
“Bos, laporan dari orangku, sepertinya Naina sedang hamil.” Terdengar suara berat seorang laki-laki melapor dari ujung telepon.
“Yakin?” tanya Dennis memastikan.
“Yakin! Naina sendiri yang mengatakannya pada orangku. Dia mengatakannya sepertinya dia hamil, tetapi belum mengecek sama sekali,” jelas laki-laki di seberang.
“Bukankah bagus kalau Naina hamil. Wira akan semakin terpuruk.” Dennis tersenyum licik.
“Ya, Bos!”
“Jangan ya-ya saja! Keguguran Naina yang terakhir itu karena kelalaianmu juga. Harusnya orangmu saja yang mengantarnya pulang dari pada naik taksi tidak jelas yang berujung kecelakaan,” omel Dennis.
“Maaf Bos.”
“Kehamilan kali ini, harus benar-benar dijaga! Aku sudah menggelontorkan banyak uang untuk pembalasan dendamku ini. Aku menunggu detik-detik Wira ditinggal istrinya. Pasti manis sekali,” ungkap Dennis.
“Ada berita apa lagi?” tanya Dennis, mengulas senyuman tipis yang lama kelamaan semakin lebar. Tak lama berselang, tawa itu pecah.
“Laporkan semua padaku. Semuanya! Aku butuh semua tentang Wirayudha! Jangan sampai ada yang terlewatkan. Aku ingin melihat mereka hancur seperti aku dan papaku yang hancur dan terpuruk karena keluarga Wirayudha!”
“Baik Bos!”
“Kalau membutuhkan tambahan orang, aku tidak masalah. Setelah semuanya terbuka, tarik orangmu dari rumah Stevi, rumah Wira dan rumah ... perempuan sialan itu!” perintah Dennis.
“Baik Bos!”
“Masih butuh sampel rambutku dan putriku lagi?” Dennis terbahak. Membayangkan betapa bodohnya Wira dan keluarganya, sampai tidak sadar hidup mereka diawasi dua puluh empat jam selama tujuh tahun terakhir. Tidak ada satu pun yang luput dari pengawasan Dennis. Bahkan laki-laki itu mengetahui semuanya.
“Belum lagi, Bos. Belum ada laporan. Dari gerak geriknya, tidak ada yang mau berkunjung ke rumah sakit. Hahaha!” tawa terdengar dari seberang telepon.
“Aku tidak tahu bagaimana caramu melakukannya, tetapi aku akui selama ini orang-orangmu sangat profesional,” puji Dennis.
“Terimakasih, Bos!”
“Hahaha ... tetapi bagaimana pun, mereka keluargaku juga.” Wajah laki-laki itu terlihat sedih, sedetik kemudian terbahak kembali.
Bunyi panggilan terputus. Dennis masih berbahagia menyambut kemenangannya yang tinggal selangkah lagi. Tertawa tak berkesudahan saat mendapat informasi dari orangnya. Sebentar lagi dendamnya akan terbalaskan. Keluarga Wirayudha akan merasakan apa yang dulu dia dan papanya rasakan.
“Selamat menikmati hari-harimu, adikku tersayang Pratama Wirayudha.” Dennis berkata pelan.
Tawa Dennis kembali menggelegar. “Aku sudah tidak membutuhkan perempuan bodoh itu lagi! Biarkan Stevi ikut hancur bersama Wira.”
“Aku sudah menunggu lama untuk ini. Bersabar sedikit lagi sepertinya tidak masalah!” Dennis tersenyum licik.
Lama tertawa sendiri, tiba-tiba Dennis tertunduk, meneteskan air matanya. “Aku hidup untuk menunggu hari itu. Aku menghabiskan semua uangku untuk semua ini. Aku menanti hari di mana kamu menyesal karena telah membuangku, Ma."
***
Keluar dari rumah mertuanya, Naina bisa bernapas lega. Banyak beban yang terangkat, setidaknya dia tahu kalau suaminya masih setia padanya. Itu yang sampai sekarang membuatnya tegar dan kuat. Masuk ke dalam mini coopernya, Naina segera menghubungi Wira. Keputusannya sudah bulat dan tidak bisa diganggu gugat.
Nada sambung itu mengalun lembut di telinga, Naina masih menikmati sambil mencengkeram kemudi.
“Ya, Nai. Ada apa?” Terdengar suara lembut Wira mengalun di telinga.
“Mas, jangan pulang terlambat. Hari ini Nai masak makanan kesukaanmu, Mas,” ucap Naina dari seberang.
“Ya, Nai. Sekarang sudah di rumah atau masih di tempat Mama?” tanya Wira.
“Terserah Nai saja.”
“Ya, sudah. Nai mau jalan dulu, Mas. Takutnya nanti malah terjebak macet,” putus Naina.
“Ya. Hati-hati bawa mobilnya. Love you, Nai.”
“Love you, too Mas.” Suara Naina terdengar bergetar.
Sambungan telepon itu terputus, seiring dua bulir air mata menetes turun dari kelopak mata. Air mata yang ditahannya sejak tadi, sekarang luruh. Sudah seminggu ini dia menangis. Berharap setelah ini tidak ada tangisan lagi.
***
Mobil Wira masuk ke dalam pekarangan rumah saat hari menjelang senja. Begitu menjejaki kaki turun dari mobil, Wira disambut pemandangan langit kemerahan di ufuk barat. Indah sekali, pemandangan yang jaran didapatnya beberpa bulan belakangan. Dia terlalu sering pulang malam.
Sore itu, rumah terlihat sepi. Pastinya, Naina dan Mbok Sumi sedang sibuk di dapur.
Begitu kakinya melangkah masuk ke dalam rumah, laki-laki itu sudah disambut dengan aroma masakan yang memanjakan indra penciumannya. Lidahnya berdecap, menelan saliva. Kebetulan sekali, cacing di perutnya sudah berontak sejak tadi.
“Mbok, istriku di mana?” tanya Wira.
Begitu sampai di dapur tidak mendapati Naina di sana. Hanya Mbok Sumi yang terlihat sibuk mencuci perabotan rumah bekas memasak.
“Ibu sedang mandi, Pak.”
“Oh ....”
Tanpa menunggu lagi, Wira bergegas menuju kamarnya. Sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Naina. Mereka baru berpisah beberapa jam, tetapi rindu itu sudah membuncah lagi.
“Nai ....” panggil Wira, melangkah masuk ke dalam kamar.
Saat pintu kamar terbuka, tidak ada Naina. Hanya bunyi gemericik air kran dari kamar mandi.
Wira memilih menjatuhkan tubuh lelahnya ke atas tempat tidur. Mata teduhnya menatap langit-langit kamar, menerawang jauh. Memikirkan beban hidup yang begitu berat, memikirkan dosa dan kebohongannya yang pasti tidak termaafkan.
Mengusap kasar wajahnya, ekor mata Wira menangkap benda asing yang tidak biasa di atas nakas. Penasaran, membuat Wira bangkit dan meraih dua amplop putih beserta sebuah amplop coklat yang berukuran besar di bagian bawahnya.
“Apa ini?” tanya Wira, heran. Membukanya buru-buru. Tidak ingin berlama-lama berkutat dengan penasarannya.
Bagai disambar petir, jantung Wira bergemuruh saat melihat isinya. Hasil tes DNA, meskipun begitu dia masih berusaha tenang. Membuka amplop lainnya.
Ada banyak tanya, meskipun dia tahu ini semua bukan hal yang baik. Tidak mungkin baik-baik saja.
Beralih ke amplop coklat, ragu-ragu membukanya. Dunia Wira runtuh, berhenti seketika. Semuanya hancur saat membuka amplop coklat, amplop terakhir. Laki-laki itu bahkan tidak sanggup memegang kertas putih yang baru saja dikeluarkannya. Tangannya gemetaran saat memastikan isinya.
“Mas, kamu sudah pulang?” tanya Naina tiba-tiba mengejutkan. Suara Naina terdengar biasa, belum menyadari apa yang dilakukan suaminya.
Bukannya menjawab, sebaliknya Wira menatap lekat istrinya. Matanya memanas, mulai berkaca-kaca. Namun berusaha di tahannya supaya terlihat seperti laki-laki yang kuat.
“Nai, kamu serius menggugat ceraiku?” tanya Wira dengan wajah datarnya. Kertas putih itu terjatuh, tampak jelas tanda tangan Naina di atas materai selaku penggugat.
***
TBC