Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 7


Seorang pria tampan terlihat keluar dari apartemen mewah dengan tampilan casual, namun tampak berkelas. Kacamata hitam bertengger manis di hidung mancungnya, menyembunyikan mata biru yang beberapa tahun terakhir menyimpan luka.


Pria yang tak lain adalah Pratama Wirayudha itu menjejaki kakinya ke dalam lift. Berdiri gagah dengan kedua kaki berjarak dan kedua tangan saling menjalin di depan tubuhnya. Sikap dingin dan misteriusnya mencuri perhatian beberapa gadis yang ikut menumpang di lift yang sama.


Seolah tidak terpengaruh, Wira yang sempat menguping bisik-bisik di belakangnya hanya merapikan kacamata hitamnya dan mengeraskan garis wajah seakan membentengi diri dari godaan-godaan nakal yang mungkin saja sebentar lagi akan menyerangnya.


Menjadi pria single sejak ditinggal Naina, ia sudah bertemu dengan banyak wanita. Mendalami semua karakter para kaum feminim yang berbondong-bondong menempel padanya bagai magnet bertemu baja. Sayangnya, dari semua tidak ada satu pun yang seperti Naina dan sanggup menandingi Naina.


Wira menghela napas lega, begitu pintu lift menuju ke loby utama terbuka. William, sang asisten sudah menyambutnya dengan senyuman secerah matahari pagi.


"Pagi Pak Bos," sapanya. William buru-buru mengekor langkah Wira yang berjalan mendahului.


"Kita jalan sekarang!" perintah Wira sembari berbalik badan dan melempar kunci mobil sport merahnya.


"Siap, Pak Bos!" Wiliam menyambut dengan senyuman yang sama.


Tujuan perjalanan mereka hari ini adalah Bandung. Setelah berhari-hari menjalani kesibukannya di kantor, ke luar kota dari ujung barat sampai ujung timur Indonesia. Akhirnya hari ini Wira menyempatkan waktunya untuk mencari jejak Naina di kota Bandung. Sebuah kampung kecil di pelosok kota Bandung.


Berbekal alamat yang diberikan Jack padanya, Wira memutuskan mencari tahu sendiri siapa Naina Joseph dan Wina yang dimaksud. Kurang lebih sebulan dari pertemuannya dengan Jack, akhirnya pengusaha muda yang sedang naik daun itu menjalankan niatnya.


Perjalananan Jakarta-Bandung ditempuh tanpa kendala. Tepat tengah hari, mobil sport yang dikendarai William masuk ke perkampungan kecil dengan jalan berkerikil. Mobil itu melambat, derunya terdengar jelas. Menarik perhatian beberapa pasang mata warga yang tanpa sengaja berpapasan.


"Will, kamu tidak salah, kan?" tanya Wira memastikan. Netranya menyapu perkampungan kecil dengan pemukiman penduduk yang masih didominasi pepohonan hijau. Sungguh jauh sekali dari hiruk pikuk kendaraan layaknya di perkotaan.


"Tidak Bos." William menjawab dengan yakin.


"Dari mobil tidak terlihat jelas nomor rumah dan RT RW. Em ... apa kita mampir di warung itu, tanya ke warga kampung saja." William memberi ide sembari ujung telunjuk kanannya mengarah ke sebuah warung kecil dengan ibu-ibu sedang duduk mengobrol.


"Ok."


Mobil merah itu berhenti perlahan. Sontak mengalihkan konsentrasi ibu-ibu yang sedang menggosipkan sinetron yang sedang booming.


"Maaf Ibu-ibu, mengganggu waktunya. Mau bertanya em ... rumahnya Naina ... em ... Naina Joseph di mana, ya? Alamatnya di Jalan Buaya darat No 15 RT. 01/RW. 01." William berkata sambil membaca secarik kertas di tangannya.


"Kalau Naina Joseph itu setahu saya mamanya Wina ... tetapi alamatnya salah Pak. Bukan jalan buaya darat. Yang benar buaya rawa." Salah seorang ibu menjawab.


"Ah, itu maksud saya." William meralat kembali kata-katanya setelah membaca ulang alamat yang tertera di kertas.


"Kalau rumah Wina, di ujung sana Pak. Lurus aja, adanya di sebelah kiri. Di depan rumah ada pohon mangga sedang berbuah. Ada kursi kayu." Ibu yang lain menjawab. Berjalan ke arah jalanan sembari menunjuk arah rumah yang dimaksud.


"Orangnya sedang tidak ada di sini. Di rumah hanya mertua dan anak sama pembantunya. Nainanya sedang bekerja di luar negri. Jadi TKW di Amerika apa di Australia ... em ... pokoknya di sana," jelas ibu pemilik warung yang sejak tadi menyimak.


"Ya, ini saja sudah seminggu tidak kelihatan. Biasanya Wina suka jajan cilok di sini." Ibu yang lain menyambung.


"Ok. Terima kasih, Bu." William mengatupkan kedua telapak tangannya. Tersenyum dan sedikit membungkus berpamitan. Tidak mau mendengar kisah lebih jauh, yang pasti akan berujung panjang dan tak berkesudahan.


Saat membuka pintu, William masih sempat mendengar obrolan ibu-ibu di warung yang beralih topik. Tadinya menggosipkan Aa Aldebaran dan Teh Andin sekarang berganti menggosipkan Naina.


***


William tampak duduk di kursi kayu memandang buah mangga muda bergelayutan. Suasana di perkampungan itu sangat asri dengan angin sepoi bertiup pelan menerpa wajah lelahnya setelah menyetir sendiri dari Jakarta - Bandung.


"Apa tidak ada orang di rumah, Bos?" tanya William mengibaskan tangannya ke arah wajah. Mengumpulkan lebih banyak angin untuk leher berkeringatnya.


"Sepertinya ...." Wira merapatkan wajahnya ke pintu. Berusaha mengintip isi rumah dari celah.


"Di dalam gelap, sepertinya memang tidak ada orang di rumah." Wira berkata dengan lemas.


Berusaha meluangkan waktu hingga mengabaikan pekerjaannya tetapi waktu berharganya terbuang sia-sia. Rasanya tidak rela pulang dengan tangan kosong. Setelah ini entah kapan lagi ia bisa kembali mencari Naina dan anaknya di tengah kesibukannya yang padat.


"Apa kita cari tahu dari kantor kelurahan saja, Bos?" William memberi ide.


Wira tampak berpikir sejenak, sebelum akhirnya mengangguk tanda setuju. Setidaknya, ia bisa mendapatkan informasi di sana.


***


Turun dari mobil, Wira melangkah masuk ke dalam kantor kelurahan yang berukuran tidak terlalu luas. Begitu tiba di sana, Wira dan William disambut oleh seorang pegawai kelurahan.


"Maaf Pak, ada yang bisa dibantu?" tanya seorang pria yang berprofesi sebagai sekretaris kelurahan. Ia baru saja hendak keluar makan siang, menunggu Pak Lurah yang masih bersiap di ruangannya. Terlihat ia mempersilahkan kedua tamunya duduk.


"Maaf Pak, saya sedang mencari salah satu warga di sini yang bernama Naina." Wira membuka suara setelah menjatuhkan tubuhnya di kursi plastik tepat di depan meja sang sekretaris.


Pria muda itu terlihat kebingungan. Belakangan memang banyak orang asing atau tamu dari luar kota yang mencari tahu tentang wanita yang pernah menjadi warga mereka. Dari yang tadinya tidak kenal, hingga akhirnya sosok Naina menjadi familir di kalangan perangkat kelurahan. Bahkan Pak Lurah mengenal dekat kakak Naina yang sering menyumbang setiap ada pembangunan di wilayah mereka.


"Maaf Pak, memang benar kalau Ibu Naina sekeluarga pernah tinggal di sini ... em ... tetapi seminggu yang lalu mereka sekeluarga sudah pindah."


Deg--


Wira terkejut. Tidak menyangka kalau ia akan terlambat. Terlalu sibuk dengan pekerjaannya, Wira baru bisa mengunjungi tempat ini setelah hampir sebulan.


"Kira-kira pindah ke mana ya? Apa tidak ada laporannya pindah ke daerah mana? Biasanya ada data dari pihak dinas kependudukan kalau ada perpindahan warga dari satu daerah ke daerah lain."


Sang sekretaris tampak meneliti Wira dari ujung kaki sampai ujung rambut. Kemudian melempar pandangannya pada William. Terakhir menatap mobil merah yang terparkir rapi di halaman kantor kelurahan.


Agak ragu berbagi informasi mengenai salah satu warga yang pernah tinggal di wilayah mereka.


"Maaf, Bapak siapa? Saya tidak bisa memberi informasi sembarangan tanpa tahu jelas dengan siapa saya berbicara," jelas sekretaris desa.


"Saya Pratama Wirayudha. Sebenarnya kedatangan saya ke sini untuk mencari keberadaan mantan istri dan anak saya yang menghilang sejak tiga tahun silam." Wira mengenalkan diri. Ia tampak berdiri mengeluarkan dompet dari saku celananya.


Sebuah kartu identitas diri diletakan Wira di atas meja, menyusul kemudian foto pernikahannya dan Naina yang selalu terselip di dompet kulitnya. Menemani hari-harinya selama tiga tahun ini.


Sekretaris itu tersenyum lega. Setidaknya pendapat pribadinya tidak salah. Pria yang datang mencari mantan warga mereka yang bernama Naina berbeda dengan pria-pria sebelumnya.


***


TBC