Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 60


Pieter menyunggingkan senyumannya saat berjalan tertatih-tatih menuju ke mobil. Sore itu, ia baru saja keluar dari kantor RD Group, saat matanya menangkap sesosok pria asing sedang mengamati pergerakannya dari kejauhan. Pria bertato dengan tubuh kekar itu memang sudah mengikutinya beberapa minggu belakangan.


“Kamu luar biasa, Wir. Menjagaku sampai begitunya. Aku memang bisa tidur dengan wanita mana pun. Dari cara baik-baik sampai terlicik, tetapi tidak untuk Angel. Kalau aku mau ... aku pasti mendapatkannya, tidak mungkin menyodorkannya padamu.” Pieter bergumam sebelum masuk ke dalam mobil.


Begitu tubuh kekarnya duduk nyaman di dalam mobil, pandangannya tertuju pada Naina. Asistennya itu baru saja keluar dari kantor. Setengah berlari menuju halte untuk menunggu angkutan umum.


“Pak, susul Angel!” titah Pieter pada sopirnya. Pieter tersenyum licik, memandang si pria bertato yang juga masuk ke dalam mobil sedan hitam dan mengikuti belakang kendaraannya.


Sopir Pieter mengikuti instruksi atasannya tanpa banyak protes, melajukan mobilnya menuju halte, kemudian menghentikan kendaraan roda empat itu tepat di depan Naina.


“Angel, ayo masuk! Aku akan mengantarmu pulang,” ajak Pieter, membuka pintu mobil.


“Tidak, Pak. Terima kasih. Aku naik taksi saja,” tolak Naina, tersenyum ramah.


“Ayo. Ini sudah gelap. Lagipula bukannya rumahmu yang baru searah dengan apartemenku. Ayo, masuk saja!” bujuk Pieter lagi.


Pieter baru saja meraih kruk dan hendak turun menemui Naina, tetapi ponsel di saku kemejanya berdering nyaring.


“Sebentar, Angel,” ujar Pieter, buru-buru menerima panggilan. Tersenyum kecut saat memastikan si penelepon yang sudah mengganggunya.


“Tidak, Pak. Terima kasih. Aku naik taksi saja!” putus Naina. Terlihat ia melambaikan tangan kanannya ke arah jalan, berusaha menyetop sebuah taksi biru yang sedang melaju.


Pieter tidak bisa menahan, ia hanya bisa memandang kepergian Naina dengan tatapan yang sulit diungkapkan.


“Ya, ada apa?” tanya Pieter ketus.


“Kamu jangan coba-coba menyentuh Naina. Kalau tidak, aku akan membunuhmu!” Terdengar suara ancaman Wira dari seberang.


“Astaga Wir, kamu pikir aku takut dengan ancamanmu. Aku tiap hari bekerja bersamanya. Kami menghabiskan sepanjang hari bersama. Apa kamu bisa menahanku? Ayo kita berlomba, kecebong siapa yang jadi duluan,” ucap Pieter, menggigit bibir. Ia tidak mau tawanya keluar saat mendengar nada panik bercampur amarah yang keluar dari bibir Wira.


“Kurang ajar!” Wira mulai terpancing kesal.


“Kamu boleh menidurinya, kenapa aku tidak boleh? Angel itu single, bukan milik siapa-siapa.” Pieter mulai memancing lagi. “Siapa yang berhasil membuatnya hamil, dialah pemenangnya. Aku mengenal Angel, asal ayah bayinya pria single, dia akan berkorban demi anaknya, meskipun tanpa cinta. Ingat itu!” Pieter mulai membakar kembali emosi Wira.


“Kurang ajar! Kamu berani menyentuhnya, aku akan membunuhmu. Aku tidak punya alasan untuk memintanya berhenti bekerja. Si keras kepala Naina, tidak akan percaya padaku kalau aku mengatakan atasannya itu pria breng’sek!”


“Tentu saja! Siapa yang akan percaya. Aku pria baik-baik, selama ini pun aku selalu menghormatinya. Kenapa tidak kamu kirimkan saja percakapan kita ini, dan Angel akan tahu kalau kita berdua sama breng’seknya.” Pieter tergelak. Ia sudah ingin tertawa mengetahui kepanikan Wira.


“Oh ya, apa tidak bisa mencari mata-mata yang lebih tampan, Wir? Kamu pikir ... aku akan takut dengan tatonya?” Pieter kembali menggoda.


“Kurang ajar! Jangan menyentuh Naina. Aku tidak mau kejadian di hotel itu terulang lagi.”


“Apa yang aku lakukan. Aku tidak melakukan apa-apa. Bukankah kamu yang mengeksekusinya.”


“Tapi kamu menjebakku.”


“Sudahlah, aku tidak mau berdebat. Kalau memang ... kamu tidak bisa menaklukan Angel, biarkan dia bersamaku. Aku akan membahagiakannya. Aku janji akan merawat putrimu seperti putriku sendiri,” ucap Pieter melunak.


“Naina! Panggil dia Naina, bukan Angel. Aku muak mendengarnya,” cerocos Wira tergelak.


“Itu panggilan sayang, Wir.” Pieter lagi-lagi memancing amarah Wira.


“Sudah matikan! Aku tidak berjanji untuk tidak memangsa Naina. Teleponmu ini baru saja membuat mangsaku pergi. Angel sudah pulang dengan taksi.” Pieter memutuskan panggilannya.


Senyum terkembang di bibir pria itu. Ia sudah mundur saat Naina menolaknya beberapa saat lalu. Bukan tidak mau berjuang, tetapi ia melihat sendiri kalau tidak ada cinta untuknya di mata indah Naina. Ia tidak bisa memaksa Naina untuk memilihnya. Dan Naina berhak hidup bahagia bersama laki-laki yang dicintainya.


Bahkan sejak dulu, ia sudah tahu kalau Naina masih menyimpan cinta untuk mantan suaminya. Setelah berpisah pun, Naina masih mengakui Wira sebagai suaminya. Terbukti selama tinggal di Austria, setiap menerima telepon dari Wira, bola mata redup Naina yang menyiratkan kesedihan akan berbinar bahagia. Air mata Naina akan berganti dengan tawa bahagia. Suara pria itu sanggup menyulutkan semangat Naina.


Setahun mereka hidup bersama di Austria, tentu saja ia mulai paham dengan apa yang dirasakan Naina. Ia mengingat jelas, betapa bahagianya Naina saat menceritakan tentang suami dan putrinya yang sedang menikmati hari bersama-sama di Indonesia. Bagaimana sorot mata Naina yang berkilat penuh cinta setiap menyebut kata suami dan putrinya.


***


Hari-hari berlalu begitu cepat. Naina melewatinya dengan rutinitas yang sama setiap hari. Pagi, siang sampai sore, ia akan menghabiskan waktunya di tempat kerja. Memberi jatah malam hari dan akhir pekan untuk Wina.


Demikian juga Wira, pria itu mulai bisa meraih hati putrinya. Tanpa sadar, ia menghempaskan sosok Dennis yang sebelumnya merajai hati dan pikiran Wina. Tidak ada lagi kata Daddy yang terucap dari bibir mungil Wina, berganti dengan kata Ayah. Wina sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya, bahkan tidak segan bermanja-manja dan memeluknya.


Menghabiskan setiap malamnya bersama Wina dan Naina, tak jarang Wira menjemput Naina sepulang kerja. Menghabiskan akhir pekan bersama-sama. Dari makan, jalan ke mall, nonton ataupun ke tempat wisata keluarga. Sesekali Wira mengajak Wina mengunjungi kedua orang tuanya, tentunya tanpa Naina. Wira tak mau memperkeruh suasana dengan mengajak Naina. Sampai hari ini, mamanya masih belum menyukai Naina sepenuhnya.


Tanpa terasa, satu purnama terlewati. Naina yang selalu dihinggapi ketakutan akan peristiwa di hotel, semakin panik setiap mengingat tamu bulanannya tak kunjung datang. Sudah dua minggu ini, ia menyimpan test pack yang dibelinya di apotik. Namun, ia tidak memiliki keberanian untuk mencari tahu apa yang terjadi pada dirinya. Andaikan ia hamil, tidak terbayang apa yang harus dilakukannya.


Kehamilannya yang pertama, ia didukung oleh Mbok Sumi dan Dennis. Dan sekarang, ia sendirian, hanya berdua dengan Wina. Ia berharap semua tidak seperti ketakutannya. Berharap hanya terlambat menstruasi seperti biasanya, karena jadwal haidnya yang acak-acakan.


Terbangun pagi-pagi sekali, Naina membulatkan tekad. Tangannya gemetar, menggenggam test pack di tangan. Dengan mata terpejam, Naina berdoa dalam hati setelah mencelupkan test pack ke dalam cairan urine yang sudah ditampungnya.


Sedetik, semenit, hingga hampir lima belas menit, Naina memilih bersandar di dinding. Ia takut dengan hasil dua garis merah. Kalau dulu, sewaktu menjadi istri Wira, tentu saja ia menantikan hasil dua garis bersamaan, tetapi tidak untuk saat ini. Ia seorang janda tanpa pasangan, apa kata dunia seandainya ia hamil. Dan lebih parahnya tanpa tahu siapa ayah dari anaknya.


Mengumpulkan keberaniannya, Naina memberanikan diri melirik hasil test pack. Dunianya runtuh, saat mendapati dua garis merah terpampang nyata dan jelas.


“Ya Tuhan ... aku benar-benar hamil. Bagaimana bisa? Berarti kejadian di hotel itu .....” Naina terduduk di lantai, menggenggam test pack dengan erat. Ia tidak bisa menangis lagi, hanya terpaku. Pikirannya buntu, bayangan Wina yang tersenyum tiba-tiba muncul di pelupuk matanya.


“Aku harus bagaimana?” ucapnya lirih.


“Bagaimana aku melanjutkan hidupku?”


“Apa yang dipikirkan Mas Wira tentangku?” Naina berbisik pelan. Air matanya sudah tidak sanggup keluar lagi.


“Kenapa Tuhan memberiku cobaan begini berat. Di saat Engkau tahu kalau aku tidak akan sanggup melewatinya.” Naina berkata pelan.


Hampir satu jam duduk merenungi nasibnya di lantai kamar mandi, Naina berlari menuju kamarnya. Ia hanya bisa mengingat satu nama. Dengan tangan gemetar, mengusap layar ponsel dan menghubungi seseorang.


“Ya ....” Tak lama terdengar suara maskulin dari ujung panggilan.


“Mas, ini aku ... Naina,” sapanya buru-buru. Air matanya luruh saat mendengar kembali suara pria yang sanggup menggetarkan hatinya.


“Ya, ada apa, Nai?”


“Mas ... aku ... aku hamil, Mas,” ucap Naina terbata. Air matanya tumpah, menangis kencang sampai tubuhnya gemetar.


***


Tbc