Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3. TAS 1


"Mas ...." Terdengar suara lirih Naina menyapa. Ia terusik saat merasakan pergerakan di sisinya.


Sempat terkejut, Naina butuh beberapa detik untuk menyatukan kembali ingatannya. Ia sudah menikah dengan Wira kembali. Dan ... blush!


Pipinya merona, menarik selimut sampai menutupi setengah wajah saat menyadari saat ini sedang menempel di tubuh Wira, saling bersentuhan kulit dan tanpa busana di balik selimut tebal.


Tiga tahun berpisah, membuatnya harus mengulang lagi dari awal. Mengumpulkan kembali rasa yang tercecer di perjalanan kisah mereka.


Wira yang hendak membuka kiriman video dari Jack segera mengurungkan niatnya. Wajah Naina yang baru bangun tidur lebih menggodanya. Rambut acak-acakan dengan gurat kelelahan itu begitu menawan. Apalagi saat pandangan Wira tertuju pada tanda kemerahan yang memenuhi leher Naina, ia mulai terpancing kembali.


Kedua lengan kekar itu baru saja memeluk, tetapi suara gendoran dan teriakan kencang di pintu kamar menghentikan pergerakan Wira.


"Ayah ... Bunda ... 'ka pintu na ...." teriak Wina dengan bahasa khas anak-anak yang belum sempurna.


"Ayah ... Bunda ...." ketukan diiringi dengan daun pintu yang ikut ditarik turun.


"Mas, itu Wina ...." Naina segera bangkit dan meraih pakaian tidurnya yang tergeletak di lantai kamar.


Baru saja menapaki kakinya, Wira menahan tangan Naina. "Nai, cium aku dulu. Kalau Wina sudah bersama kita ... aku tidak bisa lagi menikmati bibirmu." Wira meminta dengan manja


"Tapi, Mas. Wina akan mengamuk kalau kita terlambat menbukakan pintu untuknya." Naina menjelaskan.


"Please, Sayang." Wira kembali memohon dengan wajah memelas.


Naina menurut, menghampiri Wira dan melabuhkan kecupan di bibir suaminya. Dalam dan hangat, Naina mulai terbiasa dengan sikap manja Wira. Bukan hal sulit untuknya membangkitkan kenangan-kenangannya bersama pria yang kini resmi menjadi suaminya kembali.


Saling memeluk dan berciuman, keduanya menikmati sensasi kecupan selamat pagi di tengah teriakan putri mereka yang kini berubah menjadi jeritan bercampur tangisan.


"Sudah, Mas. Kasihan Wina." Naina menarik tubuhnya, berusaha lepas dari pelukan Wira.


Beberapa saat kemudian, Wina menghambur masuk dan memeluk Wira yang tengah berpakaian.


"Ayah ...." Gadis kecil itu menyapa dengan kedua tangan terulur ke atas. Ia merasa kecewa saat bangun tidur tidak menemukan kedua orang tuanya. Menjerit di kamar sendirian, beruntung Rima menemukannya dan segera menenangkan gadis mungil itu.


Wira tersentuh, saat merasakan Wina memeluk erat lehernya kemudian merebahkan diri di pundaknya. Selama ini, ia tidak bisa merasakan kehangatan keluarga yang seperti ini.


"Mas, aku buatkan sarapan." Naina merapatkan kimono tidurnya dan melangkah keluar dengan kaki telanjang Pemandangan yang lama sekali tidak dilihat Wira lagi setelah perceraian mereka.


"Kita lihat Bunda ke dapur. Bunda memasak sarapan apa untuk kita pagi ini." Masih dengan menggendong Wina, pria itu menyusul istrinya. Wira melupakan pesan yang dikirimkan Jack padanya. Keberadaan Naina dan Wina, membuat hari-hari Wira makin sempurna.


***


Sarapan di meja makan pagi ini lebih berwarna. Wina yang tidak mau disuapi, mengacak-acak roti cokelat sampai kedua tangannya berlepotan. Bahkan, bibir dan pipinya kecokelatan terkena selai yang dituang berlebih oleh batita itu.


Di sampingnya, Wira sedang menikmati nasi goreng spesial dengan telur mata sapi buatan Naina. Sudah lama sekali ia tidak merasakan suasana ini.


"Rasanya masih sama, Nai. Ah ...." Wajah Wira terlihat begitu menikmati setiap gigitan dan rasa yang mengenai lidahnya.


"Besok, buatkan aku nasi seperti ini lagi. Oh ya ... nanti siang masak soto ayam kesukaanku. Aku sudah lama tidak menikmati soto ayam buatan tanganmu," pinta Wira sembari menyuapkan nasi goreng ke dalam mulutnya. Senyum tak lepas dari bibir pria itu, bahkan sejak tadi ia hanya menatap wajah cantik istrinya yang tengah membersihkan jemari Wina yang kotor.


"Ya, Mas."


"Oh ya, Nai. Aku mau keluar sebentar lagi. Aku harus menemui seseorang."


Naina menoleh ke arah Wira sekilas. "Mas mau ke kantor?"


"Lalu, Mas mau ke mana?" Naina mulai banyak bertanya seperti dulu lagi.


"Aku ada urusan dengan rekan kerjaku. Tidak akan lama. Setelah urusan selesai, aku akan segera kembali. Aku akan mengajakmu dan Wina ke supermarket. Kita akan membeli peralatan dapur dan mengisi kulkas dengan stok makanan." Wira menjelaskan.


Naina mengangguk. "Ya, Mas."


***


Wira baru saja duduk nyaman di dalam mobil. Ia berencana menemui Jack siang ini setelah puas menemani anak dan istrinya sepanjang pagi. Mengeluarkan ponsel dari saku celana, Wira teringat kembali dengan video yang dikirimkan Jack padanya.


Bibir pria itu masih tersenyum, mengingat pergulatan panasnya beberapa menit yang lalu. Mereka mencuri-curi kesempatan dan bersembunyi dari Wina demi untuk melampiaskan hasrat ke sekian kalinya setelah pernikahan mereka kemarin.


Namun, senyuman itu menghilang perlahan saat ponselnya memutar video yang dikirimkan Jack padanya. Dadanya memanas, jantung pun ikut bergemuruh hebat. Bola mata Wira melebar saat melihat video wanita yang kini resmi menjadi istrinya itu tengah memeluk Dennis. Dan yang membuat darah Wira mendidih kala indra pendengarannya menangkap kalimat-kalimat cinta Naina yang ditujukan pada Dennis.


Deg--


"Aku mungkin mencintaimu, Mas. Aku pikir ... yang aku rasakan sekarang padamu ini disebut cinta."


"Bantu aku ... untuk mencintai Mas Wira lagi. Pergilah sejauh mungkin, Mas. Jangan pernah kembali lagi. Andaikan ... suatu saat kamu mendengarkan kematianku pun, tetap bersembunyilah dariku."


"Aku mencintaimu, Mas. Aku mencintaimu, Dennis Wijaya. Aku mencintaimu, Dennis Joseph."


Untaian kalimat ini berputar di otak Wira. Tatapannya masih tertuju pada video yang tengah berjalan. Ia bisa melihat sendiri, Naina menangisi Dennis. Laki-laki yang tak lain adalah kakaknya sendiri.


Hatinya bagai tercabik-cabik saat ini. Seperti diiris dengan pisau tajam dan dilumuri cuka sampai ia bisa merasakan perih itu menghantam ulu hati. Ia seperti dipermainkan. Wira merasa dibohongi saat ini. Kalau memang Naina mencintai Dennis, untuk apa datang padanya dan menawarkan pernikahan.


Menyakitkan, di saat ia sedang tersenyum bahagia menikmati pernikahan dan rumah tangganya, Naina menyimpan dusta.


"Kamu kelewatan, Nai. Kamu tidak bisa mempermainkanku seperti ini. Senyummu palsu, tawamu itu hanya sebuah kebohongan. Kamu tidak benar-benar ingin bersamaku." Wira menghela napas berat sarat akan kekecewaan. Di saat ia menjemput kebahagiaan, Naina menorehkan luka yang begitu dalam padanya.


"Nai, kamu tidak hanya melanggar janjimu untuk setia mencintaiku, tetapi kamu juga telah membohongiku. Kamu penipu. Kamu pendusta."


Wira memejamkan matanya, membayangkan keintiman yang dilewatinya bersama Naina beberapa saat lalu. Bahkan belum ada 24 jam menjadi suami istri lagi. Ia begitu bahagia memeluk Naina, berbagi desah dan napas. Namun, itu tidak dirasakan Naina. Perempuan itu menipunya dengan senyuman palsu, dengan desahan palsu. Dan Wira yakin, gairah yang berdebur di malam pernikahan mereka juga hanya drama. Naina tidak mencintainya, tetapi mengasihaninya layaknya seorang pengemis.


"Kamu pasti menertawaiku, Nai. Aku memang bodoh, mengemis cinta padamu sampai menurunkan harga diri. Menginginkanmu kembali sampai menggadaikan prinsipku. Menempuh cara terbejat hanya demi mendapatkanmu kembali, dan aku tahu ... semua yang kudapatkan hanya palsu. Tidak sebanding dengan apa yang aku korbankan. Breng'sek kamu, Nai!" Wira mengepalkan tangannya menahan amarah.


"Kenapa harus menipuku, Nai. Pasti ... kamu sedang tertawa senang melihatku yang tergila-gila padamu. Pasti kamu dan Dennis bisa tersenyum puas sekarang. Kalau ingin menghukumku atas kesalahan masa laluku, jangan memilih cara ini, Nai." Wira bahkan mengabaikan semuanya. Ia hanya tahu, Naina terpaksa kembali padanya. Ia kecewa, Naina mencintai Dennis Joseph. Pria yang seharusnya menjadi musuh mereka bersama.


"Kenapa harus Dennis? Apa ini persekongkolan yang sudah direncanakan. Kalau benar, berarti selamat untukmu, Nai. Kamu berhasil menipuku. Dan telak!" Wira memukul kemudi berulang kali, melampiaskan kecewanya.


***


"NAI!"


"NAI!" teriak Wira, mengabaikan Wina dan Rima yang tengah bermain boneka di ruang tengah apartemennya.


"NAI!" teriak Wira lagi. Aura kemarahan tercetak jelas di wajah tampannya.


"Ma-maaf, Pak. Ibu ... di kamar." Rima ketakutan melihat wajah mengerikan Wira.


Tbc