Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari anakku 75


“Mas, tolong aku.” Naina menarik gaun panjangnya dan memamerkan kaki indah yang terbungkus sneakers silver. Wira tidak mengizinkannya mengenakan sepatu dengan hak tinggi. Pria itu khawatir akan memengaruhi kehamilannya yang baru memasuki trimester pertama.


Wira tersenyum, menatap ikatan sepatu Naina yang terlepas. Tanpa ragu, pria dengan setelan jas putih itu berlutut dan merapikan simpulan tali di sepatu mantan istrinya yang akan berubah menjadi istri beberapa menit lagi.


“Mulai sekarang, biarkan aku yang melakukannya untukmu, Nai.” Wira mendongak, tersenyum manis menatap Naina. “Aku mau membayar tiga tahun yang terlewati. Biarkan aku menebusnya.” Wira melempar senyuman kembali.


Naina merengut, ia sudah kesal sejak awal masuk ke dalam kamar hotel. Wira tidak mengizinkannya mengenakan sepatu indah layaknya pengantin wanita pada umumnya. Sebagai gantinya, Wira meminta William membelikan Naina sneakers modis berwarna silver.


Wira tergelak. “Sayang, jangan begini. Kamu seperti terpaksa menikah denganku.” Wira berkomentar setelah melihat wajah cemberut Naina.


“Ini aneh, Mas.” Mata sendu itu menatap high heels 5 cm yang disiapkannya dari rumah. Tadinya ia berpikir akan mengenakannya saat mengucapkan janji suci bersama Wira.


“Kamu tetap cantik di mataku, Nai.” Wira menggandeng tangan Naina keluar dari kamar menuju ke tempat acara. Wina, putri mereka sudah lebih dulu menuju ke lokasi bersama Rima dan ditemani Papa Wira yang siang itu hadir bersama Ratih dan Nonik. Ada juga Barata Wirayudha, sepupu Wira yang diminta menjadi salah satu saksi pernikahan kedua mereka.


***


“Sah!”


Wira bernapas lega saat berhasil menyematkan cincin pernikahan di jari manis Naina. Lonceng pernikahan berdenting, diiringi tepukan para tamu undangan yang hanya diisi para kerabat dan sahabat dekat. Senyum tak pernah lepas dari bibir Wira, pria itu menggenggam erat tangan Naina yang senantiasa berdiri di sampingnya, melempar senyuman yang sama.


“Nai, kamu lelah?” tanya Wira berbisik. Ada kekhawatiran yang lebih dari sekedar kata. Istrinya tidak sendirian, Naina bersama bayi mereka yang meringkuk tenang di dalam rahim.


“Kalau lelah ... kamu bisa duduk,” saran Wira.


“Tidak, Mas. Aku baik-baik saja.”


Setelah acara sakral, mengucapkan janji suci kemudian diikuti menandatangani dokumen pernikahan, pengesahan secara agama dan negara, mereka masih harus menjamu para rekan dan keluarga di lokasi yang sama. Wira sengaja meminta asistennya mengatur semua acara di satu tempat. Ia tidak mau Naina kelelahan dan berimbas pada bayi mereka.


Deretan meja dan kursi ditata sedemikian rupa, sebagian sudah terisi dengan rekan kerja dan keluarga. Funtion hall yang sudah didekorasi indah dengan nuansa rose gold. Naina yang duduk semeja dengan Papa Wira dan ibu tirinya, terlihat berbincang santai sambil menikmati sajian. Wira sendiri tampak mondar-mandir menyapa rekan kerja dan sahabatnya.


“Nai, setelah menikah ... kalian tinggal di mana?” tanya Papa Wira, menatap menantunya sekilas.


“Di apartemen Mas Wira, Pa.” Naina menjawab sambil memasukan potongan salmon ke dalam mulutnya. Duduk di sebelahnya, Wina yang tengan disuapi makan oleh pengasuhnya. Gadis mungil itu tampak bahagia sepanjang acara. Apalagi saat melihat Ayah bundanya yang saling bergenggaman tangan dan memeluk, Wina sudah ingin berlari mendekat dan bergabung.


“Oh, tolong sering-sering menjenguk ke rumah. Sejak Mama masuk rumah sakit, Papa belum kembali ke sana lagi.” Papa Wira berkata pelan. Ada perih yang tidak tersampaikan, ada rasa bersalah yang tidak terucap di dalam raut pria berusia senja itu.


“Ya, Pa.”


“Kalian ....” Papa Wira terdiam, tidak dapat melanjutkan kalimatnya saat matanya menangkap sosok Dennis yang tiba-tiba masuk ke tempat acara. Pria itu menghampiri Wira yang tengah berbincang dengan Bara.


Bibir kering itu tersenyum. Ia bisa sedikit lega saat ini. Melihat Dennis yang bisa akur kembali dengan Wira, melihat Bara yang bisa merangkul Wira. Mereka bertiga layaknya saudara. Ada beban yang terhempas dari pundak Papa Wira. Kelegaan yang baru di dapatnya setelah melewati setengah abad usinya.


Sudah lama sekali ia ingin membagi semua rahasia ini. Namun, ia terikat janji pada banyak orang. Mungkin ia dan Mama Wira akan melakukan hal yang sama seperti yang lain. Akan bungkam sampai nyawa terlepas dari raga. Biarlah rahasia ini akan dibawa mati dan terkubur bersama tanah.


Wira, putra yang didapatnya dengan program bayi tabung di luar negri. Tidak semua negara melegalkan proses bayi tabung dengan donor sp'erma. Sesuai dengan kesepakatan keluarga besar Wirayudha, ia yang divonis tidak bisa mendapatkan keturunan setelah beberapa tahun berjuang, akhirnya bisa berkesempatan menjadi seorang ayah walaupun bukan dari benihnya. Setidaknya bayi yang dikandung dan dilahirkan istrinya, juga mengalir darah Wirayudha. Berhak mewarisi kekayaan, aset dan perusahaan keluarga.


“Pa, kamu baik-baik saja?” tanya Naina, heran. Di tengah keramaian pesta, Papa mertuanya malah melamun.


“Ya, Nai. Papa baik-baik saja.” Papa Wira buru-buru menegakan duduknya dan bersikap biasa. Ratih, sang istri siri buru-buru menggenggam tangan suaminya di bawah meja. Wanita muda itu sangat paham dengan kebiasaan suaminya.


Naina mengikuti arah pandangan Papa mertuanya, ia bisa melihat Dennis sedang berbincang dengan Wira dan Bara. Pria itu terlihat tampan dengan balutan jas hitam. Dennis bahkan tidak menyapanya, hanya mengirim seyuman sekilas dari kejauhan.


***


“Wir, aku akan terbang ke Amerika, besok siang.” Dennis tiba-tiba berbicara serius. “Aku tidak tahu kapan akan kembali. Aku titip Mama,” lanjut Dennis.


Wira tersentak. Senyum bahagia di bibirnya hilang. Berganti meneliti pria dewasa di hadapannya.


“Ada apa?” tanya Wira.


“Aku akan menetap di Amerika. Angie sudah mulai sekolah ... dan aku tidak bisa meninggalkannya lagi.” Dennis melirik ke arah Naina. Wanita itu bahkan mengacuhkannya.


“Aku bisa minta bantuanmu?” tanya Dennis ragu.


“Ada apa?”


“Stevi ... mengenai Stevi. Kalau ada waktu, tolong bantu aku mengawasinya. Aku sudah membayar orang untuk merawat dan menjaganya. Tapi ... itu tidak cukup. Harus ada seseorang yang mengawasinya. Tidak perlu tiap hari. Mengenai biaya .. aku akan menanggungnya. Bagaimana pun, Stevi adalah ibu kandung Angie, putriku.” Dennis berkata lirih.


Wira tersenyum. “Jangan khawatir. Aku pikir Naina juga tidak keberatan. Kemarin, kami sempat membahas masalah Stevi.” Wira menepuk pelan lengan Dennis, yang diakhiri dengan pelukan hangat.


“Terima kasih sudah mau menghadiri pernikahanku,” ucap Wira di sela pelukannya.


“Sama-sama.”


***


Tbc


Sambil menunggu, bisa mampir di karya temanku ya. Tidak kalah seru dan sudah END