
Waktu sudah menunjukkan pukul 02.30 dini hari saat Naina merasakan serangan luar biasa di perutnya. Sakit yang lebih dari sebelumnya, membuat Naina tidak sanggup lagi sekadar menyerukan nama suaminya.
“Mas ....” Naina berkata lirih setelah merasa cairan merembes turun dari inti tubuhnya. Ia baru saja kembali dari toilet.
Berjalan tertatih-tatih, tadinya ia tidak mau membangunkan Wira yang terlelap di sofa.
“Mas ....” Naina kembali bersuara. Ia merasa ini adalah saatnya sang jagoan datang.
“Mas ....”
“Mas ....”
“Mas.” Sembari mengusap perutnya, Naina mengernyit menahan sakit.
Wira tersentak. Pria yang masih mengantuk itu menguap beberapa kali, berusaha mengembalikan kesadarannya. “Ada apa, Nai?” tanya Wira masih bersikap biasa. Suaranya terdengar serak.
“Sepertinya ... aku akan melahirkan. Tolong panggilkan perawat. Ssshh, ini sakit sekali.” Naina menjelaskan dengan wajah menahan sakit. Tangannya menunjuk ke kakinya yang basah.
Wira terkejut. Tanpa bertanya lagi, pria itu berlari keluar tanpa alas kaki. Menyusuri koridor dingin, mencari keberadaan perawat, dokter atau siapapun itu yang bisa membantu istrinya.
Naina memandang punggung suaminya menghilang di keheningan malam, ibu hamil itu kembali berjalan ke arah brankar dan menekan tombol bel untuk memanggil perawat.
“Kenapa dia harus berlari keluar? Bukannya dari sini juga bisa memanggil perawat.” Naina merintih kembali saat berhasil menekan tombol bel yang menempel di ranjang pasien.
Tak lama seorang perawat masuk ke dalam ruangan. Tersenyum ramah saat melihat Naina yang kesulitan naik ke atas tempat tidur.
“Ada apa, Bu?” tanya perawat ramah.
“Sepertinya ... sshh ... aku akan melahirkan.” Naina merintih, menahan sakit perut yang luar biasa. Berulang kali mengatur napas, Naina berusaha tenang ketika sakit perut menyerang.
“Oh, ya sudah. Berbaring dulu, aku akan memeriksanya.” Perawat itu membantu Naina merebahkan diri di atas tempat tidur dan memeriksa cairan bening yang turun membasahi kedua kaki.
“Ssshh.” Naina kembali merintih sembari meremas seprai, berusaha menahan serangan bertubi-tubi di perut bawahnya.
“Sabar ya, Bu. Saya akan menghubungi dokter. Sepertinya ini sudah waktunya melahirkan.”
Tak lama, perawat itu berlari keluar untuk memanggil rekannya yang lain. Naina kembali ditinggal sendirian di dalam ruangan. Di saat sakit menyerang, ia kesal dengan Wira yang menghilang. Pergi mencari perawat, tetapi tak kunjung kembali.
***
Naina sudah bersiap didorong ke ruang persalinan sembari menunggu dokter yang sedang dalam perjalanan.
“Sus, apa melihat suamiku?” tanya Naina sedih, sesaat sebelum di dorong keluar dari kamarnya. Ia masih menunggu Wira, tidak mau berjuang sendirian di dalam ruang persalinan.
“Suaminya ke mana?” tanya salah seorang perawat.
“Ssshh, sudah setengah jam pergi, tetapi tak kunjung kembali, Sus. Aku mau ditemani suamiku, Sus.” Naina berkata pelan. Ia butuh Wira untuk menyemangatinya di sisa tenaganya yang kian menipis.
Tepat saat brankar didorong keluar dari kamar, Wira berlari dari kejauhan tanpa alas kaki.
“Nai ....”
“Nai, tunggu aku!” Wira dengan wajah paniknya melambaikan tangan. Seakan tidak cukup dengan teriakannya yang memecah malam, pria itu masih menggerakkan tangannya ke atas, meminta perhatian. Ia tidak mau ditinggal.
“Ah ... ah ... ah ....” Suara napas Wira yang tersengal-sengal membuat pria itu kesulitan bicara. “Maaf, aku terlambat.” Wira mengusap perutnya yang tiba-tiba mulas saat mengetahui detik-detik kelahiran bayinya.
“Istriku mau dibawa ke mana, Sus?” tanya Wira, buru-buru mengekor di belakang brankar.
“Sudah waktunya. Ini mau dipindahkan ke ruang bersalin.”
“Sebentar lagi, Sayang.”
Naina diam. Tangannya meremas tangan suaminya saat kontraksi datang. Ia baru bicara ketika sakit perutnya mereda. “Kamu ke mana saja, Mas?” tanya Naina, masih kesal.
“Saat keluar dari kamar, perutku sakit. Aku harus bolak-balik ke toilet dulu. Saat kembali, tidak ada perawat di tempat biasanya. Ternyata semuanya sudah berkumpul di kamar. Aduh, perutku masih belum sembuh benar.” Wira mengeluh. Di saat penting seperti ini, perutnya pun ikut merasakan mulas dan tak mau bersahabat dengan keadaan.
Naina sudah tidak bisa menyimak. Kontraksi yang dirasakannya begitu dahsyat, ia hanya bisa menggigit bibir sembari meremas tangan suaminya.
“Mas, jangan tinggalkan aku. Temani aku di dalam,” pinta Naina, lirih.
“Ya, Sayang.” Wira meremas perutnya sendiri. Sakit perut juga melandanya. Permintaan Naina dan genggaman tangan istrinya membuat pria itu tidak bisa pergi dan menjauh lagi. Ia tidak tega menatap wajah kesakitan Naina yang memelas.
***
Setengah jam bertarung di dalam ruang persalinan, Naina sudah hampir kehabisan tenaga. Mengatur napas, mendorong bayinya keluar berulang kali, ibu muda itu hampir menyerah.
“Ayo, Bu. Saat merasakan kontraksi. Dorong lagi.” Dokter memberi semangat pada Naina yang kini sedang beristirahat beberapa detik.
Naina mengangguk. Wajah cantik berhias peluh itu tampak kelelahan.
“Ayo, Sayang. Semangat.” Wira mengecup kening Naina yang basah berulang kali. Kalau Naina tengah berjuang melawan kontraksi, pria itu sedang berjuang menahan sakit perut yang tidak mau pergi.
Terlihat Naina mendorong kembali. Dokter dan perawat tampak menyemangati di ujung tempat tidur.
“Ayo, Bu. Sedikit lagi. Sudah terlihat kepalanya.”
“Ayo Sayang, kerahkan kemampuan terbaikmu, ssshhh.” Wira meremas perutnya yang sedang diserang mulas luar biasa.
“Ayo ....” Wira tersentuh saat melihat Naina yang mengeram sembari menggigit bibir saat mendorong dengan tenaga terakhirnya.
“Akhirnya ....” Dokter dan perawat bisa bernapas lega dan tersenyum saat berhasil mengeluarkan bayi merah yang masih berlumuran darah.
Oek ... oek ... oek.
Tangisan bayi itu terdengar begitu kencang, Wira menunduk, mencium wajah pucat istrinya.
“Terima kasih, Sayang,” bisiknya pelan.
“Bayinya laki-laki, sehat.” Dokter wanita yang menangani Naina bersuara. “Selamat ya, Pak, Bu.”
Naina sudah tidak sanggup bersuara, ia hanya bisa menyunggingkan senyuman bahagia di bibirnya. Kedua matanya terpejam, kantuk menyerangnya. Ia benar-benar ingin tidur.
Setelah bayi mungil itu dibersihkan dan ditimbang, terlihat wanita paruh baya menggendongnya dan menunjukkannya pada Wira.
“Ini, Pak. Bayinya tampan sekali.”
Wira tidak menyimak lagi. Sejak bayinya keluar dengan selamat, ia tampak tidak tenang. Berdiri dengan kedua kaki merapat, tangan meremas perut.
“Beratnya 3.300 gram, Pak.” Perempuan itu menyodorkannya pada Wira.
“Ma-maaf, Bu ... a ... ku harus ke ... toi ...let dulu.” Wira berlari keluar ruangan dan mengabaikan putranya. Perutnya sakit dan kali ini tidak bisa ditahan lagi. Ia harus segera ke toilet.
Sakit perut yang ditahannya sejak masuk ke ruang persalinan membuat Wira menyerah tepat saat putranya lahir ke dunia. Ia bahkan tidak sanggup lagi memandang wajah tampan jagoan kecil yang dinantikan sejak lama. Menerobos keluar, ia mengabaikan semuanya.
***