Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S1. Bab 40


“Fit, kamu pulang naik taksi, ya?” Naina mengeluarkan dompet dari dalam tas tangannya. Menarik lima lembar uang seratus ribu. Menyerahkannya kepada Fitri sambil berpesan banyak hal.


"Kenapa banyak, Bu?" tanya Fitri heran.


"Untuk menebus vitaminmu, sisanya bisa untuk membeli susu hamil. Fit, aku mungkin tidak kembali ke butik lagi. Tolong sampaikan dengan yang lain,” sambung Naina.


Fitri mengangguk pelan, menyunggingkan senyuman. “Terimakasih, Bu.”


Naina melangkah menuju ke ruang praktek dokter anak. Sengaja menunggu di depan pintu, demi bertemu Nola dan pengasuhnya. Wanita dengan gaun chiffon biru muda itu terlihat biasa. Tidak ada aura kesedihan sedikit pun. Berusaha tegar dan menguatkan hatinya, bahwa yang didengarnya adalah suatu kebetulan semata.


Menolak untuk percaya di saat bukti dan fakta itu belum di tangannya. Apalagi selama ini, dia tidak merasa ada yang berubah dari suaminya. Laki-laki itu setiap hari pulang ke rumah tepat waktu, selalu bersamanya setiap saat.


Lima menit menunggu di depan pintu. Mata Naina mengedar ke sekeliling rumah sakit, mencari jejak-jejak Wira atau pun Stevi. Pastinya, harus ada salah satu dari keduanya, yang menemani Nola. Tidak mungkin gadis kecil itu dibiarkan hanya berdua dengan pengasuhnya.


Lamunan Naina terhenti, saat pintu ruang praktek itu terbuka dengan pengasuh Nola menggendong gadis kecil yang berurai air mata.


“Hai ... Nola.” Naina menyapa lembut.


Wajah pengasuh berubah pucat saat mengenali Naina. “Nyo ...nya,” ucapnya terbata.


“Ya, Mbak. Kebetulan aku tadi mengantar teman periksa kehamilannya,” ucap Naina, berusaha bersikap biasa. Seberapa hancur dan terguncang hatinya saat ini, hanya dia seorang yang paling mengetahui, selain Tuhan tentunya.


“Dengan siapa ke sini, Mbak?” Naina kembali melempar tanya.


“Berdua dengan Nola saja, Nyonya. Tadi naik taksi ke sini.”


“Oh, kalau begitu ikut denganku saja. Kebetulan aku juga mau ke rumah mertuaku,” tawar Naina, mengumbar senyuman kaku.


Bersusah payah memaksa bibir tersenyum, di saat hatinya ingin menjerit dan menangis. Sejak tadi, Naina terdiam, mengulang semua cerita Wira. Merangkai kepingan demi kepingan yang selama ini Wira sampaikan padanya.


“Tidak apa-apa, Nyonya. Saya bisa naik taksi.” Pengasuh itu menolak.


“Ikut saja denganku, Mbak. Apalagi kita searah.” Naina memaksa.


Dengan segala bujuk rayu, akhirnya Naina bisa membawa Nola dan pengasuhnya ikut semobil dengannya. Mengobrol santai sesekali menggoda Nola, Naina harus bersusah payah menahan gejolak perih yang mengoyak hatinya.


“Mbak, kenapa tidak bersama Stevi atau papinya Nola? Selalu seperti ini?” pancing Naina.


“Ya, Nyonya. Sejak dari bayi, selalu saya yang membawa ke rumah sakit.”


Kelopak mata itu berkaca-kaca saat mendengar jawaban yang keluar dari bibir pengasuh. Kalau tadi Naina meratapi takdirnya, sekarang dia mengasihani nasib Nola.


“Papinya?” Pertanyaan mengambang, Naina bingung bagaimana harus bertanya.


“Papinya ... terlalu sibuk bekerja, Nyonya.”


“Papi macam apa itu, sampai tidak peduli dengan anaknya sendiri. Kasihan Nola. Aku juga tidak bisa menyalahkan, mungkin ....”


Naina menggigit bibirnya, ingin rasanya berteriak dan mencaci maki, tetapi pada siapa.


“Papinya jarang mengunjungi Nola?” tanya Naina.


“Ya, papinya jarang menjenguk. Kalau menjenguk pun hanya sebentar.” Sang pengasuh berterus terang. Bingung sendiri harus menjawab apa. Mendengar pertanyaan Naina, dia tahu kalau wanita yang sedang mengenggam kemudi itu mengetahui sesuatu.


Perjalanan dari rumah sakit ke rumah Stevi terasa cepat. Ada banyak tanya yang dilontarkan Naina, meskipun tidak secara terang-terangan. Naina sedang mengumpulkan fakta-fakta yang belum diketahuinya.


“Nyonya, terimakasih.” Sang pengasuh menggendong turun Nola, melambaikan tangan perpisahan. Sedikit pun, tidak menawarkan Naina untuk mampir ke dalam. Dia cukup tahu diri, sebagai pengasuh tidaklah berhak berbuat selancang itu.


***


“Kenapa harus kamu, Mas ....” isak Naina. Air mata itu tak terbendung lagi, mengucur deras tanpa sanggup ditahan.


Mengingat kembali rangkaian kisahnya dengan Wira, mengenang kembali perjalanan lima tahun berumah tangga. Ada canda, tawa, duka dan air mata. Semua melengkapi cerita cintanya dengan Wira.


Sampai detik ini, Naina masih menolak percaya, kalau suaminya sudah menikah lagi dan memiliki anak dari perempuan yang dianggap sahabat.


“Mas ... ini sakit. Sakit sekali.” Naina meremas dadanya. Sakit itu mengiris, pedih, perih. Naina terguncang, jatuh dan hampir tak bisa bangkit lagi.


Tawanya selama ini terasa sia-sia, kebahagiaannya selama ini seakan tidak ada artinya. Hal yang paling ditakutkan di dalam hidup, sedang dirasakannya tanpa disadari.


“Mas ... kenapa harus kamu, Mas,” lirihnya pelan.


Hampir setengah jam Naina menumpahkan dukanya, mencoba berdamai dengan sakitnya, berusaha berpikir jernih di saat otaknya hampir buntu. Berusaha bangkit di saat kedua kakinya bahkan tak memiliki kekuatan untuk menopang tubuhnya.


Di tengah meratapi diri, dering gawai putih miliknya mengalun perlahan. Ingin mengabaikannya, tetapi dia tidak bisa. Itu bukan sifat Naina. Tersenyum getir saat melihat nama Wira muncul di layar.


Naina mengusap pelan kedua matanya yang menggenang air mata, menarik habis cairan yang mengisi rongga hidungnya.


“Ya, Mas.” Suara itu bergetar, menahan getirnya rasa.


“Nai, kamu dimana?” tanya Wira. Suaranya terdengar biasa.


“Mas ... di mana?” Menguatkan hati. Naina ingin menangis lagi saat mendengar suara Wira, mengalun lembut di telinganya seperti biasa. Hangat dan membuatnya nyaman. Selalu begitu selama ini.


“Mas di rumah mama. Nai jadi menyusul?” tanya Wira lagi.


Naina sudah tidak sanggup bersuara. Isaknya masih terdengar. Suara Wira membuat pertahanan dirinya ambruk.


“Mas ... Nai ... tidak bisa menyusul,” ucap Naina terbata, menutup mulut dengan kedua tangannya, menahan isaknya agar tidak terdengar.


Hening, Naina menggigit bibirnya, berusaha menguatkan diri.


“Nai, kamu baik-baik saja?” Wira mulai merasa ada yang aneh, setelah memastikan suara Naina terdengar berbeda.


“Ya ... Nai baik-baik saja. Mas ... langsung ke kantor?” tanya Naina lagi, berusaha terdengar tegar.


“Ya, setelah mengunjungi mama, Mas langsung ke kantor. Mau mampir ke tempat Stevi sebentar, tadi Mas membeli boneka untuk putrinya, jadi sekalian menitipkannya.” Wira menjawab dengan jujur.


“Mas, Nai matikan dulu. Nai sedang menyetir,” putus Naina, tanpa menunggu jawaban segera memutuskan panggilan telepon.


Tangisnya kembali pecah saat suara Wira menghilang. Dan benar saja, tak lama Naina bisa melihat mobil Wira menepi dari kejauhan. Laki-laki itu turun menggengam boneka kecil di tangannya. Namun, tidak sampai lima menit, Wira sudah kembali ke mobil dan meninggalkan tempat itu tanpa banyak drama.


“Bahkan sampai sejauh ini, kamu masih menolak berbohong padaku. Kenapa tidak berbohong saja, Mas. Mungkin tidak terlalu sakit seperti ini.” Naina mengingat kembali, bagaimana selama ini Wira selalu berusaha jujur padanya.


“Jujurmu, membuat semuanya tambah menyakitkan. Harusnya kamu berbohong saja, Mas. Setidaknya aku mempunyai alasan untuk membencimu,”


“Harusnya kamu berbohong saja padaku, Mas.” Naina terisak kembali, mengingat baru kemarin Wira mengakui kalau dirinya adalah suami Stevi.”


***


TBC