Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 66


"Kalau memiliki kesempatan kedua bersama Naina, jaga dia baik-baik." Dennis tersenyum kecut. Hatinya tidak bisa bohong. Walaupun kalimat itu lancar keluar dari bibirnya, hatinya tercabik-cabik. Selama tiga tahun menjaga Naina, melewati banyak cerita, tidak mudah untuknya melepas Naina, meskipun pada pemilik yang sebenarnya.


Sejak awal, Naina adalah milik Wira, tentu saja ia akan kembali pada Wira. Namun, masalah hati tidak sesederhana itu. Tetap saja tidak mudah untuk Dennis merelakannya.


"Tiga tahun ini, Naina banyak menangis, sampai-sampai dia lupa bagaimana caranya tersenyum. Tolong bahagiakan Naina. Dia berhak bahagia, bukan meratapi nasibnya." Dennis berkata lagi.


Mata biru Dennis berair, cairan bening itu mengumpul dan berontak keluar. "Dia hidup di dalam tekanan dan hinaan orang-orang, jangan biarkan siapa pun menghinanya lagi, termasuk Mama. Dia sendiri sudah merasa dirinya rendah, jangan membuatnya semakin merendahkan dirinya sendiri hanya karena omongan orang di luar sana." Dennis kembali berpesan.


Ada ketidakrelaan di salah satu sudut hati Dennis, tetapi ia harus melepaskan di saat waktunya tiba. Walau Naina belum menentukan sikap, ia yakin Naina akan mendepaknya sebentar lagi.


Terdengar helaan napas berat. Kalimat selanjutnya membuat ketegaran pria itu runtuh.


"Naina melewati kehamilan Wina dengan penuh perjuangan. Cacian, hinaan, cemoohan dan ada banyak lagi. Berjuang melewati pendarahan berulang kali dan terakhir bertarung nyawa saat menghadirkan putrimu ke dunia. Naina harus berada di batas antara hidup dan mati selama seminggu, pasca melahirkan Wina. Kalau kamu melihat gurat di perut bawah Naina, itu adalah bukti perjuangannya untuk bisa memberimu keturunan seorang Wirayudha." Dennis memejamkan mata.


"Wina Pelangie Wirayudha. Dia memberi nama itu pada putri kalian. Di tengah sakit hati dan kecewanya padamu, dia masih menyematkan namamu di dalam nama putrinya. Wina itu artinya putri dari Wira dan Naina." Dennis menyudahi kalimatnya dengan helaan napas dalam.


Wira tersentak, beralih menatap Dennis. "Terima kasih sudah menjaga istri dan putriku."


"Aku tidak tahu ... bagaimana kamu menjaganya dulu. Sampai harus keguguran berulang kali, tetapi itu masih menjadi ancaman untuk kehamilan Naina sekarang. Diberi kesempatan hamil lagi, jaga istri dan calon anakmu baik-baik." Dennis berpesan.


"Ya." Wira hanya sanggup mengucapkan satu kata itu saja.


***


Setelah tertahan di rumah sakit selama beberapa hari, Dennis dan Wira menyerah. Mereka juga harus menjalani hidup kembali setelah tim medis mengabari kalau kondisi sang mama belum ada perkembangan.


Tampak Wira berdiri mondar-mandir di depan ruang ICU dengan ponsel menempel di telinga. Sudah tiga hari menghubungi papanya, tetapi sampai detik ini pria tua itu tidak sekali pun menjenguk istrinya.


"Angkat, Breng'sek!" umpat Wira, kesal.


Masih berharap panggilannya segera tersambung, pria muda itu tersenyum saat mendengar suara berat papanya menyapa dari seberang.


"Ya, Wir. Bagaimana?"


"Istrimu masih hidup, Pa. Setidaknya luangkan waktu untuk menjenguknya sebentar!" omel Wira pada kesempatan pertama.


"Mama koma. Kamu bisa menikmati kehidupan baru dengan istri mudamu tanpa ada yang menghalangi. Tapi aku mohon ... mamaku masih berstatus istrimu, setidaknya jenguk Mama sebentar," lanjut Wira menahan kesal. Bukannya ia tidak tahu sepak terjang papanya selama ini. Pria tua itu diam-diam menikah lagi, tanpa sepengetahuan mamanya.


Dennis menyunggingkan senyuman dari tempat duduknya saat mendengar cerita ini. Dibalik simpatinya pada mamanya, ia puas mendengar wanita itu diduakan oleh suaminya. Seakan membayar semua dosa pada papanya selama ini.


"Aku tunggu!" putus Wira, mematikan sambungan teleponnya. Tatapannya tertuju pada sang kakak. Pria yang lebih tua beberapa tahun darinya itu, masih setia menemaninya menunggu kabar baik dari pihak rumah sakit.


***


Beberapa hari berlalu.


Sampai detik ini, tidak ada pembicaraan serius mengenai peristiwa yang mengantar keduanya duduk di bangku tunggu Rumah Sakit Ibu dan Anak. Baik Naina maupun Wira memilih tutup mulut. Naina tidak bertanya lebih jauh, meminta kejelasan dan pengakuan Wira, dan Wira pun tidak menjelaskan dengan rinci apa yang sebenarnya terjadi. Wira menerima dan bertanggung jawab untuk kehamilan Naina, dan sebaliknya Naina pun tidak banyak menuntut dan menurunkan egoisnya.


"Belum ada kabar. Masih koma." Wira menjawab dengan menghela napas berat.


"Mas Dennis masih berjaga di rumah sakit?" tanya Naina lagi.


"Tidak. Sudah tidak lagi. Kalau ada perkembangan, pihak rumah sakit akan segera menghubungi kami."


"Kamu sudah mengajukan pengunduran dirimu dari perusahaan, Nai?" Wira balik bertanya.


"Belum, Mas ...." Naina tertunduk.


"Pertimbangkan lagi. Aku tidak mau terjadi sesuatu pada kalian." Wira memberanikan diri menggenggam tangan Naina yang melemas di atas pangkuan.


"Ya, Mas." Naina menjawab singkat. Ia bisa merasakan kehangatan genggaman tangan Wira yang meremas jemarinya.


"Dan mengenai tawaranku ... tolong pertimbangkan secepatnya. Bagaimana pun, bayi kita butuh status yang ...." Kalimat Wira menggantung, terpotong dengan suara seorang perawat yang memanggil nama Naina.


"Ibu Naina Pelangie ...."


"Ibu Naina Pelangie ...." ulang perawat kedua kalinya.


"Saya, Sus." Naina berdiri, menggantung tas tangannya di pundak. Diikuti Wira yang berjalan di belakangnya.


"Silakan masuk," sapa perawat, tersenyum ramah mempersilakan.


Masuk ke ruang praktek dokter bersama Naina, bukanlah hal yang baru untuk Wira. Sebelumnya, ia sudah berulang kali menemui dokter kandungan untuk masalah berbeda. Namun, baru kali ini keduanya masuk ke dalam untuk berkonsultasi memeriksa calon bayi mereka.


Berbincang sejenak, dokter mempersilakan Naina untuk berbaring di ranjang pemeriksaan. Wira yang sejak masuk ke ruangan tak melepas genggaman tangannya, ikut berdiri mendampingi Naina di sisi brankar.


Mata pria itu memanas, haru menyelinap masuk ke relung hatinya saat kedua matanya menyaksikan sendiri dari layar monitor yang ditunjukan dokter. Setitik kecil napas kehidupan yang baru sebesar buah cherry. Gumpalan daging yang mulai membentuk lengan layaknya dayung kecil berselaput. Di usia tujuh minggu ini sel-sel otaknya mulai berkembang pesat.


"Nai ...." Wira hanya sanggup mengucapkan satu kata itu saja. Pertahanan dirinya hampir runtuh, mendengar penjelasan dokter mengenai perkembangan janinnya, buah hatinya dan Naina.


Naina bisa melihat, perubahan wajah Wira dari posisinya berbaring. Mantan suaminya itu berusaha menyembunyikan setetes air mata yang luruh saat melihat setitik kecil kehidupan yang kini bersemayam di rahimnya.


"Terima kasih, Nai." Wira mengusap pelan dahi dan rambut Naina, setelahnya mencuri kecupan di kening ibu hamil itu. Wira seakan tidak peduli dengan keberadaan dokter dan perawat di sekitar mereka. Ia hanya ingin melampiaskan kebahagiaanya menjadi seorang ayah. Ini bukanlah yang pertama. Ada Wina, putri pertama mereka. Namun, semua ini adalah pengalaman baru untuk Wira.


"Aku berjanji akan mendampingimu selama kehamilan. Menggenggam tanganmu, kita akan selalu bersama-sama menunggu dia datang ke dunia," janji Wira, tersenyum.


***


Tbc