Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3. Tas 25


Naina termenung di depan meja makan, tatapannya kosong mengarah pada piring-piring yang yang sudah tercemari sisa makanan. Sendok dan garpu tunggang langgang, tidak pada tempatnya lagi. Kain lap putih berantakan, sudah tidak terlipat rapi.


Kata-kata Ellena masih berputar-putar di otak Naina. Ibu hamil itu mencerna kalimat sederhana gadis polos yang terpaksa harus menikah dengan laki-laki yang tak dicintai.


"Sayang ...."


Naina tersentak. Tiba-tiba Wira sudah berdiri di belakangnya.


"Apa yang kamu pikirkan? Ibu hamil itu tidak boleh melamun," ungkap Wira.


"Em ... tidak, Mas. Mereka sudah pulang?" tanya Naina, berusaha terlihat biasa.


"Sudah."


"Kamu tidak lelah? Biarkan asisten rumah saja yang membereskan semuanya. Sebaiknya kamu istirahat." Wira menggenggam jemari ibu hamil itu dan mengajak Naina mengikutinya ke kamar.


Sejak pagi, Naina sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kedatangan Panji dan Ellena. Wira tidak mau istrinya kelelahan, apalagi belum lama Naina mengalami pendarahan dan harus bed rest beberapa hari di rumah sakit.


"Mau ke mana, Mas?" tanya Naina heran.


"Tidur." Wira menjawab singkat.


"Ini masih siang, Mas." Naina protes.


"Sudah, jangan banyak protes. Ibu hamil itu harus banyak istirahat. Seharian ini kamu sudah bekerja keras, aku tidak mau kandunganmu bermasalah. Aku bisa dimarahi dokter lagi karena dianggap tidak becus menjaga istriku." Wira tergelak sembari merebahkan tubuh Naina di atas kasur empuknya.


"Sudah nyaman?" tanya Wira setelah merapikan bantal kepala istrinya.


Naina mengangguk. Ia merasa canggung saat Wira yang sudah berbulan-bulan bersikap dingin, tiba-tiba berubah manis. Ia yang mulai terbiasa melakukan segala sesuatunya sendiri merasa aneh saat Wira membantunya melakukan hal-hal kecil.


"Istirahat sekarang. Aku ke depan, melihat Wina dulu." Wira tersenyum sembari menepuk pelan pipi Naina.


Wira baru akan melangkah pergi, tiba-tiba Naina meraih tangannya dan menghentikan pergerakan kakinya.


"Ada apa, Nai? Kamu membutuhkan sesuatu?" tanya Wira.


Naina menggeleng. "Terima kasih, Mas."


Tertegun, wajah tampan itu sempat tersentak akan ucapan lembut Naina. Beberapa detik kemudian, Wira tergelak dan menghadiahkan kecupan di kening istrinya. "Sudah. Pejamkan matamu dan tidur sekarang."


***


Hari-hari berlalu begitu cepat, tanpa terasa kandungan Naina sudah memasuki bulan ke delapan. Semua berjalan baik-baik saja sejauh ini. Keluhan hanya sebatas sakit pinggang, kesemutan, pegal di kedua kaki di saat terlalu lama berdiri. Naina mulai tidak bisa tidur dengan nyaman. Dadanya terkadang terasa sesak seiring perut bertambah besar. Ia membutuhkan Wira atau tangan mungil Wina untuk membantu mengusap punggungnya setiap rasa tidak nyaman itu menerjang.


Hubungan rumah tangga pasangan itu bisa dibilang membaik. Riak-riak kecil terkadang muncul, tetapi sejauh ini tidak memengaruhi hubungan keduanya. Walau bayangan perceraian belum sepenuhnya pergi dari benak Naina, ibu muda itu berusaha menghempaskan semuanya. Ia harus berpikiran positif menjelang proses kelahiran jagoan kecilnya.


Pagi itu, Naina terbangun di kamar putrinya saat bunyi alarm dari ponselnya menunjukkan pukul 05.00 pagi. Seperti biasanya, Naina masih berpindah dari satu kamar ke kamar lainnya setiap hari. Terkadang di kamar Wira, tak jarang ia melewati malam di kamar Wina.


Keluar dari dalam kamar, Naina harus segera membangunkan Wira. Pagi ini suaminya harus berangkat keluar kota untuk memenuhi undangan sahabatnya, Panji. Menutup mulutnya yang menguap lebar, Naina terkejut saat melihat William yang sudah rapi. Asisten itu duduk manis dengan secangkir kopi di depan televisi.


"Pagi, Bu." William tersenyum dan menyapa.


"Pagi sekali. Berangkat jam berapa?" tanya Naina mengusap mata mengantuknya.


"Bapak minta berangkat setengah enam. Tapi ...."


"Waduh, terlambat! Sebentar ... aku bangunkan Mas Wira dulu." Naina bergegas menuju ke kamar suaminya sembari menguncir rambut panjangnya agar tidak berantakan.


***


"Mas ...."


"Mas ...."


Naina baru akan memeriksa ke walk in closet saat Wira tiba-tiba muncul dengan setelan tidak biasa. Celana kulit hitam mengkilap dipadankan dengan kaus ketat berwarna senada. Pria itu sudah mengenakan sepatu bot dan sarung tangan kulit.


"Mas?" Naina heran. "Bukannya Mas mau keluar kota?" tanya Naina memastikan.


"Ya." Wira meraih jaket kulit yang diletakan di atas sofa dan mengenakannya. Tak lama, Wira sudah berdiri di depan cermin untuk memastikan penampilannya sudah sempurna.


Naina memperhatikan gerak-gerik suaminya. Ia makin bertanya-tanya.


"Mas benar-benar mau keluar kota? Mas naik motor?" tanya Naina memastikan. Melihat setelan Wira, bisa dipastikan pria itu akan menunggangi salah satu koleksi Harley Davidson-nya.


"Ya, Nai." Wira menyemprotkan parfum di beberapa titik, di tubuhnya.


"Naik motor?" Naina memastikan lagi. Terselip khawatir mengingat perjalanan lintas provinsi yang akan dilakukan suaminya.


"Tidak, Sayang. Aku berangkat dengan William. Motorku sudah tiba di Puncak sejak semalam." Wira berbalik dan menatap netra Naina yang menyimpan kekhawatiran.


"Syukurlah." Naina menghela napas lega. "Aku khawatir, Mas." Naina tersenyum.


Wira menurunkan pandangannya, menatap perut buncit Naina. "Kenapa semalam tidak tidur bersamaku?" tanya Wira. Pria itu membungkuk dan membelai perut Naina. Dikecupnya lembut dan dalam.


"Ayah harus keluar kota. Tidak bisa menemanimu dan Kakak hari ini. Baik-baik di rumah, ya. Ayah titip Bunda, Jagoan." Wira berbisik pelan pada jagoan kecil yang masih meringkuk di rahim Naina.


"Mas hati-hati di jalan. William sudah menunggu di depan." Naina berkata pelan. Ada rasa tidak rela bercampur was-was. Ini untuk pertama kalinya Wira keluar kota selama pernikahan kedua mereka.


"Jangan khawatir, Nai. Dulu aku sudah sering melakukan perjalanan ini. Aku usahakan pulang secepatnya, ya." Wira tersenyum sambil menangkup pipi gembul Naina. Istrinya naik belasan kilogram selama hamil anak kedua mereka.


Naina mengangguk. Tanpa diminta, ia menghambur memeluk Wira. Didekapnya erat pinggang sang suami. Perut besar ibu hamil itu beradu dengan perut rata Wira.


"Kalau sedang tidak hamil, aku pasti membawamu bersamaku, Nai."


"Ya, Mas. Aku tahu. Aku cuma khawatir."


"Ya sudah. Aku berangkat dulu, ya. Baik-baik di rumah. Pastikan ponselmu selalu aktif, Nai. Aku akan menghubungimu." Wira mengecup bibir istrinya sekilas.


"Ya, Mas."


"Aku meminta Ratih dan Nonik menemanimu selama aku di luar kota. Nanti Papa akan mengantarnya ke sini." Wira menjelaskan.


Naina mengangguk. Kedua tangannya masih memeluk dan enggan melepaskan Wira.


"Sudah. Aku berangkat sekarang, ya," pinta Wira. Pria itu tergelak saat merasakan kemanjaan Naina yang perlahan mulai kembali lagi seperti dulu.


Mendekap erat istrinya, Wira melabuhkan kecupan beruntun di wajah Naina. "Aku mencintaimu."


Naina tidak menjawab, sebaliknya ia malah balik bertanya. "Gadis itu ikut juga?"


"Siapa?" Wira heran.


"Bintang sinetron ikan terbang." Naina menjawab dengan wajah cemberutnya yang khas.


***