Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S3. TAS 7


"Sheilla."


Bibir Naina tanpa sengaja melontarkan satu nama wanita yang baru saja disebut suaminya.


William menoleh, membagi fokusnya dari jalanan ibu kota yang lumayan padat di jam masuk kantor. Ia tentu mengenal nama itu, terutama gadis-gadis yang berdiri mengelilingi Pratama Wirayudha. Ia mengenal semua, dari identitas, karier sampai kehidupan pribadi.


"Maaf, Bu. Ada apa?" William mencari tahu.


"Will, apa kamu mengenal Sheilla?"


Kalau sebelum menikah dengan Wira, ia tidak peduli dengan kehidupan pria itu. Namun, saat ia menyandang status istri Wira, ia tidak bisa mendiamkannya seakan tidak terjadi apa-apa. Ini rumah tangganya, ia istri sah Wira. Naina tidak mengizinkan ada wanita lain masuk dan menyerang wilayah kekuasaannya dan menghancurkan semuanya di saat ia masih berstatus istri dari Pratama Wirayudha.


Berbeda, di saat Wira masih sendiri. Wira berhak menentukan ke mana hati dan hidup akan berlabuh dan tertuju. Pada siapa Wira akan menjatuhkan pilihan, pada siapa Wira ingin berbagi, bahkan pada siapa Wira menghabiskan malam-malamnya. Naina tidak mempermasalahkan semua itu.


"Sheilla? Maksudnya, Bu?" William meminta kejelasan. Ia tidak bisa menjawab kalau informasi yang didapatkannya baru setengah.


"Teman Mas Wira ... apa wanita itu ada hubungan dengan suamiku?" tanya Naina.


"Sheilla, artis ftv yang pernah main ke rumah, Bu. Cantik, good looking, pintar merayu. Tapi, karier dan kehidupan percintaannya tidak seindah wajahnya. Dia teman Pak Wira, bertemu di salah satu club mobil. Paling sering meminta bantuan dari Pak Wira supaya kariernya naik." William menjelaskan.


"Selain itu, apa Mas Wira memiliki hubungan lebih jauh?" tanya Naina, mencecar asisten suaminya.


"Setahuku ... tidak ada, Bu."


"Hubungan mereka sampai sejauh mana?" Naina masih terus menginterogasi William.


"Teman main di klab, ngobrol. Biasanya Pak Wira juga bertemu dengan teman yang lain, tidak pernah berduaan."


Naina menyimak.


"Will, apa ... sebelum ini ... Mas Wira pernah terlibat hubungan dengan wanita?" Naina ragu, tetapi ia butuh kejelasan agar ke depan tidak menjadi duri di dalam rumah tangganya.


"Setahuku ... tidak ada, Bu."


Ada kelegaan di dalam hati Naina, namun itu tidak berlangsung lama. Kalimat William selanjutnya membuat Naina terhempas.


"Itu setahuku, Bu. Kalau di luar sepengetahuanku ... aku tidak tahu. Pak Wira single. Andaikan Pak Wira memasukan wanita ke apartemennya, aku juga tidak tahu."


Naina terdiam, menyudahi semuanya. Ia tidak mau merangkai prasangka dengan terus mengorek masa lalu Wira di masa-masa perceraian mereka. Ia menerima semua cerita masa lalu Wira, baik atau buruk. Apa pun yang dilakukan Wira pasca bercerai dengannya, ia tidak berhak ikut campur. Ia hanya tidak ingin, semua berimbas di kehidupan mereka sekarang.


Sama seperti dirinya, ia juga menghempas jauh masa lalu ketika memutuskan menerima pernikahan keduanya dengan Wira. Ia sudah memantapkan hati, apa pun masalahnya dengan Wira, orang-orang dari masa lalunya tidak akan pernah terlibat lagi di dalamnya.


***


Setelah melakukan pembicaraan dengan owner salah satu brand pakaian bayi dan anak-anak, Naina pun memutuskan pulang ke rumah. Di perjalanan pulang, ibu hamil itu memilih tidak banyak bicara. Lebih banyak diam dan membenahi perasaannya sendiri.


Walau berusaha untuk mengenyahkan Sheilla dari dalam hatinya, nama itu tetap saja mengusiknya.


"Will, antarkan aku ke kantor Mas Wira!" titah Naina tiba-tiba. Ia merasa tidak bisa tinggal diam. Sebagai istri, ia harus meluruskan. Kalau memang tidak ada apa-apa, ia tidak akan terus memupuk curiga. Dan andai ada sesuatu yang disembunyikan Wira darinya, ia harus menyelesaikannya secepat mungkin.


William tersentak. "Tapi ... apa Pak Wira tahu ... kalau Ibu mau ke kantor? Nanti malah terjadi seperti kemarin, Bu." William berusaha menolak.


"Aku istrinya. Apa aku tidak berhak berkunjung ke kantor suamiku?" tanya Naina heran.


"Bukan begitu, Bu. Takutnya Bapak sedang tidak ada di kantor, jadinya sia-sia. Sebaiknya Ibu menghubungi Pak Wira dulu." William memberi ide.


Naina menghela napas. "Turuti saja perintahku, Will!" tegas Naina, sontak membuat William menciut saat melihat tatapan tajam Naina dari spion mobil ditujukan padanya. William menurut dan tidak mau berdebat.


***


Mobil yang dikendarai William baru saja berhenti di parkiran kantor saat mobil sport Wira melintas di depan mereka. Tak lama, Naina bisa melihat mobil hitam suaminya berhenti tidak jauh dari tempatnya.


"Mas Wira ...." Naina buru-buru turun dan bermaksud menghampiri.


"Maaf, Mbak siapa?" tanya Naina, mengajak bicara setelah memastikan Wira tidak ada di dalam mobil.


"Kenapa mobil suamiku ada bersamamu?" tanya Naina lagi sembari memastikan nomor polisi kereta besi tempat sang wanita turun.


"Perkenalkan aku Sheilla, temannya Wira." Wanita itu memperkenalkan diri.


"Ada hubungan apa dengan suamiku? Bagaimana mobil suamiku ada padamu?" cecar Naina, tanpa basa basi.


Sheilla tersenyum. "Aku sudah katakan ... kalau aku temannya Wira. Aku harus bertemu Wira dan mengembalikan kunci mobilnya. Aku permisi, Nyonya." Sheilla berjalan menuju ke gedung PW Group. Suara ketukan high heel wanita itu terdengar teratur dan berirama.


"Dia bahkan berani mengabaikanku." Naina terpancing emosi. Kalau bukan karena pria yang sedang didekati Sheilla adalah suaminya, ia tidak akan peduli.


***


"Babe, terima kasih pinjaman mobilnya." Sheilla menerobos masuk ruangan Wira tanpa permisi.


"Sudah?" Wira tengah berbincang dengan asistennya Kevin saat Sheilla muncul.


"Sudah, Babe. Ini aku kembalikan." Sheilla meletakan kunci mobil Wira di atas meja, tepat di sebelah tumpukan berkas.


"Istrimu menginterogasiku, Babe. Tadi kami ber ...." Sheilla tidak dapat melanjutkan kalimatnya, Naina sudah menyusul masuk ke dalam ruangan Wira.


"Mas ... kita harus bicara. Ini penting!" Naina berdiri di ambang pintu, menatap Wira.


Wira menghela napas berat, berjalan mendekat pada Sheilla. "See you next time." Wira memeluk Sheilla sembari menatap ke arah Naina.


"Aku akan menghubungimu nanti," lanjut Wira setelah mengurai pelukannya.


"Oke, Babe. Aku tunggu." Sheilla tersenyum manis. Ia masih sempat berpamitan pada Naina saat berpapasan di pintu.


"Mari, Nyonya." Sheilla tersenyum manis.


Sepeninggalan Kevin dan Sheilla, Wira terlihat kembali fokus pada pekerjaannya. Ia mengabaikan Naina yang berdiri di depannya.


"Mas, kita perlu bicara." Naina membuka suara.


"Bicaralah. Aku mendengarnya." Wira menjawab santai, tanpa mengalihkan perhatiannya dari tumpukan kertas.


"Mas, aku serius!" Naina kesal sendiri, Wira mengabaikannya.


"Silakan. Aku mendengarnya, Nai." Wira masih menatap berkas-berkas di atas meja.


Naina menghela napas, berusaha bersabar. Ia sudah bersabar sampai sejauh ini. Ia memilih diam di saat Wira memperlakukannya semena-mena. Bahkan ia bungkam, saat Wira mempermalukannya di depan orang lain.


"Apa maumu, Mas?" tanya Naina.


"Tidak ada." Wira menjawab tanpa melihat lawan bicaranya.


"Kalau memang tidak ada ... kenapa bersikap seperti ini?" tanya Naina lagi.


"Apa yang aku lakukan? Ada yang tidak kamu sukai?" Wira balik bertanya.


"Ya, aku tidak suka dengan wanita itu. Kalau Mas menyukainya, aku tidak keberatan. Silakan menceraikanku." Naina menantang. "Aku lelah dengan semua ini."


"Jangan mimpi bercerai dariku! Ingat Nai ... kamu bisa menceraikan Wira yang dulu, tetapi bukan Wira yang sekarang. Berani menuntut ceraiku, aku pastikan Wina jatuh ke tanganku," ancam Wira.


"Jangan coba-coba menentangku. Atau berani pergi dariku lagi seperti dulu. Aku pastikan, kamu tidak akan bisa bersembunyi dariku." Wira tersenyum licik.


***


Tbc