
Taman Safari Bogor.
Celotehan dan pekikan kegembiraan terdengar dari bibir mungil Wina. Gadis kecil itu begitu bahagia saat mobil yang dikendarai sang Ayah melintasi jalan berkelok, melewati kumpulan rusa, zebra, gajah, jerapah dan ada banyak lagi koleksi satwa yang dijumpai di tempat wisata keluarga berwawasan lingkungan yang berorientasi pada habitat satwa alam bebas.
Wina yang duduk di pangkuan bundanya tampak bergeser ke dekat jendela dengan wortel di tangan. Ia menyodorkan umbi berwarna jingga itu dari celah jendela saat Wira memperlambat laju mobilnya ketika bertemu dengan kawanan rusa.
“Ayah ....” pekik Wina saat tangan mungilnya melepas wortel ke dalam mulut rusa.
Wira tergelak. Kebahagiaannya membuncah saat sang gadis kecil mulai mengingat keberadaannya. Putrinya sering kali spontan memanggil namanya di saat senang atau sedih.
“Wina suka, Nak?” tanya Wira, menepuk pucuk kepala putrinya. Tatapannya beralih pada Naina. Mantan istrinya itu terlihat bahagia duduk di sisinya menikmati tamasya keluarga kecil mereka.
“Cukaa ....” Wina mengangguk kepala dengan kencang. Di kursi belakang, Rima duduk sendirian ikut mengagumi gerombolan binatang yang berebutan wortel.
“Ayah ....” pekik Wina menunjuk ke arah gajah yang sedang melintas di tengah jalan.
“Ya, Sayang. Itu gajah,” ujar Wira.
“Bunda ....” Wina mengarahkan telunjuknya sembari berteriak kencang saat melihat seekor gajah mengetuk kaca jendela di sebelah Wira.
“Mau ... Bunda. Mau ....” rengek Wina, mengulurkan tangannya pada Wira. Ia hendak berpindah duduk, supaya bisa melihat si gajah dari dekat.
“Jangan, Sayang. Ayah sedang menyetir.” Naina berusaha menahan.
“Biarkan saja, Nai. Ayo sini, duduk di pangkuan Ayah.” Wira menepuk paha kirinya.
“Mas ...”
“Tidak apa-apa, Nai.” Wira menghentikan laju mobilnya dan meraih tubuh mungil Wina. Diletakannya di depan kemudi, duduk di pangkuannya.
“Tidak boleh nakal, ya. Ayah harus memegang setir,” ucap Naina.
Bisa dikatakan, ini adalah perjalanan pertama Wira, Naina dan putri mereka. Bagi Wira, tentu saja ia ingin menghabiskan banyak waktu bersama. Mengganti hari-hari yang terlewatkan olehnya selama ini. Meraih kembali hati putrinya, ia ingin menjadi bagian dari kehidupan Wina.
“Nai, besok-besok sepertinya kita harus lebih sering pergi bersama. Wina pasti akan senang sekali. Minggu depan kita bermain salju di mall dekat apartemenku. Aku yakin Wina menyukainya.” Wira memberi ide.
“Ya, Mas.”
Wira tersentak, tersenyum melirik Naina. Tidak biasanya sang mantan istri langsung menyetujui pendapatnya tanpa banyak berpikir atau protes. Biasanya, Naina akan memutar otak dan merangkai banyak kata sebelum akhirnya mengalah.
***
Puas mengitari jalan dan melihat berbagai satwa, Wira menyempatkan untuk menemani Wina bermain ke beberapa wahana yang tersedia Taman Safari. Pria itu tersenyum puas melihat kebahagiaan yang tampak nyata di bola mata Wina. Ia merasa benar-benar menjadi seorang Ayah. Senyuman Wina, penyemangat lelahnya. Kebahagiaan gadis kecil itu bagai obat kegundahannya. Wina banyak merubah hidupnya.
Hampir dua jam berpindah dari satu wahana ke wahana lainnya, mereka menyempatkan makan siang di salah satu restoran siap saji yang terdapat di area Taman Safari.
“Nai, kamu sudah lelah?” tanya Wira, menggendong putrinya.
“Ya, Mas. Kakiku sudah berasa pegal semua.” Naina memijat betisnya sembari menatap Rima. Gadis muda itu terlihat berjalan menyusul di belakang mereka.
“Ayo!” Wira meraih tangan Naina dan menggengamnya erat. Wira mengulum senyuman saat Naina tidak menolak.
“Kita mau ke mana, Mas?” tanya Naina dengan polosnya.
“Mas ....” Wajah Naina bersemu merah. Godaan Wira yang sederhana sanggup membuatnya malu sendiri.
***
Perjalanan ini bukan hanya membahagiakan Wina, Wira juga memanjakan Naina dengan wisata kuliner di sekitar kota Bogor. Puas berkeliling, mengisi perut sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Jakarta, Wira juga mampir ke sebuah kios yang menjual asinan khas Bogor lengkap dengan kerupuk mi.
“Untukmu!” Wira masuk ke dalam mobil dan menyerahkan dua porsi asinan. Satu untuk Naina dan yang lainnya diperuntukan bagi pengasuh putrinya.
“Aku boleh makan di sini?” tanya Naina melihat kantong plastik bening dan sebotol air mineral yang disiapkan Wira untuknya. Asinan itu membuatnya menelan saliva.
“Ya, makan saja. Itu pedas. Aku memesan level terpedas untukmu.” Wira berbalik, menatap Rima. Pengasuh itu sibuk menepuk pelan bokong Wina. Putrinya terlelap, meringkuk di kursi belakang.
“Bagaimana makannya?” tanya Naina sudah tidak sabar.
“Ada sendok plastik di dalamnya.” Wira meraih botol mineral dan membukanya untuk Naina.
“Ini minumanmu.” Wira meletakannya di atas pangkuan Naina.
“Terima kasih, Mas.”
Terjebak macet di beberapa titik, akhirnya membuat perjalanan mereka semakin panjang. Mobil Wira tiba di rumah Naina saat matahari bersembunyi di pekatnya malam. Waktu sudah menunjukan pukul 19.10 malam. Rumah dua lantai itu gelap, tanpa penerangan sedikit pun. Di luar perkiraan, mereka akan tiba semalam ini.
“Rim, tolong urus Wina. Ibu sepertinya kelelahan.” Wira menatap Naina yang terkulai lemas di sampingnya. Ibu muda itu terlelap. Bahkan saat mobil berhenti pun, Naina masih betah memejamkan mata. Tas tangan yang terjatuh di bawah kaki bercampur dengan sampah makanan dan botol mineral kosong.
“Sekalian tas Ibu ... tolong dibawa masuk.” Wira meraih tas cokelat yang terburai karena ritsleting terbuka lebar.
Ia menatap Naina, mantan istrinya tidak terusik sama sekali. “Aku sudah lama tidak merasakan sensansi menggendongmu, Nai.” Wira berkata pelan dengan kedua tangan menyisip di balik punggung Naina. Menggendong ibu muda itu ala bridal style, menuju ke kamar. Kamar yang dulu mereka tempati bersama.
Kenangan itu berputar kembali saat menginjakan kaki di dalam kamar. Interior di dalam tidak berubah. Bahkan semua perabotan masih di tempatnya. Hanya status mereka yang sudah tidak sama. Wira mengingat jelas, kisah mereka berakhir di kamar ini. Mata elang itu mengembun, dua bulir cairan kristal luluh membasahi pipinya.
“Aku selemah ini sekarang,” cicit Wira. Pandangannya tertuju pada Naina. Wanita itu sedang meringkuk di atas tempat tidur, menikmati lelapnya.
***
Kelelahan perjalanan dan mengurus semua keperluan Wina saat tiba di rumah, memaksa Rima tertidur di kamar anak asuhnya. Ia terbangun saat tenggorokannya terasa kering dan butuh disiram segelas air.
Dengan mata mengantuk, pengasuh itu menatap jam di dinding. “Ah, sudah lewat tengah malam,” ucapnya pelan.
Berjalan mengendap-endap keluar kamar, ia tidak ingin Wina terbangun dan menangis. Begitu melangkah menuju dapur, Rima terkejut melihat lampu mobil menyorot terang di halaman rumah.
“Mobil siapa itu? Siapa yang berkunjung tengah malam begini?” Rima buru-buru mengintip dari celah jendela rumah.
Saat berhasil menyibak tirai, mobil sudah berbelok keluar dari halaman. Rima tidak sempat memerhatikannya dengan jelas.
“Pak Wira? Ini sudah jam berapa? Apa Pak Wira baru pulang atau ada maling yang sedang mengintai rumah ini ....” Rima bergidik ngeri. Membayangkan ada orang asing masuk ke dalam rumah. Di sini hanya mereka bertiga, tidak ada sosok laki-laki yang bisa diandalkan.
“Tidak mungkin Pak Wira. Biasanya Bapak akan pulang sebelum pukul 22.00 malam. Ini sudah lewat tengah malam. Lagipula apa yang dikerjakannya di sini, Ibu Naina sepertinya tertidur sejak pulang. Tidak mungkin juga Bapak semalaman bersembunyi di dalam kamar Ibu.” Rima mengintip kamar majikannya. Naina masih tidur dengan pakaian yang sama. Artinya Bunda dari Wina itu belum bangun sejak pulang dari Taman Safari.
***
Tbc