Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 4


Wina, Austria.


“Bukankah dia sudah menikah?” tanya David pada Pieter di ruang rapat.


Baru saja mereka selesai mengadakan meeting, keduanya masih duduk mengitari meja kayu panjang mengkilap kecokelatan dengan berkas berhamburan di atas meja. Tertinggal mereka berdua, karyawan lain sudah bergegas keluar untuk makan siang.


“Aku yakin itu hanya kebohongannya pada semua orang. Kalau Angel bersuami, tidak mungkin diizinkan pergi sejauh ini. Apalagi putrinya masih terlampau kecil untuk ditinggal,” jelas Pieter, tersenyum licik.


David mengangguk mendengar penjelasan Pieter. Memang kalau dipikir ulang, penjelasan Pieter cukup masuk akal dan beralasan.


“Ok, kamu mau diantar menemui Angel?” tawar David, menyudahi obrolannya.


Perutnya pun sudah memberontak minta diisi pasta atau steak. Tidak ada pecel lele atau ayam kalasan di Wina, apalagi soto tangkar dan sejenisnya. Hampir bosan melihat menu yang itu-itu saja setiap hari. David sudah merindukan nasi liwet, nasi uduk, nasi kuning apalagi nasi padang. Lidahnya terlalu nasionalis. Setahun tinggal di sini, tetap tidak sanggup melupakan aroma rempah khas Indonesia.


“Ok!” Pieter mengangguk. Terlalu lama berpisah denga Naina, rindunya mulai membuncah. Dengan dibantu David, ia menyusuri tiap sudut kantor KRD untuk mencari Naina.


***


Naina sedang berada di pantry, menikmati gorengan panas yang baru saja keluar dari penggorengan. Terlalu lama menunggu, bosan menyapanya. Memilih pantry sebagai tempat menghabiskan waktu, Naina sudah sangat hafal dengan karyawan yang bertugas menyajikan minuman untuk setiap karyawan bahkan tamu yang berkunjung. Mereka asli Indonesia, dipekerjakan untuk melayani petinggi KRD yang rata-rata juga seorang Indonesia.


“Kamu di sini, Angel?” tiba-tiba terdengar suara dari belakang.


“Bapak? Ada apa?” tanya Naina dengan polosnya. Berbalik menatap pria yang disodorkan padanya. Pieter duduk manis di atas kursi roda, tersenyum menatap ke arahnya.


“Aku tinggal dulu,” pamit David, beranjak pergi.


“Apa yang kamu makan?” tanya Pieter, memainkan wajahnya menunggu jawaban.


“Gorengan. Bapak mau?” Tanpa bertanya lebih, Naina meniup sisa gorengan di tangannya dan menyodorkannya ke mulut Pieter. Sudah menjadi hal yang biasa, bagi keduanya berbagi hal-hal kecil seperti ini.


“Not bad.” Pieter terkekeh, menatap lekat wanita cantik di depannya. Ada banyak kebahagiaan selama setahun ini dihabiskannya bersama Naina. Mereka melewati hari-hari berat bersama, melewati banyak hal berdua yang tidak diketahui orang lain. Menangis bersama, tertawa bersama. Saling menyemangati, saling berbagi keluh kesah.


Kalau Naina menjadi saksi masa-masa terpuruknya, menjadi penyemangat hingga bisa di posisi saat ini. Bisa menerima keadaan terburuk di dalam hidupnya. Sebaliknya, ia menjadi saksi di mana Naina menangis untuk kerinduan pada putri semata wayang yang ditinggalnya.


“Masih mau, Pak?” tawar Naina lagi. Beralih menatap karyawan pantry yang berusia paruh baya sedang menggoreng sisa adonan.


Pieter menggeleng. “Kita pulang saja. Aku lelah seharian duduk. Kamu bisa membuatkanku di rumah nanti.”


***


Jakarta, Indonesia.


Wira terbangun dari lelapnya saat hari sudah menggelap. Waktu menunjukan pukul delapan malam saat ia terjaga dari ranjang empuk di rumah mamanya. Perutnya lapar, sejak pulang kantor belum diisi apa pun.


Meraih jam tangan mahalnya dari atas nakas, Wira terlihat menguap beberapa kali. Ia harus segera pulang ke kediamannya. Sejak terbongkarnya semua masa lalu, Wira memutuskan keluar dari rumah masa kecilnya. Memutuskan tinggal sendiri, tidak ingin mama dan papanya terlalu ikut campur dan mengintervensi hidupnya. Mereka mungkin bisa menyarankan, tetapi keputusan ada di tangannya. Ia tidak ingin hidupnya diatur lagi seperti dulu.


“Ma, aku pulang dulu,” pamit Wira, sembari melipat lengan kemejanya. Jas hitam tersampir di lengan bawahnya. Masih sempat menatap sekilas gadis cantik yang duduk di samping sang mama, mempersembahkan senyuman manis padanya


“Wir, kamu belum berkenalan dengan Rika,” ucap sang mama, berdiri menghampiri putranya.


“Wir, jangan seperti ini. Rika sudah jauh-jauh datang ke sini untuk bertemu denganmu,” pekik sang mama, menyusul.


“Wir ....”


“Cukup, Ma. Aku benar-benar lelah sekarang. Aku tidak berminat menikah lagi. Kalau mama menyukainya, bisa meminta papa menikahinya. Bisa dijadikan istri kedua,” sahut Wira asal. Membuat sang mama melangkah masuk kembali ke dalam rumah, menahan kesalnya.


Percuma membujuk Wira, putranya semakin hari semakin keras kepala. Semakin ditekan, semakin menjauh. Semakin dibujuk, semakin juga menolak.


Selepas kepergian mamanya, Wira meneriakan sang asisten. Entah ke mana menghilangnya pria muda yang setahun belakangan menemani hari-harinya. Menemani malam sepi dan tangisnya setiap mengingat Naina dan anak mereka.


“Will! Kamu di mana?” teriaknya dari teras rumah.


Tak lama, anak muda dengan setelan rapi muncul di hadapannya. “Ada apa, Bos?” tanyanya dengan wajah letih.


“Kita pulang sekarang!” perintah Wira, sembari merogoh saku celana. Mengeluarkan ponselnya setelah dentingan pesan masuk tiba-tiba mengalihkan konsentrasi pria itu.


Terlihat serius, Wira mengerutkan dahi setelah membaca pesan masuk dari seseorang.


“Will, kita ke restoran dekat kantor. Tempat biasa,” pinta Wira, mengubah destinasinya seketika.


“Hah?” William terperanjat. Butuh beberapa detik untuknya sebelum mengiyakan perintah Wira.


“Aku harus menemui Jack lagi, sepertinya dia mendapat sedikit titik terang. Entahlah, bagaimana hanya seorang wanita lemah dan anaknya saja mereka tidak sanggup menemukannya. Aku khawatir ada seseorang yang membantunya,” ucap Wira, memijat pelipis, sejenak. Ia memilih duduk di samping William, asisten yang sedang menggenggan kemudi mobil.


“Aku sudah mengacak-acak Yogyakarta. Jangankan Naina, bahkan jejaknya pun tidak ada. Sudah bolak-balik mencari keberadaan bibinya. Semuanya menghilang, seperti lenyap ditelan bumi,” adu Wira.


William hanya menjadi pendengar, tidak membantah atau pun menyanggah. Sejak memutuskan ikut dengan Wira, Wiliam lebih banyak menjadi teman curhat dibanding penasehat. Untuk masalah pribadi, William tidak tahu menahu. Ketika ia mulai bekerja, Wira sudah menjadi pria single tanpa istri apalagi kekasih. Wira memilih menjadi jomblo sejati. Hidup untuk harta, tahta dan benar-benar tanpa wanita selama ini. Hanya mengucapkan satu nama, Naina. Yang sampai sekarang belum juga diketemukan.


Malam itu, jalanan lumayan ramai meskipun sempat tersendat di beberapa titik. Mobil yang dikendarai William masuk ke sebuah restoran cepat saji di bilangan Jakarta Pusat.


“Will, kamu mau tunggu di mobil atau ikut masuk. Atau mau cari makan di luar?” tanya Wira.


“Aku cari makan di dekat sini saja, Bos.”


“Ok.” Tampak Wira mengeluarkan dompet dari kantongnya. Menyerahkan selembaran uang seratusan ribu rupiah.


“Aku akan menghubungimu begitu selesai,” ungkap Wira. Berlari masuk ke dalam restoran.


Bruk! Tergesa-gesa, membuat pria itu tanpa sengaja menabrak seorang wanita dengan seragam pelayannya. Mata Wira membulat saat menyadari siapa yang baru saja ditabraknya.


“Stevi?” ucapnya nyaris tidak percaya.


***


TBC