Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3. Tas 21


"Kamu mungkin cinta pertama Naina. Bersamaku ... entahlah. Naina banyak berubah dan menutup diri sekarang. Aku tahu kami berasal dari dunia yang berbeda. Kalau dulu, dia tidak begini dan berusaha masuk ke kehidupanku. Sekarang, Naina banyak berubah. Dia memilih berdiri di luar, tidak berani melangkah masuk kalau aku tidak mengajaknya masuk. Dia merasa asing ... dan masih membatasi dirinya dariku."


Dennis menyimak dalam diamnya.


"Aku tahu ... dia berjuang selama ini untuk tetap di sampingku ...."


"Apa yang bisa aku lakukan untukmu?" potong Dennis. Akhirnya pria itu bersuara.


Wira tergelak. "Kamu paling pintar menyusun rencana licik. Harusnya kamu tahu apa yang harus kamu lakukan untuk mengembalikan Naina padaku."


Wira menghela napas panjang. Ia lelah dengan semuanya.


"Dulu kamu membuatnya membenciku dan perlahan merebutnya dariku. Bukankah rasanya tidak adil untukku. Sekarang, kamu mengembalikannya padaku, tetapi tidak seutuhnya. Kamu mengambil hatinya. Kembalikan hatinya padaku. Percuma aku melimpahkan semua perasaanku padanya, kalau di dalam dirinya masih menyimpanmu. Aku tidak bahagia, Naina juga tidak akan bahagia, terlebih dirimu. Aku yakin ... kamu juga akan menangis saat melihat Naina terluka hidup bersamaku."


"Apa yang kamu inginkan?" tanya Dennis.


"Daripada kita bertiga menderita bersama, bukankah lebih baik kamu sedikit berkorban untuk kita. Apa lagi semua ini terjadi karena ulahmu. Semuanya berantakan, hancur dan tak seorang pun mendapat kebahagiaan."


Dennis bungkam.


"Apa kamu puas setelah melihat rumah tanggaku hancur, Wina kehilangan sosok ayahnya, rumah tangga Mama dan papaku berantakan karena ulahmu, Stevi hilang kewarasannya dan aku yakin ada banyak lagi. Apa sekarang kamu bahagia dengan semua yang kamu ciptakan?"


"Maafkan aku. Aku tahu ... aku yang paling bersalah. Dan Naina menunjukan padaku dunia itu seperti apa. Dia yang mengajarkanku mengurai dendam dan mengerti arti memaafkan. Dia yang mengajarkanku arti seorang ibu." Suara Dennis terdengar bergetar.


"Aku sudah memaafkanmu. Aku sangat memahami perasaanmu. Aku akui, kamu menjaga Naina dan putriku dengan baik. Terlalu baik, sampai dia jatuh cinta padamu." Wira tersenyum kecut. Hatinya sakit saat mengucapkan kalimat terakhir.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Dennis lagi.


"Kalau kamu benar-benar menyesal, tolong kembalikan Naina dengan cara yang sama seperti saat kamu merebutnya dariku. Kamu membuatnya membenciku. Buatlah dia membencimu sekarang. Aku rasa itu baru disebut keadilan," pinta Wira.


Lama terdiam, akhirnya Dennis bersuara. "Baiklah. Jaga Naina dengan baik saat aku membuatnya menangis." Suara Dennis bergetar menahan tangis. Ia tidak tega, tetapi mungkin ini yang terbaik.


"Aku suaminya ... tentu saja aku akan menjaganya," potong Wira.


"Baiklah."


"Terima kasih. Seberapa besar aku membencimu, aku tidak bisa memungkiri kalau kita berbagi rahim yang sama. Aku tidak bisa menghindar dari takdir yang Tuhan buat untukku. Bersembunyi di lubang sekecil apa pun, kamu tetap kakakku. Itu faktanya. Kita lahir dari perempuan yang sama." Wira memutuskan sambungan teleponnya. Tampak pria itu menghela napas berat, menandakan beban berat sedang menekan dadanya.


Setelah mengeluarkan isi hatinya, perasaan Wira jauh lebih lega. Keluar dari ruang kerja, pria itu terkejut saat mendapati Naina hendak masuk ke kamar Wina.


"Mau tidur di mana, Nai? Wina tidur bersamaku sekarang. Siapa yang akan menenangkannya saat tengah malam gadis kecil itu menangis." Wira bersuara sambil berjalan menuju ke kamar tidurnya.


"Baik, Mas." Naina cukup paham maksud dari ucapan sang suami. Berbalik arah, ia mengekor langkah Wira masuk ke dalam kamar.


"Tidurlah, Nai. Sudah malam," ucap Wira saat melihat Naina ikut masuk bersamanya. Pandangannya beralih pada Wina, putrinya sedang terlelap di tengah ranjang.


"Ya, Mas." Naina menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, diusapnya dahi Wina yang tertutup helaian rambut berantakan.


Ibu hamil itu baru akan meluruskan kakinya di tempat tidur saat menangkap pergerakan Wira yang berjalan ke arah pintu.


"Mas mau ke mana? Belum mau tidur?" tanya Naina sembari melirik ke arah jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 malam.


Wira berbalik dan berjalan mendekati istrinya. Ditariknya selimut tebal untuk menutupi Naina sampai ke dada.


"Aku masih ada sedikit pekerjaan. Kenapa?" tanya Wira. Berdiri membungkuk dengan satu tangan menahan di kepala tempat tidur, tangan Wira yang lain tengah mengusap perut besar Naina.


"Tidak apa-apa, Mas." Naina menggeleng sambil merapikan duduknya.


"Kenapa tidak nyaman?" tanya Wira lagi. "Mau ditambah bantal?" tawar Wira, melihat Naina yang bersadar di tempat tidur.


"Tidak, Mas."


"Ya, sudah. Vitaminnya sudah diminum?" tanya Wira lagi. Beberapa hari ini, Wira belajar banyak tentang kehamilan Naina.


"Sudah, Mas."


"Ya, Mas."


"Istirahatlah. Kamu tidak boleh terlalu lelah." Wira membungkuk dan melabuhkan kecupan di perut Naina.


"Ya, Mas." Naina tersenyum saat melihat Wira berbisik-bisik di perutnya. Entah apa yang diucapkan Wira pada calon buah hati mereka. Bahkan, jemari Wira ikut menggelitik di bagian pusar yang tampak menonjol keluar.


"Mas, jangan seperti itu ... geli." Naina tergelak dan mendorong kepala Wira agar menjauh dari perutnya.


"Maaf, anakku yang minta digaruk tadi." Wira ikut tertawa saat melihat wajah Naina.


"Ya sudah. Aku keluar dulu." Tanpa permisi, tiba-tiba Wira mengecup kening Naina. "Good night," bisik Wira pelan.


Naina tersenyum, teringat tugasnya setiap malam. "Aku mencintaimu, Mas."


Deg--


Wira tertegun sejenak. "Loh, bukannya aku sudah mengambil jatah malam tadi. Apa hari ini dapat bonus lebih." Wira terlihat berpikir sebentar, kemudian melangkah pergi dengan mengulum senyuman.


***


Beberapa hari kemudian.


Naina mulai terbiasa dengan kehadiran Wira di dekatnya. Perlahan, ibu hamil itu mulai melunak meskipun belum sepenuhnya membuka diri. Kata perceraian yang diucapkan Wira di rumah sakit, sering membayangi. Setiap mengingat waktu yang tertinggal hanya tiga bulan lagi, perasaan Naina tiba-tiba menjadi sedih.


Malam itu seperti malam-malam sebelumnya, Wina meminta tidur di kamar Wira dan membuat Naina pun harus berbagi ranjang dengan suami dan putrinya. Mengusap pelan punggung Wina, Naina menemani putrinya sembari menyenandungkan nina bobo sampai gadis kecil itu terlelap.


"Nina bobo ... oh nina bobo. Kalau tidak bobo digigit nyamuk. Nina bobo ...."


Suara Naina tiba-tiba berhenti saat terdengar suara pesan masuk di ponselnya.


"Siapa yang mengirim pesan malam-malam begini. Tidak mungkin karyawan toko ...." Naina mengerutkan dahi sembari mengusap layar ponselnya.


Ibu hamil dengan daster batik itu terbelalak saat membuka pesan video dan foto yang dikirim dari nomor asing.


Deg---


Video berdurasi 20 detik, seorang pria tampan sedang duduk bertelanjang dada. Di pangkuannya tampak seorang wanita berambut pirang dalam keadaan tanpa busana. Keduanya sedang berciuman mesra. Tidak ada keterangan apa pun. Di foto-foto yang lain, Naina bisa melihat sang pria dengan banyak wanita yang berbeda. Tidak kalah mesranya. Dari berciuman, berpelukan bahkan berbagi selimut di atas tempat tidur.


"Mas Dennis," bisiknya nyaris tidak terdengar. Suara itu bergetar, Naina berusaha menahan rasa yang bergejolak di dalam hatinya. Matanya tiba-tiba memanas, dua bulir air mata melaju turun tidak tertahankan. Naina harus menggigit bibirnya agar isak tangisnya tidak terdengar keluar.


Naina tengah menutup mulutnya dengan telapak tangan saat Wira masuk ke dalam kamar. Pria itu heran saat melihat Naina yang tampak terguncang.


"Nai, kamu baik-baik saja?" Wira kaget saat melihat tubuh Naina bergetar sambil menggenggam ponsel.


"Ada apa?" Wira menjatuhkan tubuhnya, duduk di sisi Naina.


"Mas ...." Naina tiba-tiba memeluk erat Wira dan menangis.


"Kenapa menangis?" tanya Wira.


Naina tidak menjawab, sebagai gantinya ia mengeratkan pelukannya dan menangis di dada Wira.


"Maafkan aku, Nai. Aku terpaksa." Wira membatin sembari mengusap lembut punggung Naina untuk menenangkan.


Ia tahu jelas apa yang menyebabkan Naina terguncang. Sebelum Dennis mengirimkannya pada Naina, foto-foto dan video itu sudah mendarat mulus di ponselnya.


-


-


-