
“Nai, kamu tidak ikut makan siang. Kenapa? Apa terjadi sesuatu?” tiba-tiba terdengar suara Wira menyela obrolan Naina dan Dennis di telepon. Pria itu masuk ke ruangan Naina tanpa permisi.
“M-mas,” Naina tergagap. Manik matanya membola saat mendapati Wira masuk tanpa mengetuk pintu. Suara maskulin itu memecah konsentrasinya. Diletakannya ponsel putih di atas meja.
“Maaf, aku khawatir terjadi sesuatu padamu.” Wira berjalan mendekat dan menarik kursi tepat di seberang meja. Sebungkus makanan diletakannya di atas meja tepat di sisi udang asam manis yang sudah diacak-acak.
Bibir mungil dipoles lipstik merah muda itu berusaha tersenyum. “Aku membawa bekal dari rumah, Mas. Maaf, tidak mengabarimu.” Naina menjelaskan.
Percakapan di ponsel terputus tanpa disadari Naina. Kedatangan Wira yang mendadak, membuat Naina mengabaikan Dennis tanpa sadar. Wanita dengan rambut dikuncir kuda itu baru tersadar saat ponselnya berdeting pelan, pertanda sebuah pesan masuk.
Nai, nanti kita sambung lagi. Silakan lanjutkan obrolanmu dengan Wira. Tidak perlu mengkhawatirkanku. Love you all the time, Dennis Joseph.
Kedua sudut bibir Naina melengkung ke atas saat membaca nama Joseph di ujung pesan. Nama itu memiliki arti mendalam dan sangat berkesan untuknya. Nama yang dipinjamkan Dennis untuknya, nama yang sudah menjaganya di tiga tahun terakhir.
“Nai ....” Wira menyapa pelan setelah merasa tersaingi oleh gawai putih yang sanggup membuat wajah cantik mantan istrinya berhias senyuman tipis.
“Eh ... ya, Mas.” Naina tersentak. Garis bibirnya rata kembali.
“Aku membawakan makanan kesukaamu ... soto ayam. Aku pikir telah terjadi sesuatu padamu sampai ....”
“Tidak apa-apa, Mas. Aku sudah membawa bekal sendiri, jadi tidak ikut makan siang,” potong Naina menegaskan.
“Yakin tidak ada hal lain?” pancing Wira. Ia masih berharap bisa melihat kilau cemburu di dalan manik mata Naina. Ia masih berharap menemukan raut kecewa di garis wajah mantan istrinya, pertanda masih ada cinta yang tersisa.
Gagal, Wira tidak menemukan semua itu. Naina terlihat biasa-biasa saja.
*“Apa sudah tidak ada lagi namaku di dalam hatimu, Nai? Bagaimana aku memulainya kalau memang sudah tidak tersisa lagi Pratama Wirayudha di dalam hatimu?” *Wira membatin.
“Mas ... sudah makan siang?” tanya Naina. Menggenggam sendok dan bersiap melanjutkan kembali, tatapan Naina tertuju pada bungkusan yang dibawakan Wira untuknya.
Wira menggeleng.
“Mas mau makan?” tanya Naina lagi.
Wira mengangguk kali ini.
“Sebentar. Aku ambilkan piring dan sendok untukmu, Mas.” Naina baru saja hendak beranjak meninggalkan ruangannyaa saat Wira mencekal pergelangan tangannya.
“Bisakah kita berbagi saja?” tanya Wira, menatap ke arah kotak bekal milik Naina.
“Mas mau udang asam manis juga?” tanya Naina memastikan.
Wira mengangguk. “Aku tidak keberatan berbagi denganmu. Kita bukan orang lain. Aku sudah tahu rasanya bibirmu dan kamu juga sudah pernah merasakan betapa manisnya bibirku,” ucap Wira berusaha mengingatkan. Senyum tertahan semakin membuat Wira terlihat tampan.
Deg— Ucapan Dennis melintas di pikiran Naina. Pria itu memintanya untuk mencoba memulai lagi dengan Wira. Menyelami perasaannya demi Wina dan dirinya. Mencari tahu apa masih ada yang tersisa di hatinya untuk Wira.
Tiga tahun berlalu, Naina melewati banyak purnama dengan air mata, meskipun ia menyempatkan tersenyum demi Wina. Banyak cerita yang dilewatinya sendirian, di dalam kehampaan walau ada Wina menemani tiap langkahnya.
“Baiklah.” Naina mengulas senyuman sembari mendorong pelan kotak makanannya ke tengah meja. Merelakan miliknya menjadi milik bersama.
“Ikhlas?” tanya Wira sebelum meraih sendok dan menyuapkannya ke dalam mulut.
“Ya.” Naina menjawab.
“Kalau ikhlas ... duduk kembali, mari kita makan bersama.” Wira meminta dengan tidak tahu malunya.
***
“Nai, bagaimana kalian melewatkan tiga tahun tanpaku?” tanya Wira sembari menyuapkan sesendok nasi dan udang dengan saus kentalnya ke dalam mulut.
“Begitulah.” Naina tertunduk. Duduk dengan kedua tangan terlipat di atas meja.
“Merindukanku?” tanya Wira sembari menyodorkan suapan selanjutnya pada Naina.
“Buka mulutmu, Nai.”
Naina tidak menjawab, hanya membuka mulut dan menerima suapan Wira. Manik mata teduh itu hanya menatap tanpa bicara sama sekali.
“Aku merindukan kalian.” Wira berkata pelan dan tertunduk. Kembali menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
Keduanya menikmati makanan dari kotak bekal yang sama. Tak sampai sepuluh menit, semua isi kotak sudah berpindah dengan adil ke dalam dua lambung berbeda. Tersisa soto ayam yang belum terjamah sama sekali. Wira menarik mangkuk dengan kuah kuning dengan suwiran ayam dan irisan kol yang muncul ke permukaan itu mendekat padanya.
“Aku tidak terlalu suka. Ini untukmu saja,” ucap Wira tersenyum.
“Aku sudah lama tidak menyuapimu.” Suara maskulin itu terdengar bergetar. Ia mengingat kembali kata-kata Naina sebelum menerobos masuk ke dalam ruangan.
Naina mengalah. Jujur saja, ia tidak nyaman, tetapi ia tidak bisa menolak Wira.
“Seribu hari hidup tanpaku ... apa pernah mengingat kembali kebersamaan kita selama lima tahun bersama?” tanya Wira dengan mata berkaca-kaca. Tangannya gemetar saat menyodorkan sesendok soto ayam ke dalam mulut Naina.
Bibir mungil itu kembali melengkung ke atas. Naina hanya menjawab dengan tatapan.
“Jangan tersenyum kalau ingin menangis!” gerutu Wira kembali menyuapkan soto ayam pada Naina.
“Aku tidak suka Naina yang sekarang. Yang tidak bisa jujur padaku!” cerocos Wira.
“Mas ....”
“Dari nol sampai seratus, jawab saja!” Wira menyodorkan sendok dan mendorong semangkuk soto pada Naina. Membiarkan perempuan itu menikmati sotonya sendiri.
“Terima kasih, Mas.” Naina tersenyum.
“Kalau tidak ingin berbagi makanan denganku, cukup katakan tidak. Aku lebih menyukai Naina yang seperti itu,” cerocos Wira.
“Ya, Mas.”
“Dari nol sampai seratus, apa kamu sudah memaafkanku, Nai?” tanya Wira.
“Seratus.” Naina menjawab singkat sembari mengaduk-aduk soto di dalam mangkuk.
“Pernah memikirkanku?” tanya Wira lagi.
“Em ... lima puluh!” Naina menjawab tanpa melihat lawan bicaranya.
Wira tersenyum.
“Apa kamu bahagia saat kita berpisah?” tanya Wira lagi.
“Sepuluh. Aku terpuruk, tetapi aku lega di satu sisi. Meskipun lebih banyak terluka dibandingkan kelegaan.” Naina menjelaskan.
“Dan sekarang?” tanya Wira.
“Maksudnya, Mas?” tanya Naina.
“Setelah tiga tahun berlalu, apa yang kamu rasakan? Apa kamu bahagia?” Wira menjelaskan maksud pertanyaannya.
“Kebahagiaanku ... sepuluh naik menjadi lima puluh.” Naina menjawab dengan yakin.
“Dan ... Wina menggenapinya menjadi sempurna,” lanjut Naina.
“Kamu sepertinya lupa, Wina itu bagian dari diriku juga. Bukankah tidak adil kalau kamu mengambil semuanya tanpa menyisahkan untukku.”
“Mas ....”
“Habiskan sotomu. Aku harus kembali ke kantor,” titah Wira.
Naina menghabiskan soto ayamnya segera. Hanya butuh beberapa menit makanan berkuah itu pindah ke dalam perutnya.
“Nai, setelah kita bertemu kembali, apa kebahagiaan itu masih di angka seratus? Tidak ada tempat kosong lagi?” tanya Wira, tergelak.
Naina mengangkat pandangannya.
“Andai aku merebut Wina dari tanganmu, apakah kamu masih bisa tersenyum seperti saat ini?” tanya Wira.
“Mas?” Naina tersentak.
“Aku sadar ... aku yang paling dalam menggoreskan luka di hatimu, tetapi izinkan aku untuk menyembuhkannya dan bertanggung jawab untuk itu.”
“Teman ... kekasih atau suami?” tanya Wira, menawarkan dirinya.
Naina terdiam, sedangkan Wira tampak berdiri dan mengulurkan tangannya.
“Aku Pratama Wirayudha, senang bisa berkenalan dengan Bunda dari anakku. Mari kita memulainya dari awal ....” ucap Wira dengan tangan menggantung. Tampak ia tersenyum, sembari menunggu Naina menerima uluran tangannya.
***