Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 25


“Aku tahu ... dulu aku bersalah padamu, Mas. Aku terlalu keras kepala dan tidak mau mendengar penjelasanmu. Aku sudah mengetahui semuanya sekarang.” Naina berkata lirih.


“Sudahlah, itu masa lalu. Aku tidak akan menyalahkan siapa-siapa untuk semuanya. Tidak Dennis, tidak Mbok Sumi, tidak juga Stevi, apalagi mamaku. Lalu, bagaimana aku bisa menyalahkanmu juga, di saat aku juga tidak selalu benar, Nai. Aku hanya berharap diizinkan dekat dengan Wina. Hanya itu, aku tidak berharap lebih.” Wira menimpali ucapan Naina.


“Hanya satu hal yang aku tanamkan di dalam otakku, mungkin kalau kita sama-sama dewasa dan tidak egois menghadapi masalah, kisahnya akan sedikit berbeda.”


Terdengar helaan napas dalam. Seperti ada beban berat yang ingin dihempaskan Wira dari dirinya.


“Nai, aku ingin bertanya padamu ... andai dulu aku memilih jujur padamu sejak awal dan tidak menikahi Stevi, apa kamu akan tetap mengambil langkah perceraian?”


“Ya ....” Naina berkata dengan yakin, bahkan tidak memikirkan lebih dulu.


“Semudah itu kamu menceraikanku, Nai? Bahkan tanpa memberiku kesempatan?” tanya Wira terkekeh. Ia sudah mengenal Naina sejak lama, tentu ia sudah yakin akan mendapatkan jawaban ini.


“Rumah tangga itu hanya ada suami dan istri. Kalau ada orang ketiga, itu adalah buah cinta dari pasangan suami istri ini. Kalau ada orang lain, wanita lain, anak lain diluar kesepakatan kita, itu bukan rumah tangga lagi namanya, Mas. Aku tidak seperti wanita lain yang rela dimadu, yang rela menerima suamiku memiliki anak dari wanita lain. Mungkin di dunia ini banyak wanita berhati malaikat, tetapi Naina Pelangie bukan salah satunya, Mas.”


“Terima kasih, Nai. Setidaknya kamu tidak membuatku menyesali apa yang sudah aku lakukan selama ini. Aku juga terpaksa melakukannya.”


“Aku tahu, Mas. Aku sudah tahu semuanya. Aku tahu, siapa dalang dari kehancuran rumah tangga kita ....”


“Kamu sudah tahu, Nai?” tanya Wira tersentak. Selama ini ia mengira Naina tidak tahu apa-apa.


“Aku sudah tahu kalau Mas Wira tidak bersalah. Aku sudah tahu semuanya. Sama seperti Mas yang berpikir tidak mau menyalahkan siapa pun, aku juga mulai berdamai dengan semuanya. Aku tidak mau keras kepala lagi, karena ada Wina yang akan menjadi korban keras kepalaku. Aku menerima semuanya, mungkin ini jalan yang direncanakan Tuhan untukku,” jelas Naina.


“Ngomong-ngomong ... Mas tahu dari mana tentang kehamilanku?” tanya Naina, mengungkapkan penasarannya.


“Mbok Sumi menitipkan surat untukku di rumah lama kita bersama sebuah test pack bergaris dua. Di situ kalau aku tahu kalau kamu sedang hamil anakku. Setelah kuingat-ingat, sebelum masalah kita muncul bukankah kita juga sempat membahas masalah ini, dan aku belum sempat membawamu memeriksakan diri ke dokter.” Wira menjelaskan.


Naina tertegun. Mencerna kata demi kata yang baru saja dilontarkan Wira. Beberapa menit kemudia ekspresinya berubah setelah berhasil merangkai semua kisah lalunya. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya.


“Ja ... jadi sebelumnya Mbok Sumi sudah mengetahui kehamilanku. Bahkan ia menyimpan test pack milikku.” Kepala Naina berdenyut, tidak menyangkan wanita tua yang sudah dianggap ibunya sendiri itu terlibat sejauh ini. Ia hanya mengira Mbok Sumi mengetahui dan menutupi semua darinya, tidak terlibat langsung.


Mata Naina memanas, beberapa detik kemudian air matanya mengalir deras. Dulu, Mbok Sumi yang mendorongnya untuk mengecek dengan test pack. Wanita tua itu sangat yakin kalau ia hamil. Bahkan Mbok Sumi yang membelikannya test pack pada saat itu.


“Ya Tuhan, jangan katakan kalau Mbok Sumi yang menukar hasil test pack.” Naina mengusap kasar air matanya. Mengingat bagaimana Mbok Sumi yang memaksa masuk ke dalam kamar mandi untuk bisa melihat langsung hasilnya. Bahkan Mbok Sumi yang pertama kali mengetahui hasil pengecekan itu, karena Naina harus menerima panggilan telepon pada saat itu.


“Berarti semua sudah direncanakan Mbok Sumi. Aku ingat pada saat itu, berulang kali ponselku berdering dari nomor asing. Dan setiap diangkat selalu tidak ada suara sama sekali,” ungkap Naina tertunduk. Sesalnya semakin menjadi. Ia hanya bisa meratapi kebodohannya saat ini.


“Sudahlah. Aku tidak mau mengungkitnya lagi. Prioritas kita sama sekarang, Nai. Aku yakin ... kamu juga berjuang untuk Wina. Aku mohon terima tawaranku. Aku akan meminta Dion mengambil mobilmu di tempat mamaku.”


Lama Naina terdiam, mencoba menimbang semuanya. “Baiklah Mas, aku terima tawaran Mas tentang membiayai kebutuhan Wina. Aku juga tidak keberatan kalau Mas ingin dekat dengan Wina. Bagaimanapun, Wina putrimu. Mas juga berhak atas Wina. Untuk masalah rumah dan mobil ....” Naina berhenti sebentar, memandang Wira dari kegelapan malam.


“Untuk rumah dan mobil, aku mohon maaf. Aku tidak bisa menerimanya. Kalau keuanganku sudah membaik, aku akan mencari kontrakan lain yang lebih layak lagi.” Naina menjelaskan. Ia tidak bisa menerima pemberian Wira begitu saja walaupun itu sudah menjadi haknya. Ucapan Mama Wira masih membekas. Kehidupannya memang tidak baik, tetapi bukan berarti ia harus merendah.


Ia merasa masih sanggup menghidupi Wina dan dirinya. Ia masih muda, tidak membutuhkan belas kasihan siapa pun, termasuk Wira. Tenaganya masih kuat, otaknya masih bisa berpikir walaupun ijazahnya hanya sampai Sekolah Menengah Atas.


Naina harus menguatkan mentalnya selain membutuhkan fisik yang kuat. Mengurus seorang laki-laki yang tidak memiliki hubungan apa-apa dengan dirinya, termasuk mengurus hal-hal pribadi, memandikan, mengganti popok, membantu buang air kecil dan besar. Banyak lagi hal-hal pribadi lain yang harus dilakukannya sehingga ia harus mengesampingkan rasa jijik, malu dan sungkan.


Saat tidur pun ia harus selalu ada di sebelah Pieter, untuk membolak-balikan punggung pria itu secara berkala supaya tidak kelelahan. Hanya ia yang tahu masa-masa sulit itu. Terjepit di dalam kerinduan pada putrinya dan keadaan yang tidak berpihak padanya. Mengadu nasib di negri orang, berbeda negara, berbeda benua. Terhalang lautan yang begitu luas. Semua dilakukannya demi Wina.


Wira tersenyum. Naina tidak pernah berubah. Selalu keras untuk hal-hal yang diyakininya.


“Baiklah, aku anggap kita sepakat. Andai kamu berubah pikiran, tawaranku itu masih berlaku. Bagaimana pun itu milikmu dan Wina. Terima kasih, Nai.” Wira mengulurkan tangannya.


“Sama-sama, Mas.” Naina menyambut uluran tangan mantan suaminya tanpa keraguan.


“Berikan nomor ponselmu, Nai. Aku membutuhkannya,” pinta Wira.


Tanpa banyak protes, Naina langsung menyebutkan deretan angka dengan Wira yang memasukan langsung nomor ponsel Naina ke dalam ponselnya.


“Aku sudah mengirim pesan di nomor ponselmu, Nai. Kalau ada apa-apa, kamu bisa menghubungiku.”


“Ya, Mas. Aku harus kembali sekarang. Kasihan Wina, dia sudah mengantuk sekali.”


“Ya, sampaikan salamku untuk anak itu. Besok, aku akan kembali menemuinya.” Wira tersenyum getir menatap pergerakan Naina yang keluar dari mobilnya. Ujung matanya menatap bayangan perempuan itu berjalan menjauh. Semakin menjauh, perasaannya semakin hampa. Pria itu menjatuhkan kepalanya di kemudi.


Kalau tadi dia bersikap angkuh dan seolah-olah menjadi pria yang kuat. Sekarang pertahanannya runtuh. Berada di dekat Naina, perasaannya kian berantakan. Ketegarannya selama tiga tahun ini hancur hanya dengan mendengar suara Naina. Namun, ia tidak bisa memaksa, Naina bukan perempuan lemah. Naina terlampau kuat. Kalau boleh jujur, bahkan seorang Pratama Wirayudha tidak sekuat Naina Pelangie.


***


Hampir tiga minggu berlalu. Tidak ada lagi pertemuan antara Wira dan Naina. Ibu muda itu mulai disibukan dengan rutinitas pekerjaannya. Belajar hal-hal baru di perusahaan dengan bantuan Pieter dan Stella.


Dan Wira, pria itu tiap hari mengunjungi putrinya di jam-jam makan siang. Ia merasa lebih baik menemui Wina di saat Naina tidak ada di rumah. Setidaknya mantan istrinya tidak merasa tidak enak harus tatap muka dengannya setiap saat.


Siang itu seperti hari-hari sebelumnya. Wira turun dari mobil sportnya dengan menenteng kotak makanan dan sebuah boneka. Sudah menjadi kebiasaannya, selama hampir tiga minggu, Wira selalu makan siang dengan putrinya, Wina.


Senyum tidak pernah lepas dari bibir Wira, berjalan dengan kebahagiaan membuncah setiap akan menemui putrinya. Tepat saat kakinya melangkah semakin dekat dengan kontrakan Naina, ia terkejut melihat sosok pria lain yang sangat dikenalinya. Pria itu keluar dari rumah kontrakan Naina.


“Breng’sek! Mau apa dia di sini?” umpat Wira. Garis wajahnya mengeras, menahan amarah. Kalau ada yang harus disalahkan atas semua tragedi di dalam rumah tangganya, orang itu adalah Dennis. Meskipun ia sudah mencoba berdamai, tetapi setiap melihat pria yang tak lain kakaknya sendiri, amarahnya terpancing kembali.


“Apa yang kamu lakukan di sini? Untuk apa kamu menemui ....”


“Bukan urusanmu,” potong Dennis. Berjalan menjauh dan mengabaikan Wira yang tertegun menatap kepergiannya.


***


TBC