Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S1. Bab 52


Wira hanya menatap sekilas, tidak membaca selesai isinya. Hanya melihat jadwal sidang yang harus dihadirinya. Tanpa membaca keseluruhan, Wira tahu kalau surat itu berisi surat panggilan menghadiri persidangan.


“Kita selesai, Nai. Kepercayanmu padaku hanya sebatas ini. Perjuanganmu untuk mempertahankan pernikahan kita hanya sebatas ini.”


Wira memijat pangkal hidungnya. Menepis tumpukan yang sejak tadi memenuhi mejanya. Dengan kedua siku tangan bertumpu di meja, Wira menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.


“Apakah perjuanganku harus berakhir sampai di sini?” Wira berucap pelan.


Tangan kirinya terlihat menarik laci meja kerjanya, mengeluarkan map hitam dan menghempaskannya ke atas meja. Di lembaran pertama adalah hasil tes DNA Nola, sebelum kelahiran. Itu yang menjadi awal mula semua bencana dalam rumah tangganya.


Di lembar kedua dan selanjutnya adalah hasil tes DNA dari beberapa rumah sakit, yang diam- diam dilakukannya tanpa sepengetahuan Stevi. Dan hasilnya tetap sama. Di lembaran terakhir adalah data Stevi yang dikirim orang suruhannya, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Tidak ada data keterlibatan Stevi dengan laki-laki lain, tidak ada pertemuan Stevi dengan pria asing selain yang terakhir kali diketahuinya bernama Dennis Wijaya.


Dan itu pun hanya terlihat beberapa kali, tidak ada data tentang Dennis Wijaya, selain putra dari almarhum Andi Wijaya yang juga pernah menikah singkat dengan mama Stevi.


Menutup kasar map hitam di depannya, Wira meraih ponselnya dan menghubungi Naina. Nada sambung itu terdengar begitu menyedihkan, berdering pelan menyayat hati.


“Nai ... Mas sudah menerima surat cinta yang Nai kirim,” ucapnya pelan sesaat setelah mendengar suara lemah lembut dari seberang.


“Maaf Mas.” Naina berkata. Terselip rasa bersalah di salah satu sudut hatinya saat mendengar nada bicara Wira.


“Kenapa masih belum mau memaafkanku, Nai?” tanya Wira.


“Maafkan aku, Mas.”


“Kenapa harus sekeras ini, Nai. Tidak bisakah menurunkan sedikit egomu. Kita berumah tangga bukan sehari dua hari. Lima tahun, Nai,” ucap Wira, masih membujuk dengan kata-katanya.


“Maafkan aku, Mas.”


Kata maaf itu berulang kali keluar dari bibir Naina, tidak ada kata lain yang sanggup diucapkannya. Semua ucapan Wira hanya dijawab dengan sepotong kata maaf. Sampai panggilan itu terputus, Naina hanya sanggup mengucap kata maaf.


***


Seminggu setelah menerima surat panggilan, Wira dan Naina menghadiri persidangan pertama mereka. Sejauh ini, keduanya masih tinggal bersama, masih berbagi ranjang bersama. Tidak ada yang berubah. Bahkan, berangkat ke pengadilan pun masih bersama, bergandengan tangan seperti biasa.


Senyum Pak Johan sang pegacara begitu cerah menyambut keduanya. Menyalami Wira dan Naina sembari berbincang sebentar sebelum masuk ke sidang. Sedikit pun ia tidak menyangka kalau proses pengadilan ini akan tetap berlanjut. Laki-laki paruh baya itu sempat tersentak saat Naina yang duduk di sisi lain tanpa ditemani siapa pun itu menyatakan dengan mantap akan melanjutkan proses.


“Pak Wira, ini serius? Bukankah kalian terlihat baik-baik saja?” bisik sang pengacara yang duduk bersebelahan dengan kliennya.


Wira mengangguk pelan, menatap Naina dari kejauhan. Istrinya duduk sendirian di sana. Tertunduk dengan kedua tangan saling meremas di atas pangkuan. Sebagai pihak yang menggugatnya dan lawan seteru di sidang, Naina sendirian tanpa didampingi siapa-siapa. Tidak ada pengacara, sanak mau pun keluarga yang menemani.


“Apakah sudah tidak bisa dipertahankan, Pak?” tanya sang pengacara, masih menolak percaya.


Wira mengangguk.


Demikianlah, sidang pertama terlewati dengan keteguhan hati Naina. Perempuan itu tidak goyah sama sekali. Bahkan di sidang selanjutnya dengan agenda mediasi, Naina tetap bergeming. Tetap menyakini keputusannya. Tidak ada titik temu, Naina masih bersikeras dan Wira tidak bisa memaksa.


Wira sebagai tergugat saat itu datang dengan kedua orang tuanya. Semuanya tetap sama. Tidak ada yang berubah. Bahkan kekerasan hati Naina masih tetap sama, meskipun sudah dibujuk kedua orang tua Wira.


Hari-hari berlalu begitu cepat. Setelah menjalani serangkaian proses, akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Selama proses persidangan ini berjalan, Naina masih tetap melayani kebutuhan Wira. Sebaliknya Wira pun masih bersikap sama. Tetap mendekap Naina setiap malam, bercerita banyak hal seakan tidak terjadi apa-apa. Tidak ada seorang pun yang mengungkit masalah perceraian.


Pagi ini, keduanya terbangun dengan beban perpisahan yang mengumpul di dada. Keduanya tidak bisa tidur nyenyak sejak semalam. Hari ini adalah sidang terakhir dari serangkaian proses yang mereka jalani berminggu-minggu ini. Sidang siang ini dengan agenda pembacaan keputusan hakim, yang artinya saat gugatan perceraian Naina diterima, kisah mereka akan usai seiring ketukan palu hakim.


“Nai, kamu sudah bangun, Sayang?” tanya Wira. Pria itu ikut terbangun saat merasa ada pergerakan di sisi tempat tidurnya.


“Ya, Mas. aku mau memasak makanan kesukaan Mas pagi ini,” ucap Naina pelan. Menahan rasa yang ditahannya sejak beberapa hari ini. Jangan dikira ini tidak berat untuknya, dia bahkan harus menguatkan hatinya. Namun, ada sisi lain dari dirinya yang mendorong untuk tetap berpisah.


“Tetap di sini saja, Nai. Mas ingin memelukmu ... mungkin ini terakhir kalinya,” ungkap Wira. Pria itu sudah mencoba pasrah sejak awal memasuki persidangan, meskipun masih berusaha melakukan segala bujuk dan rayu.


Naina menurut, kembali membenamkan dirinya ke dalam dekapan Wira. Ya, ini mungkin yang terakhir kalinya, ia bisa menikmati kehangatan pria tampan yang selalu menghujaminya dengan banyak cinta selama lima tahun terakhir.


“Nai, seandainya nanti kita tetap harus berpisah. Tetap tinggal di sini dengan Mbok Sumi. Mas sudah meminta pengacara mengganti kepemilikan rumah dan mobil atas namamu. Semua yang ada di rumah ini atas namamu,” ucap Wira, mengeratkan pelukannya.


Naina diam.


“Mas sudah meminta sekretaris baru Mas menguras habis saldo di rekening pribadi Mas dan memindahkannya ke rekeningmu.”


“Tidak perlu, Mas. Nai tidak butuh apa-apa,” ucap Naina setengah menolak.


“Sudah, jangan dipikirkan.” Wira menatap sedih pada koper-koper berisi pakaiannya yang akan ikut dibawa saat ke pengadilan nanti. Dua koper itu sudah berdiri tegak di sudut kamar sejak dua hari yang lalu. Andai mereka harus bercerai hari ini artinya malam ini ia tak akan pulang ke rumah ini lagi, merelakan semuanya untuk Naina.


“Cium Mas sekarang Nai. Mungkin ini yang terakhir,” pinta Wira.


Tanpa protes, Naina mengecup bibir suami. Hangat dan dalam. Pelukan itu pun semakin erat dan posesif. Berbagi rasa dan kerinduan yang hampir sebulan ini disembunyikan di dalam hati keduanya. Ketika kedua bibir saling bertemu, mencoba jujur lewat sentuhan. Mengungkapkan perasaan lewat pertautan bibir, semakin lama semakin panas. Sarat cinta dan hasrat yang menggebu.


Naina mengalungkan kedua tangannya di leher Wira, menikmati sentuhan demi sentuhan tangan lembut yang kini bermain-main di punggungnya.


“Nai, Mas mencintaimu. Sangat ....” bisik Wira di sela ciumannya yang menggairahkan.


“Aku juga, Mas,” sahut Naina dengan napas memburu, saat kecupan bibir itu memancing gairah dan kerinduan yang sudah lama terpendam.


Baru saja Wira akan memperdalam kecupannya, tiba-tiba Naina mendorongnya kasar. Meloncat turun dari atas tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Menumpahkan isi perutnya. Mual dan muntah itu menyerangnya tiba-tiba.


Wira hanya bisa melongo. Otak laki-laki itu sudah hampir gila saat gairahnya ikut terpancing. Berminggu-minggu puasa, tiba-tiba diizinkan mencoba manisan. Rasanya dia sudah ingin melahap menu utama.


***


TBC