Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh

Tubuh Pengganti Seorang Pembunuh
Penembak yang Meresahkan


Selamat Membaca...


•••••


Mendengar perkataan Nadhira, bibi Fatma naik pitam, paman Fahmi pun terlihat sangat kesal, terlihat dari urat-urat leher yang mengencang dan tangan terkepal, tapi dia tak menunjukkannya, karena dia lebih mementingkan imagenya.


Dia menyenggol lengan bibi Fatma, menyuruhnya berhenti berdebat, karena telah banyak orang yang menatap kearah mereka dan lagi teman yang makan bersama mereka juga terlihat bertanya-tanya.


Tapi bukan sifat bibi Fatma yang mau mengalah. Dia berkata. "Kau, anak kurang ajar," teriak bibi Fatma semakin menarik perhatian orang-orang.


Tiba-tiba datang seorang perempuan cantik. "Ada keributan apa ini? Ah Nadhira? Apakah ini benar kau? Aku sudah lama menunggu telepon darimu," dia adalah dokter Anna.


Saat mendengar namanya di sebutkan Nadhira mendongak. "Oh dokter Anna, kebetulan kita bertemu di sini," ucap Nadhira.


Semua orang menjadi bingung, apalagi Andara. Siapa dia?


Melihat kebingungan semua orang Nadhira pun memperkenalkan dokter Anna kepada mereka kecuali kepada paman dan bibinya yang terlihat sangat berusaha mendekati dokter Anna.


"Ah dokter yang saat itu merawat ibuku di rumah sakit harapan hidup?" Andara memastikan lebih jelas tentang ingatannya.


"Ya kau benar," jawab Dokter Anna dengan ramah.


Saat Andara dan teman-temannya berbicara kepada dokter Anna se kelibat bayangan yang mencurigakan dan suara yang tak asing terdengar di pendengaran Nadhira. "Tss! Tss!"


Sebagai agen rahasia pada bidang pembunuhan di kehidupan sebelumnya, Nadhira adalah seorang yang selamat yang hidup dengan menginjak mayat yang tak terhitung jumlahnya. Dia bertahan hanya setelah membunuh anak-anak yang juga ditangkap dan dilatih oleh organisasi. Selama itu, dia telah berlatih dan tahu betul bunyi yang dia dengar, tapi orang biasa tak akan menyadarinya.


Sebuah peluru dari senapan terdengar semakin mendekat!


Ada penembak jitu di sekitar mereka!


Saat ini mereka sedang berdiri di depan pintu, kaca besar tak jauh dari mereka berdiri.


Tak ada waktu memperingatkan mereka semua, dia mengaitkan kakinya ke sembarang orang yang kemungkinan akan terkena peluru dan meraup mereka semua dalam sekali raup untuk menunduk.


Dua peluru yang berasal dari senapan peredam meluncur melewati atas mereka dan menembus ke dinding putih di belakang mereka, menciptakan dua lubang yang lumayan dalam akan tetapi peluru masih terlihat di luar.


Siapa targetnya? Nadhira tidak bisa menebak siapa yang menjadi target penembakan.


Dari arah datangnya peluru di melihat siluet hitam, dia menatap tajam ke arah sana.


Peluru yang di tembakkan dari senapan peredam hanya mengeluarkan suara yang sangat kecil, orang biasa tidak akan mendengarnya.


Bibi Fatma dan paman Fahmi yang ternyata adalah orang yang di jatuhkan Nadhira menggunakan kaki langsung berdiri dan membersihkan pakaian mereka dari debu. Dia mengira Nadhira telah sengaja menjatuhkannya ke lantai untuk mempermalukannya. "Apa yang kau lakukan, Nadhira! Apakah kau akan membuat bibi mu dan pamanmu terluka? Kau gadis yang kurang ajar, apakah kau punya sopan santu,"


Yang lain juga berdiri kembali karena mereka juga jatuh tiarap karena Nadhira.


Andara juga mengusap kepalanya saat dia mengangkat dirinya sendiri dengan linglung, melihat adik perempuannya yang telah mendorongnya untuk tiarap, entah apa yang dipikirkannya.


Glen nampaknya tahu apa yang di lakukan oleh Nadhira sebelumnya dan dia tak sengaja mendengar gumaman Nadhira sebelumnya. Bahwa ada penembak jitu di sana.


"Ada penembak jitu di sini, cepat pergi!" Glen berkata dengan tergesa-gesa takutnya akan ada peluru susulan.


Bibi Fatma yang akan marah-marah lagi seketika terdiam, dia gemetar ketakutan sambil mencengkeram lengan paman Fahmi dan tanpa sengaja melihat dua lubang besar di dinding di depannya. Dari posisi itu, kemungkinan peluru pertama akan menembus kepala nya. Nadhira saat ini tidak main-main.


"Ah! Ah," bibi Fatma mulai menangis ketakutan, kakinya seakan menjadi jelly yang akan tubuh. Untungnya paman Fahmi menahannya.


Setelah itu mereka semua menatap dinding tembok yang berlubang dua tepat di belakang mereka.


Semua orang kembali menatap Nadhira dengan tidak percaya. Benar-benar ada penembak jitu di sekitar sini dan jika bukan karena kecepatan Nadhira, mereka tidak apa yang akan terjadi berikutnya.


Suara tergesa-gesa Nadhira terdengar lagi. "Kalian semua, cepat pergi sekarang. Cari perlindungan, temukan tempat bersembunyi! Cepat!" teriak Nadhira.


Nadhira melihat bukan hanya satu penembak jitu yang ada. Dia menebak target penembak jitu yang pertama adalah Glen, untuk yang kedua yang belum sempat menembak tidak dapat di pastikan siapa itu.


Kalau di lihat dari orang di sekitar Nadhira hanya Bagas, Clara dan Dokter Anna yang cukup berpengaruh. Yang lain tidak apalagi dirinya, kakaknya, paman dan bibinya. Meskipun pamannya cukup kaya, tapi itu tak membuat seseorang mengirimkan penembak jitu untuk membunuhnya.


Teriakan bibi Fatma membuat orang-orang kalang kabut berlarian menyelamatkan diri masing-masing. Di tambah peringatan dari Nadhira membuat orang-orang yakin kalau di sana ada penembak jitu.


Nadhira dan seluruh temannya berlindung di balik dinding tembok, bersembunyi dari pandangan sang penembak jitu. Hanya teman-temannya, sedangkan paman, bibi dan dokter Anna telah di amankan oleh pihak keamanan.


"Pergilah sekarang. Orang itu mengejar ku, aku tidak bisa membuat kalian semua dalam bahaya, tolong jaga juga adikku," Glen menjelaskan dengan panik dengan tinjunya yang mengepal melihat ke arah adik perempuannya, Rima.


"Tidak, aku akan ikut kakak," ucap Rima seperti anak kecil yang tak ingin di tinggal.


Perilaku Rima saat ini berbanding terbalik dari perilakunya sehari-harinya di sekolah.


"Jangan membuatku semakin dalam kesulitan, Rima," tekan Glen yang di hadiahi gelengan dari Rima.


Cukup dia yang mengalami itu, karena di sebagai pewaris, tapi tidak dengan adik perempuannya ini.


Saat kedua adik kakak itu berdebat sebuah suara mengalihkan perhatian mereka. "Tidak juga! Dari salah satu penembak jitu itu kemungkinan besar juga menargetkan ku," ucap Rangga sambil mengepalkan tangannya.


"Hah?" Semua orang terkejut mendengarnya dan langsung menatap sang pelaku.


Apa maksudnya?


Apakah saat ini dia dapat bercanda?


Ayolah sekarang keadaan sangat genting. Taruhannya nyawa bukan yang lain.


Glen berhenti berdebat dan mengambil sesuatu dari balik seragamnya, begitu juga dengan Bagas.


"Glen...," lirih Andara tak percaya.


"Rangga...," lirih Bagas dan Clara.


Sedangkan Nadhira hanya diam, dia sudah menebak kalau Glen lah target nya, akan tetapi di tak menduga kalau Rangga juga, dia tahu bukan satu orang saja targetnya, tapi masih tak menyangka jika itu Rangga yang di ketahui nya anak baik di sekolah.


"Andara, maaf aku berbohong padamu. Aku sebenarnya anak dari seorang jenderal militer yang memiliki banyak musuh dari ayahku," ucap Glen. Identitasnya telah menentukan masa depannya yang tidak biasa.


¤


¤


¤


Semoga Suka...