Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S1. Bab 38


“Benarkah? Nai penasaran dengan suami Stevi. Apa Mas mengenalnya?” tanya Naina.


“Tentu saja Mas mengenalnya. Sangat.” Wira menjawab dengan santainya.


“Apa yang ingin Nai ketahui. Mas akan menjawabnya.” Wira memberi kesempatan.


Rasanya ingin sekali berterus-terang, tetapi dia belum siap menerima kenyataan pahit yang mungkin akan singgah di dalam hidupnya. Dia tidak siap ditinggal Naina, sampai kapan pun dia tidak siap. Kesalahan satu malam yang bahkan dia merasa tidak melakukannya, tetapi harus menanggungnya.


“Benarkah? Nai boleh bertanya semuanya?”


Wira mengangguk.


“Apa dia teman sekolah kalian juga, Mas? Apa Mas mengenal dekat suami Stevi? Berarti dia ada di grup chat alumni, kan?” tanya Naina dengan keingintahuannya. Entah kenapa, kisah Stevi ini membuatnya penasaran. Ada ketertarikan yang tak beralasan.


“Mmmm ....”


“Mas, mengapa hubungan Mas dan Stevi belakangan ini merenggang? Nai tidak menemukan lagi obrolan kalian yang membahas wanita cantik atau laki-laki tampan.”


“Ha! Nai mengintip obrolan Mas dengan Stevi? Membahas masalah wanita cantik?” tanya Wira memastikan. Pura-pura terkejut.


"Mmmm," gumam Naina dengan wajah cemberut.


"Nai cemburu?" Wira terkekeh, mencuri kecupan di pipi kanan istrinya, pelukan di pinggang pun semakin erat.


Naina mengangguk. "Ya, suamiku membahas perempuan cantik, bagaimana aku tidak cemburu."


"Mas mencintaimu, Nai. Mencintai wanita cantik di cermin itu." Wira menunjuk ke arah cermin rias di depannya.


"Mas, Nai serius. Apakah hubungan Mas dengan Stevi memburuk karena pernikahan Stevi dengan teman Mas itu?” tebak Naina.


Wira tersenyum. "Kenapa istri Mas jadi suka menggosip?" Wira mencubit hidung mancung istrinya.


"Mas, Nai serius. Apa ...."


“Ya ....” Wira menjawab singkat.


“Kenapa?” tanya Naina, heran.


Wira kembali terbahak. "Semakin Mas menjawab, Nai akan semakin penasaran. Tidak baik menceritakan aib orang, Sayang."


"Mas, Nai ingin tahu." Naina setengah memohon. Nada bicaranya terdengar manja.


Menghela napas kasar, Wira akhirnya mengalah. Memilih mengikuti semua keinginan istrinya.


“Pernikahan itu ada karena jebakan Stevi. Menurut Mas, bertanggung jawab tidak perlu sampai menikah. Ada banyak cara menjalankan tanggung jawabnya. Apalagi dia pria beristri,” jelas Wira, panjang lebar. Suaranya terdengar meninggi karena terbawa emosi yang datang tiba-tiba.


“Mas kenapa jadi emosi sekali?” Naina mengerutkan dahi, keheranan dengan sikap Wira yang berubah tiba-tiba.


“Ha?” Wira melongo. Raut wajahnya terlihat sekali kalau laki-laki itu sedang menahan amarah. Naina bisa melihatnya jelas dari pantulan cermin meja rias.


“Stevi memang teman baikku, tetapi Mas tidak suka dengan caranya, Nai. Cinta juga tidak sampai seperti itu. Ada batasannya. Apalagi dengan pria beristri.”


“Nasi sudah menjadi bubur, mau diapakan Mas? Nai kasihan dengan istri pertamanya, tetapi kasihan juga dengan Stevi.”


“Ada banyak cara bertanggung jawab, tetapi tidak harus sampai menikah. Itu yang Mas sayangkan dari sikap Stevi yang terus memaksa.”


Naina yang sejak tadi mendengar dengan kalem, tiba-tiba berpendapat.


“Itu tidak adil, Nai.” Wira mengucapkannya dengan nada bergetar. Itu yang dirasakan Wira selama ini. Dunia tidak adil padanya.


“Hidup itu memang tidak pernah adil, Mas. Sejak kapan hidup itu adil ... Nai tahu rasanya lahir dari keadaan seperti itu.” Naina mengusap lembut tangan Wira yang mengunci perutnya.


“Ayah itu punya banyak istri. Nai anak dari istri ketiga ... Ayah jarang pulang ke rumah, bahkan Nai merasa ayah itu tidak menginginkan Nai. Ayah hanya sayang dengan anak-anak dari istri pertama. Ayah bahkan tidak pernah memeluk Nai dari dulu, kalau datang ke rumah hanya mencari ibu,” cerita Naina.


“Mas tahu sejak awal Nai tidak mau dimadu, tidak mau dipoligami, karena Nai tahu rasanya seperti apa. Mau jadi yang keberapa pun, anak-anak akan jadi korban. Mereka tidak bisa mendapatkan kasih sayang kedua orang tuanya dengan utuh.”


“Ya, Mas tahu.” Wira menjawab singkat.


“Jangan memojokan Stevi lagi, Mas. Nai dan almarhumah ibu tahu rasanya menjadi Stevi dan Nola itu seperti apa,” ucap Naina pelan. Mata indah itu tiba-tiba menganak sungai. Berkaca-kaca berusaha menutupi luka yang tiba-tiba muncul kembali. Luka lama yang disimpannya sendiri.


“Mas ....”


“Mmmm ....”


“Mas, bukannya Mas pernah cerita kalau Stevi itu ....” Naina tidak mau melanjutkan kalimatnya, terlalu jahat kalau menyebut Stevi perempuan murahan. Namun, dari cerita Wira selama ini, Stevi memang perempuan seperti itu. Masa lalu Stevi dan ibunya tidak jauh beda dengan masa lalunya. Hanya hidup berdua dengan ibunya, tetapi jalan yang dipilih Stevi berbeda dengannya.


“Ya ... itu juga salah satu alasannya, suami Stevi ragu Nola adalah putrinya, tetapi sudah melakukan serangkaian pemeriksaan. Kenyataannya Nola adalah putrinya. Dan ....”


“Dan apa, Mas?” tanya Naina. Rasa penasarannya semakin menjadi.


“Dan kedua orang tua suami Stevi juga mengetahuinya. Mereka yang mendesak pernikahan itu terlaksana.”


“Maksudmu mertua Stevi, Mas?” tanya Naina. Entah kenapa menyebut kata mertua, Naina teringat dengan mertuanya tadi sore. Keduanya begitu menyayangi Nola dengan cara yang tidak biasa. Apa karena begitu mendambakan seorang cucu atau entahlah.


Wira mengangguk.


“Sampai sekarang, suami Stevi masih tidak yakin dan percaya Nola putrinya. Menolak percaya tepatnya, tetapi bukti itu sudah di depan mata. Bahkan ... alasan itu juga yang membuat kedua orang tua suami Stevi mendesak adanya pernikahan, untuk menyelamatkan Nola.”


“Apa yang membuat suami Stevi tidak yakin?” tanya Naina, mengerutkan dahinya.


"Nai ... kenapa kamu jadi banyak ingin tahu apa yang bukan menjadi urusanmu? Wira mengingatkan.


"Sudah sejauh ini. Nai harus tahu semuanya. Penasaran, Mas. Setidaknya Nai jadi bisa belajar ke depannya. Bagaimana menjaga suami Nai sendiri." Naina beralasan.


"Mas, kenapa suami Stevi masih ragu? Padahal sudah menikah lama. Apalagi Nola itu lucu sekali, Mas. Nai juga menyukainya."


“Entahlah ... menurutnya ... ikatan batin antara ayah dan anak itu pasti ada, tetapi sampai dua tahun pernikahan, dia tidak merasa kalau Nola itu anaknya. Kalau pun cinta itu terucap, sayang itu terlihat, hanya karena selembar hasil tes DNA. Sesuatu yang tidak mungkin disangkalnya lagi.”


Naina terdiam. Sejak tadi wanita itu merangkai cerita yang keluar dari bibir suaminya.


“Mertuanya Stevi merasakan hal yang sama?” tanya Naina.


“Mungkin tidak.”


“Bagaimana mereka bisa yakin? Kalau Nola adalah cucu mereka?” tanya Naina masih menyimpan penasarannya.


Senyum terkembang di bibir Wira. “Mereka bukan orang bodoh. Mereka juga pasti sudah mencari tahu sebelum mengakui Nola sebagai cucu mereka. Bukan hanya sekedar dari ucapan Stevi semata. Mereka pasti memegang bukti itu.


Lama Naina terdiam, sebelum akhirnya wanita itu berbalik memeluk erat suaminya. “Mas, dia bukan Mas, kan?” tanya Naina, pelan.


***


TBC