Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3. TAS 2


Naina tengah melipat pakaiannya di atas tempat tidur kamar barunya. Menikah lagi dengan Wira berarti mereka kembali harus berbagi kamar. Dan sekarang, kamar Wira juga menjadi miliknya. Terlihat di atas tempat tidur terdapat tiga tumpukan pakaian yang baru saja dirapikannya. Ia berencana menunggu Wira kembali dan menyimpannya di salah satu lemari, di walk in closet.


Tidak terlalu banyak pakaian, selama tiga tahun belakangan Naina tidak memprioritaskan lagi fashion dan penampilan. Semua uangnya untuk membeli kebutuhan Wina dan sisanya ditabung demi masa depan anaknya nanti.


"NAI!" Samar-samar Naina bisa mendengar suara teriakan menyerukan namanya.


Tak lama, pintu kamar dibuka kasar dan muncul wajah amarah Wira dari balik pintu. Suami yang belum lama berpamitan, tiba-tiba kembali dengan kemarahan.


"Nai! Jelaskan padaku, apa maksud semua ini?" Dari jarak beberapa meter, Wira melempar ponselnya ke atas tempat tidur dengan kencang. Benda pipih itu hampir mengenai pelipis Naina.


"Ada apa, Mas?" Naina bertanya dengan tenang.


Sikap yang membuat Wira bertambah muak. Ekspresi sederhana dan tenang Naina, yang dulu membuatnya tergila-gila dan kini sanggup memancing emosi Wira.


"Kamu lihat sendiri apa yang dikirimkan Jack padaku. Dan setelah itu jelaskan padaku apa yang sebenarnya. Apa yang kamu sembunyikan dariku? Apa yang kamu rencanakan? CEPAT! Aku tidak bisa menunggu. Tiga tahun aku menunggumu dan sekarang aku tidak bisa menunggumu lagi. Lihat dan jelaskan sekarang!" titah Wira dengan wajah memerah. Kedua tangan pria itu terkepal, menjuntai di kiri dan kanan tubuhnya.


Naina mengambil ponsel Wira dan mencari tahu penyebab meledaknya sang suami. Tidak biasanya Wira bersikap seperti ini. Selama lima tahun tinggal seatap dengan Wira, baru kali ini Naina melihat Wira mengamuk hebat.


Tangan Naina dengan lincahnya menari di layar ponsel Wira, seketika gawai itu berubah terang, tetapi terkunci.


"Mas, sandinya?" tanya Naina masih bersikap biasa.


"Tanggal lahir perempuan yang ingin kumusnahkan dari dalam hidupku!" sahut Wira, membuat Naina bingung.


"Mas ...." Naina membeku, menatap fotonya dan Wina di layar ponsel Wira.


"Tanggal lahirmu!" Wira buka suara.


Jemari berkutek merah muda itu segera berselancar di atas layar. Mengetik deretan angka kelahirannya. Dalam sedetik, semua aplikasi di dalamnya bisa diakses. Naina tersenyum saat tanpa sengaja membuka galeri ponsel Wira yang masih menyimpan foto-foto lamanya. Bahkan koleksi foto saat pernikahan terdahulunya masih lengkap di dalam foldernya.


"Tersenyumlah sebelum menangis dan memohon maaf padaku!" bentak Wira, menyadarkan Naina akan tujuan awalnya.


Naina gemetar saat mengetahui apa yang membuat Wira meradang padanya. Ia tidak menyelesaikannya. Cukup melihat videonya sedang memeluk Dennis di taman, ia segera paham apa yang terjadi. Ia mengerti apa yang membuat Wira menggila dan murka.


"Mas, maafkan aku ...." Naina buru-buru menghampiri Wira. Meraih kedua tangan yang terkepal itu dan menggenggamnya.


"Mas, jangan marah. Aku tidak ...." Naina tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Apa yang harus dijelaskannya. Wira sudah tahu semuanya, dan harusnya Wira juga tahu kalau sekarang ia sedang berjuang untuk mencintai Wira kembali.


"Mas, jangan marah. Kalau aku salah, aku minta maaf." Melihat Wira membeku dan tidak bereaksi, Naina segera memeluk erat pinggang Wira. Merebahkan diri di dada bidang pria itu, berharap perlakuan manisnya akan membuat sang suami melunak.


Tidak ada reaksi, Wira diam. Wira membeku dan tidak membalas pelukannya. Hampir lima menit dalam posisi seperti itu, Wira akhirnya bersuara.


"Bayi siapa itu?" tanya Wira tiba-tiba. Pertanyaan singkat, tetapi cukup membuat Naina terpukul.


"Mas ...." Naina mengurai pelukannya setelah dirasa percuma bersikap manis. Wira tidak tersentuh. Amarah dan emosi terlanjur menguasai suaminya.


"BAYI SIAPA ITU?" Wira kembali bertanya dengan nada keras. Pandangannya tertuju pada perut rata Naina.


Naina tersentak dan diam. Ia tidak bisa menjawab.


"Siapa ayah bayimu? Kamu tidur dengan siapa saja?" tanya Wira dengan wajah datar. Tidak ada senyuman dan kelembutan.


"Apa dia bayiku? Atau bayi Dennis? Jangan membodohiku lagi. Cukup Stevi, jangan mencoba balas dendam dengan metode yang sama. Aku tidak bodoh lagi, Nai." Wira tersenyum licik.


"Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak memiliki hubungan dengan Mas Dennis."


"Tapi, kamu mencintainya, Nai. Tiga tahun ... aku menunggumu seperti orang gila. Aku ...." Wira mengeraskan wajahnya. Hatinya teriris-iris setiap mengingat pernyataan cinta Naina, yang menangis sambil memeluk Dennis.


"Aku menunggumu dan kamu berkhianat dariku, Nai. Semudah itu, kamu melupakanku, Nai. Aku menyesal menikahimu." Dua bulir air mata turun membasahi pipi pria itu.


"Maafkan aku, Mas." Naina menghambur dan memeluk erat Wira. "Jangan marah lagi, Mas. Aku janji tidak akan menemui Mas Dennis lagi. Aku minta maaf ...." Naina berkata lirih di sela pelukannya.


"Katakan bayi siapa itu, Nai?" tegas Wira.


"Aku tidak tahu, Mas. Kalau Mas ragu, tidak apa-apa. Kita bisa tes DNA. Kalau bukan bayimu, Mas Wira boleh menceraikanku. Tapi, izinkan aku membawa Wina bersamaku. Aku tidak akan menuntut hartamu, Mas. Aku hanya menginginkan Wina." Naina berkata pelan, kedua tangannya masih memeluk erat pinggang Wira.


"Baik, itu lebih baik. Aku tidak percaya lagi padamu, Nai. Tiga tahun kita berpisah. Kamu banyak berubah. Aku tidak tahu wanita seperti apa yang ada di hadapanku ini. Aku tidak tahu, wanita seperti apa yang aku nikahi sekarang. Aku tidak tahu seberapa banyak laki-laki yang datang di hidupmu selama tiga tahun ini. Aku tidak tahu ... kamu tidur dengan siapa saja selama tiga tahun berpisah dariku." Wira sengaja melontarkan kalimat menyakitkan untuk melampiaskan sakit hatinya.


Dan Naina hanya diam, menikmati napas memburu Wira yang tengah diselimuti kemarahan. Dan Wira juga melakukan hal yang sama. Diam dan menikmati perasaan terlukanya. Ia tidak bisa berpikir jernih. Rasa sakit itu memeluknya terlalu erat sampai ia kesulitan bernapas.


"Keluar!" Wira menghempaskan tangan Naina yang tengah membelit pinggangnya.


"Hah?" Naina bingung.


"Keluar dari kamarku," usir Wira, menyeret Naina. Membuka pintu kamar dan mendorong keluar Naina dengan kasar.


"Mas, maafkan aku, Mas." Naina tersentak tepat di depan pintu kamar yang dibanting dengan keras. Wira mengunci diri di dalam kamar.


"Mas ...."


"Mas, buka pintunya. Jangan seperti ini." Naina masih berusaha mengetuk pintu kamar dan mengajak Wira bicara.


"Mas, tolong buka pintunya. Aku mohon buka pintunya. Kita selesaikan dulu semuanya ...."


"Mas ...." Naina mengepalkan tangannya ke udara, hendak mengetuk pintu kamar saat daun pintu itu kembali terbuka lebar.


"Mas ...." Naina menyunggingkan senyuman saat melihat Wira berdiri di depan pintu. Namun, senyuman itu menghilang seiring pakaian-pakaiannya dilempar keluar. Baju-baju yang sudah dilipat rapi sebelumnya, kini berantakan kembali dan berhamburan memenuhi lantai.


"Mulai detik ini ... jangan pernah menginjakan kakimu di dalam kamarku lagi!" tegas Wira dengan telunjuk mengarah ke wajah Naina. Tidak ada senyuman. Hanya raut terluka dengan sejuta amarah menghiasi wajah tampan Wira.


"Silakan menempati kamar kosong di apartemen ini, tetapi jangan pernah masuk ke dalam kamarku. Andai bisa, aku mau melemparmu ke jalanan, Nai." Wira mau belum puas.


"Ayah ...." Wina yang terkejut dengan pertengkaran kedua orang tuanya tiba-tiba menghambur dan memeluk kedua kaki Wira.


"Ayah ...." Wina menengadah ke atas, menatap Wira.


"Win, sama Mbak Rima dulu, ya. Kepala Ayah sakit. Ayah mau istirahat dulu," tolak Wira berusaha melepaskan diri dari belitan tangan mungil putrinya.


***


Tbc