itu yang tadinya masih dalam keadaan syok sekarang tersadar dan langsung mendekati tubuh laki-laki itu. "B-baik, aku akan langsung membawanya," dia berusaha mengangkan tubuh laki-laki itu, tapi tubuhnya masih gemetar dan dia juga tidak akan kuat mengangkatnya sendiri.


Melihat itu Nadhira pun berinisiatif membantu. Mereka pun mengangkat tubuh laki-laki itu berdua dan bergegas mencari taxi.


Setelah taxi di hentikan mereka memasukkannya dan perempuan itu juga masuk, tapi tidak dengan Nadhira, tapi perempuan itu memaksa. Dia ingin berterima kasih, tapi saat ini bukan waktu yang tepat jadi di bersikeras untuk mengajak Nadhira ikut.


Akhirnya Nadhira pun ikut naik taxi. Mereka berhenti di rumah sakit terdekat dam langsung memanggil para medis.


Sepertinya para medis telah mengenal perempuan dan laki-laki tak sadarkan diri itu. Pasalnya mereka langsung bergegas menangani dan terlihat hormat.


Tapi Nadhira tak menanyakan itu, ada saatnya perempuan itu mengatakannya sendiri padanya.


Laki-laki itu langsung di bawa ke ruang operasa, karena terdapat peluru pada dadanya.


Perempuan itu nampak sangat khawatir. Entah siapakah laki-laki itu bagi perempuan ini.


Nadhira masih diam menunggu dan saat itu perempuan tadi menatapnya dan nampak tersadar akan sesuatu.


"Maaf membawamu ke sini secara paksa," ucap perempuan itu. "Itu kulakukan untuk berterimakasih! Memang salah, tapi ini cara satu-satunya yang terlintas di pikiranku saat itu. Kau tahu sendiri keadaan laki-laki di dalam yang kritis kan," Nadhira mengangguk memahami itu.


¤


¤


¤


Semoga Suka...