Tatap Aku, Suamiku

Tatap Aku, Suamiku
S1. Bab 47


“Nai, kamu serius menggugat ceraiku?” tanya Wira dengan wajah datarnya. Kertas putih itu terjatuh, tampak jelas tanda tangan Naina di atas materai selaku penggugat.


“Mas ....” Naina berjalan mendekat, meraih tangan Wira yang terlihat putus asa. Pucat sepucat kertas yang baru saja terlepas dari genggaman tangan Wira.


“Sejak kapan kamu mengetahuinya, Nai?” tanya Wira, memberanikan diri menatap. Wajah sendu yang menenangkan sukmanya dengan manik mata kelam itu menatap teduh ke arahnya.


Wira sadar, kalau kesalahannya selama ini tidak termaafkan. Sebut saja dia tidak tahu malu, masih belum rela melepaskan Naina meskipun setiap hari belajar menyiapkan hati untuk hari ini. Terlanjur mencintai, ketika harus berpisah rasanya sakit.


“Apakah seperti ini rasanya, saat malaikat maut mencabut nyawa dari raga,” cicit Wira pelan, sembari meremas dadanya yang nyeri. Sakitnya sampai ke ulu hati.


“Baru dua minggu ini, Mas.” Naina menjawab pelan. Tertunduk menyembunyikan perasaannya.


Ini juga berat untuk Naina, tetapi pilihan terbaik untuk semua orang, dia, Wira, Stevi dan terutama Nola. Ya, secarik kertas berisi gugatan perceraian itu demi Nola. Gadis kecil miniatur dirinya di masa lalu.


“Mas, maafkan Nai. Sejak awal menikah, Mas sudah mengetahui semuanya, kan?” Naina berkata pelan. Masih berbalut batrobe dengan rambut basah digulung dengan handuk, Naina meraih tangan Wira.


Tegar, lebih tepatnya berusaha terlihat tegar.


“Nai ... tidak bisakah ... kita tidak bercerai? Mas tidak mau bercerai, Nai. Sungguh!” Wira memohon dengan raut sedih. Sudah tidak ada tenaga, sudah tidak ada gairah hidup lagi.


Terduduk di atas ranjang, melemas. Kedua kaki Wira sudah tidak sanggup lagi menopang tubuhnya. Dunia hancur, termasuk hidupnya yang sebentar lagi juga akan ikut berantakan. Harus kehilangan Naina, berarti dia harus kehilangan separuh dari dirinya, separuh dari hidupnya, separuh dari napasnya.


“Mas tidak mau kita bercerai, Nai. Maafkan Mas.” Wira tertunduk. Dua bulir cairan bening itu turun membasahi wajah rupawan Wira. Laki-laki itu terpuruk. Ya, hanya dengan sehelai kertas, hidup Wira hancur tak bersisa.


“Mas, jangan begini,” ucap Naina, menggigit bibir. Suaranya terdengar bergetar, berusaha menahan tangis. Dia sedang berusaha tegar. Dua minggu ini dia menangis setiap hari. Siang malam, meratapi nasibnya di belakang Wira. Hanya Mbok Sumi satu-satunya tempat untuknya berkeluh kesah. Hanya wanita tua itu, teman bicara sekaligus sosok orang tua pengganti ibunya selain mama Wira.


“Mas tidak mau berpisah denganmu, Nai. Mas mohon.” Kedua tangan Wira sudah merengkuh pinggang ramping yang berdiri tepat di depannya. Dipeluknya erat sembari menempelkan kepalanya di perut Naina. Menumpahkan tangisnya di sana.


“Mas tidak mau berpisah denganmu, Nai. Kamu boleh menghukum Mas apa saja, tetapi jangan dengan cara ini. Mas mencintaimu,” lirih Wira.


Setelah lama bertahan, berusaha kuat, Naina ikut menumpahkan air matanya. Pernyataan cinta Wira itu membuat hatinya melemah. Matanya memanas, mengembun dan berakhir dengan luruhnya cairan bening menghiasi pipi.


“Nai juga sangat mencintaimu, Mas.” Naina bersuara. Serak dan bergetar menahan isak, Naina menguatkan hati dan dirinya supaya jangan sampai goyah.


“Nai juga mencintaimu, Mas. Sangat.” Naina mengulurkan tangannya, mengusap puncak kepala suaminya. Berusaha menguatkan Wira di tengah hatinya yang juga hancur berkeping-keping.


“Kalau Nai mencintai Mas, kenapa memilih berpisah. Hukum Mas dengan cara lain, tetapi jangan dengan perceraian. Nai mau Mas menceraikan Stevi sekarang?” tanya Wira. Tanpa bertanya lebih jauh, dia sudah tahu dengan semua isi kepala Naina. Mereka bersama selama lima tahun, banyak hal yang sudah mereka pahami satu sama lain tanpa harus bertanya dan bicara lebih dulu.


“Tidak! Yang terbaik adalah perceraian, Mas. Tidak ada yang tersisa dari hubungan kita. Dengan Stevi, Mas memiliki Nola. Dengan Nai, Mas tidak memiliki apa-apa.” Naina menegaskan di sela isaknya.


Gelengan kencang terasa di perut Naina. Sekejap, Wira melepas pelukannya dan bersimpuh memohon. Memeluk kedua lutut Naina, dengan wajah memelasnya.


“Mas tidak mau berpisah. Nai boleh meminta apa saja, boleh menghukum Mas. Mas terima, tetapi jangan hukum Mas seperti ini.” Wira bersikeras.


Suara-suara Wira semakin membuat mata indah itu basah. Naina hampir tidak sanggup lagi. Sakit itu bukan hanya milik Wira, dia juga sakit. Dia juga berat untuk mengambil keputusan bercerai, namun inilah yang terbaik untuk semua orang.


“Mas, dengar. Ini bukan hukuman untuk Mas, Nai juga sakit. Nai juga tidak mau mengambil keputusan ini ....” Naina ikut bersimpuh. Wajah basah itu menatap sedih, pada pria yang masih berstatus miliknya sampai hari ini. Namun entah sampai kapan akan menjadi miliknya. Saat pengadilan memutuskan, mereka bukan siapa-siapa lagi. Tidak ada yang tertinggal, hanya sebuah kenangan.


“Nai, sudah berusaha. Begitu mengetahui kebenarannya, Nai masih mencari tahu dan tidak mau gegabah, tidak mau terbawa emosi. Seperti yang Mas ceritakan pada Nai, kalau Stevi telah menjebak Mas ....” Naina terdiam, menghela napas. Dia berusaha tersenyum di tengah deraian air matanya.


Membingkai wajah suaminya dengan kedua telapak tangan. Naina berusaha membuat situasi ini menjadi lebih mudah. “Nai mencintaimu, Mas. Sampai detik ini pun tidak berubah. Masih sama seperti awal kita bertemu. Nai percaya padamu, Mas.”


“Mas bahkan menikahinya karena Nai?” tanya Naina


Wira mengangguk.


“Bukan karena Nola?” tanya Naina memastikan.


“Bukan. Kalau hanya Nola, Mas cukup bertanggung jawab dan membiayai kebutuhannya saja. Untuk apa Mas sampai menikahinya,” jelas Wira.


“Mas menikahinya untuk menutup mulut semua orang. Mas tidak mau sampai Nai tahu dan menceraikan Mas ....” ucap Wira putus asa.


Terduduk di lantai kamar, Naina menghambur memeluk Wira. Menangis sesengukan di pundak suaminya, membagi beban dan sakit yang disimpannya selama dua minggu ini.


“Nai sudah tahu semuanya. Nai tahu jelas situasinya. Nai mengerti kenapa Mas menutupinya. Nai sangat mengerti, Mas juga sakit. Mas juga terpaksa berbohong. Nai tahu jelas seperti apa suami Nai, tetapi ....”


Naina melepaskan pelukannya. Netra basah itu berganti menatap dalam. Mengirim perasaannya melalui pandangan mata.


“Kita harus bercerai karena Nola putrimu, Mas. Nai tidak bisa mengambil hak anak tidak berdosa. Nai tahu jelas bagaimana perasaannya. Nai pernah ada di posisi Nola. Itu menyakitkan, Mas. Saat ayah sendiri tidak mau mengakui, tidak mau membagi sayangnya.”


“Mas tidak mau. Mas tidak mau berpisah denganmu, Nai,” tolak Wira,


“Kita bercerai atau tidak, Mas tidak punya alasan lagi bertahan dengan Stevi. Setelah semua menjadi jelas.”


“Itu urusan Mas dengan Stevi dan Nola, urusan Mas dengan Tuhan. Maaf, Nai egois pada Mas. Seperti yang pernah Nai katakan, sebelum Mas melamar Nai lima tahun lalu ... Nai akan tetap memasukan gugatan ini ke pengadilan.”


“Nai, tidak bisakah ....”


“Tidak, Mas. Nikahi saja Stevi secara resmi setelah kita bercerai. Dan akui Nola sebagai putrimu. Kasihan anak itu, Mas. Dia tidak mendapatkan haknya selama ini.” Naina mengucapkannya dengan penuh ketegasan. Meski hatinya teriris-iris, perih dan pedih.


“Kita sudah selesai, Mas. Tadinya, Nai masih berharap, Nola bukan putrimu. Jadi Nai bisa memilikimu tanpa merasa bersalah pada siapa pun.”


Naina segera berdiri, berjalan menuju walk in closet. Meninggalkan Wira sendirian terduduk di ubin kamar yang dingin. Air matanya Naina tumpah kembali, tubuhnya bergetar hebat saat berdiri di depan lemari pakaiannya.


“Saat ini lebih sakit dibanding saat mengetahui Nola putrimu. Lebih menyesakan dibandingkan saat mengetahui pernikahanmu dengan Stevi,” ucap Naina pelan. Berbicara sendirian, meratapi takdirnya yang menyedihkan.


“Nai, jangan seperti ini. Bukankah Nai mengatakan kalau Nai hamil. Bagaimana Nai bisa memilih jalan perceraian ini.” Tiba-tiba, Wira sudah memeluk tubuh istrinya dari belakang. Pria itu masih berusaha mencari cara untuk membatalkan niat Naina.


“Tidak Mas. Sebelum memutuskan untuk bercerai, Nai sudah memastikan kalau Nai tidak hamil,” tegas Naina. Hampir luluh dengan dekapan mesra Wira yang mengunci tubuhnya. Begitu erat sampai ia kesulitan bernapas.


“Maksudmu, Nai?” tanya Wira.


“Mbok Sumi menyarankan Nai mengecek, Mbok Sumi juga curiga kalau Nai hamil.” Naina bercerita. Berjalan perlahan menuju meja riasnya, setelah melepaskan diri dari pelukan Wira. Mengeluarkan hasil test-pack dengan satu garis.


“Ini Mas! Nai tidak hamil,” ucap Naina, menyerahkan test pack.


“Kalau Mas tidak percaya, Mas bisa bertanya pada Mbok Sumi. Dia melihat sendiri, Mbok Sumi juga yang menemani Nai melakukan pengecekan. Jadi tidak ada alasan Nai menipu, Mas.”


***


TBC