Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Kesepakatan Kelar


Selamat Membaca...


•••••


Brukkk


Nadhira merebahkan dirinya di atas ranjangnya yang tak besar. Hanya cukup untuk dirinya sendiri.


Dia mengambil ponselnya dan mengirim pesan singkat ke White Snake.


'Aku bisa ikut dengan mu! Jemput aku di halte bus seperti sebelumnya,'


Pesan terkirim dan tertanda centang dua dan berwarna biru yang menandakan White Snake telah membacanya dan terlihat bagian atas pesan tertulis sedang mengetik...


Ting...


Pesan balasan masuk di ponsel Nadhira.


'Beres 👍'


Setelah cukup, Nadhira membuka group WeChat mereka. Sudah terdapat ratusan pesan masuk di group itu.


'Lagi pada ngapain?' Rima.


'Rebahan aja' Clara.


'Sama' Kaila.


'Sama' Bagas.


'Lagi ngerjain tugas dari kak Reno! 😭' Rangga.


'Kasihan' Bagas.


'Semangat!!!' Kaila.


'Em, aku lagi bacain pesan kalian!" Nadhira.


😅😅😅😅


Semua nya menjadi terdiam membaca balasan Nadhira, sungguh tidak memiliki humor dan bercakap-cakap.


'Oh ya bos, hari Sabtu jadi kan latihan? Oh ya kenapa tidak besok atau hari-hari libur minggu ini saja?' Bagas.


'Latihan ya? Kok aku gak tau!' Rangga.


'Jadi kok, kalau hari libur kedepannya aku akan sibuk jadi kita Sabtu seperti rencana awal,' Nadhira.


'Ok deh! Itu kita akan latihan Sabtu depan di lapangan pusat kota. Kalau mau ikut datang aja,' Bagas.


'Ok! Pasti aku datang,'


Ditempat lain yaitu di sebuah apartemen, tepatnya di balkon di lantai dua puluh gedung di tengah kota duduk lah seorang pemuda tampan duduk santai sambil menatap layar ponselnya. Sesekali dia tersenyum tipis.


Dia adalah Damian. Meskipun tidak menjawab di group WeChat tapi dia selalu membaca setiap komentar dari teman-teman barunya.


"Senangnya hidup normal seperti mereka. Andai aku juga bisa seperti mereka," gumam Damian.


Setelah komentar-komentar telah berhenti dia memasukkan ponselnya ke saku celananya.


"Hahhhh, serasa hidup normal!" Gumam Nadhira sebelum memejamkan matanya dan pergi ke alam mimpinya.


¤¤¤¤¤


Satu dua satu dua satu dua...


Nadhira melakukan senam pagi sesudah berlari di sekitar gang nya....


Gerakan-gerakan ekstrim tak luput dia pakai.


"Fyuhhh...," helaan nafas terakhir untuk gerakan terakhir mengakhiri senam nya.


Ting...


Notifikasi pesan masuk berdering dari ponsel Nadhira yang terletak di saku celana olahraganya. Dia mengambil dan membukanya.


Tertera nomor baru di sana, tapi Nadhira mengenali siapa itu.


'Nona Nadhira, apakah nona memiliki waktu hari ini. Saya adalah pria yang anda tawari mengenai membeli perusahaan saya!'


'Ya, saya memiliki waktu pagi ini, kita bisa bertemu di cafe xx pada jam 10 pagi!' Balasan pesan Nadhira.


Setelah memastikan pesan terkirim dan telah di baca Nadhira memasukkan kembali ponsel ke saku celananya dan dia pun masuk ke dalam rumah untuk mandi.


"Ibu aku mau keluar hari ini," ucap Nadhira seraya duduk di meja makan sambil mencomot satu roti dan melapisi nya dengan selai nanas.


"Kemana?" Tanya Puspa.


"Mau ketemu teman di cafe xx," jawab Nadhira.


"Oh, baiklah, hati-hati ya!" Ijin di berikan oleh Puspa.


Mereka pun makan berdua seperti biasanya dan pada jam 7:30 pagi Puspa berangkat bekerja meninggalkan Nadhira sendiri di rumah.


Masih dua jam lebih untuk bersiap. Nadhira tidak ingin tergesa-gesa, karena jarak cafe dengan rumahnya tidak terlalu jauh juga.


Tak terasa hampir satu jam lebih Nadhira rebahan sambil mencari-cari perusahaan yang menurutnya bagus untuk menanam sahamnya.


Nadhira kemudian menghentikan rebahan nya dan bersiap-siap untuk pergi ke cafe xx.


Kemeja hijau dengan rok hitam di bawah lutut, Nadhira kenakan sekarang. Rambutnya dia kuncir kuda dan polesan bedak tipis serta pelembab bibir membuat dia terlihat fresh.


Nadhira memakai sepatu kets putih dan tak lupa tas hitam kecilnya. Maklum hanya punya satu tas kecil. Bukan miskin akan tetapi dia malas untuk belanja sekarang. Karena orang-orang masih mengenal dirinya miskin.


Nadhira menuju cafe xx dengan berjalan kaki. Hitung-hitung olahraga lagi.


Tepat jam 9:30 pagi dia sampai di cafe dan duduk di sana menunggu pria setengah baya yang masih belum Nadhira tahu namanya.


Nadhira memesan cemilan dan kopi susu untuk menunggu.


Sepuluh menit kurang dari jam sepuluh tepat pria setengah baya yang di kenali oleh Nadhira wajahnya menampakkan dirinya di pintu masuk cafe. Dia terlihat celingak-celinguk mencari seseorang yaitu Nadhira.


Nadhira mengangkat tangannya dan pria itu memastikan dan setelah pasti itu Nadhira dia berjalan ke arah Nadhira.


"Apakah lama menunggu? Maaf tapi nona bilang jam sepuluh jadi saya datangnya hampir pas jam sepuluh," ucapnya.


Nadhira menggeleng. "Tak masalah! Saya sendiri yang ingin cepat datang. Silahkan duduk dan pesan dulu," ucap Nadhira.


Pria setengah baya itu pun memesan secangkir kopi hitam.


"Ekhem maaf sebelumnya, saya harus memanggil bapak siapa ya?" Tanya Nadhira.


"Oh iya, saya lupa memperkenalkan diri sebelumnya," ucapnya. "Perkenalkan nama saya Hadi Hartanto, nona bisa panggil saya pak Hadi,"


"Baiklah pak Hadi, anda juga bisa memanggil saya Nadhira saja," ucap Nadhira.


"Baiklah, Nadhira. Ok sekarang kita bisa membicarakan pokok dari pertemuan kita ini?"


Nadhira mengangguk. "Bisa!"


"Seperti kata Nadhira saat kita pertama bertemu sebelumnya. Nadhira menawarkan kepada saya untuk membeli perusahaan saya. Tapi sebelumnya apakah kamu tahu perusahan di bidang apakah perusahaan bapak itu?" Pak Hadi.


"Saya tahu! Perusahaan bapak berdiri di bidang perhiasan yang terdiri dari emas murni, berlian dan batu-batuan, benar?" Pak Hadi mengangguk.


"Bagus kalau Nadhira sudah tahu dan sekali lagi apakah Nadhira yakin untuk membelinya seharga tiga milyar rupiah? Dan seperti yang di tawarkan oleh Nadhira sebelumnya menjadikan saya sebagai direktur di perusahaan itu dan mengurus semuanya dan Nadhira akan hanya menjadi bos di belakang layar dan menerima hasilnya saja?" Nadhira mengangguk dan kemudian berkata.


"Kecuali ada suatu masalah yang kiranya pak Hadi tidak dapat pecahkan maka diskusikan lah dengan saya. Karena pada dasarnya saya tidak akan lepas tangan sepenuhnya tentang tanggung jawab perusahaan itu," jelas Nadhira.


"Baiklah! Kalau begitu saya setuju menjual perusahaan saya kepada Nadhira. Saya telah menyiapkan segala kontraknya. Silahkan baca dulu poin-poin kontraknya dan jika ada yang bermasalah maka saya akan mengubahnya," pak Hadi menyerahkan proposal sebelumnya yang di tolak bank serta surat kontrak baru yang berisi poin-poin perjanjian antara Nadhira dan pak Hadi.


Nadhira menerimanya dan membacanya. Kepalanya terlihat angguk-angguk...


"Saya setuju saja dengan semuanya, tapi di tambah dengan seluruh saham akan tertulis nama saya dan jika mintra perusahaan ada yang bertahan maka biarkan saja. Untuk pertemuan pemegang saham nanti aku akan hadir," ucap Nadhira.


"Baiklah! Semua nya akan di atur sesuai keinginan Nadhira.


"Untuk uangnya saya akan mengirimkannya sekarang sebanyak dua milyar terlebih dulu. Untuk sisanya saya akan transfer dua atau tiga hari ke depan," ucap Nadhira mengeluarkan ponselnya dan meminta nomor rekening pak Hadi untuk mentransfer uangnya.


Proses pembelian pun selesai. Tinggal menunggu Nadhira resmi menjadi pemilik sah saham terbesar di perusahaan perhiasan yang cukup besar itu. Namanya perusahaan itu adalah 'Beauty Jewelry'


¤


¤


¤


Semoga Suka...