Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 38


Naina terpana saat melangkah masuk ke dalam apartemen Wira yang bagaikan bumi dan langit jika dibandingkan dengan kontrakannya. Begitu pintu hunian mewah itu terbuka, Naina disuguhkan pemandangan yang selama ini hanya dilihatnya di televisi atau majalah.


Berdiri kaku di tempat, Naina mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. Ia merasa bagaikan butiran debu di antara tumpukan barang mewah yang mengisi kediaman Wira.


"Duduk, Nai." Wira mempersilakan sambil menurunkan putrinya di sofa.


"Mau minum apa?" tanya Wira bergegas berjalan menuju ke dapur bersih merangkap mini bar yang menyatu dengan ruang tamu.


"Mas Wira banyak berubah. Kehidupannya jauh lebih baik sejak kami berpisah." Naina membatin sembari mengagumi.


Selama ini, Naina sudah menerka kalau mantan suaminya terbilang sukses sekarang. Kehidupan Wira naik berkali lipat dibanding dulu. Terlihat jelas dari penampilan mahal dan mobil mewah yang berganti-ganti setiap hari.


Apalagi ia sempat melihat data perusahaan Wira yang tersimpan di file milik RD Group, sebagai salah satu rekanan perusahaan tempatnya mengais rezeki.


Pandangan Naina beralih pada putrinya. Wina terlihat berdiri di samping meja, sibuk bermain dengan pajangan bola kristal yang disimpan di wadah kuningan, di atas meja marmer. Melihat bentuknya, Naina yakin itu bukan barang murah. Sampai rusak, ia merasa tidak enak pada Wira.


"Win, jangan disentuh, Sayang. Nanti pecah." Naina buru-buru menghampiri Wina dan meraih tubuh mungil itu agar menghentikan aktivitasnya.


"Biarkan saja, Nai. Namanya juga anak-anak." Wira tiba-tiba datang dengan gelas kosong dan sekaleng minuman bersoda. Tampak Wira menjepit sekotak susu cair di dada dengan lengannya.


"Aku tinggal sendiri ... dan tidak pernah memasak. Biasa makan di luar atau pesan makanan online, jadi tidak ada yang bisa disuguhkan. Hanya minuman dan susu saja di kulkas." Wira tersenyum sembari menghempaskan tubuh di sofa.


"Kenapa berdiri, Nai? Duduk saja, anggap rumah sendiri. Tidak ada siapa-siapa di sini. Rumah Pak RT juga jauh." Wira tergelak, berharap Naina paham dengan candaannya.


Ragu-ragu, Naina akhirnya ikut menjatuhkan bokong di sofa dan menurunkan Wina di sebelahnya.


"Bunda ... cucu ...." Wina menunjuk kotak susu di atas meja.


"Wina mau?"


Gadis kecil itu mengangguk dengan senyum merekah.


"Sebentar." Naina menuangkan setengah gelas susu dan disodorkannya di bibir Wina.


"Mau ...." rengek Wina, meminta agar diizinkan menggenggam gelas itu sendiri, seperti kebiasaannya selama ini.


"Jangan, Sayang. Nanti tumpah. Ini bukan rumah kita," bisik Naina pada putrinya. Kata-kata yang tanpa sengaja diucapkannya. Tidak bertujuan apa pun, selain untuk memberi pengertian pada putrinya. Namun, kalimat terakhir yang keluar dari bibir Naina itu cukup menyentak Wira.


Terlihat raut wajah Wira berubah sedih. Ia disadarkan bahwa saat ini sudah tidak ada lagi yang tersisa dari rumah tangga mereka dulu selain akta perceraian dan putri mereka, Wina.


"Sudah, biarkan saja, Nai." Wira berusaha mengontrol perasaannya sendiri dan menyunggingkan senyuman.


"Kalian sudah lapar? Mau aku pesankan makanan?" tanya Wira, duduk bersandar sembari menyilangkan kakinya.


"Nanti saja, Mas. Sebelum keluar dari rumah sakit, aku sempat menyuapi Wina.


Wira mengangguk. Hening melanda saat kedua orang dewasa itu saling diam. Canggung dan salah tingkah. Naina sibuk memperhatikan putrinya dan Wira memainkan ponsel sesekali mencuri pandangan pada ibu dan anak yang tampak sungkan. Wira bisa menangkap itu dari sikap Naina, yang sering mencuri pandangan ke sekeliling ruangan dan menunduk untuk menyembunyikan sungkannya.


"Aku tunjukan kamar kalian. Sepertinya Wina sudah lelah." Wira bergegas menggendong putrinya dan membawa gadis kecil itu ke kamar.


"Nanti kalau Wina sudah sembuh, berenang dengan Ayah." Wira berkata saat mereka melewati kolam renang. Telunjuknya terarah pada kolam renang berukuran sedang yang terdapat di luar ruangan, terhalang dinding kaca.


"Mau ... Ayah." Wina memeluk erat leher Wira dan melabuhkan kecupan di pipi Wira.


"Harus sembuh dulu ... baru bisa bermain dengan Ayah. Ini rumah Wina juga," ucap Wira pada putrinya. Ia yakin, Naina yang mengekor di belakang bisa mendengar jelas ucapannya.


Melewati ruangan demi ruangan, akhirnya Wira berhenti di depan pintu bercat putih.


"Ini kamar kalian, Nai. Kalau kamu membutuhkan sesuatu, di sebelah adalah kamarku." Wira menjelaskan sembari memutar gagang pintu dan membukanya perlahan


Wina menjerit histeris kegirangan saat daun pintu itu terbuka sempurna


"Bundaaaaa ...." Wina mengarahkan telunjuknya ke dalam kamar.


"Ada apa, Sayang?" tanya Naina heran. Buru-buru menghampiri.


Deg--


Kaki Naina melemas saat netranya mendapati apa yang membuat putrinya menggila. Kamar bernuansa pink dan putih dengan desain layaknya di negeri dongeng. Sebuah ranjang berukuran king size dengan seprai bermotif Cinderella. Ada banyak boneka bersadar di ranjang, dengan berbagai ukuran. Dari yang kecil sampai berukuran raksasa.


"Ini memang kamar Wina, aku senang putriku menyukainya," ucap Wira.


"Beristirahatlah. Aku sudah meminta asistenku menjemput Rima dan membawa sebagian barang-barang penting. Yang lainnya biarkan saja di kontrakan. Aku akan menyiapkan semua kebutuhanmu dan Wina." Wira berkata sembari tersenyum hangat.


***


"Mas, apa Mama tahu kalau kamu membawaku dan Wina tinggal di sini?" tanya Naina.


Setelah menidurkan Wina, Naina segera mencari Wira untuk bicara empat mata. Ada banyak hal yang ingin diketahuinya. Ia tidak ingin kehadirannya dan Wina di dalam kehidupan Wira membuat banyak hati terluka dan kecewa.


"Tahu. Tadinya Mama menawarimu dan Wina tinggal bersamanya sambil menunggu rumah kalian selesai direnovasi. Hanya saja ... aku tahu kalau kamu tidak nyaman. Jadi aku putuskan membawamu dan Wina tinggal bersamaku." Wira menjelaskan sembari menyesap minuman dinginnya.


Keduanya duduk berhadapan di sofa ruang tamu.


"Maaf, jadi merepotkan." Naina menunduk, suaranya terdengar pelan.


"Nai, maafkan Mama. Dia sebenarnya menyayangimu. Perceraian kita itu bukan hanya membuat kamu dan aku saja yang terluka. Terlepas siapa yang salah atau benar, siapa yang menyebabkan semua ini terjadi, Mama dan Papa juga kecewa dan terluka dengan perceraian kita."


"Mungkin Mama sempat melukaimu saat kamu menemuinya bersama Wina, tetapi percayalah. Mama menyesal setelah mengetahui kalau Wina benar-benar putriku."


"Mama sempat melakukan kesalahan sewaktu mengakui Nola sebagai putriku, wajar saja kalau Mama lebih hati-hati."


"Aku sudah melupakannya, Mas."


Kedua sudut bibir Wira melengkung ke atas. "Terima kasih, Nai."


"Nai ...."


"Emm."


"Apa tidak terpikir untuk menikah lagi?" tanya Wira tiba-tiba.


Naina terdiam sejenak. "Mas sendiri?" Naina balik bertanya. Selama dipertemukan kembali dengan Wira, Naina menyimpan banyak tanya di dalam hati. Tiga tahun berpisah, bisa saja Wira sudah menikah lagi atau memiliki kekasih yang belum diungkapkannya selama ini.


Walaupun Wira terlihat masih sendiri, tetapi tidak menutup kemungkinan semua itu terjadi. Pria tampan, single dan mapan, pasti ada banyak gadis yang mengejar mantan suaminya dan berharap diperistri.


"Tidak ada waktu memikirkan pernikahan. Tiga tahun ini, aku sibuk mencarimu dan Wina, sibuk bekerja. Jadi tidak ada waktu untuk pacaran. Mama sudah muak mengenalkan gadis padaku. Sampai Mama kesal sendiri, tak ada satu pun yang singgah di hati." Wira bercerita.


"Kalau kamu?" tanya Wira, menggunakan kesempatan ini untuk menggali informasi lebih dalam.


"Tidak. Aku tidak mau menikah lagi. Cukup sekali merasakan menikah denganmu dan aku tidak mau menikah lagi, dengan siapa pun.” Naina menegaskan.


“Lima tahun merasakan kebahagiaan denganmu, tidak sebanding dengan sakit yang aku rasakan di akhir pernikahan kita, Mas. Dan aku tidak mau mengulang sakit yang sama. Kalau aku menikah lagi, bisa saja aku akan merasakan sakit itu lagi. Aku tidak menyalahkanmu. Karena memang bukan salahmu, Mas. Mungkin ada yang lebih pantas disalahkan, tetapi bukan kamu. Aku juga salah, aku egois dan keras kepala pada saat itu. Hanya saja sakit itu nyata ... dan aku benar-benar tidak mau mengulangnya lagi."


Wira tersentuh saat melihat wajah cantik di hadapannya sedang berusaha terlihat tegar dan tidak menangis meskipun akhirnya Naina menitikan air mata juga.


"Sesakit itu, kah?" tanya Wira. Hatinya tercubit. Kalau selama ini ia merasa paling tersakiti karena harus berpisah dengan putrinya, ternyata hidup Naina tidak lebih baik.


Mantan istrinya juga mengalami sakit dan kecewa yang sama walaupun dari sudut berbeda.


"Saat awal-awal mengetahui kamu menikahi Stevi, rasanya ...." Naina terdiam, tubuhnya bergetar hebat. Berusaha keras menahan tangisnya. Namun, saat luka itu dibuka lagi, ia masih bisa merasakan sakit yang sama.


"Maafkan aku ...."


"Saat mengetahui orang yang kita cintai menikahi orang terdekat kita dan sudah memiliki buah hati. Ketika kita sadar sudah dibohongi bertahun-tahun rasanya seperti dicabut nyawanya saat itu juga. Walau belakangan aku tahu ternyata Mas tidak bersalah, tetapi aku sudah menyimpan sakit itu selama ini. Aku belum siap dan tidak tahu kapan akan siap untuk memulai lagi. Apa aku bisa memulai lagi. Entahlah, Mas.”


“Nai, apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan Wina? Anak itu masih terlampau kecil untuk bisa mengerti keputusanmu,” tanya Wira.


Seakan mengerti maksud pertanyaan Wira, Naina menjawab dengan tegas.


“Ya, aku tahu aku salah saat menyembunyikan Wina darimu. Dan sekarang aku sadar, Wina juga membutuhkanmu. Aku tidak keberatan berbagi denganmu, Mas. Agar Wina bisa merasakan sentuhanmu juga. Bisa merasakan memiliki orang tua yang lengkap, meskipun kita berpisah. Kamu boleh menemui Wina kapan saja, aku tidak akan mencegahmu, Mas. Begitu juga dengan Mama dan Papa, mereka juga bisa menemui Wina setiap waktu.”


***


Tbc