
Rumah itu tidak layak dihuni, tetapi aku tidak bisa menahanmu, Nai. Aku tidak bisa ikut campur, semua adalah keputusanmu. Aku hanya kasihan pada Wina. Terima semua barang-barang itu, kamu dan Wina membutuhkannya. Jaga diri baik-baik. Kalau membutuhkan bantuanku, jangan sungkan. Ibu sakit. Kalau kamu merasa sudah lebih baik, tolong temui Ibu. Dia sangat terpukul.
Naina membaca kembali pesan teks yang dikirim Dennis padanya. Pandangannya beralih pada tumpukan barang-barang yang menggunung di depan teras rumah. Itu belum termasuk sebagian perabotan yang masih dalam proses pengangkutan dari mobil boks di tepi jalan menuju ke kontrakannya oleh tiga orang pegawai toko.
“Pak, ambil balik semua barang-barang ini. Aku tidak memesannya.” Naina memerintah pada pegawai yang baru saja menurunkan kompor dan peralatan memasak.
“Maaf Bu, kami hanya menjalankan perintah dari pemilik toko. Semua ini sudah dibayar, kami hanya bertugas mengirim saja.” Salah seorang dari ketiga pegawai toko menjawab.
Naina melengos, mengajak Rima masuk kembali ke dalam kontrakan. Ia membiarkan tumpukan barang-barang itu tetap menggunung di depan kontrakannya.
***
Sore berganti malam, waktu berlalu begitu cepat. Sejak Wina bangun dari tidurnya, Naina berusaha mendekatkan dirinya dengan sang putri. Ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan sedikit pun. Saat ini, ia hanya ingin membayar kembali setahun yang terbuang. Mengenalkan dirinya lagi pada Wina. Melimpahi kasih sayangnya pada putri semata wayangnya.
Waktu menunjukan pukul tujuh malam saat Naina menuntut putrinya bersama Rima masuk ke dalam gang sempit kontrakan mereka. Terlihat Naina dan Rima membawa beberapa kantong plastik besar berisi kebutuhan rumah, stok makanan, susu dan beberapa bungkus popok untuk Wina. Mereka baru saja pulang dari supermaket, tidak terlalu jauh dari kontrakan.
“Bu, apa tidak sebaiknya digunakan saja. Kita juga membutuhkannya saat ini. Seperti kasur dan perlengkapan memasak. Aku harus membuat susu untuk Wina dan membutuhkan air panas,” ungkap Rima memberi ide begitu mereka menginjakan kaki kembali ke kontrakan.
Deg— Naina tersadar. Sejak tadi, ia sudah begitu egois pada putrinya. Bahkan mengajak Wina yang tidak mengerti apa-apa ikut ke dalam kesusahannya. Ibu muda itu memandang putrinya yang sibuk bermain dengan boneka kesayangannya dengan mata berkaca-kaca.
“Maafkan Bunda, Win. Karena Bunda, Wina jadi ikut merasakan kesusahan.” Naina duduk mendekat pada putri kecilnya yang duduk di lantai berlapis kasur lipat yang sudah tipis.
“Ya sudah, kamu boleh mengambil apa saja yang kira-kira dibutuhkan, Rim. Kamu juga boleh mengambil kasur untuk tidur malam ini.” Naina memberi izin. Ia tidak bisa egois dan keras kepala lagi sekarang. Ada Wina yang akan menjadi korban atas kekerasan hatinya. Bahkan selama ini tanpa disadari, Wina menjadi korban dari sikapnya.
***
Seminggu berlalu, Wina yang tadinya menolak kehadiran Naina perlahan mulai membuka hatinya kembali pada sang bunda. Hubungan ibu dan anak itu perlahan tetapi pasti kembali dekat. Perabotan menggunung di depan rumah, akhirnya diterima juga. Naina tidak bisa berbuat banyak.
Kontrakan yang tadinya tidak layak huni, dalam seminggu disulap menjadi tempat tinggal yang nyaman untuk ketiganya. Peralatan dapur lengkap meskipun hanya sederhana. Ruang tamu mungil yang tadinya kosong melompong, sekarang sudah dihuni satu set kursi plastik dengan meja plastik tertutup taplak dengan vas berisi sirih gading menjuntai. Ada televisi juga tergantung di dinding untuk menemani hari-hari Wina.
Seperti biasa, pagi itu Naina terbangun dengan pesan masuk dari Dennis berisi permintaan maaf. Seminggu tanpa jeda, Dennia selalu mengiriminya pesan dan menanyakan kabar. Terselip kekhawatiran di setiap untaian kata dan pertanyaan Dennis. Meskipun begitu, Naina tetap bersikukuh dan mengabaikan semua panggilan sekaligus pesan yang masuk di ponselnya.
“Dia lagi!” gerutu Naina kesal. Ia melempar kasar ponselnya di atas kasur busa king size yang tergeletak di atas lantai. Di tempat tidur itu, Naina berbagi tempat bersama Wina dan Rima. Kehidupan mereka sederhana, tetapi Naina bahagia bisa berbagi bersama putrinya.
Keduanya, Rima dan Wina masih tertidur pulas, mengarungi alam mimpi. Naina yang sudah terjaga karena pesan dari Dennis, memilih keluar ke teras rumah. Pagi itu masih gelap, tetapi sudah terdengar beberapa ibu-ibu yang mengobrol di teras rumah mereka. Kebetulan kontrakan Naina terdiri dari tujuh petak rumah. Semuanya sudah terisi, bahkan sebelah kiri rumahnya yang tadinya kosong, beberapa hari yang lalu juga sudah diisi oleh pengontrak baru.
Naina merapatkan piyama tidurnya begitu kulit tubuhnya tersapu udara pagi yang dingin. Menyempatkan diri menyapa ibu-ibu yang mengobrol di sebelah kanan rumahnya, Naina berusaha mengakrabkan diri sebagai warga baru. Meski ia tidak terlalu paham dengan topik pembicaraan, Naina mencoba menyunggingkan senyumannya.
Lima belas menit berdiri di teras rumahnya, Naina dikejutkan dengan tetangga sebelah kiri rumahnya. Pria tampan dengan bahasa tubuh yang sangat dikenali. Pria itu seperti pria yang sudah menghancurkan pernikahan dan membuat hidupnya berantakan.
“Mas! Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Naina bingung. Ia terkejut melihat pria dengan postur seperti Dennis keluar dari rumah kontrakan di sebelahnya. Pria itu mengenakan topi dan kacamata hitam. Kaos polos dan celana jeans menutupi tubuh kekarnya. Namun, Naina yakin sekali kalau itu adalah Dennis.
Naina berusaha mengejar, namun pria asing yang diyakini Naina adalah Dennis Wijaya itu menghilang. Saat Naina tiba di tepi jalan, sudah tidak ada siapa-siapa. Hanya sebuah mobil sport hitam melaju kencang tidak jauh dari tempatnya berdiri.
***
Selama seminggu menenangkan diri sembari menata hidupnya kembali, Naina akhirnya mencoba berdamai dengan masa lalunya. Setelah beberapa hal terungkap kebenarannya, Naina memutuskan menemui Wira di rumah lama mereka.
Dengan taksi, Naina bersama Rima dan Wina pun menyusuri jalanan ibu kota. Kenangan tiga tahun silam berputar kembali di otaknya, kesedihan menyapanya saat taksi masuk ke dalam komplek perumahan yang dulu ia tempati bersama Wira.
Hatinya semakin hancur berantakan saat kendaraan yang mereka tumpangi semakin dekat dan akhirnya berhenti tepat di depan sebuah rumah yang tampak tidak terawat.
"Apa Mas Wira tidak tinggal di sini?" tanya Naina sambil mengamati halaman rumah yang tertutup ilalang dan rumput liar. Tidak perlu turun dari taksi, Naina bisa memastikan kalau rumah itu sudah lama tidak dihuni.
"Pak, ke Jalan anggrek 5. Perumahan The Royale, ya." Naina memberi perintah pada sopir taksi. Ia berencana mendatangi Mama Wira. Mungkin di sana ia bisa mendapat informasi tentang keberadaan mantan suaminya atau bisa saja Wira tinggal bersama mamanya seperti di awal perceraian mereka.
Bukan mudah untuk memutuskan menemui Wira. Perceraian mereka tiga tahun silam adalah hal terberat di dalam hidupnya. Ia sudah berusaha bersembunyi selama ini. Tidak mau mendekat lagi dengan masa lalu, tetapi pernyataan Dennis membuatnya harus mengorek kembali luka lamanya. Menjadi tidak adil untuk Wira saat semuanya adalah permainan dan kecurangan Dennis. Menjadi tidak adil untuk Wina juga. Setidaknya putrinya perlu mengenal keluarga kandungnya meskipun pernikahan mereka tidak bisa utuh kembali.
Hampir empat puluh lima menit membelah jalanan Jakarta, taksi yang mereka tumpangi akhirnya tiba di sebuah rumah dua lantai. Masih rumah yang sama, hanya catnya sudah berubah warna.
Sepertinya sekarang mantan mama mertuanya mulai menyukai tanaman hijau. Itu terlihat dari teras dan halaman rumah dipenuhi pot dengan berbagai jenis tanaman hias. Pemandangan yang jauh berbeda dibanding tiga tahun silam.
Dengan menggandeng tangan Wina, wanita yang masih terlihat cantik di usianya yang semakin dewasa itu menekan bel rumah. Menyusul di belakang mereka Rima dengan menenteng tas berisi susu dan perlengkapan Wina.
Tak butuh waktu lama, pria paruh baya muncul dari balik pintu dan tentu saja Naina mengenalnya.
"Pa ...." sapa Naina tersenyum.
Pria tua itu tertegun menatap Naina tak berkedip. Papa Wira tidak bersuara, hanya terpaku dan beralih menatap Wina.
"Naina?" ucap Papa Wira masih dengan wajah terkejutnya.
"Ya, Pa. Papa apa kabar?" Naina membungkuk dan mencium tangan mantan papa mertuanya.
"Baik. Ayo masuk ke dalam," ajak Papa Wira. Ia berusaha menguasai diri. Ini benar-benar kejutan untuk keluarga mereka setelah lama tidak bertemu.
***
TBC