Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S2 Bunda dari Anakku - The End


Wira melempar jas putihnya di atas sofa saat masuk ke dalam kamar. Tubuhnya penat, setelah seharian mengikuti prosesi pernikahan dan jamuan makan bersama rekan, sahabat dan kerabat. Menyusul di belakangnya, Naina menarik gaun panjangnya yang menjuntai ke lantai. Ibu hamil yang telah resmi menyandang status istri dari Pratama Wirayudha itu juga tidak kalah lelahnya. Wajah cantik dengan sapuan make up yang mulai luntur itu begitu keletihan, Naina menjatuhkan tubuhnya di sisi tempat tidur dan mengikuti Wira yang sudah lebih dulu merebahkan diri menatap langit-langit kamar.


“Ayah ....” Wina yang sudah berganti pakaian tidur ikut masuk sembari memeluk boneka. Gadis kecil itu bersama dengan Rima memang pulang lebih cepat, diantar William. Wira khawatir putri kesayangan kelelahan, bahkan Wina sempat tertidur sejenak di tempat acara.


“Mau bobok.” Wina naik ke atas tempat tidur, menyusul kedua orang tuanya. Tanpa permisi, ia naik dan duduk di atas perut Wira.


“Malam ini Wina tidur dengan Mbak Rima, ya. Ayah lelah, mau tidur cepat.” Wira beralasan sembari menatap istrinya. Naina sedang berusaha mengurai rambutnya yang disanggul, tanpa peduli dengan ucapan sang suami.


Wira mengerutkan dahi keheranan. Istrinya tidak bereaksi dengan umpan yang baru dilemparnya. Ini malam pertama mereka, tentu saja harus dilewatkan dengan istimewa walau ini pernikahan kedua kalinya.


“Bunda, mau bobok.” Berganti merengek pada Naina, Wina memeluk leher bundanya dengan erat.


“Ya, Sayang. Sebentar, ya. Bunda melepas ini dulu.” Naina memberi pengertian, ia berjalan ke arah kamar mandi setelah mengurai belitan tangan mungil putrinya. Ia butuh cermin untuk bisa melepas jepitan rambut di kepalanya.


***


Hampir setengah jam berjuang dengan ikatan dan jepitan di rambut panjangnya, Naina tekejut begitu keluar dari kamar mandi. Putri kecilnya sedang berjalan di atas punggung Wira yang tengah berbaring telungkup di atas tempat tidur.


“Hati-hati, Win. Nanti jatuh, Nak.” Naina setengah berteriak, buru-buru menghampiri. Ia tidak mau putrinya terjatuh.


“Biarkan saja, Sayang. Badanku sakit semua. Aku yang meminta Wina berjalan di atas punggungku.” Wira menjelaskan sambil menikmati jejak kaki mungil Wina.


“Tapi, Mas ... Wina bisa jatuh.” Naina menurunkan tubuh Wina, tidak mengizinkan putrinya melanjutkan aktivitasnya. “Tidur sekarang, Win.” Naina memerintah. Direbahkannya tubuh mungil Wina di samping Wira. Diusapnya perlahan punggung Wina supaya gadis mungil itu lekas tertidur.


Wira mengulas senyuman, menatap keduanya bergantian. Ada rasa haru dan bahagia yang melebur bersamaan. Melihat Naina dan Wina begitu dekat dengannya, beban yang selama tiga tahun ini menggumpal di dadanya, tiba-tiba lenyap. Ia bisa bernapas dengan leluasa.


“Nai ....” Wira berbisik pelan, meraih tangan Naina yang sedang naik turun di punggung kecil Wina.


“Ya, ada apa?” tanya Naina. Suaranya nyaris tidak terdengar. Berbisik agar tidak membangunkan Wina yang hampir terlelap.


“Ayo, kita mandi bersama. Bukankah sudah lama kita tidak melakukannya di kamar mandi.” Wira berbisik tepat di telinga Naina. Pria itu bangkit perlahan, tidak mau pergerakannya membangunkan putrinya. Rumah tangga mereka sudah tidak sama lagi seperti dulu. Ada Wina Pelangie Wirayudha yang tiap saat bisa saja mengganggu dan terganggu keintiman mereka.


“Mas ....” Bola mata Naina melebar saat melihat seringai licik suaminya.


Tanpa banyak bicara, Wira menyelipkan tangannya di bokong Naina dan tangan lainnya menahan punggung wanita yang masih mengenakan gaun pengantin putih itu. Rambut bergelombang Naina tergerai, saat Wira menggendongnya.


“Mas ....” Naina memekik tiba-tiba saat tubuhnya melayang ke udara. Dalam sekejap sudah berada dalam gendongan Wira. Ia tidak bisa menolak, apalagi mengelak. Wira sudah menjadi pemilik sah atas dirinya, kalau pun mau menolak bukan malam ini.


“Ssttt, Wina terbangun nanti.” Wira berbisik. Ia tersenyum memandang Naina yang menutup mulut dengan telapak tangan.


“Mas, mau apa?” tanya Naina, melingkarkan kedua tangannya di leher Wira.


“Mau menghabiskan malam pertama denganmu,” sahut Wira, mengedipkan mata kirinya dengan genit.


Pipi Naina bersemu merah. Kalimat terus terang Wira sanggup membuat jantungnya berdetak kencang sesaat. Apalagi sorot mata Wira itu sangat dikenalnya. Ia bukan kenal Wira sehari-dua hari, tentu saja ia paham dengan arti tatapan dan deru napas pria yang kini menjadi suaminya kembali.


“Nai, terima kasih sudah mau kembali lagi padaku. Aku tahu ... ini tidak mudah untukmu. Aku berjanji, akan memperbaiki semuanya,” bisik Wira, berdiri tepat di belakang Naina. Embusan napasnya, mengelitik tengkuk dan punggung terbuka Naina, Wira dengan sengaja menebar sensasi di area sensitif itu. Ia sudah menamatkan semua hal tentang Naina, bahkan ia masih hafal setiap lekuk tubuh Naina, tanpa melihat. Tiga tahun menyimpan cinta yang sama, ia bahkan masih menyimpan rapat semuanya.


“Aku mencintaimu, Nai. Cintaku masih sama seperti pertama kali kita bertemu.” Jemari Wira dengan lancangnya mengukir di punggung telanjang istrinya, bermain-main dengan ritsleting di ujung teratas gaun Naina.


Merasakan tidak ada protes, Wira menarik turun ritsleting itu hingga gaun putih Naina membelah sampai di pinggang. Dikecupnya perlahan punggung Naina hingga desahan feminin lolos dari bibir Naina.


“Mas ....” lirih Naina saat merasakan sensasi menggelitik di punggungnya. Ia sampai harus meremas pinggiran meja wastafel agar tetap kuat berdiri. Kedua kakinya sudah melemas, hampir tidak sanggup menopang tubuhnya. Wira mengerjainya dengan cara istimewa. Ia hampir hilang akal. Tiga tahun memendam semua rasa ini, Wira menggalinya perlahan.


Hawa dingin menyeruak, menyapa kulit saat Wira meloloskan gaun putih itu hingga luruh ke lantai, melingkar indah di kaki telanjang Naina.


“Mas ....”


“Hmm ... apa, Sayang?” tanya wira dengan suara manja. Bibirnya masih menyusuri lekuk tubuh Naina. Ia menyukai detik-detik Naina menggelinjang dan terpaksa mendesah pelan.


“Mas ....” Desahan Naina tertahan, ia menggigit bibir ketika merasakan kedua tangan Wira ikut bermain-main di tubuhnya yang hampir polos.


Wira memulai dengan manis dan Naina larut di dalamnya. Ciuman dan kecupan mendominasi, seiring kain dan benang yang menghalangi terhempas dari tubuh keduanya. Mereka sudah sama-sama polos, saling memeluk, saling membelai saling bicara lewat tatapan mata sampai akhirnya penyatuan indah itu mengakhiri semuanya.


Di dalam kamar mandi, desahan dan erangan itu bercampur dengan gemericik air keran. Keduanya memilih menghabiskan malam mereka di tempat tidak biasa.


“Ini indah, Sayang.” Wira menyudahinya dengan kecupan di dahi berkeringat Naina. Menuntun Naina masuk ke dalam bathtub bersamanya. Mengulang kembali keindahan yang baru usai beberapa menit yang lalu.


Bahkan setelah semuanya berakhir, Wira memilih membawa Naina ke dalam kamar tamu. Keduanya mengalah demi Wina, menyerahkan kamar utama itu menjadi milik sang putri untuk malam ini.


***


Bunyi dering ponsel mengusik mengusik tidur. Wira dan Naina yang kelelahan melewati malam panjang mereka masih saling berpelukan di balik selimut tebal. Meskipun matahari sudah menyingsing, mata keduanya enggan membuka.


Wira yang terbangun lebih dulu, tampak merenggangkan ototnya. Sisi kanan tubuhya kesemutan. Tubuh Naina menimpanya di dalam tidur. Tersenyum menatap Naina, Wira mengukir ujung lancip hidung istrinya. Dan tangan lainnya meraih ponsel di atas nakas.


“Jack?” Wira mengernyit heran. “Ada apalagi menghubungiku sepagi ini?”


Menempelkan gawai hitam di telinganya, Wira merengkuh tubuh Naina ke dalam pelukannya.


“Ya, ada apa, Jack?” sapa Wira sembari mengecup pucuk kepala istrinya yang masih terlelap.


“Aku dan Bellinda baru tiba di Jakarta. Aku mengirimimu rekaman video. Silakan Bos cek sendiri. Masih banyak lagi. Tapi aku yakin ... Bos tertarik dengan video yang baru saja aku kirimkan.”


***


THE END


Akan ada season 3. See you.