Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S1. Bab 57


“Selamat siang, Nyonya. Perkenalkan aku Dennis Wijaya, putra tunggal Andi Wijaya,” ucap Dennis menyodorkan tangannya, tersenyum manis menatap mama Wira. Sengaja memberi penekanan saat menyebut nama Andi Wijaya.


Mama Wira limbung seketika saat mendengar nama Andi Wijaya disebut. Wanita itu mundur beberapa langkah, kepalanya berdenyut. Dunia berputar tiba-tiba. Beruntung Wira sigap, merengkuh tubuh mamanya hingga tidak terjatuh menghantam lantai rumah yang keras dan dingin.


“Mama baik-baik saja?” tanya Wira, khawatir. Terselip amarah tertahan, menatap Dennis dengan tidak bersahabat


“Hmmm.”


Dennis tersenyum melihat pemandangan di hadapannya. Berjalan mendekat, kembali menyodorkan tangannya.


“Nyonya, anda baik-baik saja?” tanya Dennis memastikan.


Mama Wira bergeming, dadanya sesak. Berusaha memenangkan jantungnya yang berdetak kencang. Matanya memanas, awan gelap bergelayut di kelopak mata.


“Kamu ... benar ... Dennis?” tanya Mama Wira terbata. Air matanya tumpah tanpa sanggup ditahan. Putra yang ditinggalnya 28 tahun silam, sekarang sudah segagah ini. Tampan sekali, dengan postur tinggi dan wajah blesteran miliknya tercetak jelas di wajah Dennis. Ya, mata biru itu turunan darinya, itu matanya bukan mata Andi Wijaya.


“Tentu saja aku Dennis, Nyonya. Nyonya masih mengingatnya? Tadinya aku pikir, Nyonya lupa dengan anak kecil yang menangisi kepergianmu,” ucap Dennis, tersenyum kecut.


“Anak kecil yang menggenggam erat tangan mamanya. Hahaha ... bahkan Nyonya pergi begitu saja dengan koper hitam di tangan. Nyonya tidak sekali pun menoleh saat anak itu menjerit pilu memanggilmu mama.” Dennis mengingatkan Mama Wira kembali.


“Sejak saat itu, aku menolak mengakui Nyonya mamaku. Sampai napasku tercabut, aku tidak akan mengakui Nyonya sebagai mamaku. Jadi jangan memintaku memanggilmu mama, terdengar memuakan,” lanjut Dennis.


Mama Wira tersenyum getir. Baru saja akan menyentuh tangan putranya, tetapi Dennis menghempasnya kasar.


“Maaf Nyonya, aku berubah pikiran, aku tidak berminat bersentuhan fisik denganmu. Aku datang ke sini hanya untuk memastikan kalau Nyonya sudah benar-benar hidup nyaman. Tidak kekurangan uang seperti ketakutan Nyonya puluhan tahun silam,” sindir Dennis, tersenyum menatap ibu dan anak yang saling memeluk di hadapannya.


Wira terlihat kesal dengan kata-kata yang dilontarkan Dennis. Itu tampak jelas dari kedua tangannya yang terkepal rapat. Dengan garis rahang mengeras, Wira melepas rangkulan pada sang mama. Tiba-tiba mencekal kerah baju Dennis.


“Apa maumu? Apa tujuanmu membuat kekacauan di sini? Pergi!” usir Wira, mendorong kasar Dennis.


“Wir, sudah. Jangan seperti ini,” cegah sang mama, menghentikan tangan terkepal yang sudah siap melayang mengenai wajah tampan Dennis.


“Ma, dia sudah kelewatan. Aku harus memberinya pelajaran!” ucap Wira, terpancing emosi.


“Jangan, Wir. Biarkan saja,” ucap Mama Wira, menatap Dennis dengan berlinang air mata.


Dari arah dalam rumah, muncul papa Wira yang keheranan dengan semua yang terjadi. Istrinya menangis, berdiri melemas. Shock, terkejut, itu tercetak jelas di wajah wanita yang masih terlihat cantik di usia senjanya.


“Ada apa ini?” tanyanya dengan suara garang. Menatap satu per satu, hingga akhirnya tertegun menatap Dennis.


“Akhirnya pangkal masalah sudah berkumpul lengkap di sini. Baiklah, mari kita memulainya sekarang,” ucap Dennis tersenyum licik.


“Apa maumu?” Wira maju, menantang dengan sorot mata memerah. Sejak awal ia sudah melihat gelagat tidak baik di dalam sorot mata Dennis. Apalagi melihat pria yang menemaninya masuk. Badan tegap dengan postur besar tinggi, rautnya mengerikan. Wira yakin, niat Dennis bukan untuk berkunjung baik-baik.


“Aku tidak diizinkan duduk? Kalimat yang ingin kusampaikan terlampau panjang. Butuh berjam-jam bahkan mungkin berhari-hari untuk diceritakan.” Dennis menjatuhkan dirinya di sofa dengan lancang.


Kalau Mama Wira terguncang, Dennis juga sebenarnya tidak dalam kondisi yang baik. Mama yang dirindukan dekapan dan kasih sayangnya selama bertahun-tahun, sekarang berdiri di hadapannya.


“Aku Dennis Wijaya, putra tunggal Andi Wijaya. Pria yang ditinggalkan wanita sialan ini demi uang,” tuduh Dennis. Aura kemarahan tampak jelas di dua kalimat terakhirnya. Melampiaskan semua luka masa lalu yang ditanggungnya selama ini.


Berjalan ke arah bodyguardnya, meraih koper dan membukanya kasar. Ada tumpukan dollar Amerika di dalam sana, memenuhi isi koper sampai tidak menyisakan ruang kosong.


Sekali sentak, Dennis melempar sekoper uang itu dengan kasar ke lantai. Karena posisi koper yang sengaja dibuka, membuat uang itu keluar berhamburan. Suara koper membentur lantai terdengar begitu nyaring, mengejutkan semua orang.


“Apa-apaan ini?” tanya Wira, sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi.


“Itu untuk Nyonya Wirayudha. Sejak dulu ... ia haus akan uang. Makanya aku mengirimi uang-uang ini untuk membahagiakannya. Kalau masih kurang, aku masih punya banyak di rumah, Nyonya,” sindir Dennis, tersenyum bahagia saat melihat Mama Wira terpukul.


“Maafkan ... mama,” ucap Mama Wira pelan, tertunduk dan menitikan air mata. Tidak berani menatap Dennis, putranya dengan Andi Wijaya. Pria malang yang ditinggalkannya 28 tahun silam. Saat itu Dennis baru berusia 3 tahun.


“MAAF?”


“Kamu tega meninggalkan papa hanya karena harta dan perusahaan keluarga Wijaya jatuh ke tangan si breng’sek Riadi. Tega kamu, Nyonya. Kamu dan Riadi tidak ada bedanya! Sama-sama haus uang, haus kekuasaan!”


“Begitu papa tidak memiliki apa-apa, kamu juga ikut meninggalkan papa. Wanita seperti apa yang sudah melahirkanku, wanita seperti apa yang dinikahi papaku. Bahkan kamu tega meninggalkan putramu yang masih kecil. Seumur hidup aku tidak akan melupakannya, Nyonya. Tidak akan melupakan kesakitan yang sudah kamu ciptakan untukku dan papa!”


Mama Wira terdiam. Menangis dan terguncang.


“Papa dipenjara dan itu karena ulahmu. Papa masih berharap wanita murahan sepertimu kembali setelah ia berhasil mendapatkan apa yang menjadi miliknya. Berharap setelah perusahaan keluarga itu jatuh ke tangannya, kamu akan kembali padanya.”


“Bertahun-tahun berjuang di perusahaan Wijaya, sampai akhirnya tidak mendapatkan sepeser pun. Riadi mengambil semuanya tanpa sisa. Bahkan apa yang menjadi milik Tante Anna pun, diambil semua. Tidak ada satu sen pun ditinggalkan Riadi untuk papa dan untukku. Padahal mereka berjuang bersama dan kamu wanita sialan ... apa bedanya dirimu dan Riadi. Begitu papa tidak memiliki apa-apa, kamu juga ikut pergi bersama selingkuhanmu!” Dennis menunjuk ke arah papa Wira.


“Maafkan mama ....” ucap Mama Wira, berlinang air mata, terduduk lemas di lantai. Menyesali semua kesalahan masa lalunya. Bersusah payah melenyapkan bayangan kelam itu, sekarang muncul lagi. Menyesak di dada.


“Sekarang keadaannya berbalik. Kalau dulu aku dan papa kehilanganmu, sekarang kamu yang akan kehilangan keluargamu, keturunanmu.” Dennis terlihat berjalan keluar untuk memanggil Dewi dan Nola.


Tak lama, Dewi muncul dengan raut ketakutan, menggendong Nola sesuai dengan perintah.


“Apa maksudmu?” Wira menarik kerah pakaian Dennis. Amarah yang ditahannya sejak tadi memuncak seketika, tidak terbendung saat melihat Nola ikut dilibatkan di dalam permasalahan ini. Walaupun dia tidak terlalu dekat dengan putrinya, tetapi naluri seorang ayah tetap ada di dalam dirinya.


“Lepaskan putriku. Untuk apa kamu ikut melibatkan Nola!”


Wira melayangkan pukulan tepat pada rahang kiri Dennis, pria tampan yang tak lain kakaknya itu sendiri, tersungkur ke lantai.


“Wir, jangan! Dia kakakmu,” cegah sang mama berusaha menahan Wira yang akan melayangkan pukulannya kembali.


“Hahaha! Aku tidak sudi mengakuinya sebagai adikku!” Dennis mengusap bekas pukulan Wira yang terasa ngilu.


“Nola, sampaikan selamat tinggal pada Oma. Mulai sekarang, Nola akan tinggal dengan papi. Cukup sudah kita bersandiwara selama ini.” Dennis berkata sambil tersenyum licik.


“Apa maksudmu? Kamu tidak bisa melakukannya. Dia putriku!” tegas Wira. Buru-buru mengambil alih Nola dari gendongan pengasuhnya.


“Oh, atas dasar apa kamu mengatakan kalau dia adalah putrimu?” Dennis terbahak. Meraih map dari dari tangan bodyguardnya, mengeluarkan amplop putih dan melempar hasil tes DNA miliknya dan Nola ke wajah Wira.


“Baca yang jelas, Nola putri siapa!” tegas Dennis.


“Aku melakukan tes DNA dengan jelas. Di lembaga yang memang sudah diakui. Disaksikan langsung oleh petugas, sample darahku dan Nola pun diambil langsung oleh petugas resmi. Proses serah terimanya jelas. Bukan tes DNA diam-diam seperti yang kalian lakukan dengan mencuri beberapa helai rambut putriku!” lanjut Dennis lagi.


***


TBC