
Naina tengah menggigit cokelat hasil buruan sang suami di ruang tamu apartemennya. Wajah ibu hamil itu tampak berbinar, pipi gembulnya naik turun mengikuti gemeretak gigi yang menguyah batangan cokelat dengan campuran kacang mede di bagian dalamnya.
"Enak, Nai?"
Naina mengangguk dan tersenyum cerah memamerkan deretan giginya. Ia bahagia setelah berbulan-bulan memendam rindu akan perhatian Wira, akhirnya penantiannya tidak sia-sia. Wira bersedia mencarikannya cokelat. Makanan yang didambakannya setiap hamil. Dari hamil Wina sampai kehamilan keduanya, kesukaannya masih sama. Namun, kali ini terasa lebih manis dan nikmat karena Wiralah yang mencarikan untuknya bukan hasil pemburuannya sendiri.
Wira tersenyum. "Aku membelikan sekantung penuh. Jadi, kamu bisa makan sepuasnya."
Melihat ekspresi Naina, Wira tentu saja bahagia. Sebelum memutuskan sambungan telepon, sang kakak membocorkan rahasia besar yang selama ini dipendam sendiri. Ingin rasanya Wira mengumpat kalau tidak ingat jasa Dennis pada istri dan anaknya.
"Itu terlalu banyak, Mas. Kenapa membeli sebanyak itu? Apapun kalau berlebih itu tidak baik," ungkap Naina menggigit potongan cokelat terakhir.
Wira tersenyum. Sejak tadi menonton Naina dari dari seberang meja, pria itu berpindah. Tampak ia menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Naina, merangkul pundak ibu hamil itu agar mendekat padanya.
"Itu untuk membayar beberapa bulan yang terlewati. Aku tidak tahu, sejak hamil kamu jadi suka cokelat. Maafkan aku, Nai." Didekapnya erat tubuh ibu hamil besar itu hingga tidak bisa bergerak. Wira sedang melepaskan semua rasa dan rindu yang dipendamnya selama ini. Ada banyak cinta, luka, air mata yang ditahannya selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Walau belum sembuh sempurna, ia harap Naina bisa merasakan apa yang dirasakannya.
"Mas, aku kesulitan bernapas." Hampir lima menit merasakan dekapan hangat Wira, Naina melayangkan protes.
"Sudah berani protes padaku sekarang." Wira tergelak, melepaskan dekapannya.
"Gosok gigi dan tidur sekarang. Aku mulai mengantuk, Nai." Wira bangkit dan menggandeng tangan Naina untuk ikut bersamanya. Malam sudah berlalu, hari pun telah berganti. Waktu sudah menunjukan pukul 01.15 dini hari, pasangan suami istri itu segera menuju ke peraduan.
***
Detik berganti menit, menit berganti jam. Hari-hari yang dilalui Naina terasa jauh lebih ringan. Di trimester terakhir kehamilannya, sikap Wira benar-benar berubah.
Suaminya sangat perhatian, bahkan terlalu berlebihan. Naina yang sudah tidak diizinkan ke toko, hanya bisa memantau aktivitas karyawannya melalui CCTV dan memeriksa laporan yang disusun karyawannya.
Jenuh? Tentu saja. Naina tidak bisa melakukan apa pun selain makan, tidur dan menemani Wina setiap pulang sekolah. Pekerjaan rumah dan memasak sudah ada asisten rumah yang mengurusinya. Wira mempekerjakan banyak orang untuk membantunya.
Namun, di antara semua kemudahan, perhatian dan cinta yang Wira limpahkan padanya, selalu terselip ketakutan di dalam dirinya. Hari persalinan kian dekat, Naina pun makin berdebar. Pengalaman melahirkan Wina, sedikit banyak meninggalkan trauma di dalam hati ibu muda itu.
Bayangan kematian terasa begitu dekat. Bersusah payah menghempaskan dan mencoba berpikiran positif, tetap saja kekhawatiran itu menghiasi hari-hari Naina. Belum lagi ancaman perceraian pasca melahirkan. Walau Wira tak lagi mendendangkan kata cerai di tiap kalimatnya, tetapi pria itu tidak pernah menarik kata-katanya.
Entahlah, untuk saat ini Naina tidak ingin mengisi hatinya dengan semua keresahan dan ketakutan. Menjalani hari-hari yang disiapkan Tuhan tanpa membayangkan hari esok akan seperti apa. Ia tidak mau semua ketakutannya membuat kandungannya memburuk. Ia mencintai bayinya, buah hati yang berbagi napas dan kehidupan dengannya. Selama tujuh purnama bersama, berbagi tawa dan air mata.
Pagi itu, Naina terbangun saat seseorang mengusap lembut perut besarnya. Ia terusik ketika merasakan kecupan di pusarnya yang menonjol keluar.
"Mas, ada apa?" tanya Naina dengan suara serak. Kelopak matanya mengerjap, menyesuaikan dengan cahaya terang mentari pagi yang menerobos masuk dari jendela kamar.
"Kenapa tidak tidur bersamaku semalam?" tanya Wira, menjatuhkan bokongnya di sisi tempat tidur.
"Aku ketiduran, Mas." Naina menutup mulutnya yang menguap lebar. Ia masih mengantuk.
"Maaf, nanti malam saja, Mas."
Jujur saja, terkadang Naina tercubit akan sikap Wira. Hubungan mereka sudah baik-baik saja layaknya suami istri pada umumnya. Namun, sampai detik ini Wira tak pernah meminta untuk memindahkan barang-barang pribadi dan pakaiannya ke kamar utama.
Entah apa yang dipikirkan Wira, Naina tidak pernah mengerti. Bahkan sampai sekarang Wira selalu menyebut kamar itu miliknya seorang, seakan Naina tidak memiliki hak. Setiap mengingatnya, ibu hamil itu hanya bisa diam dan menelan kecewa.
"Nai, nanti tolong siapkan makan siang. Pesan di restoran langganan saja. Ada temanku mau berkunjung ke tempat kita." Wira bersuara.
"Siapa, Mas?"
"Temanku di klab." Wira menjawab santai. Tanpa sadar kata klab sanggup membuat ibu hamil itu cemberut. Naina teringat dengan para gadis yang menempel pada suaminya beberapa waktu lalu.
Wira tergelak.
"Bukan Sheilla, Sayang. Ini teman priaku." Wira menjelaskan setelah melihat perubahan wajah istrinya. Ia bisa melihat binar-binar cemburu tampak jelas di wajah Naina.
"Siapa?" Naina menarik tubuhnya, memilih duduk bersandar di tempat tidur.
"Aku katakan padamu juga percuma. Kamu tidak akan mengenalnya. Sebaiknya bersiap." Wira menangkup pipi Naina dan melabuhkan kecupan di bibir istrinya.
"Sudah. Ibu hamil harus bangun pagi." Wira tersenyum sambil menggandeng Naina agar mengikuti langkahnya.
"Mas ...." Naina tiba-tiba berhenti melangkah, berganti memeluk Wira dari belakang. Perut buncitnya menempel rapat di punggung suaminya.
"Kenapa? Apa semua ibu hamil selalu manja seperti ini?" tanya Wira.
Naina menggeleng. "Aku hanya ingin memelukmu. Sepertinya adek bayi ingin merasakan hangatnya punggung Ayahnya," bisik Naina.
"Benarkah?"
Naina mengangguk.
"Ya sudah, kamu bisa melakukan sepuasnya, Nai." Wira mengulum senyuman sembari menggenggam tangab Naina yang mengunci perutnya. Ia rindu kemanjaan Naina yang seperti ini.
-
-
-