Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3. TAS 11


"Aku bingung." Wira menaikan kedua kakinya di atas meja kerja Pieter. Setelah sekian lama tidak berkunjung ke kantor RD Group, Wira kembali. Memanfaatkan jam makan siangnya, pria itu menemui Pieter.


"Apa lagi? Bukannya kamu sudah menikah. Sudah mau punya bayi lagi. Apa yang kamu bingungkan?" Pieter memainkan kedua alisnya.


Perasaannya? Jangan ditanya. Pieter hancur saat Naina menikah kembali dengan Wira. Ia sampai memutuskan tidak hadir dan menggunakan alasan tugas keluar kota. Hanya sebuah papan bunga turut berbahagia yang dikirimkannya di tempat pesta. Kerelaannya hanya sebatas bibir, tetapi hati tetap saja sulit untuk menerima. Walaupun faktanya ia adalah dalang dibalik terwujudnya pernikahan Wira dan Naina.


"Naina hamil anakku dan ...."


Pieter menegakan duduknya, bersiap mendengarkan berita yang akan disampaikan Wira selanjutnya.


"Naina mencintai pria lain." Kalimat itu lolos juga dari bibir Wira. "Aku bingung, mau tetap mempertahankan Naina atau melepaskannya saja." Wira menghela napas panjang, menandakan seberapa berat beban pikirannya saat ini.


"Aku tidak masalah menceraikan Naina, tetapi bagaimana dengan anak-anak kami. Bahkan, yang di dalam perut belum sempat menatap dunia. Aku tidak mau anak-anakku kehilangan Ayah dan Bundanya. Aku melihat sendiri bagaimana Wina selama ini."


"Lalu?" Pieter mengerutkan dahi. "Menikah dengan wanita yang mencintai pria lain ... itu benar-benar menyakitkan, Bro. Dan aku melepaskan Naina karena itu. Bayangkan, kita tidur bersama, berbagi ciuman, pelukan dan peluh. Tapi, hatinya untuk orang lain. Aku pribadi tidak siap. Makanya aku melepaskan Naina," lanjut Pieter dengan wajah serius.


"Dan ... kalau yang dimaksud itu masalah kebutuhan, tinggal jajan di luar sana. Tidak perlu diikat." Pieter tergelak. "Bukankah menikah dengan wanita yang tidak mencintai kita sama saja rasanya. Kita menyatu tanpa rasa. Kalau wanita penjaja tubuh di luar sana melakukannya karena uang, dan kasusmu ... Naina melakukannya karena kewajiban."


Kembali terdengar helaan napas panjang, Wira tengah menghempaskan beban berat di dalam hatinya.


"Lalu, apa yang kamu rencanakan?" tanya Pieter lagi.


"Aku tidak tahu, Bro. Andai bisa berpisah, aku lebih memilih berpisah. Mungkin, aku dulu terlalu percaya diri. Dan yakin ... kalau Naina tidak akan berpaling dariku. Begitu mengetahui kenyataannya, sakitnya berkali lipat, aku tidak siap." Wira memejamkan mata sembari meremas rambutnya.


Pieter menyimak.


"Mungkin akan berbeda andai aku tahu sejak awal, aku akan menyiapkan hatiku. Dan, aku baru mengetahuinya sehari setelah pernikahan kami. Itu bukan dari orang lain. Aku mendengar sendiri ucapan Naina." Wira tersenyum kecut.


"Dia mengungkapkan perasaannya sendiri, Bro. Di mana seorang Naina yang aku kenal, biasanya lebih memilih memendamnya dalam diam. Naina yang aku tahu, lebih sering menggunakan logikanya dibanding perasaan." Emosi Wira mulai naik.


"Naina yang selalu mempertimbangkan banyak hal. Sampai dia sanggup jatuh cinta pada musuhnya sendiri, artinya cinta Naina pada Dennis Wijaya bukanlah cinta sesaat. Cinta yang dirasakan Naina bahkan melebihi rasa bencinya, Bro."


"Dennis Wijaya?" Pieter memastikan.


Wira mengangguk. "Aku iri padanya. Dia bisa mendapatkan cinta Naina yang luar biasa."


"Aku tidak bisa membantumu." Pieter tersenyum. "Keadaannya sudah berbeda. Ini masalah rumah tangga. Orang luar tidak berhak ikut campur," lanjut Pieter.


***


Seminggu berlalu, kondisi Mama Wira makin membaik. Hampir setiap hari Naina dan Wira mengunjungi rumah sakit selepas pulang kerja atau di jam makan siang untuk menemani Papa Wira. Hubungan Naina dengan Mama Wira pun mulai mencair. Perempuan kurus yang terbaring tak berdaya di atas tempat tidur rumah sakit itu tidak pernah membahas masalah pernikahan Wira. Seakan paham akan semua yang terjadi.


Siang itu, Naina tengah menyuapi mama mertuanya makan siang, menggantikan tugas sang papa mertua yang kini tengah mencari makan di kantin rumah sakit. Tangannya masih menggantung sambil memegang gagang sendok saat pintu kamar perawatan terbuka tiba-tiba.


Naina tertegun menatap sosok gagah yang tengah menggendong gadis kecil berusia lima atau enam tahun. Pria yang beberapa bulan belakangan menghilang di dalam hidupnya dan sekarang muncul di depan matanya.


Saat ini, ketika bertemu lagi, ada rasa yang berbeda. Naina canggung, dan Dennis juga merasakan hal yang sama.


"Nai, apa kabarmu?" Dennis menyapa Naina duluan. Ia bisa melihat lawam bicara yang tengah tertegun menatapnya.


"Ma, apa kabar?" Dennis menyapa dan membawa putrinya mendekat. "Sapa Oma, Sayang." Dennis menurunkan gadis kecil yang kini disapa Angie di atas brankar.


Mama Wira tiba-tiba menitikan air mata, memandang sendu pada gadis kecil yang memeluk pinggang Dennis dengan erat. Semua begitu mendadak. Kedatangan Dennis di luar dugaannya. Perempuan dengan pakaian pasien rumah sakit itu menangis bahagia.


"Dia Nola?"


"Panggil Angie, Ma. Semua orang memanggilnya Angie. Putriku sudah tidak terbiasa dipanggil Nola," jelas Dennis, melirik ke arah Naina sekilas. Ia tidak berani memandang Naina terang-terangan. Melepas kerinduannya dengan caranya sendiri.


Ibu hamil itu terlihat lebih gemuk, pipi Naina mulai berisi dengan perut membulat tercetak di gaun katunnya.


"Wira belum ke sini, Ma? Tadi, aku sempat menghubunginya saat di perjalanan." Dennis menarik kursi dan duduk di sisi tempat tidur.


Naina yang tidak mau mengganggu obrolan ibu, anak dan cucu itu memutuskan untuk pergi. Tampak ia bersiap-bersiap merapikan tas tangannya dan mencari kesempatan untuk berpamitan.


Hampir lima belas menit menunggu, akhirnya Naina bersuara. "Ma, aku pulang dulu." Naina berdiri di sisi lain, berseberangan dengan Dennis.


"Kamu tidak menunggu Wira, Nai?" tanya Mama Wira, menatap menantunya yang tertunduk.


Naina mengangkat pandangannya sekilas dan menggeleng. Ia tidak mau beradu pandang dengan Dennis. Pria misterius itu bisa membaca isi harinya hanya dengan menatap bola matanya. Naina tidak ingin Dennis tahu masalah yang kini menimpa rumah tangganya.


"Mas, aku permisi dulu." Naina tersenyum datar sembari mengusap pucuk kepala Angie.


***


Naina baru saja akan keluar saat pintu kamar itu terbuka. Muncul Wira dengan setelan kerjanya, melangkah masuk dan menatap tajam Naina.


"Mas ...." Naina menyapa.


"Mau ke mana?" tanya Wira pelan sembari meraih tangan Naina dan mengajak istrinya masuk. "Ikut aku!" bisik Wira, menurunkan cekalan tangannya pada pergelangan tangan Naina. Ia menautkan jemarinya pada jemari lentik sang istri.


"Mas, di dalam ada Mas Dennis." Naina berbisik, mengikuti pergerakan kaki Wira yang setengah menyeretnya.


Kehadiran Wira yang tiba-tiba mengalihkan perhatian penghuni kamar.


"Wir, kamu datang?" Dennis menoleh, tatapannya tertuju pada tangan Wira dan Naina yang saling menggenggam


Tersenyum, Dennis bicara dalam hati. "Sikapmu yang seperti ini, makin membuktikan kalau hubungan kalian tidak baik-baik saja."


"Apa kabar?" Wira memeluk Dennis duluan.


"Baik. Kamu sendiri?" tanya Dennis.


"Sangat baik. Ya 'kan, Sayang?" Wira menatap dan mengecup punggung tangan Naina yang digenggammya dengan penuh cinta.


***


Tbc