
“Kita berteman saja, Mas.” Naina berdiri dan menyambut tangan Wira, tersenyum datar.
Deg —
Wira menatap manik hitam pekat di mata Naina. Pria itu mencari kebenaran di bola mata yang selalu jujur. Netra itu teduh, tidak ada emosi atau kemarahan. Tidak terlihat dendam dan masa depan. Naina sudah berpasrahkah atas semua tragedi yang menimpanya selama ini dan memilih hidup sendiri. Apa ada cinta lain, yang dipendamnya untuk orang lain dan tidak mau diungkapkannya. Yang jelas di dalam mata bening itu tidak ada cinta untuknya lagi.
“Nai, apa masih ada sisa cinta untukku di dalam hatimu?” tanya Wira, masih berharap.
“Aku tidak tahu, Mas. Hanya saja aku dan Wina sudah biasa hidup tanpamu selama tiga tahun ini.” Naina menjawab pelan, mencoba menyembunyikan perasaan terdalamnya. Ia sudah terbiasa bersandiwara, bahkan untuk dirinya sendiri. Hidup mengajarkannya untuk tega terhadap perasaannya demi tidak ada yang tersakiti.
“Tidak terpikir untuk bersama lagi? Demi Wina?” tanya Wira.
“Tidak,” tegas Naina dengan cepat.
Wira meremas rambutnya. Sejak awal ia tidak mau menawari hubungan pada Naina, karena ia belum siap dengan penolakan yang menyakitkan. Yang bisa meruntuhkan semangatnya untuk berjuang.
“Apa ada pria lain yang mencuri tempatku, Nai?” tanya Wira berusaha bersikap biasa.
Naina menggeleng pelan.
“Pieter?” todong Wira. Emosinya mulai terpancing saat melihat sikap keras Naina. Ia sudah berusaha untuk bersabar dan mengalah selama ini.
Naina kembali menggeleng.
“Bukankah kalian hidup bersama selama setahun. Apa kamu menyukai pria itu?” tanya Wira.
“Tidak, Mas. Aku bekerja dengan Pak Pieter. Tidak ada hubungan apa-apa dengannya. Aku harus kembali bekerja, Mas. Kalau memang tidak ada yang penting, kita lanjutkan pembicaraan di rumah.” Naina berniat menyudahi, setelah menatap jam di dinding hampir menunjukan pukul 14.00 Wib.
“Aku pikir kita harus meluruskannya sekarang, Nai. Aku masih berharap kita bisa bersama demi Wina.” Wira menahan pergelangan tangan Naina.
“Bukankah kita sekarang bersama untuk Wina, Mas,” sahut Naina dengan santainya.
“Tanpa ikatan ....” Terdengar suara Wira mengambang.
Naina mengangguk. “Aku memutuskan tidak mengikat diri pada siapa pun, Mas,” tegas Naina lagi.
“Ini tidak adil untuk Wina, Nai. Tidak bisakah membuang keras kepala dan egoismu demi putri kita? Kamu sudah mengetahui semuanya, Nai. Aku tidak pernah sekali pun mengkhianatimu sampai detik ini. Apa ini adil untukku? Adilkah untuk Wina?” Wira menghempaskan kembali tubuhnya di kursi, mengusap kasar wajah berantakan setelah mendengar penolakan Naina dengan penuh ketegasan.
“Ini juga tidak adil untukku, Mas. Aku jatuh cinta lagi. Jatuh cinta untuk kedua kalinya, tetapi aku harus mengorbankan perasaanku demimu dan Wina.” Naina berkata dalam hati, matanya berkaca-kaca.
“Maafkan aku, Mas.” Naina tertunduk.
“Baiklah. Anggap aku tidak bicara apa-apa, Nai. Aku tidak mau kita bertengkar untuk hal ini. Aku siap memulai dari awal. Tolong beri kesempatan padaku, Nai. Aku akan berjuang untuk Wina. Kalau kamu masih memiliki perasaan, tolong berjuanglah untuk putri kita. Kamu tahu rasanya hidup tanpa orang tua yang utuh, harusnya kamu juga paham apa yang akan Wina rasakan saat dia mulai memahami banyak hal,” ungkap Wira, menepuk pelan pundak Naina dan berjalan keluar ruangan.
“Aku menunggumu di rumah.” Wira berkata sambil mengayunkan gagang pintu.
***
“Maafkan aku, Mas.” Tubuh Naina melemas, merosot jatuh ke lantai setelah Wira benar-benar pergi. Selama ini ia berusaha menyembunyikan banyak hal dari dunia, bahkan dari dirinya sendiri. Ia berjuang untuk bisa keluar dari perasaannya. Ia juga tidak ingin menyakiti semua orang, tetapi Tuhan menghukumnya dengan cara menyakitkan.
Dennis Joseph, pria tampan yang diam-diam mengisi hidupnya beberapa tahun terakhir, telah mencuri sebagian tempat di dalam hatinya. Naina ingin menolak itu, tetapi Tuhan benar-benar membuatnya terpuruk dengan menghadirkan cinta kedua di dalam hidupnya setelah Wira.
Kalau dulu, ia berjuang melupakan cintanya pada Dennis demi untuk tidak terluka lagi karena cinta. Kalau sekarang, ia memiliki alasan lebih. Tidak mungkin mengikuti perasaannya. Dennis dan Wira terlahir dari rahim perempuan yang sama. Tidak mungkin menyakiti keduanya. Sebisa mungkin Naina akan menyimpan perasaan untuk dirinya sendiri.
Apalagi saat ia mengetahui masa lalu Dennis, rasanya tidak adil untuk Wira. Hanya saja, masalah hati, tidak ada seorang pun yang bisa mengontrolnya. Seperti dirinya yang berusaha untuk tetap setia pada Wira, tetapi hatinya berkhianat. Ia jatuh cinta pada pria lain. Dan ia tidak beruntung, pria itu adalah orang yang menghancurkan rumah tangganya.
“Aku tidak ingin mencintai dan dicintai, aku hanya ingin hidup dengan Wina saja, menua dengan putriku. Apakah aku salah?” ucap Naina pelan. Air matanya mengalir deras sambil meremas dadanya yang sesak.
“Apakah adil untukku ... aku bahkan memilih untuk tidak hidup bersama dengan pria yang aku cintai. Kenapa harus memaksaku hidup dengan pria yang sudah tidak aku cintai. Mas Wira masa laluku, yang tertinggal dari kami hanya kenangan manis dan Wina.”
Naina bangkit dan kembali duduk. Meraih ponsel di meja dan mengusapnya perlahan. Menyelip beberapa foto Dennis di galeri ponselnya, di antara ratusan foto Wina.
“Mas, kenapa aku harus mencintaimu. Dari sekian banyak pria di dunia, kenapa harus kamu. Setelah mengetahui semuanya, aku semakin merasa Tuhan sedang menghukumku. Ini seperti karma yang harus aku terima karena sudah menyakiti Mas Wira,” lirih Naina sambil menangis.
Ia menyadari perasaannya pada Dennis tepat setelah terbangun dari koma. Bayangan Dennis muncul dalam samar-samar penglihatannya. Pria itu sedang menggendong bayi Wina dengan tangan kirinya, berdiri di samping dan menggengam tangannya. Selama hamil dan berjuang melahirkan, Dennis tidak pernah meninggalkannya. Setiap ia membutuhkan Dennis, pria itu akan menemuinya, meskipun harus menyeberang samudera, melintasi benua.
“Ya Tuhan ... kalau memang ini hukumanku, aku menerimanya, tetapi tolong jangan membuatku harus menyakiti Mas Wira lagi. Aku berharap, ia menemukan perempuan yang lebih pantas untuknya. Yang bisa membahagiakannya, dan itu bukan aku. Aku hanya menebar luka untuknya.”
***
Sore itu, awan mendung bergelayut manja di langit Jakarta. Tak lama, gerimis pun menyapa bumi tanpa permisi. Rintik air mengiringi langkah perempuan berpayung tas cokelat, berlari menuju halte untuk menunggu angkutan umum.
“Nai, ikut denganku! Aku akan mengantarmu pulang,” teriak Pieter saat berpapasan dengan Naina di gerbang RD Group.
“Tidak perlu, Pak. Aku naik angkutan umum saja,” tolak Naina.
“Hujannya lebat, Nai. Pakaianmu sudah basah semua. Hujannya bakal lama. Ayo, masuk!” teriak Pieter lagi. Mata pria itu menyipit saat terkena serangan air hujan bercampur hembusan angin kencang yang masuk dari jendela mobil.
“Tidak apa-apa, Pak. Terima kasih,” tolak Naina sembari berlari kencang menuju ke halte untuk menghindari hujan yang semakin menjadi.
“Selalu keras kepala!” gerutu Pieter.
Tampak sepasang mata sedang mengawasi pemandangan di gerbang RD Group. Ya, dia adalah Wira. Pria itu sedang duduk menunggu Stella di belakang kemudi Tesla hitamnya yang berbaris di antara mobil karyawan lainnya. Bara meminta bantuannya untuk mengantar Stella ke rumah sakit.
“Mas, maaf menunggu lama.” Stella tiba-tiba muncul, membuka pintu mobil dengan atasan basah terkena air hujan.
“Tidak, aku baru saja sampai. Bara baru mengabariku.” Wira menjawab santai, tatapan pria itu tertuju pada Naina yang sedang menunggu angkutan di tengah hujan.
“Maaf merepotkan. Sebenarnya aku bisa pergi dengan taksi saja. Mas Bara terlalu berlebihan,” ungkap Stella, sembari mengerikan rambutnya yang basah dengan sapu tangan.
“Kita berangkat sekarang?” tanya Wira, berusaha tersenyum. Pikirannya kacau. Ia sedang mengkhawatirkan Naina. Hujan begitu deras, sebentar lagi gelap dan Naina sendirian menunggu. Jujur saja, perasaannya tidak enak. Seperti ada sesuatu yang akan terjadi.
***
TBC