Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 37


Tangan mungil Wina masih memeluk erat leher Dennis sambil menatap ke arah Oma-nya yang menangis. Gadis kecil itu merasa aneh saat netra hitam pekatnya beradu dengan bola mata berkaca-kaca sang Oma.


"Ngis ... angis ...." celotehnya. Tampak ia membenamkan kepalanya di ceruk leher Dennis. Menikmati kehangatan daddy yang sudah lama dirindukannya.


Wina masih terlalu kecil untuk memahami rumitnya masalah orang dewasa. Yang ia tahu, ia merasa nyaman dengan Dennis. Pria yang menjaga dan menyayanginya sejak kecil. Pria yang menuntunnya saat belajar berjalan. Pria yang mengangkatnya saat terjatuh. Pria yang menjadi sandarannya dan sang mama selama beberapa tahun terakhir.


Mama Wira masih menangis dan memeluk Dennis. Ada sedikit kelegaan saat mengetahui putranya sudah mulai melunak, meskipun belum sepenuhnya menerima. Terlihat jelas dari sikap Dennis yang kaku, bahkan tidak mau menatap ke arahnya.


"Sudahlah, Ma. Sebaiknya Mama pulang dulu. Semalaman tidur di rumah sakit, pasti tidak nyaman. Aku dan Naina akan menjaga Wina." Wira menepuk pelan punggung mamanya yang masih bergetar.


"Mama masih mau bicara dengan Dennis."


Perempuan paruh baya itu menolak, tetapi Wira tetap bersikeras. Melihat sikap Dennis, Wira yakin kalau kakaknya belum sepenuhnya memaafkan.


"Mas ...." Naina akhirnya bersuara setelah melihat wajah datar Dennis.


"Ya, Nai." Dennis buru-buru mengusap kasar matanya yang basah.


Naina tidak menjawab, sebagai gantinya ia menggenggam tangan Dennis. Berusaha menguatkan pria itu di tengah peristiwa yang menghantam perasaan. Baru saja kehilangan Mbok Sumi, sosok yang sudah dianggap ibu sendiri. Dan sekarang dipertemukan dengan ibu kandungnya. Naina tahu, Dennis sedang dalam kondisi tidak baik.


Ketika Naina mengeratkan genggaman tangannya, pandangan keduanya beradu. Senyum tipis di bibir Dennis seakan mengirim ucapan terima kasih.


Di sisi lain, Wira menatap pertautan tangan keduanya dengan tanda tanya besar.


"Apa Naina sudah mulai melupakanku sekarang?" batin Wira berusaha bersikap tenang. Tidak ingin pikirannya mempengaruhi perasaannya. Semuanya belum terbukti. Selama ini Naina juga bersikap manis padanya.


"Aduh!" Wira memijat pelipis dengan tangan kiri, dan merengkuh pundak Naina dengan tangannya yang lain.


"Mas, kamu baik-baik saja?" tanya Naina. Ia panik saat melihat Wira mengeluh kesakitan. Buru-buru merengkuh lengan Wira dan membawa pria itu ke sofa.


Demikian juga dengan mamanya dan Dennis, perhatian ibu dan anak itu teralihkan begitu melihat Wira terhuyung-huyung berjalan menuju sofa.


"Apa yang sakit, Mas?" tanya Naina, ikut memijat pelipis Wira.


"Semuanya," sahut Wira asal. Bersandar di sofa sembari memejamkan mata, menikmati pijatan lembut Naina yang sudah lama tidak dirasakannya lagi.


"Mas sudah sarapan?" tanya Naina.


"Belum, Nai." Wira menjawab dengan suara lemah.


"Mas masuk angin. Mau aku belikan makanan di bawah?" tawar Naina.


"Tidak perlu, Nai. Dipijat sebentar juga baikan," ucap Wira tersenyum di dalam hati. Setidaknya Naina masih peduli padanya. Naina masih memperhatikannya.


***


Siang beranjak pergi, rembulan malam pun menyambut hari. Dennis masih tertahan di rumah sakit bersama Naina dan Wira. Wina tidak mengizinkannya meninggalkan rumah sakit. Hal yang biasa terjadi sejak gadis kecil itu tinggal di Bandung. Kalau dulu, Dennis baru bisa kembali ke Jakarta saat memastikan Wina tertidur.


Waktu menunjukan pukul 19.30 malam saat Dennis membujuk Wina untuk tidur. Ia merasa tidak enak berada di ruangan yang sama dengan Wira berjam-jam. Hubungan kakak adik itu membaik meski belum mengalir layaknya hubungan persaudaraan pada umumnya. Masa lalu masih membayangi keduanya, rasa bersalah Dennis pun membuat pria itu merasa sungkan.


"Win, tidur sekarang, ya. Daddy harus pulang,” bujuk Dennis. Gadis kecil itu masih betah bergelayut manja di pundaknya. Tidak mau lepas dari gendongan.


"Mmm." Wina menggeleng.


"Mauuu ... Daddy," lanjutnya dengan manja.


"Di sini ada Ayah dan Bunda. Daddy juga harus pulang ke tempat Kak Angie." Dennis menjelaskan.


"Mmm ...." Kembali Wina menggelengkan kepala.


"Ya sudah. Kita telepon Kak Angie." Dennis mengeluarkan ponselnya dan menghubungi putrinya.


Wira hanya bisa menatap dari kejauhan tanpa bisa protes. Wina sedang sakit dan Wira memilih membiarkan putrinya nyaman. Masih banyak waktu untuk mendekatkan diri. Bagaimanapun, ia dan Naina adalah orang tua kandung Wina. Hubungan darah tidak akan terputus. Saat ini Wina hanya merasa nyaman. Seiring waktu berlalu, gadis kecil itu akan mulai terbiasa dengan ketidakhadiran Dennis dan membuka hati untuknya.


***


"Angie ... kamu sedang apa?" tanya Dennis begitu layar ponselnya dipenuhi oleh wajah centil Nola yang sekarang berganti nama panggilan menjadi Angie.


"Baru bangun tidur, Dad." Angie mengusap kasar matanya. Gadis kecil itu masih memeluk boneka kesayangannya. Saat ini di Amerika baru pukul 08.30 pagi.


"Daddy belum bisa menemuimu. Adik sakit." Dennis menjelaskan sembari mengarahkan kamera ponselnya ke arah Wina.


"Wina sakit, Dad?" tanya Angie.


"Ya. Beberapa hari lagi Daddy baru menemuimu." Dennis memamerkan senyumnya.


“Oh ....”


"I love you, Angie. Jangan nakal di sana. Jangan membuat Opa Joseph sakit kepala."


"I love you too, Dad." Angie mengecup bibirnya di layar ponsel sebelum memutuskan sambungan video itu,


Sejak awal obrolan antara ayah dan anak itu, Naina menatap Dennis tak berkedip. Jujur saja, ia tersentuh saat mengetahui Dennis mengorbankan bertemu dengan putri kandungnya demi Wina yang sedang sakit.


Lain Naina, lain pula Wira. Pria itu tertegun mendengar suara Nola. Gadis kecil yang dulu disayangnya, ditimangnya dan dicintainya dengan sepenuh hati. Bahkan dipeluknya saat pertama kali datang ke dunia. Gadis kecil yang sering berlari menyambutnya sambil memanggilnya papi. Kenangan-kenangan masa kecil Nola berputar kembali. Meskipun gadis kecilnya sudah berganti nama, Wira masih bisa mengenali suara celotehnya. Wajah imut gadis kecilnya belum berubah. Masih secantik tiga tahun lalu.


Mengalihkan pandangannya, Wira tercubit saat mendapati Naina yang lagi-lagi menatap Dennis penuh arti. Entah apa arti tatapan itu, hanya Naina yang tahu jelas.


***


Selama tiga hari dua malam dirawat di rumah sakit, akhirnya Wina diperbolehkan pulang. Naina bisa bernapas lega. Ia sudah terlalu lama tidak masuk kerja. Perasaannya juga tidak enak, walaupun Pieter tidak mempermasalahkan.


"Mas, kalau Mas sibuk ... aku dan Wina bisa naik taksi." Naina berkata sembari memakaikan kaos kaki Wina. Gadis kecil itu sudah bisa tersenyum.


"Tidak, Nai. Aku tidak sibuk."


"Ayah ...." Wina menyapa sembari memamerkan kaos kaki pink berendanya.


"Ya, Sayang." Wira bergegas menghampiri saat Wina menyodorkan kedua tangannya meminta Wira menggendongnya.


"Sudah beres semua, Nai?" tanya Wira memastikan semua perlengkapan putrinya tidak ada yang ketinggalan.


"Sudah, Mas." Naina bergegas mengikuti langkah kaki Wira sembari menenteng tas kain berisi barang-barang Wina.


***


Setengah jam berkendara, membelah jalanan Jakarta. Mobil Wira akhirnya masuk ke sebuah gedung apartemen yang terletak di atas salah satu mall besar di Jakarta Pusat.


“Mas ....” Selama perjalanan memilih diam, akhirnya Naina bersuara saat mobil yang ditumpanginya berhenti sempurna.


“Nai, tinggallah di tempatku sambil menunggu rumahmu selesai di renovasi. Akan lebih baik untuk Wina tinggal di sini dibandingkan di kontrakanmu. Dia baru sembuh dari sakit.” Wira membuka suara.


“Ta-tapi ... Mas.”


“Kalau di tempatku, Mama bisa membantu menjaga Wina selama kamu bekerja. Tidak akan lama, aku akan meminta pekerja untuk menyelesaikan proses renovasinya dalam seminggu ini,” lanjut Wira, meraih tubuh Wina dari pangkuan Naina. Tanpa menunggu jawaban, ia sudah membawa putrinya masuk ke dalam gedung. Ia tidak akan mengalah lagi. Sudah cukup selama ini menuruti semua ucapan Naina. Ia juga berhak memutuskan apa yang terbaik untuk putrinya.


***


Tbc