
Waktu sudah menunjukan pukul 18.45 saat Wira keluar dari kamar tidur dengan penampilan basah. Ia baru saja mandi dan bersiap menyantap makan malam yang dipesan dari restoran langganannya.
Begitu melangkahkan kaki menuju ke meja makan, pandangannya tertuju pada Wina. Gadis kecilnya juga sudah bersih dan wangi dengan baju tidur bermotif Winnie the Pooh.
"Ayah ...." Wina berlari menghampiri Wira. Kedua tangannya terulur ke atas.
"Wina main apa, Nak?" Wira meraih tubuh mungil Wina dan menggendongnya dengan tangan kiri.
"Oneka, Yah." Wina menunjuk ke lantai. Boneka-boneka kesayangannya berserakan di atas karpet bercampur dengan dapur mini lengkap dengan peralatan memasak berbahan plastik.
"Oh ...." Wira menjawab sekilas, tersenyum dan melabuhkan kecupan di pipi Wina.
"Yah, Bunda ... beyum puyang ...." Wina mengadu tentang bundanya yang belum tiba di rumah. Gadis kecil itu sudah merindukan kehadiran Naina bersamanya. Biasanya, Naina yang akan membantunya berpakaian, menyisiri rambut dan menemaninya bermain.
Mengerutkan dahi, Wira masih belum paham dengan bahasa Wina yang belum terlalu fasih berkomunikasi. Wira masih kesulitan untuk memahami bahasa putrinya. Wira jarang berinteraksi dengan Wina, ia tidak terbiasa dengan celotehan-celotehan batita itu.
"Bunda ...." Wina mengulang dengan sedikit penekanan.
"Ya, Bunda kenapa?" Wira menggigit pelan jemari mungil Wina.
"Bunda ... beyum puyang, Yah ...." Wina berkata lagi. Dipeluknya erat leher Wira sambil menempelkan wajahnya di wajah ayahnya.
"Hah? Bunda belum pulang?" Wira mengedarkan pandangan ke sekeliling apartemen untuk mencari tahu kebenaran ucapan Wina. Setelah memastikan tidak menemukan jejak dan bayangan Naina, pandangan Wira tertuju pada jam berbentuk bulat yang menempel di dinding. Waktu sudah hampir menuju pukul 19.00 malam.
"Rim, Ibu sedang apa? Sejak tadi ... aku tidak melihat Ibu." Wira bertanya sembari menarik kursi dan mendudukan Wina di depan meja makan. Pria itu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi dari pengasuh putrinya. Ia mencoba bersikap tenang, menyembunyikan panik di dalam hati. Cukup ia yang tahu apa yang dirasakannya saat ini.
"Ibu belum pulang, Pak." Rima menjawab singkat.
Sejak kepulangan Wira bersama Wina tanpa kehadiran Naina, pengasuh itu sudah menyimpan penasarannya. Namun, ia mencoba untuk tidak peduli. Ia hanya seorang pekerja, bukan urusannya mencampuri masalah majikan. Ia cukup tahu diri, bagaimana harus bersikap dan di mana posisinya.
Deg--
Jawaban Rima membuat jantung Wira berdetak tak karuan. Pikiran buruk bercampur dengan kekhawatiran tiba-tiba memberontak keluar, tidak bisa disembunyikan lagi. Wajah pria tampan itu berubah. Sikap tenangnya tidak berlangsung lama.
"Rim, tolong urusi Wina. Suapi Wina makan dan bawa dia tidur. Aku masih ada urusan." Wira berdiri. Rasa lapar hilang, nafsu makannya tiba-tiba menguap entah ke mana. Lambung yang tadinya berteriak minta diisi, mendadak kenyang.
Berjalan tergesa-gesa menuju ke ruang kerja, Wira mengabaikan piring-piring keramik berisi menu kesukaannya. Saat ini yang terpenting untuknya adalah mencari tahu keberadaan Naina.
"Will, kalian di mana?" Sesaat setelah menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya yang empuk, Wira menghubungi asistennya. Sebelum pulang dan meninggalkan Naina di kantor, ia sempat berpesan pada William untuk mengantar istrinya itu pulang.
Ia memang kecewa, sakit dan terluka karena Naina, tetapi jauh di lubuk hatinya, cinta dan perhatiannya pada Naina masih sama besarnya. Sebut saja saat ini ia tengah menikmati kecewanya. Mengabaikan dan melukai Naina adalah caranya melampiaskan kekecewaan dan sakit hati.
"Maaf, Bos. Aku ... aku sedang di jalan." William menjawab terbata.
Bunyi klakson dan riuh suara kendaraan tertangkap oleh indra pendengaran Wira. Mendengar itu, ia bisa sedikit lebih tenang. "Kalian masih lama sampai ke apartemen?" Wira bertanya lagi.
Belum sempat William menjawab, Wira kembali bertanya. "Apa terjebak macet. Naina baik-baik saja, kan?" Wira khawatir. Naina sedang hamil, dan seharian berada di luar rumah.
"Ma-maaf, Bos. Aku sendiri. Nyonya menghilang dan ... aku sedang mencarinya." William menggigit bibir setelah berhasil menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi.
Sejak tadi berusaha mencari Naina, William hampir putus asa saat menyusuri jalan menuju apartemen dan tidak menemukan sang nyonya. Ia juga sudah mencoba menghubungi ponsel Naina, tetapi berakhir dengan panggilan tidak terjawab.
"APA? Istriku menghilang dan kamu tidak memberitahuku. Sudah berapa lama?" teriak Wira di ponsel. Wajah Wira menegang. Tampak ia meremas rambutnya, menyalurkan kesal dan amarah yang menyerang dirinya.
"Maaf, Bos. Aku tadi ... berpesan pada Nyonya untuk menungguku di lobi dan ... mmm ... saat aku tiba di lobi, Nyonya sudah pulang lebih dulu dengan taksi. Itu yang disampai security kantor, Bos."
"Breng'sek kamu, Will!" umpat Wira. Ia buru-buru berdiri, perasaannya berantakan saat mendapati Naina menghilang. Ia tidak takut Naina pergi meninggalkannya. Itu mustahil. Wira hanya takut terjadi hal buruk pada istrinya. Apalagi, ini sudah terlalu lama. Harusnya Naina tiba sejak tadi.
"Kapan istriku keluar dari kantor?" tanya Wira lagi.
"Setelah Bos pulang, tak lama Nyonya juga ...."
"Breng'sek kamu, Will. Cari istriku sampai ketemu. Kamu jelas-jelas tahu istriku sedang hamil. Terjadi sesuatu pada Naina dan bayiku, aku akan membunuhmu!" ancam Wira, mematikan ponselnya tanpa menunggu jawaban dari William.
Menarik napas dan mengembuskannya berulang kali, Wira takut saat bayangan peristiwa beberapa tahun silam muncul kembali. Kecelakaan taksi yang dialami Naina dan harus berakhir keguguran.
Wira mengepalkan tangan, menyesal. "Kamu di mana, Nai?" Wira bergumam sendiri. Berjalan mondar-mandir sambil menempelkan ponsel di telinganya.
Untuk pertama kalinya setelah pertengkaran hebat mereka, Wira menghubungi Naina lagi. Khawatir berlebih mengenyahkan semuanya. Amarah, kecewa dan kekesalannya pada Naina menguap saat ini. Yang dipikirkan Wira hanya Naina dan bayinya. Andai terjadi hal buruk pada Naina, ia akan menyesal seumur hidup.
"Ayo, Nai. Kamu di mana?" Wira bertambah panik saat ponsel Naina sudah tidak bisa dihubungi. Pria itu menggila.
Berjalan keluar dan berteriak memanggil Rima, Wira tidak bisa mengontrol dirinya. Suara teriakannya mengejutkan Wina.
"RIM!"
"RIM"
"Ya, Pak. Ada apa?" Rima tengah menyuapi Wina, buru-buru melepaskan piring dan menghampiri Wira.
"Apa Ibu ... ada menghubungimu?" tanya Wira.
Rima menggeleng. "Tidak ada, Pak."
Wira menghela napas berat, melepas beban perasaannya. Tanpa bicara, ia kembali ke ruang kerja dan menghubungi Jack. Hanya Jack yang bisa membantunya untuk mencari tahu keberadaan Naina saat ini
"Jack, apa kamu masih mengikuti istriku?" Wira membuka suara saat panggilannya tersambung.
"Tidak lagi, Bos. Bukannya, Bos memintaku menghentikannya."
"Tolong aku, Jack. Istriku menghilang sejak sore. Kerahkan orangmu. Naina dalam perjalanan dari kantor menuju ke apartemenku. Aku takut terjadi sesuatu padanya." Wira memerintah.
"Baik, Bos." Jack tidak banyak bicara, hanya mengiyakan dan segera bergerak.
"Cepat, Jack. Pastikan Naina baik-baik saja. Aku juga akan ikut mencari sebentar lagi." Wira mematikan panggilannya.
Berlari ke kamar dan menggantikan pakaian, Wira keluar sambil menyambar kunci mobilnya. Ia bahkan tidak sempat memberitahu Rima. Saat ini, sebagian dari dirinya sudah mengembara. Hatinya sudah tidak berada di tempatnya.
***
Tbc