
"Mas, dia bukan Mas, kan?"
Wira berusaha mengurai simpulan tangan Naina yang mengunci tubuhnya.
"Kenapa berpikiran seperti itu, Nai?" tanya Wira dengan wajah terkejut. Selama ini Naina selalu berpikiran positif, tak pernah sedikit pun berburuk sangka padanya.
Kedua tangan membingkai wajah cantik istrinya, Wira memaksa senyum. Susah payah menetralkan perasaannya, melenyapkan gugup dan menghilangkan paniknya.
"Nai yang paling tahu, itu Mas atau bukan." Wira memilih untuk tidak menjawab dibanding harus berbohong. Sebaliknya, laki-laki dengan handuk melilit di pinggang itu meminta Naina menjawab sendiri.
"Mas ...."
"Mmmm ... ada apa, Nai?"
"Nai, serius Mas." Menatap sendu, pandangan penuh harap bersiap menunggu jawaban. Naina menatap lekat pada dada telanjang yang mendekapnya selama lima tahun ini.
Wira tersenyum datar. " Nai tentu sudah punya jawaban sendiri tanpa harus menunggu jawaban dari Mas." Wira bersuara.
"Ya, tetapi Nai ingin mendengar langsung dari bibir Mas." Naina berucap manja.
"Ya, itu Mas. Suami Stevi itu adalah Mas." Wira mengucapkannya dengan serius.
Naina menghambur, memeluk erat suaminya. Membenamkan wajahnya, menikmati dada bidang Wira.
"Mas, jangan bercanda lagi." Naina berucap dengan cemberut.
Kali ini Wira tergelak hebat. Bahkan di saat dia menyampaikan fakta yang sebenarnya, Naina menolak percaya.
"Apa lagi? Mau mendengar Mas mengucapkan apa?" Wira melempar tanya.
Naina menggeleng. "Nai mencintaimu, Mas." Dengan berjinjit, mengecup sekilas bibir Wira.
"Mas juga. Jangan pernah meragukan cinta Mas padamu, Nai. Apa pun yang terjadi ke depan, yang harus Nai tahu. Cinta dan kesetiaan untuk Naina itu adalah kebenaran."
Naina mengangguk.
"Mas tidak tahu Tuhan menulis takdir kita seperti apa. Setahun yang akan datang, sepuluh tahun ke depan, lima puluh tahun ke depan. Apa pun yang terjadi, Mas cukup bahagia kalau Nai mau mengingat cinta dan kesetiaan Mas itu hanya untuk Nai. Mas tidak meminta lebih, cukup ingat kalau di salah satu sudut dunia ini ada Pratama Wirayudha yang masih bernafas untuk mencintai Naina Pelangie." Wira mengeluarkan isi hatinya.
Laki-laki itu tersenyum, tapi jauh di dalam hatinya menangis.
"Maafkan Mas, kalau suatu saat harus menyakitimu, Nai. Sebisa mungkin Mas akan berusaha supaya rasa sakit itu tidak datang padamu, tetapi Itu tidak mungkin. Cepat atau lambat kamu pasti membuka sendiri tabir kebenarannya." Wira memba**tin.
Kecupan di ubun-ubun dihadiahkan Wira dengan penuh perasaan. Saat ini rasanya ingin memeluk erat Naina, tak ingin melepaskannya sedikit pun. Naina cinta pertamanya, Wira berharap akan jadi cinta terakhirnya juga.
"Mas tidak bisa membohongimu, Nai. Sebisa mungkin Mas akan menjawab jujur setiap pertanyaanmu. Mas tidak akan pernah menipumu atau mengelak. Selama ini Mas tidak pernah berbohong padamu. Hanya saja Mas tidak terbuka untuk satu fakta yang mungkin akan menyakitimu. Mas masih menunggumu bertanya, meskipun akan membuatmu menangis. Mas tidak mengelak kalau saat itu tiba. Sama seperti saat ini, Mas menjawabmu dengan jujur."
***
Dua minggu berlalu, tidak ada lagi pembahasan tentang Stevi di antara keduanya. Naina sibuk dengan butiknya, Wira sibuk dengan pekerjaan kantornya.
Hampir dua minggu juga Wira tidak mengunjungi putrinya, Nola. Terakhir pertemuan tanpa sengaja beberapa menit di tepi jalan saat Wira menguntit Stevi dan Dennis.
Pagi itu, seperti pagi-pagi biasanya. Naina sibuk menyiapkan sarapan untuk suaminya sebelum berangkat ke kantor.
Wira, laki-laki tampan itu terlihat sudah bersiap diri. Menuruni tangga berlapis kayu, bergegas menuju ruang makan.
"Mas, sudah siap?" tanya Naina. Dengan dibantu Mbok Sumi, sang nyonya rumah menyiapkan nasi goreng spesial.
"Ya, Mas ada rapat pagi-pagi sekali. Siangnya, Mas mau ke rumah mama."
"Nai mau ikut?" tawar Wira.
Naina tampak berpikir, mengingat pekerjaannya di butik apa bisa ditinggal sebentar.
"Sepertinya Nai tidak bisa, Mas. Ada salah satu karyawan butik sakit, Nai pikir mau membawanya ke rumah sakit."
"Siapa?"
"Fitri. Mas tidak mengenalnya. Sepertinya ada masalah dengan kandungannya. Kasihan Mas, dia sendiri di Jakarta tanpa ditemani suaminya. Jadi Nai pikir mau membawanya ke dokter kandungan langganan kita, Mas." Naina bercerita.
"Ya, Mas." Naina mengangguk.
"Mas lebih suka pergi berdua dengan Nai," bisik Wira mengedipkan matanya.
Naina mengangguk. Tangan wanita itu dengan cekatan mengisi nasi goreng ke piring kosong dan menyodorkan pada Wira. Tak lupa membuatkan teh hangat sebagai teman sarapan pagi.
"Oh ya, Nai lupa bercerita. Dua minggu yang lalu, Nai ke tempat mama sempat bertemu dengan Nola, anaknya Stevi. Diajak pengasuhnya, Mas."
"Oh ya?"
"Ya. Nola sepertinya sangat akrab dengan papa dan mama."
"Ya, terkadang anak itu sering main ke tempat papa mama. Rumahnya juga tidak terlalu jauh." Wira menjawab dengan santainya.
"Nai jadi merasa bersalah Mas. Sejak dulu selalu saja ada masalah dengan kandungan Nai. Seharusnnya anak kita sudah besar kalau Nai tidak keguguran."
Rasa bersalah itu menyeruak apalagi mengingat bagaimana sorot mata kedua mertuanya yang begitu penuh damba. Terlihat jelas saat keduanya menatap Nola.
"Mas sudah katakan, tidak perlu dipikirkan. Mama dan papa juga begitu. Sejak awal menikah, mama tidak pernah protes dengan masa lalumu, begitu juga masalah anak. Itu semua jalan dari Tuhan, bukan kita yang menentukan." Wira menggengam tangan istrinya, berusaha menguatkan.
***
Siang itu, cuaca Jakarta lumayan panas menyengat. Naina tampak menemani karyawannya mengantri untuk menunggu obat dan vitamin yang diresepkan dokter.
Baru saja harunya menyeruak saat melihat janin setitik di layar hitam saat Fitri melakukan usg untuk melihat kondisi kandungannya yang hampir memasuki trimester kedua.
"Jangan lupa minum vitaminnya, Fit." Naina berpesan.
Keduanya masih saja terpaku pada kertas kecil yang menampilkan bayi Fitri.
"Terimakasih, Bu. Sudah mau mengantar Fitri ke dokter. Selama ini Fitri hanya periksa di bidan dekat kontrakan." Mata gadis itu berkaca-kaca. Dilihat dari penampilannya, usianya tidak jauh beda dengan Naina.
"Nanti kalau suamimu ke kota, kabari saja. Aku akan membawa kalian ke sini lagi."
Fitri terbelalak, menatap Naina tidak percaya.
"Suamimu juga pasti sama bahagianya. Ingin juga melihat bayi kalian." Naina menjelaskan.
Haru bercampur rasa terimakasih itu terlihat jelas di wajah ayu Fitri. Gadis berkulit sawo matang dengan gaun sederhana itu mengusap pelan kelopak matanya yang berkaca-kaca.
Suasana rumah sakit, siang itu tampak ramai. Di tempat mereka duduk yang tak jauh dari poli anak juga dipenuhi pasien yang ingin berobat atau pun melakukan imunisasi.
Naina mengedarkan pandangan ke sekeliling. Menatap anak-anak kecil yang sedang bermain di playground khusus, yang memang sengaja di sediakan rumah sakit untuk anak-anak menunggu giliran dipanggil.
Menatap sekilas, menikmati kelucuan para batita. Ada yang menangis, ada yang tertawa ada yang sibuk dengan mainan. Anugerah Tuhan yang sampai sekarang belum menyapanya.
Lamunan Naina terusik saat mendengar seorang perawat memanggil nama pasien yang terdengar sangat familiar di telinganya.
"Anak Nola Pelangie Wirayudha ...."
Sontak Naina menoleh ke pemilik suara. Perawat berpakaiam putih berdiri di depan ruangan dokter anak berpraktek. Jantung Naina berdetak kencang saat nama itu berkumandang kedua kalinya. Beriringan dengan dua sosok familiar yang dikenalnya berjalan mendekat.
"Anak Nola Pelangie Wirayudha ...." ulang sang perawat.
Senyum perawat terkembang, mempersilahkan Nola yang dituntun pengasuhnya masuk ke ruangan dokter.
"Nola ... Pelangie ... Wirayudha." Naina mengulang kembali.
Dua kata terakhir itu membuat tubuhnya bergetar hebat. Selama ini dia tidak pernah menanyakan nama lengkap Nola. Ada nama belakangnya terselip di belakang nama Nola dan nama keluarga suaminya melengkapi.
"Pelangie ... Wirayudha," ucap Naina datar.
***
TBC