
Kamar perawatan yang tadinya ramai, sepi kembali saat malam tiba. Papa dan Mama Wira memutuskan untuk pulang saat hari menjelang sore. Demikian juga dengan Rima, pengasuh itu diminta Naina pulang ke kontrakan dengan alasan tidak ada tempat tidur. Mengingat mereka bukan menginap hotel, bisa tidur seenaknya. Ia dan Wira hanya memanfaatkan tempat seadanya.
Canggung menyapa mantan suami istri itu saat tertinggal mereka bertiga di dalam kamar. Wina masih terlelap di atas brankar setelah sepanjang sore tadi rewel dan mencari Dennis terus-menerus.
“Mas, kalau mengantuk ... tidur di sofa saja.” Naina menunjuk ke arah sofa bed yang sudah dibentangkan, di sudut kamar perawatan. Ia tida tega melihat wajah kelelahan Wira, menguap berulang kali.
“Tidak apa-apa, Nai. Jam berapa sekarang?” tanya Wira dengan suara serak. Ia memilih duduk di samping brankar dengan kaki terjulur dan tubuh bersandar di kursi. Matanya terpejam, kedua tangan terlipat erat di dada.
“Jam delapan. Mas mau makan?” tawar Naina setelah memperhatikan Wira tidak mengisi perutnya sejak siang.
“Aku tidak lapar, Nai. Kamu makan saja dulu,” ungkap Wira, melirik ke arah Naina sekilas. Kemudian, tatapannya kembali pada putrinya.
Naina menatap dua kotak mika berisi nasi tim ayam dan acar mentimun yang dipesannya melalui ojek online tadi sore. Seakan tidak peduli dengan penolakan Wira, Naina memutuskan untuk tetap menyiapkan makanan dingin itu pada mantan suaminya.
“Mas, makan saja dulu. Biar aku yang menunggu Wina,” ucap Naina sembari menyodorkan kotak berisi makanan itu ke hadapan Wira.
Wira tertegun sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya pada Naina sambil tersenyum. Diraihnya kotak itu dengan kedua tangan, dengan sengaja menyentuh tangan Naina.
“Nai ... bisa kita bicara serius?” tanya Wira, meletakan kotak mika ke atas nakas.
“Ada apa, Mas?” tanya Naina, membeku di tempatnya berdiri. Sentuhan kecil itu sanggup membuatnya canggung.
Wira menegakan posisi duduknya. “Nai ... apa ... kamu tidak terpikir untuk bersama lagi?” Wira langsung bertanya pada intinya, tanpa berbasa basi.
Deg—
Naina tertunduk. Ia tidak menyangka akan dihadapkan pada pertanyaan ini setelah sekian lama berpisah.
“Bersama untuk Wina ....” lanjut Wira lagi.
Terdengar helaan napas kasar Naina, ia tidak bisa menjawab ketika dihadapkan pada pertanyaan yang begitu tiba-tiba.
“Bukannya sekarang kita juga bersama mengurus Wina,” sahut Naina pelan. Ia masih belum berani mengangkat pandangannya.
“Bukan begitu maksudku, Nai. Bersama dalam arti ....” Kalimat Wira menggantung, suara tangis kencang Wina mengejutkan keduanya. Wira segera memeluk tubuh lemah putrinya dan Naina ikut menenangkan punggung Wina yang bergetar.
Samar-samar bibir mungil Wina menyerukan kata ‘daddy’ berulang kali di sela tangisnya. Lagi-lagi Wina mengulang hal yang sama.
“Ya ... jangan menangis lagi. Di sini ada Ayah. Ada Bunda juga,” bisik Wira menepuk pelan tubuh putrinya.
Hampir sepuluh menit Wira menggendong putrinya. Ditimangnya pelan supaya tidur Wina kembali lelap. Ada banyak tanya yang butuh jawaban. Sejak kemarin, ia sudah sangat ingin mengetahui sosok daddy yang sering keluar dari bibir mungil putrinya.
“Siapa daddy yang dimaksud Wina, Nai?” tanya Wira. Ia masih berdiri di sisi brangkar dengan Wina menelungkup di pundaknya. Selang infus tampak tertarik dari tiangnya, tersambung dengan punggung tangan Wina.
Bibir Naina terkunci rapat. Ada keraguan untuk berterus terang. Ia khawatir saat Wira mengetahui kenyataan bahwa putri mereka begitu dekat dengan sosok daddy yang tak lain adalah orang yang dibenci.
"Nai ...." ucap Wira, tak sabar menunggu jawaban.
"Sejak kemarin, Wina menyebut sosok ini di dalam tangisnya. Katakan siapa dia? Siapa yang begitu pintar mengambil hati putriku?"
Naina masih bungkam.
Naina menggeleng. "Bukan. Dia ... Dennis, Mas." Perempuan yang masih mengenakan setelan kerja itu terbata.
Deg--
Bagai ditikam belati tepat di ulu hati, Wira tak sanggup berkata-kata lagi. Selama ini, ia tahu Dennis yang menjaga putrinya dan Naina. Hanya saja, ia tidak tahu kalau Dennis bisa begitu dekat putrinya, bahkan seperti ada sesuatu yang mengikat dan sulit dipisahkan.
"Bagaimana bisa?" tanya Wira.
"Bahkan Wina tidak terlalu dekat denganku, Mas. Selama ini ... aku meninggalkannya pada Rima, Mbok Sumi dan Dennis. Mereka bertiga menjaganya untukku." Naina tertunduk dengan kedua tangan saling meremas. Ia dihujami rasa bersalah.
"Ya Tuhan ... Naina ...." Mata Wira berkabut, awan hitam bergelayut di wajah mendung pria tampan itu.
"Bagaimana bisa?" tanya Wira, hampir tidak percaya kalau putrinya lebih dekat dengan orang lain dibanding kedua orang tua kandungnya sendiri.
"Sejak aku hamil ... Dennis selalu menemaniku. Bahkan saat melahirkan, dia juga selalu setia mendampingi. Ia selalu ada di setiap pertumbuhan Wina selama dua tahun terakhir. Dia menyaksikan Wina pertama kali berjalan, dia juga yang melihat Wina tumbuh gigi pertama kali. Dennis juga yang disapa papa oleh Wina pertama kali." Naina berterus terang.
"Kenapa kamu menyembunyikan anakku sampai begitu lama. Sampai ... orang lain mengambil tempatku. Tega kamu, Nai." Dua bulir air mata menetes di pipi Wira tanpa tertahan. Perasaannya hancur berantakan. Ia tidak tahu harus menyalahkan siapa. Selama ini, ia sadar sudah melewatkan banyak hal, tetapi cerita Naina semakin membuatnya terpukul.
Wira menghela napas berat dan dalam. Matanya memerah dan berair. "Hubungi Dennis! Minta dia datang untuk menemui Wina." Wira mengalah. Dia memang tidak menyukai pria yang sudah menghancurkan hidupnya, tetapi ia tidak bisa egois. Wina merindukan Dennis. Sosok yang menjadi ayah di dalam hati Wina.
"Mas ...." Naina terbelalak, tidak menyangka dengan permintaan Wira yang tidak biasa.
"Aku baik-baik saja. Aku tidak masalah harus berbagi putriku dengannya meskipun ini menyakitkan." Wira menepuk pelan punggung Wina sebelum membaringkan putrinya kembali ke atas brankar.
"Maafkan aku, Mas." Naina dihajar rasa bersalah saat melihat sorot menyedihkan di mata Wira.
"Hubungi dia. Aku tidak keberatan, andaikan itu bisa membuat Wina bahagia. Sampai kapan pun, Wina tetap putriku dan aku adalah ayah biologisnya. Itu fakta yang tidak bisa dibantah.
Dengan ragu-ragu, Naina mengalah. Ia menghubungi Dennis setelah sekian lama memutuskan hubungan.
Nada sambung itu terasa mencekam. Jantung Naina berdetak kencang, bercampur gugup yang tiba-tiba menyerang.
"Ya, Nai. Ada apa?" Terdengar suara familiar, menyapa di seberang panggilan.
"Mas, Wina sakit em ...."
"Hah! Kalian sekarang di mana? Aku akan segera terbang ke Indonesia. Kirimkan alamatnya padaku. Ini sudah malam, besok aku akan mengejar pesawat paling pagi dan menemui Wina." Dennis berucap panjang lebar tepat setelah Naina mengabari kondisi Wina. Terdengar nada panik dan khawatir dari suara berat Dennis.
"Wina di rawat di rumah sakit, Mas. Badannya panas." Naina bercerita.
"Maaf, beberapa hari ini, aku memang tidak menghubungi Wina. Aku harus ke Amerika, Angie membutuhkanku." Dennis menjelaskan.
"Kalau Mas tidak bisa, tidak apa-apa. Aku tidak mau merepotkanmu, Mas."
"Ti-tidak. Aku masih di Singapura. Rencananya pukul 02.00 dini hari nanti baru terbang. Aku akan membatalkannya dan kembali ke Jakarta untuk menemui Wina," putus Dennis.
***
TBC