Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3. Tas 38


Naina mengabaikan bercak merah di pakaian dalamnya meskipun waswas itu tetap ada. Ia belum merasakan kontraksi dan sakit perut selain memang terasa lebih kencang dibanding biasanya.


“Nak, jangan lahir dulu, ya. Kasihan Ayah kalau sampai kamu lahir dan Ayah tidak ada. Ini momen pertama Ayah, dia sangat menunggu detik-detik kedatanganmu ke dunia, Nak.” Naina berdiri di depan cermin, mengusap lembut perutnya. Ia mencoba berbicara dengan jagoan kecil yang sudah memberi pertanda.


Tepat saat akan berjalan ke arah shower, Naina merasakan tendangan kencang di perutnya. Sakit itu lumayan terasa, membuat ibu hamil besar itu harus berpegangan pada meja wastafel untuk menahan nyeri dan ngilu yang menyatu dan memberi sensasi sendiri.


“Aduh." Naina mengeluh, kembali mengusap pelan perut buncitnya. “Jangan nakal ya, Nak. Kita ... tunggu ... Ayah,” ucap Naina terbata-bata.


Membersihkan diri secepat kilat, Naina segera merebahkan tubuh di atas tempat tidur. Terbayang berbagai pikiran buruk di benaknya. Kisah dan drama melahirkan Wina hampir empat tahun silam tiba-tiba muncul ke permukaan. Ketakutan dan kegelisahan menyatu, menghantam ketenangan yang selama ini ia jaga. Bibir bisa berkata tenang dan berusaha mengucapkan kalimat-kalimat positif, tetapi hati tidak bisa berbohong. Naina menyimpan ketakutannya seorang diri.


Ibu hamil itu tidak takut dengan rasa sakit yang dihadapinya saat proses kelahiran, ia takut tubuhnya tidak sanggup bertahan dan harus berakhir. Ia takut kematian datang menjemput di saat proses melahirkan berlangsung. Tidak siap, tetapi ia mencoba pasrah.


Terlihat Naina menghela napas berulang kali. "Tenang Nai, hanya beberapa jam, setelah itu kamu bisa memeluk anakmu." Naina menguatkan dirinya sendiri.


"Jangan cengeng, semua ibu hamil juga melewatinya. Kenapa kamu harus ketakutan, Nai? Berapa banyak ibu hamil di dunia ini dan mereka baik-baik saja. Huh!" Naina membuang napas bersama kerisauannya.


Ia belum siap meninggalkan anak-anaknya. Apalagi setiap mengingat cerita dari Mbok Sumi dan Dennis, bagaimana ia yang tidak sadarkan diri, koma dan sempat kritis saat melahirkan Wina.


“Ya Tuhan, tolong aku. Ajarkan aku ikhlas supaya bisa menghadapi persalinan dengan tenang. Ada banyak ketakutan yang aku bawa, sampai menjadi beban dan membuatku tidak tenang.” Naina berkata pelan, mengirim doa dengan kedua mata terpejam.


Mata sendu Naina baru saja merapat, saat ponselnya berdering dan bergetar hebat di atas nakas. Naina membuka mata dan tersenyum saat nama Wira terpampang di layar yang menyala terang.


“Mas Wira ....” Naina buru-buru menerima panggilan video. Mata sayu menahan kantuk seketika membuka lebar.


“Nai, kamu sedang apa?” tanya Wira. Wajah tampan pria itu memenuhi layar ponsel.


“Aku mau tidur, Mas.” Naina menegakkan duduknya, bersandar di kepala tempat tidur.


“Oh ya? Ini masih sore di Jakarta. Aku saja baru bersiap mencari makan malam bersama rekan bisnisku. Apa semua baik-baik saja?” tanya Wira, mulai curiga.


Tersenyum, Naina tidak mau membuat suaminya panik dengan penemuan bercak darah di pakaian dalamnya. “Aku baik-baik saja, Mas. Hanya kelelahan. Tadi Wina aktif sekali, tidak mau tidur siang sepanjang hari. Aku hanya kelelahan menemani Wina bermain.” Naina beralasan.


“Kamu tidak jadi menginap di tempat Mama?” Wira memastikan.


“Tidak, Mas. Aku lebih nyaman beristirahat di rumah saja.”


“Oh. Kalau begitu kamu istirahat saja. Aku mau cari makan dulu. Kalau ada apa-apa, hubungi aku, ya.” Wira berpesan sebelum memutuskan sambungan video.


***


Rembulan bulat penuh bersinar terang, bergerak turun ke arah barat saat Naina terusik dari lelapnya. Ia merasakan sakit yang tidak biasa di perut bawahnya. Sebagai perempuan yang pernah memiliki pengalaman hamil sebelumnya tentu saja bisa menebak arti nyeri dan kontraksi yang tiba-tiba menyerang.


“Aduh, Mas. Sepertinya ini benar-benar akan melahirkan. Bukan kontraksi palsu lagi,” ucap Naina pelan, mengusap perut bergelombangnya agar sedikit tenang.


Berjalan tertatih-tatih menuju kamar Rima, Naina terpaksa membangunkan pengasuh putrinya itu.


“Rim ....”


“Rim ....”


Gadis muda yang terlelap itu terusik saat Naina mengguncang tubuhnya.


“Ya, Bu. Ada apa?” tanya Rima, mengusap pelan netranya, berusaha menghempas kantuk yang masih bergelayut manja di kelopak matanya.


“Rim, tolong bangunkan salah satu babysitter untuk menemaniku ke rumah sakit. Sepertinya sudah waktunya.” Naina mengusap perutnya yang mencuat ke depan. Kencang dan bergerak ke kanan dan kiri.


“Hah! Ibu pergi berdua dengan babysitter saja?” tanya Rima memastikan.


Naina mengangguk. “Tolong hubungi sopir juga. Minta dia mengantar kami ke rumah sakit,” titah Naina dengan napas pendek-pendek.


Kedua tangan menahan pinggang, wajah cantik ibu hamil itu mengernyit menahan sakit yang menyerangnya kembali.


“Aw ... ssshhh,” keluh Naina, buru-buru menggenggam pinggiran tempat tidur saat kontraksi menyerang kembali.


“Ba ... bapak? Mau dikabari, Bu?” tanya Rima mulai panik. Gadis itu meloncat turun dari tempat tidur.


“Tidak, jangan kabari Mas Wira sekarang. Kasihan. Malah takutnya panik dan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Besok, aku akan mengabari Mas Wira.” Naina menatap jam di dinding. Waktu menunjukkan pukul 01.25 dini hari.


“Tapi, tidak apa-apa ibu sendirian di rumah sakit?” tanya Rima.


“Ya, tidak apa-apa. Ditemani suami itu penting. Namun, kalau memang tidak bisa, aku juga tidak mau memaksa. Kalau anakku harus lahir tanpa Mas Wira, itu artinya sudah digariskan Tuhan. Kalau memang tidak, pasti bayi ini akan menunggu ayahnya. Yang terpenting itu ... lancar dan dimudahkan saat kelahiran, aku tidak mau meminta lebih. Dilancarkan prosesnya, aku dan anakku sehat, itu sudah lebih dari cukup. Lagi pula, bukan aku saja, masih banyak ibu-ibu hamil yang berjuang melahirkan sendirian tanpa didampingi suami karena keadaan.” Naina mengembuskan napas dalam dan mengeluarkannya untuk mengurangi rasa nyeri dan ngilu di perutnya. Ia berusaha menguatkan diri dan tidak jadi wanita manja. Ada atau tanpa Wira, dia akan berjuang untuk anaknya.


“Ya sudah. Aku akan panggilkan babysitter dan sopir.”


“Ya, sekalian pakaian ganti untukku. Ambil beberapa potong di lemari. Yang lainnya menyusul saja. Masih dua minggu, aku belum menyiapkan apa pun,” titah Naina lagi.


Setengah jam kemudian, Rima sudah menyiapkan semuanya. Tas kecil berisi beberapa potong pakaian dan tas sling berisi dompet dan ponsel.


“Ini, Bu.” Rima menyodorkan tas ke pangkuan Naina yang tengah menunggu di sofa. Di dekat pintu masuk, tampak sopir dan babysitter yang sudah bersiap.


“Aku titip Wina dan rumah, ya. Oh ya, nanti hubungi papa mertuaku. Minta papa mertuaku menyusul ke rumah sakit. Aku butuh seseorang untuk menemaniku dan bisa mengambil keputusan andai terjadi sesuatu yang tidak diharapkan,” pesan Naina lagi.


"Setidaknya ada pihak keluarga yang bisa menandatangani berkas-berkas rumah sakit di saat membutuhkan tindakan untuk mewakili suamiku," lanjut Naina.


“Ya, Bu.”


***