
Selamat Membaca...
•••••
Sepeninggalan White Snake dan lainnya, semua teman-teman Nadhira menatap penasaran kearahnya. Apalagi Rangga, dia tahu kalau Nadhira hebat bertarung, tapi apakah dia juga mengenal White Snake dengan baik?
Mengerti maksud dari tatapan para temannya Nadhira pun berucap. "Hanya kenalan biasa. Tak sengaja ketemu di jalan," jawaban itu tak menghilangkan rasa penasaran mereka. Akan tetapi mereka paham, ada hal yang tak seharusnya mereka tahu juga.
"Oh, baiklah kalau begitu. Sekarang ayo kita makan-makan," ucap Rangga yang paling mengerti kalau tidak semua hal yang membuat kita penasaran harus di ketahui semunya.
Mereka pun menikmati pesta mereka sendiri, karena kebanyakan dari mereka adalah orang tua dengan di dampingi beberapa anak mereka, tapi tak membuat Rangga tertarik untuknl berteman dengan anak-anak teman ayahnya itu. Dia tahu kalau alasan mereka membawa anak mereka hanya untuk di jodoh-jodohkan. Dia benci itu.
Sesaat mereka menikmati makanan penutup mereka seseorang menghampiri Nadhira.
"Nona Nadhira, kebetulan sekali bisa bertemu dengan mu di sini," dia adalah tuan Hendra. Tuan Hendra terkejut ketika melihat Nadhira hadir di acara pesta ini, meskipun dia tidak memiliki hubungan yang terlalu dekat dengan Nadhira, tapi dia memiliki kesan mengesankan kepada Nadhira.
Dia mulai mengagumi Nadhira saat mereka bertemu di pasar, gafis ini sangat hebat, dia tidak tertipu oleh kata-kata penilai saat itu.
"Tuan Hendra, senang juga bisa bertemu dengan mu," Nadhira terkejut ketika melihat tuan Hendra, kemudian Nadhira menyadari kalau ini kan pesta para pejabat berkedok ulang tahun serta pengangkatan pemimpin baru Harimau Putih.
"Nona Nadhira, apakah kamu kenal dengan salah satu penggelar acara pesta ini?" Tanya tuan Hendra.
"lya aku kenal, ini dia, dia Rangga teman sekolah ku," jawab Isabel sambil memperkenalkan Rangga.
"Senang bertemu denganmu tuan Hendra. Nama saya Rangga, anak kedua dari Baskoro, senang bisa berkenalan dengan anda," sapa Rangga sambil memperkenalkan dirinya.
"Oh, hahaha, senang juga bisa berkenalan dengan mu," ucap tuan Hendra sambil tertawa.
Percakapan mereka tak luput dari berbagai pasang mata. Mereka penasaran dan semakin penasaran akan sosok Nadhira. Pertama dia mengenal White Snake, kedua dia juga mengenal tuan Hendra, salah satu orang yang terkenal di pasar barang antik kota B. Siapa lagi yang dia kenal?
"Baiklah, kalau begitu aku akan bergabung bersama orang tua-orang tua lainnya, meski aku suka di sini," ucap tuan Hendra bercanda.
Tuan Hendra pun pergi dan tanpa di duga ada yang memanggil Nadhira dari kejauhan.
"Nadhira?" Tepat pada saat itu suara wanita terdengar. Sebelum Nadhira melihat wanita itu, dia selintas mengenal suara itu.
Nadhira berhenti sejenak dan melihat kebelakang, itu adalah matia, dia memakai gaun seksi berwarna biru malam, warna gaunnya membuat kulitnya tampak sangat indah, dia juga mengenakan kalung berlian berwarna senada dengan gaunnya.
Seorang pria yang berdiri di sebelah kemungkinan adalah pasangannya malam ini, dia juga mengenakan pakaian biru malam, jasnya terlihat cocok dengan gaun yang di pakai oleh maria.
"Maria! Senang bertemu denganmu," ucap Nadhira.
"Aku sangat senang bisa bertemu denganmu di sini. Oh ya terimakasih atas bantuan terakhir kali. Sekarang kondisi ayahku sudah membaik," ucapnya haru.
"Senang mendengarnya," ucap Nadhira sambil tersenyum kecil.
"Oh ya, perkenalkan ini Devan, pasanganku malam ini," ucap Maria memperkenalkan Devon kepada semuanya.
"Senang berkenalan denganmu Devan," ucap Nadhira yang lainnl juga menyapanya.
Nadhira juga memperkenalkan satu persatu teman-temannya.
"Itu karena kami berkumpul bersama, jadi sangat sulit untuk mengabaikan kami yang sangat menonjol ini," ucap Nadhira bercanda, tapi kenyataannya memang seperti itu. Mereka sangat menonjol di banding tamu yang lain. Dan lagi beberapa orang terkemuka menyapa Nadhira. Mereka tidak bisa tidak memperhatikan mereka. Di kelompok mereka juga ada Rangga, anak kedua dari pemimpin Harimau Putih.
Maria tersenyum, kemudian dia memperhatikan sosok yang di kenalnya di belakang Nadhira, agak sedikit terkejut, "Bagas, Clara, bukannya kalian tidak suka datang ke sebuah pesta? Kenapa sekarang kalian malah datang ke pesta?"
Bagas dan Clara terlihat menggaruk tengkuk mereka dan berkata. "Sepupu Matia, karena teman dekat kami ada di sini, dan dia mengundang kami jadi kami pun datang," jawab Bagas.
"Iya begitu!" Sambung Clara.
Nadhira sedikit terkejut, jadi apa dong saat dia memperkenalkan mereka? Toh ternyata mereka sudah saling kenal ternyata.
Ah masa bodoh! Yang penting ternyata meski keluarga Bagas dan Clara tidak terlalu tinggi di kota B ini, tapi mereka memiliki hubungan dengan keluarga di kota A, yaitu Maria Prayoga, dari kelurga Prayoga yang cukup berpengaruh di kota A.
Beberapa menit lagi hampir jam 9 malam, ayah Rangga menaiki podium dan menyampaikan pidatonya.
Setelah beberapa kata untuk berpidato dia memanggi naik Reno.
Reno dengan elegan menaiki podium. "Ini Reno, anak tertuaku, dia akan menjadi pemimpin baru Organisasi Harimau Putih. Sekarang adalah hari ulang tahunnya yang menunjukkan umurnya sudah mencapai 22 tahun untuk memimpin organisasi ini. Jadi dari malam ini dia resmi menjadi pemimpin baru di Organisasi Harimau Putih. Rangga naiklah," setelah menyampaikan keinginannya paman Baskoro juga memanggil Rangga naik ke podium. Mungkin ingin memperkenalkannya kepada khalayak umum.
Rangga menaiki podium dan sekarang tiga pria itu berdiri dengan gagahnya di atas podium. Meski pama Baskoro sudah berumur akan tetapi tidak mengurangi karismanya. Tidak ada pasangan untuknya, karena hatinya masih setia dengan ibu dari kedua putranya.
"Nah yang satu ini adalah putera kedua ku, namanya Rangga Baskoro, kalian juga harus tetap menghormatinya meksi dia bukan pemimpin Harimau Putih, tapi dia merupakan tangan kanan kakaknya, Reno," ucap Paman Baskoro.
Prok
Prok
Prok
Tepuk tangan bergema di aula gedung pesta. Setelah penyerahan kepemimpinan dan acara perkenalan kedua puteranya, paman Baskoro menuruni podium diikuti kedua puteranya juga.
Reno di kerumuni oleh para tamu yang ingin mengucapkan selamat, sebenarnya Rangga juga, akan tetapi dia langsung kabir dan mendatangi teman-temannya.
"Fyuhh, akhirnya bisa kabur dari mereka," ucap Rangga sambil mengehela nafas lega.
"Cieee, yang hebat, yang jadi tangan kanan ketua, yang kakaknya seorang pemimpin geng Harimau Putih," goda Bagas sambil menyentil-nyentil pelan bahu Rangga.
"Biasa aja tuh!" Ucap Rangga biasa, tapi dirinya pribadi juga bangga akan itu.
"Hallo, hallo, para tamu undangan sekalian. Sekarang waktunya kita yang ingin mrmberikan hadiah kepada sang tokoh yang berulang tahun akan tiba. Mari kita persilahkan tokoh utama kita untuk maju ke depan agar dapat di lihat dan menerima hadiahnya," ucap pembawa acara yang mengalihkan fokus para tamu ke satu tempat.
¤
¤
¤
Semoga Suka...